Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPS Bab 6



BAB 6


            OSPEK akan dilakukan hari ini, Tepat hari Minggu, hari dimana orang-orang bermanja-manja diatas kasur alias molor dan banyak lagi aktivitas yang dilakukan dihari libur yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
            Mahasiswa baru sudah siap melaksanakan OSPEK, Ngomong-ngomong soal OSPEK mungkin banyak yang belum mengetahui OSPEK sendiri kepanjangan dari Orientasi Pengenalan Kampus. Biasanya berlangsung sampai satu pekan. Tapi OSPEK sekarang lebih kurang disalah artikan . Mahasiswa senior mengadakan kegiatan ini bukan sebagai pengenalan tapi sebagai ajang balas dendam.
            Banyak yang sudah jadi korban, bahkan mahasiswa yang diploncoin meninggal saking kerasnya peloncoan yang dilakukan senior terhadap junior. Makanya, waktu penerimaan mahasiswa baru, para rektor setiap kampus merasa dag-dig-dug, kalau-kalau kejadian fatal yang dapat menghilangkan nyawa seseorang terjadi lagi.
            Ada beberapa kampus yang melarang kegiatan OSPEK ini namun tetap saja OSPEK ada, jika tidak diselenggarakan rasa dendam masih menggelora dalam dada para mahasiswa.
            Dikampus MP, OSPEK masih ditolerir sebatas kewajaran saja. Rektor pun sudah mempercayakannya pada mahasiswa senior tentunya yang memang benar-benar sudah dipercaya.
"Kalian semua siap!!!!!"Teriak Udin selaku penanggung jawab kegiatan ini.
"Siap......."seru mahasiswa baru, kebanyakan dari mereka mengenakan seragam, ada juga hanya mengenakan kemeja malah ada yang pakai T-shirt.
"Ok...... kita akan adakan OSPEK, kalian akan dibagi menjadi dua kelompok." Udin berjalan mengamati barisan. Ia berdiri ditengah-tengah barisan.
"Sebelah kiri saya, ikut rombongan satu dan kanan saya rombongan dua. teriaknya lagi. Paham!!!!"
"Paham........."jawab mereka kompak.
"Sekarang , kalian ikuti senior kalian masing-masing sebelumnya saya ucapkan selamat datang dan selamat menikmati suguhan dari kampus MP".
"Huh........ngapain gue ikut-ikutan kayak gini” Andrea mendengus, ia melangkah dengan males.
"Sabar aja lagi, ntar juga kita bisa melakukan kayak ini ko" tiba-tiba seorang gadis menyeletuk "Oh yach, gue Dian , " ia mengulurkan tangan.
"Andrea".
"What?" ia mengangkat alisnya. Mungkin heran kok bisa cewek namanya kayak cowok tapi sekarang itu biasa.
"Andrea, loe denger nggak sich "katanya sewot.
"Sorry, " Dian yang tubuhnya lebih besar dibanding Andrea cengengesan dan tertawa kecil.
"He..... kalian berdua ngapain diam disitu " bentak pria tubuh gempal yang tak lain dan tak bukan adalah Dudu.
            Mereka berdua menghampirinya Lau tertunduk. 
"Kalian tahu nggak,......"
"Nggak...." celetuk Andrea yang dilangsung diinjak kakinya oleh Dian. "Auw......sakit !!!"
"Ini kuntilanak, sudah berani yach lawan senior." ucap Dudu berang.
"Habis kelamaan sich, to the point aja lagi" kata Andrea cuek , ia memainkan rambutnya yang sebahu itu.
"Eh....malah ngelawan nich cewek nantangin rupanya".Dudu sudah semakin panas, maklum hari semakin siang, matahari sudah tepat di atas kepala.
"Udah deh cepet, kita disuruh apa?"
"St.....st...." Dian membungkam mulutnya.
Andrea memberontak "Apa-apaan sich?"
"Bego loh, loe cari mati yach!!!" Dian tampak sewot juga ngadapin Andrea yang aneh itu.
Amara yang melihat kejadian tersebut berlari menghampiri mereka. " Ada apa nich? " tanyanya serius pada Dudu.  
"Liat tuh cewek, baru jadi mahasiswa udah belagu banget" kata Dudu.
"Sial loe, lihat aja nanti " Andrea mengepalkan telapak tangannya.
Amara berlari menjauh sambil tertawa terbahak-bahak.
"Rasain loe gue kerjain ".

                                                                                                *************


"Empat puluh sembilan.....lima puluh" Andrea menghempaskan tubuhnya ke ubin, kaos yang dikenakan basah karena keringat.
Sementara Dian tampak ngos-ngosan."Gue nyesel kenalan ama loe " keluhnya.
"Siapa suruh....."
"He..., jangan berleha-leha, cepet bangun" teriak Dudu.
"Iya....." ucap Andrea ketus. ia melirik kearah Amara yang lagi ngerjain cowok-cowok. "Dasar gatel banget jadi orang"
"Apanya gatel?" Dudu memandang curiga.
"Maksud saya punggung saya gatel " dia menggaruk-garuk punggungnya sendiri. Dian tersenyum dibalik tubuh Andrea yang kecil.
"Ya sudah, sekarang kalian berdua ikut saya ".
"Mau kemana lagi?"
"Udah ikut aja".
            Andrea cemberut, terpaksa dia mengekor Dudu yang tambun itu dibelakang tentunya Dian ikut loh.
                                                                                   
                                                                                                ************

            Jay dan Golek mengenakan seragam SMUnya. bajunya sudah kelihatan dekil , sepekan nggak dicuci. soalnya mereka tahu bakal dikerjain mahasiswa senior dari sini.
"Jay, tuh cewek cakep noh " Golek si mata keranjang menunjuk kearah seorang gadis yang berdiri dibawah pohon.
"Bego loh, itukan cowok."
"Masa" Golek nggak percaya dengan penglihatannya. Maklum orang yang berdiri dibawah pohon cuma kelihatan punggungnya dengan rambut panjang lurus tergerai. Emang nggak salah kalo dia nyangka tuh orang cewek soalnya dari belakang aja udah kelihatan seksi.
"Nich anak nggak percaya banget. Dari belakang sich body cewek tapi dari depan dia tuh punya onderdil kayak kita".
            Golek merasa nggak puas juga. Akhirnya dia sendiri yang menghampiri " gadis" itu.
"Hallo manis, boleh kenalan kan?" ia menyetuh pundaknya dari belakang.
Ia menengok . "Boleh" jawabnya dengan suara ngebass.
"Ya ampun mimpi apa gue semalem, nggak jadi deh " dia berlari kembali menghampiri Jay.
"Makanye..... loe tuh mesti percaye ama omongan gue. Nah loh tuh "cewek" nyamperin kesini" goda Jay.
"Mana?" tanyanya ketakutan.
"Cewek " itu melambai kearah Golek yang ngumpet dibalik badan Jay. "Gue nggak mau ketemu".
            Jay tertawa terpingkal-pingkal. main api berani terbakar main air berani kebasahan mainin orang wah terima aja akibatnya.
"Eh , Lek tuh cewek yang kemaren dech"
"Mana......"
"Itu...."
Golek menyembunyikan kepala, mengitip untuk melihat gadis kemarin “Iya.....iya....."
"Kayaknya dia senior dech, Liat tuh dia lagi ngerjain cowok-cowok".
"Iya " dia mengangguk lagi. " Genit juga yach itu cewek".
"He..eh....".
"Kita samperin yuk" ajak Golek.
"Gue mau, Tapi urusan loe ama tuh "cewek" gimana" ia melirik ke "cewek” yang masih melambaikan tangannya itu.
"Ahhh......gue takut nich, Ntar gue diapa-apain lagi" dia buru-buru meraih tangan Jay dan menarik paksa untuk menghampiri cewek kemarin siang.

                                                            **************

"He, kalian berdua.....kenapa telat" bentak Roy, mahasiswa senior yang mendampingi Amara. Tampangnya kayak kuda, giginya mancung dan hidungnya agak kedalam, kerempeng badannya dan mukanya tirus, bener-bener seperti kuda.
"Maaf, kami telat"
"Iya, saya juga tahu kalian telat" bentaknya kasar.
            Jay mengedipkan mata ke arah Amara. Cewek itu rada kaget juga sich tapi dia malah senyum-senyum aja.
"Woi...loe perkutut, ngelirak-ngelirik aja loe cacingan yach......" kata Roy sentimentil.
"Oh tentu tidak kan udah Golek kasih obat" celetuknya Golek tiba-tiba. Ia disambut tawa mahasiswa baru, juga Jay. Amara pun jadi ikut tertawa.
"DIAM...!" bentaknya lagi. Kamu push up 50 kali, sit up 50 kali terus panjat tuh pohon".
Golek menatap lesu. "Gue nggak ikut campur" bisik Jay

                                                                                                            ****************

"Wah....tangan gue keriting nich" Andrea menjatuhkan tubuhnya dari sofa. "Bi.....bi Darsih!!" teriaknya.
Bi Darsih lari tergopoh-gopoh “Ada apa non......" tanyanya khawatir, takut-takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Tangan Andrea bi" ia mengeluh
"Kenapa? Perasaan gak papa ko" bi Darsih memperhatikan lengan Andrea.
"Pegel, abis push up"
"Ya ampun.....biar bibi olesin balsem dech" Bi Darsih beranjak mengambil balsem.
            Mama muncul dari kamar. Ia mengenakan stelan blezer warna merah gelap, roknya pun berwarna sama serta tas kulit dengan warna yang sama pula. Berjalan menghampiri Andrea "What's wrong with you?" tanya mama dan duduk disebelahnya.
Andrea menggeser sedikit “Nothing"
"You lie to me" kata Mama kecewa.
"Please dong ma, Andrea sudah besar bukan anak kecil lagi".
"Yes, Mama tahu.....Apa salahnya mama bertanya seperti itu" ucap mama prihatin.
"Tadikan Andre ikut OSPEK, ya udah dikerjain dech sama senior disana".
"Oh, I know what, M.....m... tapi kamu nggak papakan sayang".
"Iya sich, tapi rada pegal aja. Ngomong-ngomong mama rapi banget, mau kemana?" tanya Andrea.
"Mama mau berangkat ke Thailand, ada relasi penting dengan mitra kerja".
"Sama papa?!”
"Kayaknya papa lagi sibuk tuh, makanya mama disuruh papa untuk nemuin tuan I Than Khok, dia mau nanam saham di perusahaan kita, lumayan loh 30%".
            Andrea menganga lebar, ternyata sulit juga ngurus perusahaan. Pantas saja papa dan mama sibuk terus, jarang kumpul di rumah.
"Ya sudah, Mama pergi dulu yach" ia beranjak, mengecup kening Andrea. "Good bye".
"Tak lama kemudian bi Darsih muncul dan berpapasan dengan mama "Bi, Jaga Andre yach".
"Iya bu" Lalu ia menghampiri Andrea yang tampak malas disofa. "Nich balsemnya non. Apa sekalian mbok pijati".
 "Makasih dech mbok, biar Andre aja" ia meraih balsem tersebut.
"Kalo gitu bibi tinggal ke belakang, Bibi ingin siapin makan malam dulu".
"Bi", panggil Andrea ketika bibi beranjak.
"Ada apa lagi non".
"Kayaknya bibi nggak usah nyiapin dech makan malam, mamakan pergi, papa juga paling pulangnya telat".
"Nanti non Andre makan malamnya gimana?"
"Nyantai dech bi, ntar juga Andre bisa mesen kok. Sekarang bibi buatin Andre jus alpukat yach. Andre kangen loh jus alpukat buatan bibi, enak banget sich" puji Andrea.
"Ah non bisa aja" bi Darsih tampak gembira lalu pergi ke dapur segera.

                                                         ***************

"Tak.....tak..." Doni sibuk membetulkan atap rumah, ia hanya mengenakan kaos oblong yang sudah belel plus celana pendek yang sudah bertambal.
"Don, loe udah selesai belon"teriak Emak dari bawah ia membawa nampan berisi es teh dan stoples kripik singkong pedas lalu meletakkannya di meja bambu.
"Bentar lagi mak.....ntar juga kelar" ia mengusap keringatnya dengan kaos lalu kembali memalu.
"Don, gue pinjem kemeja loe yach!!" teriak Jay yang keluar dengan sarung dan kaos singlet. Rambutnya terlihat basah karena habis mandi.
"Kemeja yang mana?!"
"Yang kotak-kotak".
"Warna?!"
"Biru".
"Pake aja!!!"
"Wah.....thank you nich my brother" ia masuk kedalam dengan muka beseri.
            Sepuluh menit kemudian Doni turun. mencuci tangannya dikran depan, lalu meraih gelas berisi es teh dan meneguknya hingga tinggal setengah. ia mengipas-ngipas tubuhnya dengan koran bekas yang ada disamping nampan.
"Wuh........cape juga ye Mak".
"Ya ialah Don, Emak yang kagak kerja aja ngeliat loe udah cape apalagi emak yang kerja, Bisa-bisa tulang-tulang emak rontok.
            Doni tertawa kecil dan kembali meneguk es tehnya.
"Emangnya Jay masih tugas ye?" tanya Doni.
"Kagak tahu dech, Coba aja loe tanya nanti".
"Ada ape?" tanya Jay yang tiba-tiba nongol dengan pakaian yang luar biasa rapinya.
"Loe kagak ade libur apa?" tanya Doni.
"M.......m...... belon tuh, soalnye aye masih dalam tahap uji coba paling lama sich satu bulan, kalo emang yang sononya udah percaye, Aye dapet jadwal baru, Ntar gantian gitu".
"Oh......"
"Aye berangkat dulu dech mak, Yuk Don" mencium tangan Emaknya dan tumben tangannya Doni juga ikut-ikutan dicium.
"Iye Mak, aye beresin dulu dech barang-barang ntu".
                                                           

                                       **************

"Sorry dech"Amara memohon. "Gue khilaf".
"What ? Enak aja loe said like that, emang gue gudang maaf. Tiap detik loe tuh usil ama gue. I hate you tahu nggak" Andrea membelakanginya. Mulutnya manyun, tanganya menyilang  di depan dada.
Amara tersenyum."Dasar, nich anak manja banget sich, tapi nggak papa, makin enak diusilin" ia tertawa dalam hati " Ayolah forgive me dong" ia merayu dengan memasang tampang melas "My cousin".
"Udah ah....jangan ngerayu-ngerayu gitu. gue tuh tahu percuma loe minta maaf ama gue ngerjain orang liat-liat dulu nggak tahu apa, guekan pernah ikut teater di Swiss."
Sekarang giliran Amara yang manyun. "Kalo gitu gue pulang aja....percuma disini gue dicuekin" ia mengambil tas rajutan talinya.
"Eh....jangan ntar tante marahin gue lagi". Amara geli menahan tawa "Katanya jago akting, Baru digituin aja, kayak kebakaran jenggot"
"Dasar loe, nipu gue lagi"Andrea menjitak kepalanya.
"Aw...."
"Nich namanya pembalasan "katanya puas.Akhirnya keinginan yang selama ini dipendam, bisa diekspresikan sepuasnya."Ngomong-ngomong gue kagak liat David dari kemarin, kemana tuh anak?"
"Au dech" jawab Amara cuek. ia mengusap-usap kepalanya yang habis dijitak.
"Gue serius nich"
"Iye, gue kagak tahu, Paling-paling dia hanging out ama teman-temannya".
            Suasana kembali sunyi. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Suara jam terdengar jelas, tak,tak,tak. Detik demi detik berlalu.
"Kok jadi diam gini" kata Andrea membuka suara.
"Gue lagi males ngomong aja"ucap Amara lalu ia berjalan menuju meja rias. Ia pandangi wajahnya dicermin. Ia kemudian melepaskannya ikat rambutnya tergerai"Gue cantik ga sich?"tanyanya membalikkan tubuh.
Andrea menatapnya dengan keheranan. "Maksudnya......?"
"Ah, sudahlah......" ia kembali memandangi wajahnya, matanya mirip David, rambutnyapun pirang namun agak ikal dan tidak seluruh rambut kakanya. Ia tampak cantik dengan rambut yang tergerai bebas dan lumayan panjang.
"Loe ngomong apa sich? tell me dong?" Andrea sudah berdiri di belakangnya."Masalah cowok yach?" Amara tersipu mukanya merah.
"Tuhkan, loe nggak cerita, guekan sepupu loe"Amara tersenyum. "Tapi gue belum kenal ama orangnya".
"Nggak apa? pasti dia anak baru"
Amara mengangguk pelan. "Tadi ada cowok, lucu sich tahu nggak yang gue suka ama dia?"
Andrea menggeleng.
"Kalau dia tersenyum, lesung pipitnya kelihatan manis banget dech orangnya".
"Gula dong"
"Gue serius" dia merenggut
"Eh sekarang jam berapa nich" ucap Andrea buru-buru.
"Jam delapan, tuh jamnya gede gitu disono" ia menunjuk sebuah jam berbentuk delman yang tergantung di dinding. "Emangnya kenapa?"
"Loe nggak mau dengerin suara kesayangan loe?"
Amara mengerutkan dahi "What did you say sich, I don't understand tahu"
"Jay " pekik Andrea Ia lau mengambil tape yang ada didekat meja belajar.
" Cinta dari pandangan pertama..... mungkin agak aneh, Tapi gue juga ngalaminya loh dan gue percaya cinta pandangan pertama mungkin cinta yang bakal abadi. Yang terpenting adalah ketulusan dari masing-masing pasangan..... Saudara pendengar dimanapun anda berada, Jay bakal kembali lagi setelah yang satu ini" musik pop bertema cinta mengalun memenuhi ruangan.
            Mereka kembali terdiam, mungkin perasaan yang mereka alami sama seperti yang baru saja diucapkan Jay, Cinta pada pandangan pertama itu ada dan mungkin ini merupakan cinta yang bener-bener tulus yang berasal dari hati yang paling dalam siapa tahu...........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar