OSPEK
akan dilakukan hari ini, Tepat hari Minggu, hari dimana orang-orang
bermanja-manja diatas kasur alias molor dan banyak lagi aktivitas yang
dilakukan dihari libur yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Mahasiswa baru sudah siap
melaksanakan OSPEK, Ngomong-ngomong soal OSPEK mungkin banyak yang belum
mengetahui OSPEK sendiri kepanjangan dari Orientasi Pengenalan Kampus. Biasanya
berlangsung sampai satu pekan. Tapi OSPEK sekarang lebih kurang disalah artikan
. Mahasiswa senior mengadakan kegiatan ini bukan sebagai pengenalan tapi
sebagai ajang balas dendam.
Banyak yang sudah jadi korban,
bahkan mahasiswa yang diploncoin meninggal saking kerasnya peloncoan yang
dilakukan senior terhadap junior. Makanya, waktu penerimaan mahasiswa baru,
para rektor setiap kampus merasa dag-dig-dug, kalau-kalau kejadian fatal yang
dapat menghilangkan nyawa seseorang terjadi lagi.
Ada beberapa kampus yang melarang
kegiatan OSPEK ini namun tetap saja OSPEK ada, jika tidak diselenggarakan rasa
dendam masih menggelora dalam dada para mahasiswa.
Dikampus MP, OSPEK masih ditolerir
sebatas kewajaran saja. Rektor pun sudah mempercayakannya pada mahasiswa senior
tentunya yang memang benar-benar sudah dipercaya.
"Kalian
semua siap!!!!!"Teriak Udin selaku penanggung jawab kegiatan ini.
"Siap......."seru
mahasiswa baru, kebanyakan dari mereka mengenakan seragam, ada juga hanya
mengenakan kemeja malah ada yang pakai T-shirt.
"Ok......
kita akan adakan OSPEK, kalian akan dibagi menjadi dua kelompok." Udin
berjalan mengamati barisan. Ia berdiri ditengah-tengah barisan.
"Sebelah
kiri saya, ikut rombongan satu dan kanan saya rombongan dua. teriaknya lagi.
Paham!!!!"
"Paham........."jawab
mereka kompak.
"Sekarang
, kalian ikuti senior kalian masing-masing sebelumnya saya ucapkan selamat
datang dan selamat menikmati suguhan dari kampus MP".
"Huh........ngapain
gue ikut-ikutan kayak gini” Andrea mendengus, ia melangkah dengan males.
"Sabar
aja lagi, ntar juga kita bisa melakukan kayak ini ko" tiba-tiba seorang
gadis menyeletuk "Oh yach, gue Dian , " ia mengulurkan tangan.
"Andrea".
"What?"
ia mengangkat alisnya. Mungkin heran kok bisa cewek namanya kayak cowok tapi
sekarang itu biasa.
"Andrea,
loe denger nggak sich "katanya sewot.
"Sorry,
" Dian yang tubuhnya lebih besar dibanding Andrea cengengesan dan tertawa
kecil.
"He.....
kalian berdua ngapain diam disitu " bentak pria tubuh gempal yang tak lain
dan tak bukan adalah Dudu.
Mereka berdua menghampirinya Lau
tertunduk.
"Kalian
tahu nggak,......"
"Nggak...."
celetuk Andrea yang dilangsung diinjak kakinya oleh Dian. "Auw......sakit
!!!"
"Ini
kuntilanak, sudah berani yach lawan senior." ucap Dudu berang.
"Habis
kelamaan sich, to the point aja lagi" kata Andrea cuek , ia memainkan
rambutnya yang sebahu itu.
"Eh....malah
ngelawan nich cewek nantangin rupanya".Dudu sudah semakin
panas, maklum hari semakin siang, matahari sudah tepat di atas kepala.
"Udah
deh cepet, kita disuruh apa?"
"St.....st...."
Dian membungkam mulutnya.
Andrea
memberontak "Apa-apaan sich?"
"Bego
loh, loe cari mati yach!!!" Dian tampak sewot juga ngadapin Andrea yang
aneh itu.
Amara
yang melihat kejadian tersebut berlari menghampiri mereka. " Ada apa nich?
" tanyanya serius pada Dudu.
"Liat
tuh cewek, baru jadi mahasiswa udah belagu banget" kata Dudu.
"Sial
loe, lihat aja nanti " Andrea mengepalkan telapak tangannya.
Amara
berlari menjauh sambil tertawa terbahak-bahak.
"Rasain
loe gue kerjain ".
*************
"Empat
puluh sembilan.....lima puluh" Andrea menghempaskan tubuhnya ke ubin, kaos
yang dikenakan basah karena keringat.
Sementara
Dian tampak ngos-ngosan."Gue nyesel kenalan ama loe " keluhnya.
"Siapa
suruh....."
"He...,
jangan berleha-leha, cepet bangun" teriak Dudu.
"Iya....."
ucap Andrea ketus. ia melirik kearah Amara yang lagi ngerjain cowok-cowok.
"Dasar gatel banget jadi orang"
"Apanya
gatel?" Dudu memandang curiga.
"Maksud
saya punggung saya gatel " dia menggaruk-garuk punggungnya sendiri. Dian
tersenyum dibalik tubuh Andrea yang kecil.
"Ya
sudah, sekarang kalian berdua ikut saya ".
"Mau
kemana lagi?"
"Udah
ikut aja".
Andrea cemberut, terpaksa dia
mengekor Dudu yang tambun itu dibelakang tentunya Dian ikut loh.
************
Jay dan Golek mengenakan seragam
SMUnya. bajunya sudah kelihatan dekil , sepekan nggak dicuci. soalnya mereka
tahu bakal dikerjain mahasiswa senior dari sini.
"Jay,
tuh cewek cakep noh " Golek si mata keranjang menunjuk kearah seorang
gadis yang berdiri dibawah pohon.
"Bego
loh, itukan cowok."
"Masa"
Golek nggak percaya dengan penglihatannya. Maklum orang yang berdiri dibawah
pohon cuma kelihatan punggungnya dengan rambut panjang lurus tergerai. Emang
nggak salah kalo dia nyangka tuh orang cewek soalnya dari belakang aja udah
kelihatan seksi.
"Nich
anak nggak percaya banget. Dari belakang sich body cewek tapi dari depan dia
tuh punya onderdil kayak kita".
Golek merasa nggak puas juga.
Akhirnya dia sendiri yang menghampiri " gadis" itu.
"Hallo
manis, boleh kenalan kan?" ia menyetuh pundaknya dari belakang.
Ia
menengok . "Boleh" jawabnya dengan suara ngebass.
"Ya
ampun mimpi apa gue semalem, nggak jadi deh " dia berlari kembali
menghampiri Jay.
"Makanye.....
loe tuh mesti percaye ama omongan gue. Nah loh tuh "cewek" nyamperin
kesini" goda Jay.
"Mana?"
tanyanya ketakutan.
"Cewek
" itu melambai kearah Golek yang ngumpet dibalik badan Jay. "Gue
nggak mau ketemu".
Jay tertawa terpingkal-pingkal. main
api berani terbakar main air berani kebasahan mainin orang wah terima aja
akibatnya.
"Eh
, Lek tuh cewek yang kemaren dech"
"Mana......"
"Itu...."
Golek
menyembunyikan kepala, mengitip untuk melihat gadis kemarin “Iya.....iya....."
"Kayaknya
dia senior dech, Liat tuh dia lagi ngerjain cowok-cowok".
"Iya
" dia mengangguk lagi. " Genit juga yach itu cewek".
"He..eh....".
"Kita
samperin yuk" ajak Golek.
"Gue
mau, Tapi urusan loe ama tuh "cewek" gimana" ia melirik ke
"cewek” yang masih melambaikan tangannya itu.
"Ahhh......gue
takut nich, Ntar gue diapa-apain lagi" dia buru-buru meraih tangan Jay dan
menarik paksa untuk menghampiri cewek kemarin siang.
**************
"He,
kalian berdua.....kenapa telat" bentak Roy, mahasiswa senior yang
mendampingi Amara. Tampangnya kayak kuda, giginya mancung dan hidungnya agak
kedalam, kerempeng badannya dan mukanya tirus, bener-bener seperti kuda.
"Maaf,
kami telat"
"Iya,
saya juga tahu kalian telat" bentaknya kasar.
Jay mengedipkan mata ke arah Amara. Cewek
itu rada kaget juga sich tapi dia malah senyum-senyum aja.
"Woi...loe
perkutut, ngelirak-ngelirik aja loe cacingan yach......" kata Roy sentimentil.
"Oh
tentu tidak kan udah Golek kasih obat" celetuknya Golek tiba-tiba. Ia disambut
tawa mahasiswa baru, juga Jay. Amara pun jadi ikut tertawa.
"DIAM...!"
bentaknya lagi. Kamu push up 50 kali, sit up 50 kali terus panjat tuh
pohon".
Golek
menatap lesu. "Gue nggak ikut campur" bisik Jay
****************
"Wah....tangan
gue keriting nich" Andrea menjatuhkan tubuhnya dari sofa. "Bi.....bi Darsih!!"
teriaknya.
Bi
Darsih lari tergopoh-gopoh “Ada apa non......" tanyanya khawatir,
takut-takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Tangan
Andrea bi" ia mengeluh
"Kenapa?
Perasaan gak papa ko" bi Darsih memperhatikan lengan Andrea.
"Pegel,
abis push up"
"Ya
ampun.....biar bibi olesin balsem dech" Bi Darsih beranjak mengambil
balsem.
Mama muncul dari kamar. Ia mengenakan
stelan blezer warna merah gelap, roknya pun berwarna sama serta tas kulit
dengan warna yang sama pula. Berjalan menghampiri Andrea "What's wrong
with you?" tanya mama dan duduk disebelahnya.
Andrea
menggeser sedikit “Nothing"
"You
lie to me" kata Mama kecewa.
"Please
dong ma, Andrea sudah besar bukan anak kecil lagi".
"Yes,
Mama tahu.....Apa salahnya mama bertanya seperti itu" ucap mama prihatin.
"Tadikan
Andre ikut OSPEK, ya udah dikerjain dech sama senior disana".
"Oh,
I know what, M.....m... tapi kamu nggak papakan sayang".
"Iya
sich, tapi rada pegal aja. Ngomong-ngomong mama rapi banget, mau kemana?"
tanya Andrea.
"Mama
mau berangkat ke Thailand, ada relasi penting dengan mitra kerja".
"Sama
papa?!”
"Kayaknya
papa lagi sibuk tuh, makanya mama disuruh papa untuk nemuin tuan I Than Khok,
dia mau nanam saham di perusahaan kita, lumayan loh 30%".
Andrea menganga lebar, ternyata
sulit juga ngurus perusahaan. Pantas saja papa dan mama sibuk terus, jarang
kumpul di rumah.
"Ya
sudah, Mama pergi dulu yach" ia beranjak, mengecup kening Andrea.
"Good bye".
"Tak
lama kemudian bi Darsih muncul dan berpapasan dengan mama "Bi, Jaga Andre
yach".
"Iya
bu" Lalu ia menghampiri Andrea yang tampak malas disofa. "Nich
balsemnya non. Apa sekalian mbok pijati".
"Makasih dech mbok, biar Andre aja"
ia meraih balsem tersebut.
"Kalo
gitu bibi tinggal ke belakang, Bibi ingin siapin makan malam dulu".
"Bi",
panggil Andrea ketika bibi beranjak.
"Ada
apa lagi non".
"Kayaknya
bibi nggak usah nyiapin dech makan malam, mamakan pergi, papa juga paling
pulangnya telat".
"Nanti
non Andre makan malamnya gimana?"
"Nyantai
dech bi, ntar juga Andre bisa mesen kok. Sekarang bibi buatin Andre jus alpukat
yach. Andre kangen loh jus alpukat buatan bibi, enak banget sich" puji
Andrea.
"Ah
non bisa aja" bi Darsih tampak gembira lalu pergi ke dapur segera.
***************
"Tak.....tak..."
Doni sibuk membetulkan atap rumah, ia hanya mengenakan kaos oblong yang sudah belel
plus celana pendek yang sudah bertambal.
"Don,
loe udah selesai belon"teriak Emak dari bawah ia membawa nampan berisi es
teh dan stoples kripik singkong pedas lalu meletakkannya di meja bambu.
"Bentar
lagi mak.....ntar juga kelar" ia mengusap keringatnya dengan kaos lalu
kembali memalu.
"Don,
gue pinjem kemeja loe yach!!" teriak Jay yang keluar dengan sarung dan
kaos singlet. Rambutnya terlihat basah karena habis mandi.
"Kemeja
yang mana?!"
"Yang
kotak-kotak".
"Warna?!"
"Biru".
"Pake
aja!!!"
"Wah.....thank
you nich my brother" ia masuk kedalam dengan muka beseri.
Sepuluh menit kemudian Doni turun.
mencuci tangannya dikran depan, lalu meraih gelas berisi es teh dan meneguknya
hingga tinggal setengah. ia mengipas-ngipas tubuhnya dengan koran bekas yang
ada disamping nampan.
"Wuh........cape
juga ye Mak".
"Ya
ialah Don, Emak yang kagak kerja aja ngeliat loe udah cape apalagi emak yang
kerja, Bisa-bisa tulang-tulang emak rontok.
Doni tertawa kecil dan kembali
meneguk es tehnya.
"Emangnya
Jay masih tugas ye?" tanya Doni.
"Kagak
tahu dech, Coba aja loe tanya nanti".
"Ada
ape?" tanya Jay yang tiba-tiba nongol dengan pakaian yang luar biasa
rapinya.
"Loe
kagak ade libur apa?" tanya Doni.
"M.......m......
belon tuh, soalnye aye masih dalam tahap uji coba paling lama sich satu bulan,
kalo emang yang sononya udah percaye, Aye dapet jadwal baru, Ntar gantian
gitu".
"Oh......"
"Aye
berangkat dulu dech mak, Yuk Don" mencium tangan Emaknya dan tumben
tangannya Doni juga ikut-ikutan dicium.
"Iye
Mak, aye beresin dulu dech barang-barang ntu".
**************
"Sorry
dech"Amara memohon. "Gue khilaf".
"What
? Enak aja loe said like that, emang gue gudang maaf. Tiap detik loe tuh usil
ama gue. I hate you tahu nggak" Andrea membelakanginya. Mulutnya manyun,
tanganya menyilang di depan dada.
Amara
tersenyum."Dasar, nich anak manja banget sich, tapi nggak papa, makin enak
diusilin" ia tertawa dalam hati " Ayolah forgive me dong" ia
merayu dengan memasang tampang melas "My cousin".
"Udah
ah....jangan ngerayu-ngerayu gitu. gue tuh tahu percuma loe minta maaf ama gue
ngerjain orang liat-liat dulu nggak tahu apa, guekan pernah ikut teater di
Swiss."
Sekarang
giliran Amara yang manyun. "Kalo gitu gue pulang aja....percuma disini gue
dicuekin" ia mengambil tas rajutan talinya.
"Eh....jangan
ntar tante marahin gue lagi". Amara geli menahan tawa "Katanya jago
akting, Baru digituin aja, kayak kebakaran jenggot"
"Dasar
loe, nipu gue lagi"Andrea menjitak kepalanya.
"Aw...."
"Nich
namanya pembalasan "katanya puas.Akhirnya keinginan yang selama ini
dipendam, bisa diekspresikan sepuasnya."Ngomong-ngomong gue kagak liat
David dari kemarin, kemana tuh anak?"
"Au
dech" jawab Amara cuek. ia mengusap-usap kepalanya yang habis dijitak.
"Gue
serius nich"
"Iye,
gue kagak tahu, Paling-paling dia hanging out ama teman-temannya".
Suasana kembali sunyi. Tak ada
seorang pun yang mengeluarkan suara. Suara jam terdengar jelas, tak,tak,tak.
Detik demi detik berlalu.
"Kok
jadi diam gini" kata Andrea membuka suara.
"Gue
lagi males ngomong aja"ucap Amara lalu ia berjalan menuju meja rias. Ia
pandangi wajahnya dicermin. Ia kemudian melepaskannya ikat rambutnya
tergerai"Gue cantik ga sich?"tanyanya membalikkan tubuh.
Andrea
menatapnya dengan keheranan. "Maksudnya......?"
"Ah,
sudahlah......" ia kembali memandangi wajahnya, matanya mirip David,
rambutnyapun pirang namun agak ikal dan tidak seluruh rambut kakanya. Ia tampak
cantik dengan rambut yang tergerai bebas dan lumayan panjang.
"Loe
ngomong apa sich? tell me dong?" Andrea sudah berdiri di
belakangnya."Masalah cowok yach?" Amara tersipu mukanya merah.
"Tuhkan,
loe nggak cerita, guekan sepupu loe"Amara tersenyum. "Tapi gue belum
kenal ama orangnya".
"Nggak
apa? pasti dia anak baru"
Amara
mengangguk pelan. "Tadi ada cowok, lucu sich tahu nggak yang gue suka ama
dia?"
Andrea
menggeleng.
"Kalau
dia tersenyum, lesung pipitnya kelihatan manis banget dech orangnya".
"Gula
dong"
"Gue
serius" dia merenggut
"Eh
sekarang jam berapa nich" ucap Andrea buru-buru.
"Jam
delapan, tuh jamnya gede gitu disono" ia menunjuk sebuah jam berbentuk
delman yang tergantung di dinding. "Emangnya kenapa?"
"Loe
nggak mau dengerin suara kesayangan loe?"
Amara
mengerutkan dahi "What did you say sich, I don't understand tahu"
"Jay
" pekik Andrea Ia lau mengambil tape yang ada didekat meja belajar.
"
Cinta dari pandangan pertama..... mungkin agak aneh, Tapi gue juga ngalaminya
loh dan gue percaya cinta pandangan pertama mungkin cinta yang bakal abadi.
Yang terpenting adalah ketulusan dari masing-masing pasangan..... Saudara
pendengar dimanapun anda berada, Jay bakal kembali lagi setelah yang satu
ini" musik pop bertema cinta mengalun memenuhi ruangan.
Mereka kembali terdiam, mungkin
perasaan yang mereka alami sama seperti yang baru saja diucapkan Jay, Cinta
pada pandangan pertama itu ada dan mungkin ini merupakan cinta yang bener-bener
tulus yang berasal dari hati yang paling dalam siapa tahu...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar