Bab 4
Kampus
MP . . . . . .
Areal seluas 100 hektar ini memiliki
10 unit gedung perkuliahan yang rata-rata bertingkat tujuh. Terdapat laboratorium
bahasa, laboratorium computer dan
kimia yang ditunjang dengan peralatan yang lengkap. Disamping itu ada sebuah
danau buatan serta taman yang asri tempat mahasiswa melepas kejenuhan. Di sana juga telah disediakan fasilitas browsing dan
internetan. Terdapat perpustakaan dengan buku-buku yang cukup lengkap tak kalah
dengan perpustakaan nasional.
Dosen-dosennya banyak didatangkan
dari luar negeri namun dosen
dari dalam negeripun tak kalah bersaing.
Ada 10 fakultas di kampus itu. Hampir semua fakultas telah mendapat akreditasi
A dari Dikti. Fakultas unggulannya adalah Informatika. Sebagian besar lulusan
langsung bekerja di perusahaan besar baik di Indonesia atau perusahaan asing
di luar negeri. Bahkan ada lulusan yang bekerja di perusahaan milik Bill Gates
di Amerika.
Volvo yang dikendarai Andrea
memasuki areal kampus.
Amara dan David kuliah di sana juga.
Ia memarkirkan kendaraannya lalu turun mencari kantor administrasi atau kalau perlu langsung bertemu dengan rektor saja
sekalian.
Orang-orang yang kuliah disini adalah yang memiliki nilai akademis yang tinggi
dan tentunya bagi yang otaknya pas-pasan harus memiliki dompet yang tebal
sekalian.
“Hai Ndre”Amara berlari
menghampirinya . “Kirain
loe nggak datang”
Andrea hanya tersenyum kecut. “Bagian Administrasi dimana?” tanya Andrea.
Amara
menarik lengannya paksa. Ia membawanya ke sebuah ruangan di tingkat “6”.
“Kita mau kemana?” tanya Andrea.
“Dah loe ikut aja” akhirnya mereka tiba di depan sebuah
ruangan. Di pintu depan terpampang
tulisan “ Prof.Dr.Tyoprakoso, SH”
“Paman Tyo !!” pekiknya tak percaya .
“Kenapa kamu nggak bilang semalam
paman, Tyo rektornya”
“Surprise
buat loe” dengan mtdnya
(muka tanpa dosa)
Andrea langsung mencubit lengan
Amara saking gemasnya. “Aw, sakit”
ia meringis, air matanya sedikit keluar. Sementara itu Andrea menahan tawanya “Lagian
sih ngeselin.”
Pintu terbuka sedikit demi sedikit.
Seorang pria berkacamata tebal dengan kepala yang hampir plontos berdiri tegak
tubuhnya tidak terlalu tinggi.
“Paman!”pekiknya.
Andrea segera memeluknya. Senang sekali rasanya ia
dapat meluapkan kegembiraannya itu. Bertubi-tubi kecupan mendarat di wajah
lelaki yang berbadan gempal tersebut.
“Andrea !!” paman Tyo kelihatan
tak yakin, ia melepas kacamata lalu mengucek-ucek matanya dan memasangnya lagi.
Tetap saja yang ada di hadapannya merupakan keponakan yang tinggal di negeri
orang.
“Kok kamu nggak ngabarin kalo kamu
sudah di Indonesia ?”
Ia membimbing Andrea dan Amara masuk ke dalam ruangan.
“Kejutan aja kok. Lagipula Andrea bosan terlalu lama di Swiss, rindu rumah” kata Andrea
sambil memandang sekeliling ruangan.
Di dinding terpampang poster presiden Indonesia beserta wakilnya yang
terbingkai rapi.
Ruangan kerja paman Tyo cukup besar.
Satu set sofa, satu set computer plus meja kerja serta beberapa lukisan yang di
gantung di dinding yang bercat biru cerah.
“Huf” Andrea menghempaskan
tubuhnya begitu saja di sofa kelabu.
“Yang sopan dong Dre” Amara menegurnya. Matanya mendelik tajam.
Andrea tersipu malu. “Sorry yah
paman”
“Ah, nggak apa kok” lalu duduk di samping keponakannya
itu.
*********************************************************
Hari ini Jay akan mengikuti test
perguruan tinggi. Setelah itu dia akan langsung meluncur ke studio radio Silver FM
untuk debut pertamanya.
“Cepet Jay, ntar loe telat lagi” Golek, teman akrabnya
sudah menunggu di motornya. Ia
memperhatikan arloji karet yang sudah agak usang. Wajahnya tampak cemas.
“Iye bentar”Jay meraih tasnya lalu
mencium tangan emaknya dan pamit kepadanya.
“Semoga loe sukses dech”ucap emak memandang mereka sambil tersenyum.
“Amin dech. Ya udah Jay berangkat
dulu” lalu ia mengampiri
Golek. “Sorry kawan” ia langsung nangkring
di belakang motornya. “Tancap
!!” serunya.
“ Mak kita jalan dulu. Assalmualaikum!” teriak Golek.
“Waalaikum Salam. Ati-ati bawa motornya” pesan emak.
Tak lama kemudian Doni muncul. Ia mengenakan kemeja.
Rambutnya tersisir rapi. Parfum yang digunakannya tercium sampai ke hidung
emak.
“Eh,
kirain masih tidur loe”
Emak masuk ke dalam untuk
menata dagangnya.
“Udah
dari subuh kali mak lagipula aye mau nyari kerja.
Jadi aye mesti buru-buru pergi. Terus siangnya mau kuliah”
“ Biasanya habis sholat shubuh lo kan molor lagi”
Emak tersenyum dan meneruskan kerjanya.
“Itukan kemarin-marin Mak. Aye inget pesan dari Haji
Manaf barang siapa yang tidur selesai sholat Shubuh rejekinya bakal dipatok
ayam. Kalau dipikir-pikir bener juga mak. Makanye aye gak tidur lagi.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Emak sudah masak telor dadar
ame tempe goreng. Kalau mau pake sayur, sayurnye ade di dapur di panci. Loe
sarapan dulu baru pergi”
“Iye mak, makasih”
********************
“Oh jadi tujuan kamu kesini pengen kuliah di
kampus ini.” paman Tyo melirik ke Andrea .
“
Ya ialah paman. Buat apa
Andrea cape-cape kesini”
Andrea menggerutu
mulutnya manyun.
Paman tertawa. “Kalau begitu, sekarang kamu
bantu paman menyelesaikan suatu pekerjaan”
“Kalau
Ara gimana?” Amara protes. Masa
dari tadi dia dibiarkan saja. Tak seorang pun yang mengajaknya bicara. Sedih jadinya.
“
Kamu kembali aja ke kelas.”
“Ah
bosan . Dosennya beler bikin ngantuk”
Dia menyandarkan tubuhnya di
sofa.
“Kamu gak boleh gitu. Itu dosen kamu. Tapi hari ini mood
paman lagi bagus, kamu bantu pekerjaan paman bersama Andrea”
paman Tyo akhirnya mengalah.
Amara tersenyum girang.
“Nah gitu dong paman. I love you paman” ia mencium pipi paman
Tyo.
“Udah
ah. Kamu genit banget sama paman” paman menghindar dari kecupan keponakannya
yang centil itu.
**********
Hari semakin siang , cuaca kebetulan
mendung. Langit gelap dan terlihat muram. Namun hujan belum turun juga. Agin bertiup kencang menggoyang pohon yang tumbuh
menjulang. Udaranya sedikit lebih dingi dari biasanya.
“Anda
besok bisa mulai bekerja paruh waktu”
“Makasih
pak “ Doni pamit dengan sopan. Ia keluar dari ruangan ber- AC lalu berteriak
gembira.
Orang-orang
yang berada disekitarnya memperhatikan gelagat Doni yang aneh itu. Semua mata
tertuju padanya. “O...ow”
dalam hatinya dia terkejut, seketika itu juga wajahnya memerah dan langsung
keluar dari kantor dengan tergesa-gesa menuju lift.
“Och…”
seorang gadis tertabrak olehnya ketika ia berbelok di ujung koridor yang bercabang.
“Maaf…maaf
mbak” Doni berusaha membantunya
berdiri.
“Saya
terburu-buru”
ucapnya gugup.
“What….”gadis yang ditabraknya
terpaku ketika melihat Doni. “Kamu lagi”
dengusnya kesal.
“Eh…mbak
….mbak kan yang kemarin ketumpahan air minum saya”
“Kamu lagi kamu lagi berapa kali sih aku bertemu kamu dan
terjadi kesialan terus” andrea semakin jengkel
dengan pria yang sekarang berdiri di hadapannya.
“
Maaf mbak….aku benar gak sengaja”
Doni jadi bingung sendiri mau berkata apa.
“Haloo
aku bukan mbak kamu, and satu lagi aku bosan mendengar permohonan maaf dari
kamu. Basi tau gak lagipula siapa kamu”
“Tapi aku benar-benar menyesal.
Kalo kamu nggak maafin nggak apa kok. Itu hak kamu. Kewajiban aku hanya meminta
maaf sekali lagi aku minta maaf” Doni
meninggalkannya begitu saja.
Andrea terdiam “Ni cowok berani juga” ia tersenyum sendiri
dan berlalu menuju ruang kerja papanya di tingkat paling atas.
********
“Gimana sekolahmu sayang?” tanya papa yang masih
sibuk dengan proposal – proposal yang harus dipelajari.
“Not
so bad” ia meraih beberapa map
dan membukanya satu persatu.
“Maaf
pak” seorang
pria berjas masuk ke dalam ruangan ia membawa beberapa map lain. “Saya baru
saja menerima karyawan baru. Mungkin sesuai dengan permintaan bapak” ia
menyerahkan map tersebut.
“Baiklah.
Kalau memang dia yang dibutuhkan , kenapa kita tidak menerimanya”
“Tapi
…… ia tidak bekerja penuh hanya paruh waktu dan bapak bisa lihat di dalam file
lebih lanjut”
Papa
menerima lembaran map tersebut sambil tersenyum.
“Kalau
gitu, saya undur diri dulu.”
Pria yang tubuhnya agak kurus melirik ke Andrea lalu tersenyum. Iapun keluar ruangan dengan
sopan.
“Huf
…… kerjaan lagi dech”
kata papa mengeluh. Ia melemparkan map hijau di atas meja.
“Kenapa papa nggak
istirahat aja dulu?
Ambil cuti kan ada Lexi. Biarkan dia yang handle
sementara” ia
meraih map hijau yang di letakan papa di atas meja dengan agak
kasar.
“What
. . .?!”
“Kenapa kamu sayang ?!” papa jadi bingung. Ia
benar-benar kaget.
“Nothing” buru-buru ia
menjawabnya. Dia tersenyum sendiri sambil manggut-manggut.
Papa
semakin heran “Kamu
yakin nggak apa-apakan ?”tanya papa cemas dan
meyakinkan.
“Nggak
kok pap. Udah deh jangan khawatirkan Andre.” lalu
ia membalik lembaran yang berbeda di dalam map.
Setengah jam kemudian Andrea
beranjak . “Pap, lunch yuk” ajak Andrea.
“
Aduh kamu gak lihat, Papa
masih sibuk nih. Kamu ajak Lexi aja.
Biar papa yang panggil” papapun mengangkat gagang telepon yang
terletak di depannya. “Lexi, temui saya sekarang juga” ia meletakkan kembali
gagang telepon tersebut. “ Bereskan ?!” papa melanjutkan kerjanya.
“
Nggak mau ah. Andrea maunya makan sama papa”
Andrea pura-pura merajuk.
“Jangan
sekarang yah, papa sangat
sibuk. Lain
kali papa janji deh”
“Huuh…”
ia mendengus kesal tak lama kemudian pintu terbuka.
“Maaf
oom” Lexi berjalan
menghampiri mereka.
“Sekarang
kamu antar Andrea
ke mana
aja. Dia mau lunch dan kamu temani dia”
“
Baik oom.”
*************
“Kok
dari tadi diam aja sih ?”
Andrea yang duduk di sampingnya
jadi jengkel. Ia memperhatikan wajah
cowok yang lagi serius mengendarai volvonya. Namun dia masih diam saja. “Hei man! Kamu tuli ya?”
Lexi
menoleh ke arahnya lalu memperlambat laju kendaraan
hinggabenar-benar berhenti.
Andrea tersentak. Wajahnya memucat
ketakutan. “Kamu mau apa?
“ tanyanya takut.
Lexi tersenyum. “Dasar gadis manja”
Andrea tampak lega. Tubuhnya
seakan-akan melorot dan merosot dari kursi. Ia mengira Lexi bakal melakukan
tindakan –tindakan yang tidak diinginkannya.
“Kita
mau makan dimana ?”
tanyanya lagi sambil menginjak gas, kendaraan pun kembali melaju.
“Up to u” ia meyenderkan
tubuhnya dan memperbaiki posisi dududknya yang tidak nyaman. Ia sudah bad feelling. Ia membuang pandangannya. Memperhatikan
mobil- mobil lain yang lalu lalang melintas kota Jakarta. Pantas saja kota
Jakarta padat dan berpolusi, setiap orang memiliki kendaraan masing-masing.
*********
Doni berlari menuju ruang kelasnya.
Lima menit lagi pasti terlambat.
“
Duh, baju loe kok kayak kebanjiran “ Toto teman sekuliahnya berkomentar.
“Gimana
nggak. Gue tuh lari kesini takut telat” kata Doni sambil berusaha menenangkan dirinya.
Ia mengatur napasnya pelan-pelan.
Tak lama kemudian Mr. Dig masuk. Ia
tidak sendirian seorang gadis yang amat dikenal Doni. Siapa lagi kalau bukan
Ambarwati. Tapi Doni heran kokdia bisa mudah masuk ke kampus MP ini.
“Maaf
anak-anak. Mungkin kalian bertanya-tanya mengenai gadis yang berdiri di samping
saya. Namanya Ambarwati dia merupakan murid teladan dari kampus Cisarua. Dosen
kampus disana telah merekomendasikan namanya untuk meneruskan studinya disini.
Bersama kita tentunya”
Lalu Ambarwati mencari kursi kosong.
Ada beberapa kursi yang kelihatanya tidak berpenghuni. Ia cenderung memilih
tempat duduk dekat jendela tepat di samping Doni.
“St
. . . . . kok kamu . . . . . ?” bisik Doni namun terlalu keras sehingga puluhan
pasang mata menuju kearahnya. Ia kembali ke posisi awalnya.
Ambarwati tersenyum dan mengeluarkan
catatannya dari dalam tas kulit.
*************
“Sorry
deh. Aku benar-benar nggak tahu kalo …….”Doni tidak meneruskan kata-katanya. Ia
takut meyinggung perasaan Ambarwati.
“Sudahlah.
Semua sudah terjadi kok. Sudah sore nih aku takut kemaleman”ucap Ambarwati.
“Mau
ku antar?” Doni mencoba mengantarnya.
“Nggak
, terima kasih “ dia berjalan meninggalkan Doni.
Doni
hanya memndangnya pergi menjauh dari dirinya dan menghilang dari pandangannya.
*****************
“Eh
mau ice cream nggak !!” tanya Lexi kasar.
“Yang
sopan dong ngomongnya gue nggak tuli tahu “ ucap Andrea ketus
“Biasa
dimanja sich” sindir Lexi padanya.
“Eh,
gue tu bukan anak manja, tahu nggak” ia mendengus kesal. Kemudian beranjak
keluar dari resto tersebut.
Setelah membayar bill , Lexi segera
menghampiri Andrea. Ditanganya terdapat ice cream yang berlapis tiga. “Nih” ia
memberinya.
“Nggak
ah, ogah” kata Andre sambila menyilngkan kedua lengannya didepan dada.
“Enak
loh” Lexi menjilati ice creamnya “ m . . . m. . . .” Lexi menggodanya.
Andrea
meliriknya “Aduh pengen” hati kecilnya merengek.
“Mau
nggak entar nyesel loh.” ia semakin menggodanya.
“Gue
bilang nggak ya nggak” bentaknya. “Tapi karna loe maksa ya udah sini.” katanya
dengan nada lebih rendah.Ia pun meraihnya dengan jaim ngeselin.
Lexi
tertawa. “Dasar” pikirnya . “Udah yuk balik. Ntar your father marahin gue lagi”
ia menarik paksa Andrea yang sedang asyik menikmati ice cream tiga lapisnya,
vanila, strawberry dan coklat.
************
Hujan akhirnya turun, suara gemuruh,
kilatan petir membuat hati pilu. Dingin mulai merasuk ke rongga jiwa. Sepi
mulai terasa.
Di rumah yang mungil dan sederhana,
Doni sibuk menadahkan air dengan ember. Sudah terlalu banyak atap yang bocor
karena usang dimakan waktu. Emak juga tampak gelisah menanti kepulangan Jay.
“Don,
adik loe ke mane?” tanya emak yang lagi ngejahit kantong celana Donni yang
sobek.
“Emak
lupa ye, Jaykan mau . . . . .” Doni berfikir sejenak.
“Mau
ape?”desak emak lagi.
“Itu
mak, diakan mau siaran nanti malem. Masa emak lupa” ia menghentikan
pekerjaannya sejenak.
“Oh
iye, Mak kok pikun ye” dia tersenyum sendiri. “ Siarannye di mane ye?” Tanya
emak lagi.
“Sil.
. . .Sil apa ye, aye lupa –lupa inget sich”
“Silet”
tebak emak
“Bukan, oh ya . . . Siluet FM” Doni segera
mengambil radio yang ada di kamarnya. Lalu membawanya mendekati emak. “Nah, bentar
lagi mulai acaranye”
Music romantic mengalun merdu. Doni
menikmatinya sambil membaca makalah untuk presentasinya besok.
Hallo pendengar sekalian, Jay disini
akan menemani anda selama 30 menit ke depan dalam acara “Bedah Cinta”. Bagi
anda yang mengalami putus cinta, jatuh cinta ataupun segala sesuatu yang menjadi
uneg-uneg ingin dikeluarkan dan tidak tau pada siapa atau kemana maka tidak
salah anda memilih gelombang ini. Anda bisa menghubungi kami melalui sms di
0857010410 atau mau langsung mengungkapkan isi hati bisa hubungi kami di
741345. Kami akan kembali setelah tembang berikut ini “
Setelah suara Jay berhenti lagu yang
dibawakan grup baru yang sedang naik daun diputar, ST 12 dengan tembang
terbarunya mengalun memenuhi ruangan.
“Aduh
anak emak. Jago banget yah!!”
“Ya
ialah mak, Doni juga udah dapet kerjaan”
“Bener
loe, Don” emak terbelalak tak percaya.
“Masa
Doni bohong sih Mak”
“Alhamdulillah,
syukur deh loe dah dapat kerja. Mak tenang kalo dah begini.”
“Ya
Alhamdulillah mak, mudah-mudahan hidup kite bisa lebih baik lagi, aye juga gak
mau ngerepotin mak, lagi.”
“Emak
gak pernah kok minta apa-apa dari loe. Yang penting loe bisa hidup bahagia mak juga cukup seneng”
“Ya
mak” Doni memahami hati emak. Dia sangat menyayangi emak. Kasih emak tidak
pernah akan bisa digantikan dengan apapun, sekalipun dengan segudang emas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar