Hujan tadi malam menyisakan tanah yang basah dan air yang tergenang
menjadi kubangan. Bunga- bunga tampak segar dikelilingi kupu-kupu cantik dan
berbagai jenis lebah yang siap menghisap madunya. Sebagian besar bunga tersebut
mulai bermekaran menebarkan wangi yang begitu mendamaikan hati. Burung- burung
berkicau mendendangkan nyanyian alam diikuti merdunya kokok ayam jantan
,membangunkan manusia yang masih terlelap di antara selimut tebalnya dan enggan
untuk beranjak dari tidurnya. Mentari
bersinar menghangatkan bumi pertiwi, cahayanya perlahan-lahan masuk di antara
celah-celah dinding jendela. Sebagian sinarnya merambat membelai wajah gadis
itu sehingga membuatnya terjaga.
Gadis itu cantik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Bibirnya
tipis begitu pula alisnya. Matanya biru
mewarisi garis keturunan ayahnya. Ia gadis Indo blesteran antara Belanda dan
Sunda. Ayahnya sir Van Dee Sork seorang pengusaha dari negeri kincir angin. Di Indonesia ia
memiliki perusahaan tekstil yang baru saja selesai pembangunannya. Sementara
ibunya Carmila Sutini binti Dadang Suratman, putri seorang pemilik kebun teh di
Sukabumi. Mereka bertemu pada acara peresmian perusahaan teh botol 18 tahun
silam. Kebetulan ayah Van Dee Sork merupakan salah seorang investor terbesar
pada perusahaan teh botol ini, tapi entah kenapa Van Dee Sork sendiri lebih
memilih membuka perusahaan tekstil di negeri istrinya.
Pricilia nama gadis itu. Sekarang usianya menginjak usia 17 tahun.
Ia sekolah di Lab International School di Jakarta, salah satu sekolah terelit
yang ada di Indonesia. Ia memilih tinggal di Jakarta, jauh dari kedua orang
tuanya yang tinggal di Sukabumi untuk mengurus perusahaan teh botol dan
perusahaan tekstil. Tentu saja kedua orang tuanya tidak membiarkannya tinggal
sendiri di Jakarta. Mereka mengutus mbok Minah dan keluarganya untuk menemani
Pricilia di rumah mewah yang berada di kawasan Pondok Indah.
“Mbok…!” teriak Pricilia dari
dalam kamarnya. Matanya masih mengantuk dan sesekali menguap lebar. Ia rentangkan
tangannya ke atas sambil melekukkan tubuhnya yang langsing. “Mbok…!!!!”
teriaknya lagi.” Pergi ke mana sih mbok” gumamnya kesal, iapun beranjak dari
kasurnya yang empuk dan menyibakkan selimutnya yang tebal lalu melemparnya
begitu saja.
Pintu tiba-tiba terbuka. Muncul seorang gadis yang sebaya dengannya.
Rambutnya dikuncir dengan sedikit poni yang menutupi dahinya. Tubuhnya tak
setinggi Pricilia, kulitnya sawo matang, matanya besar dan berwarna coklat
kehitaman seperti kebanyakan orang Indonesia.”Maaf non, Ibu sedang sakit. Kalau
ada sesuatu yang non butuhkan biar saya saja yang kerjakan” ucap gadis itu
sedikit membungkuk.
“Kamu bisa apa?” tanya Pricilia meremehkannya. Pandangannya begitu
mengejek. “ Oya PR matematikaku sudah kamu kerjakan??” tanya kembali.
“Sudah non, sudah selesai semuanya”jawabnya gugup.
Pricilia mendekatinya. Ia berputar mengamatinya. “Kalau begitu nanti
kamu ikut saya ke sekolah” ucapnya sambil tersenyum, entah rencana apa yang ada
di dalam benaknya.
“Tapi non, hari ini saya ada ujian di sekolah saya” katanya takut.
Ia kembali menundukkan wajahnya.
“ Kamu gimana sih Fatimah, bukannya kamu tadi bilang apa yang saya
inginkan kamu akan lakukan!!” protesnya. Ia mengangkat wajah Fatimah dengan
tangannya.
Fatimah tampak semakin ketakutan. Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sadar
bahwa ia tak mungkin menolak apa yang diinginkan Pricilia. Kalau ia tidak
melaksanakan perintahnya, mungkin Pricilia akan mengadukan perlakuannya pada
kedua orangtua Pricilia. Dengan begitu akan berdampak buruk bagi bapak dan ibu,
mungkin saja mereka akan dipecat dari pekerjaan ini.”Baik non, saya akan ikut
non ke sekolah” akhirnya ia buka mulut. Ini semua demi bapak dan ibu. Biarlah
untuk hari ini ia bolos dari sekolah. Mudah- mudahan ini permintaan Pricilia
yang pertama dan terakhir.
“Nah, gitu dong. Sekarang saya mau mandi dulu. Kamu juga siap-siap
gih. Lagipula kapan lagi kamu bisa lihat sekolah yang mewah seperti sekolah
saya.” ucapnya, iapun berlalu menuju kamar mandi yang tentu saja berada dalam
kamar Pricilia yang begitu besar.
“Baik non” jawab Fatimah singkat. Iapun segera kembali ke kamarnya,
tentu saja kamar pembantu yang letaknya dekat dengan dapur. Jauh sekali jurang
yang memisahkan keduanya. Bagaikan langit dan bumi. Pricilia yang memiliki
wajah cantik dengan segala kebutuhan terpenuhi sementara Fatimah hanya gadis
yang serba pas-pasan dan sederhana.
Sekolah Pricilia sangat megah dengan 3 tingkat dan 12 ruang kelas.
Setiap kelas dilengkapi dengan proyektor, fasilitas computer dan ruangan
ber-AC. Masing-masing kelas terdiri dari maksimal 25 siswa. Sangat nyaman
sekali untuk belajar. Seragam yang mereka gunakan juga sangat mewah. Sepatunya
hitam mengkilap dan tampak baru.
Beda sekali dengan sekolah Fatimah di kampung, atapnya bolong.
Keramik atau ubin lantainya juga mulai retak. Kalau hujan, ruang kelas banjir.
Terkadang mereka harus mengeringkan terlebih dahulu kelas yang kebanjiran.
Untuk melakukan ini saja sudah memakan waktu yang cukup banyak sehingga waktu
belajarpun terbuang.
“Timah..!! Sudah siap belum??” tanya Pricilia. Ia tampak sangat
cantik mengenakan seragam sekolahnya. Sebuah pita berbentuk kupu-kupu terlihat
menghiasi rambutnya yang lurus dan panjang itu.
“Ya non saya sudah siap” ucap Fatimah pelan, ia hanya mengenakan
kaos warna hijau yang tampak kebesaran di tubuhnya. Rambutnya ia kepang menjadi
dua.
Pricilia memperhatikan Fatimah. “ Hmm… Ok sekarang tolong kamu
bawakan tas saya” perintahnya kemudian ia berjalan menuju mobil sedan yang
sudah siap mengantarnya.
Tak lama kemudian Pak Unang sopir pribadi keluarga Pricilia mulai
menyalakan mesin mobil, Fatimah duduk di samping Pak Unang. Sementara Pricilia
duduk di belakang bak seorang putri kerajaan.
Akhirnya mereka tiba di sekolah Pricilia yang megah.
“Kamu bawa tas saya ok” perintah Pricilia dengan congkak. Ia pun keluar dari mobilnya. “Pak, jangan lupa
nanti jemput saya jam 12”
“Baik non” kata pak Unang tenang.
“Eh..kamu sampai kapan duduk di mobil? Cepat turun!” ucapnya lagi
dengan ketus.
“B..a..ik non” kata Fatimah gugup, iapun melepas safetybelt yang
dikenakannya.
“Sabar ya nak” Pak Unang berbisik pelan yang dijawab dengan anggukan
dan senyum yang sedikit dipaksakan.
Fatimah membuntuti Pricilia dari belakang sampai mereka menuju
sebuah kelas di lantai 5. Semua orang menatap ke arahnya dengan pandangan hina.
Mungkin penampilannya cukup lusuh dan kampungan. Tapi ini semua ia lakukan demi
kedua orangtuanya.
“Hai Pricil, morning!” Sapa seorang gadis keturunan Cina. Matanya
sipit dengan kulit kuning langsat dan rambut panjang yang lurus.
“Morning” jawabnya singkat. Lalu ia duduk di kursinya sendiri.
“Siapa gadis di luar itu?” tanyanya penasaran.
“Oh..itu? Dia anak pembokap kenapa?” tanyanya kembali.
“Kampungan banget tuh anak, kamu gak risih apa jalan dengannya?”
“Risih?? Dah pastilah. Tapikan disini dia cuma babu yang membawakan
tas saya dan jadi pesuruh kalau saya ingin sesuatu.” Pricilia semakin memandang
rendah Fatimah.
“Eh tu Jason bukan?” ucap Tsen-tsen memastikan.
“Kayaknya sich dia” kata Pricil, acuh tak acuh. “What.. Jason..
ngapain dia sama babu itu?” Pricilia baru menyadari kalau pria tinggi yang berdiri di depan Fatimah
adalah Jason.
Jason merupakan murid pindahan dari Amerika. Wajahnya Indo bule. Dia
merupakan primadona sekolah Pricilia. Selain pintar dalam pelajaran, dia juga
pandai dalam bermain basket. Selama di Amerika, ia pernah masuk ke dalam klub
basket terkenal “Chichago Bulls” walaupun junior. Catatan prestasinya juga
sangat banyak. Mulai dari duta Anti Merokok sampai menjadi aktivis Palang
Merah.
Sudah pasti banyak sekali gadis-gadis yang tergila-gila dengannya.
Namun belum satupun yang berhasil menjadi kekasihnya. Termasuk Pricilia yang
selama ini mencari peerhatian dari Jason.
“Kurang ajar banget tuh babu, berani-beraninya ngobrol dengan Jason”
Pricilia merasa dipecundangi dengan seorang gadis kampungan dan rendahan itu.
“Sabar Cil, kalau kamu berbuat sesuatu yang aneh di depan Jason,
maka Jason tidak akan menyukai kamu.” Ia menarik lengan Pricilia yang sudah tak
sabar untuk mendamprat Fatimah.
“Ok..ok saya tau” Akhirnya ia kembali duduk di kursinya kembali.
Belpun berdering, semua siswa masuk ke dalam kelasnya. Fatimah
kemudian pergi ke kantin untuk membunuh waktunya menunggu Pricilia selesai
sekolah.
Hatinya sedikit tenang, karena baru saja ia berkenalan dengan
seorang laki-laki yang begitu tampan dan baik hati. Ia tidak mengharapkan lebih
darinya. Cukup berteman dengannya saja sudah beruntung baginya.
“Non, Pricil?!” kata Fatimah terkejut mendapati Pricilia sudah
berdiri dihadapannya. “Kok non Pricil gak masuk kelas?”
“HEH… jangan sok perhatian dengan saya. Baru diajak ke sekolah ini
aja sudah berlagak.”
“Maksud non apa?”
“ Kamu jangan berlagak bodoh dech, kamu tuh jadi perempuan jangan
genit. Lihat cowok cakep aja sudah salah tingkah. Kamu tuh harus nyadar kamu
tuh siapa?”
“Maaf non, saya tidak bermaksud itu.”
“Ok.. kalau saya tau kamu bicara lagi dengan Jason, saya akan minta
sama papa untuk memecat kedua orang tua kamu.” Ancamnya dengan nada tinggi.
Kebetulan di kantin itu tak ada seorangpun disana. Bu Nana pemilik kantinpun
tak tampak.
“Jangan non, saya mohon jangan pecat kedua orang tua saya. Saya akan
menuruti perintah non” kata Fatimah sambil berlutut pasrah.
Pricilia tersenyum licik. “Baik.. tapi kamu harus mengikuti apa yang
saya inginkan” iapun berjalan menuju kelasnya.
Pembelajaranpun usai. Pricilia segera merapikan buku pelajarannya
dan meletakkan buku tersebut pada loker yang berada di samping laboratorium
kimia. Tiba-tiba Jason menghampirinya.
“Halo Cil, gimana kabarnya?”
Dup…jantung Pricilia berdegup kencang. Tidak menyangka Jason akan
menyapanya. Ia jadi serba salah dihadapan pemuda pindahan Amerika itu.
“B..bb.baik” katanya terbata-bata. Mungkin kalau ia melihat cermin,
wajahnya pasti merah seperti kepiting rebus.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya sambil memegang kening.
“Gak…kok” jawabnya. Jantungnya sudah seperti mau copot dari rongga
dada.
“Kamu lihat Fatimah?” tanya Jason pada Pricilia.
“Gak..” jawab Pricilia sambil menepis tangan Jason yang masih berada
di keningnya. Ia mengunci loker dan meninggalkan Jason yang hanya berdiri
terdiam menatapnya pergi.
Sesampainya di rumah, Pricilia mulai bertingkah aneh. Ia membanting
vas yang berada di atas meja sehingga pecah berkeping-keping. Amarahnya meledak
dan mulai menghancurkan sesuatu yang ada di hadapannya.
Fatimah menghampirinya. “Non, kenapa?” tanyanya sambil memunguti
pecahan-pecahan vas dan beberapa barang pecah belah lainnya agar tidak mengenai
kaki majikannya.
“Kamu jangan sok perhatian dengan saya. Semua gara-gara kamu tau
gak?” matanya melotot tajam ke arahnya. Ia lalu pergi ke kamarnya.
“Ya Allah, mengapa non Pricilia menyalahkan saya. Apa salah saya ya
Allah??” ucapnya dalam hati. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan
lantai yang kotor dan penuh pecahan kaca yang dapat membahayakan semuanya.
Setelah keadaan lebih tenang, Fatimah menghampiri Pricilia di
kamarnya dengan membawa sepiring nasi goring kesukaan Pricilia.
“Tok..tok..” Fatimah mengetuk pintu kamar majikannya tersebut.
Hampir tiga puluh menit ia berdiri di depan kamarnya. Namun tak ada jawaban
dari dalam. Fatimah khawatir dengan keadaan Pricilia. Dan ia mengetuk pintu
lebih keras.
Pintu terbuka. Pricilia sudah berdiri dihadapannya. Namun tak ada
tanda kesedihan di raut wajahnya itu seperti yang dicemaskan oleh Fatimah
sebelumnya.
“Mulai besok.. kamu ikut sekolah dengan saya. Saya sudah meminta pak
Fajar untuk mengurus semuanya.” Kata Pricilia tenang.
“Tapi…” Belum sempat Fatimah meneruskan kata-katanya, Pricilia
menutup kembali pintu kamarnya.
“Oya.. nasi goreng saya” pintu terbuka, Pricilia segera meraih
nampan yang diatasnya sepiring nasi goring dan susu yang mulai dingin. Ia
menutup kembali pintu kamarnya sambil tersenyum licik memandang Fatimah yang
keheranan dengan sikapnya itu.
Pricilia berencana mengubah penampilan
Fatimah. Dari gaya rambutnya yang kampungan hingga mengubahnya menjadi gaya
rambut artis-artis Korea. Rambut lurus panjang dengan poni yang menutupi dahi.
Selain tatanan rambut ia mengubah cara berpakaian Fatimah. Baju-baju yang usang
ia buang dan membelikannya beberapa pakaian baru yang sangat bagus.
“Saya sudah membuatmu menjadi seseorang
yang akan dipandang oleh orang banyak, sekarang kamu harus menuruti apa yang
saya inginkan. Kalau tidak kamu akan menerima resikonya.” Ia berbisik didekat
telinga Fatimah sambil memandang cermin.
Fatimah hanya mengangguk pasrah. Ia
memandang sesosok tubuh yang rupanya begitu menarik dan cantik di dalam cermin
dengan senyum yang dipaksakan. Matanya memiliki pancaran yang kuat seakan
jiwanya rela melepaskan raganya. Kalau bisa memilih.. ia lebih baik menjadi
dirinya yang dulu. Gadis yang lugu dan kedesaan. Daripada cantik luar namun
dikendalikan orang lain.
Pak Unang diperintahkan oleh Pricilia untuk
mengurus surat pindah sekolah Fatimah ke sekolah yang sama dengannya. Tentunya
dengan seizin kedua orang tua Fatimah dan kedua orang tuanya juga. Rasa terima
kasih yang cukup besar terlontar dari mulut kedua orang tua Fatimah ketika
mengetahui bahwa putrid mereka akan di sekolahkan di sekolah unggulan yang ada
di Jakarta.
Hari pertama Fatimah di sekolah barunya…
Tsen-tsen berlari menghampiri Pricilia dan
menarik lengannya “ Siapa dia?” tanya Tsen-tsen berbisik namun Pricilia hanya
tersenyum. Ia tahu bahwa Tsen-tsen penasaran dengan Fatimah yang sudah di make
over olehnya.
Fatimah berjalan membuntuti mereka sambil
menundukkan wajahnya. Tapi tak sengaja ia menabrak tubuh Pricilia yang
tiba-tiba berhenti. “Maaf non” kata Fatimah semakin menunduk.
“Jadi dia …?” Tsen-tsen mulai menebak.
“Ya dia pembantu saya. Kenapa? Heran ya?”
kata Pricilia sinis.
“Oh gak..gak papa?” ucap Tsen-tsen.
Walaupun banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Namun sepertinya hari ini
Pricilia sedang bad mood.
“Selamat Pagi anak-anak!” bu Wanda masuk ke
dalam kelas. Sementara semua siswa sudah duduk tertib di bangkunya masing-masing.
“Selamat pagi bu!!” seru mereka.
Bu Wanda adalah guru Bahasa Indonesia di
kelas Pricilia sekaligus wali kelas di kelas yang diajarnya itu. Ia mengenakan
kacamata dengan rantai yang menggantung agar tidak terjatuh. Rambutnya pendek
dan sedikit ikal. Sifatnya begitu tegas dan bijaksana sehingga banyak murid
yang menyukainya.
“Bulan depan sekolah kita akan mengadakan
pentas seni. Setiap kelas wajib mengirimkan satu penampilan” belum selesai
bicara Arman yang duduknya paling pojok mengacungksan tangannya.
“Kalo lebih dari satu boleh bu?” tanyanya.
“Ibu belum selesai menjelaskan, maka jangan
memotong pembicaraan ibu dulu.”
“Maaf bu, soalnya saya semngat sekali”
jawab Arman tersipu-sipu.
“Woooo..” Arman mendapat sorakan dari
teman-temannya. Sehingga suasana menjadi ramai.
“Tenang semuanya” ucap Ibu Wanda membuat
suasana kembali hening. Kemudian ia mulai melanjutkan”Baiklah ibu akan jelaskan
tentang pentas seni ini. Masing-masing kelas mendapatkan durasi waktu kurang
lebih 30 menit. Jadi bisa saja kita dapat mengirim lebih dari satu penampilan. Nanti
setiap penampilan akan diberikan penilaian dan satu penampilan yang terbaik
akan diberikan beasiswa selama satu tahun oleh pihak sekolah” Suasana kembali
ramai lagi. “Mungkin ada yang punya usulan mengenai penampilan dari kelas kita”
Pricilia mengacungkan tangannya”Bagaimana
kalau menampilakan dance bu? Kan disini kita ada Fanya yang kakaknya merupakan
koreografer penyayi terkenal di Indonesia. Mungkin nanti bisa bantu kita. Yak
an Fanya??”
“Bisa” jawab Fanya buru-buru.
“Puisi aja bu..kan ada Dudung yang ahli”
ucap Dudung percaya diri
“Maaf bu, kalau saya boleh usul bagaimana
kalau kita menampilkan drama saja. Mungkin pesertanya bisa satu kelas ini. Tadi
saya mendengar penampilan ini akan dinilai dan penampilan terbaik akan
mendapatkan beasiswa dari sekolah selama setahun. Kalau saja kelas kita menang
semua bisa berkesempata mendapatkan beasiswa” tiba-tiba Fatimah mengeluarkan
isi hatinya dan memberanikan diri untuk membuka mulutnya,
“Usul yang bagus. Oya kamu Fatimah murid
baru itukan?” tanya bu Wanda padanya.
Fatimah menganggukkan kepalanya dan
tersenyum. Namun Pricilia bertingkah sebaliknya. “Dasar bocah miskin,
pikirannya cuma uang dan uang aja.” gumam Pricilia dalam hati. “Sabar Pricil..
sabar rencanamu jangan sampai gagal. Biarkan si Fatimah cari muka. Nanti kalau
sudah waktunya baru kamu mulai mainkan permainannya” pikiran jahat tergambar
jelas dalam benaknya.
Bu Wanda akhirnya memutuskan apa yang
mereka akan tampilkan dalam pentas seni yang akan datang nanti. Ia memberikan
amanat kepada Cha-cha sebagai ketua kelas untuk membuat drama yang menarik dan
tentu saja ia mempercayakan Fatimah untuk membantu Cha-cha. Karena Bu Wanda
yakin Fatimah sangat berkompeten dan memiliki kemampuan dalam hal ini.
Bel istirahatpun berdering…
Pelajaran Matematika adalah pelajaran
keempat sebelum jam istirahat pertama. Pak Ayub memberikan 20 soal kepada
mereka dan harus diselesaikan di sekolah juga. “Baik bagi yang sudah
mengerjakan 1 sampai 20 kumpulkan buku di atas meja. Nanti bapak minta tolong
kepada ketua kelas untuk mengantarnya ke ruang guru” pak Ayubpun keluar dari
kelas dengan membawa tas hitamnya.
“Kamu sudah selesai?” tanya Fatimah pada
Pricilia.
“Belum…kamu pasti sudahkan. Sini mana
bukumu?” ia meminta pada Fatimah untuk disalin jawabannya.
“Tapi..”
“Sudah gak ada tapi-tapian. Kamu di sekolah
ini buat ngikutin apa perintah saya salah satunya ini” ucap Pricilia sambil
melotot. “Oya, kamu beliin saya minuman di kantin yang seger-seger. Nih
uangnya” katanya ketus sambil mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari
sakunya.
Fatimahpun menuruti apa kemauan Pricilia.
Ia menerima uang tersebut dan beranjak dari kursinya untuk pergi membeli
minuman yang diinginkan Pricilia sebagai majikannya.
Sementara Fatimah pergi, Pricilia segera
menyalin jawaban Fatimah. Karena sebelum bel istirahat berakhir, buku harus
dikumpulkan. “Ternyata banyak manfaatnya juga tuh Fatimah di sekolahin disini.”
Katanya pelan sambil tersenyum licik dan mengejek.
Fatimah mempercepat langkahnya menuju
kantin dan sekali lagi tanpa sengaja ia menabrak seseorang kali ini bukan
Pricilia tapi seorang laki-laki yang kemarin dikenalnya.
“Kamu gak papa? Tanyanya sambil membantu
Fatimah berdiri.
“Maaf.. saya terburu-buru” kata Fatimah.
“Kayaknya saya pernah lihat kamu?? Tapi
dimana ya??”
“Mungkin kamu salah orang” ucap Fatimah. Ia
membersihkan kedua tangannya yang kotor. “ Maaf sekali lagi. Saya harus pergi
membeli sesuatu sebelum bel masuk berbunyi” Fatimah berusaha menghindar dari
Jason dan memalingkan wajahnya.
Jason hanya melenggokan kepalanya saja. Ia
merasa yakin mengenali siapa gadis yang menabraknya barusan. Tapi ia tak ingin
mengambil pusing dan meraih bola basketnya tersebut lalu berlari menuju
lapangan untuk kembali bermain bersama teman-temannya itu.
Lima menit kemudian segelas jus alpukat
segar sudah berada di tangan Fatimah. Ia berharap Pricilia mau bersabar
menunggunya beberapa menit lagi sebelum jus tersebut berpindah tangan ke
Pricilia untuk dinikmati.
“Kamu Fatiamahkan??” tiba-tiba Jason
membuatnya terkejut. Untungnya jus yang berada di tangannya tidak ikut
terlepas.
Fatimah terus berusaha memalingkan wajahnya
agar tak dikenali.
“Kok kamu menghindar dari saya? Memangnya
saya salah apa?” tanya Jason semakin penasaran.
“Maaf saya terburu-buru” uacapnya lagi. Ia
mempercepat langkahnya. Kalau ia meladeni Jason, bisa-bisa Pricilia marah
padanya dan mungkin ia akan mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan apa yang
ingin Pricilia lakukan.
Jason hanya menarik nafas. Ia merasakan ada
sesuatu yang salah terhadap gadis yang dikenalnya kemarin itu. Dan ia yakin
bahwa itu Fatimah. Tapi apa yang terjadi padanya ia benar-benar tak mengerti.
Fatimah segera menemui Pricilia yang lagi
asyik menyalin jawaban Fatimah. “Hey, hati-hati” ucap Pricilia ketika menerima
segelas jus dari Fatimah.
“Maaf” kata Fatimah. Wajahnya masih belum
berpaling dari luar kelas. Ia takut Jason mengikutinya.
Pricilia hanya tersenyum. Mangsa sudah
mulai masuk jebakan yang dipasangnya. “Bagus Fatimah, kamu memang artis yang
berbakat” ia melanjutkan tulisannya.
“Fatimah, jadi rencana kamu apa supaya
kelas kita bisa memenangkan kontes ini?” seorang perempuan berwajah bulat
dengan lemak yang menutupi leher menghampirinya. Ia bernama Lila. Murid
tergendut di kelas.
Fatimah sedikit terkejut. Lalu ia berusaha
lebih tenang. “Besok skenario sudah bisa saya bagikan. Jadi kamu sabar ya?”
kata Fatimah. Ia tidak ingin berpanjang lebar menjelaskan semuanya, karena
sebelumnya ia sudah menceritakan sedikit ringkasan cerita yang akan ditampilkan
nanti.
Akhirnya bel akhir pembelajaran berdering.
Pricilia segera merapikan buku pelajarannya. “Fatimah kamu pulang sendiri ok,
aku mau ke mall bersama yang lain. Nich ongkos buat kamu pulang” ia memberikan
selembar uang berwarna merah kepada Fatimah.
Ia segera meninggalkan Fatimah begitu saja.
Fatimah hanya terdiam. Sebenarnya dia tidak tahu dimana rumah majikannya itu.
Yang ia tahu ia tinggal di komplek mewah di Jakarta.
Tiba-tiba seorang pria menghampirinya.
“Belum pulang?” tanyanya.
“Maaf, bukan urusan kamu” jawab Fatimah
ketus
Pria itu tersenyum. “Aku hanya bertanya,
tapi kamu kok ketus sih!” kata pria yang belum dikenalnya itu.
“Maaf saya tidak bicara dengan orang asing
seperti kamu” ia meraih tasnya dan beranjak dari kursi menuju keluar kelas.
Pria itu membuntutinya dari belakang sampai
pintu gerbang sekolah.
“Kamu kenapa sich ikutin saya terus?”
Fatimah kesal.
“Perkenalkan namaku Adam” ia mengulurkan
tanganannya namun Fatimah menampiknya. “Aku tahu kamu lagi mencari tumpangankan
pulang ke rumah majikanmu”
Fatimah kembali terkejut kenapa laki-laki
itu bisa mengetahui rahasianya.
“Kamu jangan heran begitu, semua sudah
membicarakan tentangmu, tapi tak disangka kamu cantik juga” Adam mulai
menggodanya.
“Hei.. kamu pikir saya gak punya harga
diri. Walaupun saya pembantu saya juga punya harga diri” Fatimah makin kesal
dibuatnya tapi Adam malah tertawa.
“Sorry aku aku gak bermaksud menjatuhkan
harga dirimu, tapi kamu terlalu naïf dengan penampilanmu seperti ini”
“Maksudmu?” Fatimah tidak mengerti dengan
kat-kata yang terucap dari biir Adam.
“Aku tinggal tak jauh dari rumah Pricilia,
dan beberapa hari ini aku memperhatikanmu. Kamu lebih baik dengan penampilan
sebelumnya” kata Adam mulai menjelaskan. “Aku tahu kamu tak bermaksud seperti
ini, kamu pasti punya alasan dan bukan maksudku utuk mencampuri urusanmu dengan
Pricilia”
Fatimah tertunduk.” Maaf sebelumnya sudah
berfikir jelek tentangmu. Tapi tak ada alasan bagi saya untuk menjelaskannya.
Pricilia bukanlah orang yang seperti kamu kenal walaupun dari luar dia cuek dan
tak peduli dengan siapapun tapi sebenarnya ia baik”
“Aku tahu” Adampun meraih tangan Fatimah.
“Mari kuantar pulang”
Sementara di mall…
“Cil, kok kamu tinggalkan Fatimah begitu
saja??” tanya Nilam gadis yang duduk di belakang Pricilia di kelas.
“Santai aja kali, oya kalian mau makan apa?
Hari ini aku traktir kalian” ucap Pricilia dengan riangnya. Tentu semua itu
disambut hangat dengan teman-teman Pricilia.
“Fatimah… kamu cerdas, walaupun aku
meninggalkan kamu di sekolah kamu pasti bisa pulang ke rumahku” kata Pricilia
dalam hati dengan senyum penuh kepuasaan.
Merekapun masuk ke dalam sebuah rumah makan
yang cukup terkenal dan enak masakannya.
………………………………………………………………………………….
“Terima kasih sudah memberikan saya
tumpangan” ia turun dari motor sport milik Adam dan melepaskan helm berwarna
putih.
“Sama-sama. Kalau kamu perlu bantuanku kamu
tak perlu sungkan berkunjung ke rumahku. Tiga deret rumah dari sini” Adam
menyalakan mesin motornya kembali. “Selamat siang” iapun pergi memacu motornya.
Fatimah melambai pelan sambil tersenyum. Ia
tak menyangka ada pria yang baik dan perhatian. Kemudian ia kembali teringat
dengan tugasnya membuat scenario. Iapun berlari menuju kamarnya yang terletak
di dekat dapur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB
namun belum ada tanda Pricilia tiba di rumah. Fatimah berharap tidak terjadi
apa-apa dengan majikannya itu.
Bel berbunyi, Fatimah segera berlari untuk
membuka pintu. Tampak Pricilia berdiri di depan pintu dengan bungkusan yang
sangat banyak tergeletak di lantai.
“Lama amat buka pintunya” ia masuk ke dalam
tanpa mengindahkan Fatimah yang berdiri di hadapannya, ia menabrak sedikit bahu
Fatimah.” Awas …ah. Oh iya bawa masuk semua barang dan letakkan di kamarku”
“Baik non” Fatimah mengambil
bungkusan-bungkusan itu dan memindahkannya ke kamar Pricilia. Namun tak cukup
sekali untuk memindahkannya. Barang-barang yang dibeli Pricilia sangat banyak.
Pricilia sudah terbaring di kasurnya dengan
seragam yang masih melekat di tubuhnya. Dengan keadaan yang setengah sadar
karena lelahnya berbelanja ia mengatakan sesuatu “ Bungkusan yang berwarna
kuning itu untukmu Fatimah” kemudian ia kembali tertidur.
Fatimah menghela nafas. Sungguh baik hati
Pricilia namun sayang banyak orang yang dekat padanya hanya ingin memanfaatkan
kekayaannya. Ia meneteskan air mata sambil meraih bungkusan berwarna kuning. Ia
melangkah perlahan dan menutup pintu kamar Pricilia dari luar. Ia tak ingin
membangunkan Pricilia yang sudah terlelap dengan mimpinya.
“Ya Allah… tolong bukankan pintu hati non
Pricilia. Semoga non Pricilia menjadi anak yang baik ya Allah. “ Fatimah berdoa
seusai sholat. Kemudian ia merapikan mukena dan sejadahnya. Ia lalu menatap
bungkusan berwarna kuning pemberian Pricilia.
Sebuah pakaian cantik dan elok membuat
Fatimah terkesima. “Subhanallah, ini pasti sangat mahal” ucap Fatimah antara
percaya dan tidak. Selain pakaian juga masih ada bandana yang sangat
indah. Ia menyayangkan sekali sikap
Pricilia yang terlalu menghamburkan uangnya hanya untuk membeli pakaian dan
bandana untuknya. Bukannya ia tidak merasa bersyukur dengan pemberian Pricilia
itu tapi… ia tak mampu berkata-kata lagi.
Pagipun menjelang…
“Non, makasih ya” ucap Fatimah sambil
menuangkan susu ke dalam gelas yang ada di hadapan Pricilia.
“Gak perlu kali, Cuma segitu aja
dibesar-besarin” kata Pricilia kemudian menggigit sandwichnya itu dan meneguk
susu yang baru dituangkan Fatimah. “Oh ya.. kamu sudah mengerjakan seluruh PRku
hari ini?” tanyanya pada Fatimah.
“Sudah non, semuanya sudah saya kerjakan
dan sudah saya salin ke buku non”
“Bagus” ia mengelap mulutnya dengan tisu.
“Ok aku tunggu kamu di mobil.
“Baik non” ia merapikan piring dan gelas
bekas non Pricilia sarapan di westafel tempat pencucian piring. Ia
meninggalkannya begitu saja. Sepulang sekolah baru ia akan membersihkannya.
Di sekolah..
“Hey Fatimah, gimana skenarionya? Sudah jadi?”
tanya Lila yang penasaran. Karena Fatimah berjanji semua murid di kelas akan
tampil.
“Ya sudah” ia pun mengelurkan buku tulisnya
yang sedikit using.
“Loh kok dibuku tulis?”
“Maaf, saya belum menyalinnya lagi” Fatimah
merasa bersalah. Ia memang tidak bisa menggunakan komputer untuk mengetik.
“Ya sudah gak papa, nanti aku saja yang
mengetik” tiba-tiba Rayhan menawarkan diri.
“Makasih” ia menyerahkan buku tulis itu
pada Rayhan.
“Aku pinjam dulu dong“ kata Lila.
“Ok tapi nanti dikembalikan lagi ya padaku”
kata Rayhan dan memberikannya pada Lila.
Lila menggangguk dan meraih buku itu dengan
cepat. Lalu ia membacanya di tempat duduknya. Ia tampak tersenyum, sesekali
tertawa dan sesekali tampak sedih membacanya. Teman-teman yang lainnyapun
mendekati Lila dan ikut terlarut dalam isi cerita yang ada di buku tulis.
Fatimah merasa lega, ternyata cerita yang
ditulisnya tidak mengecewakan teman-temannya. Itu terlihat dari guratan-guratan
wajah teman-teman yang membaca skenarionya.
Jam istirahat…
Lila kembali menghampiri Fatimah. “Cerita
kamu bagus banget, aku yakin kita mampu memenangkan kontes ini”
Fatimah hanya tersenyum. “Saya senang
sekali kalau kalian menyukai cerita saya. Tapi yang terpenting kita semua harus
maksimal dalam memerankan tokohnya”
“Betul juga sich, walaupun ceritanya bagus
tapi perannya gak maksimal malah jadi jelek. Oya kapan kita mulai latihan? Kita
Cuma memeliki beberapa pekan aja nich. Dan memangnya peran utama dalam cerita
kamu siapa…?
“Ya kalau bisa secepatnya tergantung Rayhan
mengetik scenario itu, nanti kita gandakan supaya semuanya punya. Untuk tokoh
utama mungkin akan diperankan oleh…”
Belum sempat Fatimah menyelesaikan
pembicaraannya Rayhan datang dengan wajah cemas. “Fatimah… scenario kamu
hilang????”
“Apa????”
Fatimah segera berlari ke dalam kelas.
Didapatinya Pricilia sedang tertawa terbahak-bahak. “Kok kamu tega sama aku,
aku salah apa sama kamu?” tak terasa air matanya mengalir deras.
Pricilia terdiam sejenak. “What??? Sebentar
–sebentar.. emang ada apa ya??”Pricilia seakan-akan tak mengetahui apa yang
terjadi.
“Ngaku aja kalo kamu yang ambil scenario
Fatimah, kamu kan gak suka sama dia” Lila mulai emosi.
Pricilia tak meneriam tuduhan itu. “ Hey
gendut..jaga omongan kamu ya? Walaupun aku gak suka dengan Fatimah aku gak akan
selicik itu. Tau” matanya mendelik tajam ke arah Lila. “Dan yang perlu kamu
ketahui Fatimah… aku bersyukur kalo scenariomu hilang” iapun pergi keluar
kelas.
“Dasar nenek sihir” teriak Nina sementara
Pricilia sudah menghilang dari pandangan.
“Terus gimana dong?” Gita jadi risih dan tidak tenang.
“ Git, kamu jangan memperburuk suasana
dong, kita kan belum mencarinya?” Intan yang usianya baru bertambah kemarin
mencoba menenangkan suasana.
“Coba kita cari dulu yuk sama-sama” ajak
Ridwan.
Fatimahpun menghela nafas panjang dan
berusaha untuk tegar. Entah mengapa dia langsung menuduh Picilia yang
menyembunyikan scenario itu. Padahal mungkin saja Rayhan lupa meletakkannya.
Timbul perasaan menyesal dalam dirinya. “Non, aku minta maaf” iapun pergi
berlalu meninggalkan ruang kelas.
Sampai menjelang siang, scenariopun belum
di temukan. Padahal seharusnya sore ini mereka akan latihan Karena sebentar
lagi pentas seni akan diselenggarakan, kalo persiapannya belum matang mereka
tidak akan menjadi pemenang.
Adam datang menghampiri Fatimah. “ Aku
sudah mendengar tentang scenario itu, kamu jangan khawatir, aku pasti akan
bantu kamu untuk menemukannya”
“Saya sudah tidak mempermasalahkan itu
lagi, saya menyesal mengapa langsung menuduh Pricilia yang mengambilnya, pasti
dia sangat marah sama saya”
“Kamu minta maaf saja dengannya??”
“Pasti, tapi apa dia mau memaafkan?”
“Pricilia bukan orang yang kamu kira kok,
aku yakin dia memaafkanmu” kata Adam membuatnya sedikit lega.
Tiba-tiba terdengar suara keributaan dari
luar pagar sekolah.
Adam dan Fatimah segera berlari menuju
keramaian tersebut.
“Astagfirullah, non Pricilia” Fatimah
terkejut mendapati Pricilia bersimbah darah. “Cepat tolong panggilkan
ambulance!” teriak Fatimah kalut.
Segera saja Jason menyeruak dari kerumunan.
Ia segera membawa Pricilia ke mobilnya. Adam dan Fatimahpun ikut menemaninya.
“Non, bertahanlah…” ucap Fatimah sambil
mengucapkan doa-doa kepada Allah agar senantiasa Allah melindungi keselamtan Pricilia.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Segera saja para perawat dan petugas
membawanya ke unit gawat darurat untuk perawatan yang lebih intensif.
Mereka bertiga disuruh menunggu di ruang
terpisah. Tak lama kemudian seorang suster datang dengan segera menjumpai
mereka.
“ Pasien memerlukan transfuse darah
secepatnya, namun di rumah sakit ini darah yang diperlukan sedang tidak
tersedia, mungkin diantara kalian ada yang cocok”
“Baik suster kita bertiga siap diperiksa”
Jason segera mengikuti intruksi suster diikuti Adam dan Fatimah.
Beberapa menit kemudian suster tersebut
selesai melakukan pemeriksaan dan ternyata darah Fatimah dan Pricilia sangat
ccocok. Suster tersebutpun segera melakukan prosedur pengambilan darah.
Fatimah diperintahkan untuk berbaring,
jarum suntikpun menusuk kulit Fatimah. Darah mulai memenuhi kantong yang
dipersiapkan oleh suster.” Ya Allah lindungilah Pricilia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar