Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 4



Bab 4
Kampus MP . . . . . .

            Areal seluas 100 hektar ini memiliki 10 unit gedung perkuliahan yang rata-rata bertingkat tujuh. Terdapat laboratorium bahasa, laboratorium computer dan kimia yang ditunjang dengan peralatan yang lengkap. Disamping itu ada sebuah danau buatan serta taman yang asri tempat mahasiswa melepas kejenuhan. Di sana juga telah disediakan fasilitas browsing dan internetan. Terdapat perpustakaan dengan buku-buku yang cukup lengkap tak kalah dengan perpustakaan nasional.
            Dosen-dosennya banyak didatangkan dari luar negeri namun dosen dari dalam negeripun tak kalah bersaing. Ada 10 fakultas di kampus itu. Hampir semua fakultas telah mendapat akreditasi A dari Dikti. Fakultas unggulannya adalah Informatika. Sebagian besar lulusan langsung bekerja di perusahaan besar baik di Indonesia atau perusahaan asing di luar negeri. Bahkan ada lulusan yang bekerja di perusahaan milik Bill Gates di Amerika.
            Volvo yang dikendarai Andrea memasuki areal kampus. Amara dan David kuliah di sana juga. Ia memarkirkan kendaraannya lalu turun mencari kantor administrasi atau kalau perlu langsung bertemu dengan rektor saja sekalian. Orang-orang yang kuliah disini adalah yang memiliki nilai akademis yang tinggi dan tentunya bagi yang otaknya pas-pasan harus memiliki dompet yang tebal sekalian.
            “Hai NdreAmara berlari menghampirinya . “Kirain loe nggak datang
            Andrea hanya tersenyum kecut. “Bagian Administrasi dimana? tanya Andrea.
Amara menarik lengannya paksa. Ia membawanya ke sebuah ruangan di tingkat “6.
“Kita mau kemana?” tanya Andrea.
“Dah loe ikut aja” akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan. Di pintu depan terpampang tulisan “ Prof.Dr.Tyoprakoso, SH
            “Paman Tyo !! pekiknya tak percaya . “Kenapa kamu nggak bilang semalam paman, Tyo rektornya
“Surprise buat loe dengan mtdnya (muka tanpa dosa)
            Andrea langsung mencubit lengan Amara saking gemasnya. “Aw, sakit ia meringis, air matanya sedikit keluar. Sementara itu Andrea menahan tawanya “Lagian sih ngeselin.
            Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Seorang pria berkacamata tebal dengan kepala yang hampir plontos berdiri tegak tubuhnya tidak terlalu tinggi.
            Paman!”pekiknya. Andrea segera memeluknya. Senang sekali rasanya ia dapat meluapkan kegembiraannya itu. Bertubi-tubi kecupan mendarat di wajah lelaki yang berbadan gempal tersebut.
            “Andrea !! paman Tyo kelihatan tak yakin, ia melepas kacamata lalu mengucek-ucek matanya dan memasangnya lagi. Tetap saja yang ada di hadapannya merupakan keponakan yang tinggal di negeri orang.
            “Kok kamu nggak ngabarin kalo kamu sudah di Indonesia ? Ia membimbing Andrea dan Amara masuk ke dalam ruangan.
            “Kejutan aja kok. Lagipula Andrea bosan terlalu lama di Swiss, rindu rumah” kata Andrea sambil memandang sekeliling ruangan. Di dinding terpampang poster presiden Indonesia beserta wakilnya yang terbingkai rapi.
            Ruangan kerja paman Tyo cukup besar. Satu set sofa, satu set computer plus meja kerja serta beberapa lukisan yang di gantung di dinding yang bercat biru cerah.
            Huf Andrea menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa kelabu.
            “Yang sopan dong DreAmara menegurnya. Matanya mendelik tajam.
            Andrea tersipu malu. “Sorry yah paman
            “Ah, nggak apa kok lalu duduk di samping keponakannya itu.

         *********************************************************
            Hari ini Jay akan mengikuti test perguruan tinggi. Setelah itu dia akan langsung meluncur ke studio radio Silver FM untuk debut pertamanya.
            “Cepet Jay, ntar loe telat lagi Golek, teman akrabnya sudah menunggu di motornya. Ia memperhatikan arloji karet yang sudah agak usang. Wajahnya tampak cemas.
            “Iye bentarJay meraih tasnya lalu mencium tangan emaknya dan pamit kepadanya.
            “Semoga loe sukses dechucap emak memandang mereka sambil tersenyum.
            “Amin dech. Ya udah Jay berangkat dulu lalu ia mengampiri Golek. “Sorry kawan” ia langsung nangkring di belakang motornya. “Tancap !! serunya.
“ Mak kita jalan dulu. Assalmualaikum!” teriak Golek.
“Waalaikum Salam. Ati-ati bawa motornya” pesan emak.
            Tak lama kemudian Doni muncul. Ia mengenakan kemeja. Rambutnya tersisir rapi. Parfum yang digunakannya tercium sampai ke hidung emak.
            Eh, kirain masih tidur loe” Emak masuk ke dalam untuk menata dagangnya.
            Udah dari subuh kali mak lagipula aye mau nyari kerja. Jadi aye mesti buru-buru pergi. Terus siangnya mau kuliah
            Biasanya habis sholat shubuh lo kan molor lagi” Emak tersenyum dan meneruskan kerjanya.
“Itukan kemarin-marin Mak. Aye inget pesan dari Haji Manaf barang siapa yang tidur selesai sholat Shubuh rejekinya bakal dipatok ayam. Kalau dipikir-pikir bener juga mak. Makanye aye gak tidur lagi.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Emak sudah masak telor dadar ame tempe goreng. Kalau mau pake sayur, sayurnye ade di dapur di panci. Loe sarapan dulu baru pergi”
“Iye mak, makasih”
                 
                                         ********************

 “Oh jadi tujuan kamu kesini pengen kuliah di kampus ini.” paman Tyo melirik ke Andrea .
Ya ialah paman. Buat apa Andrea cape-cape kesini Andrea menggerutu mulutnya manyun.
            Paman tertawa. “Kalau begitu, sekarang kamu bantu paman menyelesaikan suatu pekerjaan”
“Kalau Ara gimana? Amara protes. Masa dari tadi dia dibiarkan saja. Tak seorang pun yang mengajaknya bicara. Sedih jadinya.
“ Kamu kembali aja ke kelas.”
“Ah bosan . Dosennya beler bikin ngantuk” Dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
Kamu gak boleh gitu. Itu dosen kamu. Tapi hari ini mood paman lagi bagus, kamu bantu pekerjaan paman bersama Andrea” paman Tyo akhirnya mengalah. Amara tersenyum girang.
“Nah gitu dong paman. I love you paman” ia mencium pipi paman Tyo.
“Udah ah. Kamu genit banget sama paman” paman menghindar dari kecupan keponakannya yang centil itu.
                                  **********

            Hari semakin siang , cuaca kebetulan mendung. Langit gelap dan terlihat muram. Namun hujan belum turun juga. Agin bertiup kencang menggoyang pohon yang tumbuh menjulang. Udaranya sedikit lebih dingi dari biasanya.
“Anda besok bisa mulai bekerja paruh waktu
“Makasih pak “ Doni pamit dengan sopan. Ia keluar dari ruangan ber- AC lalu berteriak gembira.
Orang-orang yang berada disekitarnya memperhatikan gelagat Doni yang aneh itu. Semua mata tertuju padanya. “O...ow dalam hatinya dia terkejut, seketika itu juga wajahnya memerah dan langsung keluar dari kantor dengan tergesa-gesa menuju lift.
“Och…” seorang gadis tertabrak olehnya ketika ia berbelok di ujung koridor yang bercabang.
“Maaf…maaf mbakDoni berusaha membantunya berdiri.
“Saya terburu-buru ucapnya gugup.
What….gadis yang ditabraknya terpaku ketika melihat Doni. “Kamu lagi dengusnya kesal.
“Eh…mbak ….mbak kan yang kemarin ketumpahan air minum saya”
Kamu lagi kamu lagi berapa kali sih aku bertemu kamu dan terjadi kesialan terus” andrea semakin jengkel dengan pria yang sekarang berdiri di hadapannya.
“ Maaf mbak….aku benar gak sengaja” Doni jadi bingung sendiri mau berkata apa.
“Haloo aku bukan mbak kamu, and satu lagi aku bosan mendengar permohonan maaf dari kamu. Basi tau gak lagipula siapa kamu”
Tapi aku benar-benar menyesal. Kalo kamu nggak maafin nggak apa kok. Itu hak kamu. Kewajiban aku hanya meminta maaf sekali lagi aku minta maaf” Doni meninggalkannya begitu saja.
            Andrea terdiam “Ni cowok berani juga ia tersenyum sendiri dan berlalu menuju ruang kerja papanya di tingkat paling atas.

                                              ********

            “Gimana sekolahmu sayang?” tanya papa yang masih sibuk dengan proposal – proposal yang harus dipelajari.
Not so bad ia meraih beberapa map dan membukanya satu persatu.
“Maaf pak” seorang pria berjas masuk ke dalam ruangan ia membawa beberapa map lain. “Saya baru saja menerima karyawan baru. Mungkin sesuai dengan permintaan bapak” ia menyerahkan map tersebut.
“Baiklah. Kalau memang dia yang dibutuhkan , kenapa kita tidak menerimanya”
“Tapi …… ia tidak bekerja penuh hanya paruh waktu dan bapak bisa lihat di dalam file lebih lanjut
Papa menerima lembaran map tersebut sambil tersenyum.
“Kalau gitu, saya undur diri dulu. Pria yang tubuhnya agak kurus melirik ke Andrea lalu tersenyum. Iapun keluar ruangan dengan sopan.
“Huf …… kerjaan lagi dech kata papa mengeluh. Ia melemparkan map hijau di atas meja.
Kenapa papa nggak istirahat aja dulu? Ambil cuti kan ada Lexi. Biarkan dia yang handle sementaraia meraih map hijau yang di letakan papa di atas meja dengan agak kasar.
“What . . .?!”
Kenapa kamu sayang ?!papa jadi bingung. Ia benar-benar kaget.
“Nothing” buru-buru ia menjawabnya. Dia tersenyum sendiri sambil manggut-manggut.
Papa semakin heran “Kamu yakin nggak apa-apakan ?”tanya papa cemas dan meyakinkan.
“Nggak kok pap. Udah deh jangan khawatirkan Andre.lalu ia membalik lembaran yang berbeda di dalam map.
            Setengah jam kemudian Andrea beranjak . “Pap, lunch yuk” ajak Andrea.
Aduh kamu gak lihat, Papa masih sibuk nih. Kamu ajak Lexi aja. Biar papa yang panggil papapun mengangkat gagang telepon yang terletak di depannya. “Lexi, temui saya sekarang jugaia meletakkan kembali gagang telepon tersebut. “ Bereskan ?!” papa melanjutkan kerjanya.
“ Nggak mau ah. Andrea maunya makan sama papa Andrea pura-pura merajuk.
“Jangan sekarang yah, papa sangat sibuk. Lain kali papa janji deh”
“Huuh…” ia mendengus kesal tak lama kemudian pintu terbuka.
“Maaf oom Lexi berjalan menghampiri mereka.
“Sekarang kamu antar Andrea ke mana aja. Dia mau lunch dan kamu temani dia
“ Baik oom.

                                      *************






“Kok dari tadi diam aja sih ? Andrea yang duduk di sampingnya jadi jengkel. Ia memperhatikan wajah cowok yang lagi serius mengendarai volvonya. Namun dia masih diam saja. “Hei man! Kamu tuli ya?”
Lexi menoleh ke arahnya lalu memperlambat laju kendaraan hinggabenar-benar berhenti.
            Andrea tersentak. Wajahnya memucat ketakutan. “Kamu mau apa? “ tanyanya takut.
            Lexi tersenyum. “Dasar gadis manja”
            Andrea tampak lega. Tubuhnya seakan-akan melorot dan merosot dari kursi. Ia mengira Lexi bakal melakukan tindakan –tindakan yang tidak diinginkannya.
“Kita mau makan dimana ? tanyanya lagi sambil menginjak gas, kendaraan pun kembali melaju.
Up to u” ia meyenderkan tubuhnya dan memperbaiki posisi dududknya yang tidak nyaman. Ia sudah bad feelling. Ia membuang pandangannya. Memperhatikan mobil- mobil lain yang lalu lalang melintas kota Jakarta. Pantas saja kota Jakarta padat dan berpolusi, setiap orang memiliki kendaraan masing-masing.


                                                  *********

            Doni berlari menuju ruang kelasnya. Lima menit lagi pasti terlambat.
“ Duh, baju loe kok kayak kebanjiran “ Toto teman sekuliahnya berkomentar.
“Gimana nggak. Gue tuh lari kesini takut telat” kata Doni sambil berusaha menenangkan dirinya. Ia mengatur napasnya pelan-pelan.
            Tak lama kemudian Mr. Dig masuk. Ia tidak sendirian seorang gadis yang amat dikenal Doni. Siapa lagi kalau bukan Ambarwati. Tapi Doni heran kokdia bisa mudah masuk ke kampus MP ini.
“Maaf anak-anak. Mungkin kalian bertanya-tanya mengenai gadis yang berdiri di samping saya. Namanya Ambarwati dia merupakan murid teladan dari kampus Cisarua. Dosen kampus disana telah merekomendasikan namanya untuk meneruskan studinya disini. Bersama kita tentunya”
            Lalu Ambarwati mencari kursi kosong. Ada beberapa kursi yang kelihatanya tidak berpenghuni. Ia cenderung memilih tempat duduk dekat jendela tepat di samping Doni.
“St . . . . . kok kamu . . . . . ?” bisik Doni namun terlalu keras sehingga puluhan pasang mata menuju kearahnya. Ia kembali ke posisi awalnya.
            Ambarwati tersenyum dan mengeluarkan catatannya dari dalam tas kulit.

                                 *************



“Sorry deh. Aku benar-benar nggak tahu kalo …….”Doni tidak meneruskan kata-katanya. Ia takut meyinggung perasaan Ambarwati.
“Sudahlah. Semua sudah terjadi kok. Sudah sore nih aku takut kemaleman”ucap Ambarwati.
“Mau ku antar?” Doni mencoba mengantarnya.
“Nggak , terima kasih “ dia berjalan meninggalkan Doni.
Doni hanya memndangnya pergi menjauh dari dirinya dan menghilang dari pandangannya.

                                *****************

“Eh mau ice cream nggak !!” tanya Lexi kasar.
“Yang sopan dong ngomongnya gue nggak tuli tahu “ ucap Andrea ketus
“Biasa dimanja sich” sindir Lexi padanya.
“Eh, gue tu bukan anak manja, tahu nggak” ia mendengus kesal. Kemudian beranjak keluar dari resto tersebut.
            Setelah membayar bill , Lexi segera menghampiri Andrea. Ditanganya terdapat ice cream yang berlapis tiga. “Nih” ia memberinya.
“Nggak ah, ogah” kata Andre sambila menyilngkan kedua lengannya didepan dada.
“Enak loh” Lexi menjilati ice creamnya “ m . . . m. . . .” Lexi menggodanya.
Andrea meliriknya “Aduh pengen” hati kecilnya merengek.
“Mau nggak entar nyesel loh.” ia semakin menggodanya.
“Gue bilang nggak ya nggak” bentaknya. “Tapi karna loe maksa ya udah sini.” katanya dengan nada lebih rendah.Ia pun meraihnya dengan jaim ngeselin.
Lexi tertawa. “Dasar” pikirnya . “Udah yuk balik. Ntar your father marahin gue lagi” ia menarik paksa Andrea yang sedang asyik menikmati ice cream tiga lapisnya, vanila, strawberry dan coklat.

                                        ************


            Hujan akhirnya turun, suara gemuruh, kilatan petir membuat hati pilu. Dingin mulai merasuk ke rongga jiwa. Sepi mulai terasa.
            Di rumah yang mungil dan sederhana, Doni sibuk menadahkan air dengan ember. Sudah terlalu banyak atap yang bocor karena usang dimakan waktu. Emak juga tampak gelisah menanti kepulangan Jay.
“Don, adik loe ke mane?” tanya emak yang lagi ngejahit kantong celana Donni yang sobek.
“Emak lupa ye, Jaykan mau . . . . .” Doni berfikir sejenak.
“Mau ape?”desak emak lagi.
“Itu mak, diakan mau siaran nanti malem. Masa emak lupa” ia menghentikan pekerjaannya sejenak.
“Oh iye, Mak kok pikun ye” dia tersenyum sendiri. “ Siarannye di mane ye?” Tanya emak lagi.
“Sil. . . .Sil apa ye, aye lupa –lupa inget sich”
“Silet” tebak emak
 “Bukan, oh ya . . . Siluet FM” Doni segera mengambil radio yang ada di kamarnya. Lalu membawanya mendekati emak. “Nah, bentar lagi mulai acaranye”
            Music romantic mengalun merdu. Doni menikmatinya sambil membaca makalah untuk presentasinya besok.
            Hallo pendengar sekalian, Jay disini akan menemani anda selama 30 menit ke depan dalam acara “Bedah Cinta”. Bagi anda yang mengalami putus cinta, jatuh cinta ataupun segala sesuatu yang menjadi uneg-uneg ingin dikeluarkan dan tidak tau pada siapa atau kemana maka tidak salah anda memilih gelombang ini. Anda bisa menghubungi kami melalui sms di 0857010410 atau mau langsung mengungkapkan isi hati bisa hubungi kami di 741345. Kami akan kembali setelah tembang berikut ini “
            Setelah suara Jay berhenti lagu yang dibawakan grup baru yang sedang naik daun diputar, ST 12 dengan tembang terbarunya mengalun memenuhi ruangan.
“Aduh anak emak. Jago banget yah!!”
“Ya ialah mak, Doni juga udah dapet kerjaan”
“Bener loe, Don” emak terbelalak tak percaya.
“Masa Doni bohong sih Mak”
“Alhamdulillah, syukur deh loe dah dapat kerja. Mak tenang kalo dah begini.”
“Ya Alhamdulillah mak, mudah-mudahan hidup kite bisa lebih baik lagi, aye juga gak mau ngerepotin mak, lagi.”
“Emak gak pernah kok minta apa-apa dari loe. Yang penting loe  bisa hidup bahagia mak juga cukup seneng”
“Ya mak” Doni memahami hati emak. Dia sangat menyayangi emak. Kasih emak tidak pernah akan bisa digantikan dengan apapun, sekalipun dengan segudang emas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar