Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 10



BAB 10


            Belakangan ini Andrea enggan bicara, hanya menghabiskan waktu dengan menerawang jauh tanpa tujuan yang jelas. Mama heran dengan perubahan yang terjadi pada anaknya dan dia belum sempat menanyakan hal itu karena waktu bersama Andrea terlalu singkat.
             Papa masih dirawat di rumah sakit, Ia mengalami cedera ringan di bagian kaki dan luka memar akibat terbentur kaca mobil. Dokter baru mengizikan papa keluar dari rumah sakit tiga hari lagi, jadi seluruh pekerjaannya mama dan Lexi yang handle.
"Hallo pa?" Andrea mampir untuk menjenguk papa. Ia membawa sekantung apel dan jeruk.
"Papa udah baikan?" tanya Andrea yang langsung duduk di kasur tempat papa berbaring.
"Udah..... lumayan sich. Kamu sendiri?"
"Iya pa........ lagi males aja ditemenin". Ia mengambil sebuah jeruk, Lalu mengupasnya " Oh ya..... bi Darsih sudah kesini belum?"
"Sudah...... tapi katanya mau ke toilet dulu. Ngomong-ngomong kamu gak bareng Lexi ke sini".
"Kan tadi Rea sudah bilang ke papa, Andrea lagi males ditemenin, emangnya kenapa sich pa?"
"Papa mau tanya masalah kantor, rasanya kangen banget kerja lagi......." Papa mengambil jeruk yang sudah dikupas, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
Pintu terbuka Lexi muncul dengan membawa sebuah bingkisan. "Siang Om" katanya sopan.
            Papa tersenyum senang dan Andrea berpaling pura-pura tidak melihat siapa yang datang.
"Hey Lex, baru saja kita omongin kamu, Panjang umur rupanya, Bagaimana kabar perusahaan?"
"Baik Oom " jawabnya lalu meletakkan bingkisan di samping buah-buahan.
"Sama siapa kamu kesini?"
"Sama teman".
"Wah..... sudah punya pacar kamu yach". Papa mulai menebak.
"Nggak Oom, dia tuh karyawan perusahaan juga".
"Pasti Doni" ucap papa yakin. Ia hanya menganggukkan kepala pelan “Kok gak kamu suruh masuk?"
"Oh......dia lagi ada urusan sebentar, paling sebentar lagi dia kesini".
"Doni?! sejak kapan dia bertemen ama orang jutek kayak gini" Andrea memperhatikan papa dan Lexi. "Daripada gue ketemu ama dia mendingan gue balik" pikirnya dalam hati. "Pa.....Andrea mau keluar dulu...... ada masalah kecil yang belum diselesaikan".
"Kok buru-buru amat? Baru aja datang".
"Penting nich pa" kata Andrea mendesak sesekali matanya melirik ke arah Lexi yang cengar-cengir ngeselin. Tuh anak sudah berubah 1800 dari yang dulu. Sifat jutek yang selama ini selalu menyertainya seperti hilang tersapu ombak.
            Andrea beranjak dan merapikan tank topnya. Lalu keluar dari ruang rawat itu. Ia menutup pintu pelan-pelan karena tidak ingin mengganggu pasien lain yang dirawat di ruang sebelah.
"Andre........” sapa orang yang tentunya sudah tak asing lagi Andrea bersikap acuh tak acuh seakan-akan dia tak pernah mengenal orang yang berada dihadapannya. " Mau ngapain kesini?" tanyanya sinis.
"Saya cuma mau tengok pak direktur . M......m...... kok kamu gak pernah ke rumah lagi?" tanya Doni.
"Ke rumah? Ngapain......?" kemudian Andrea meninggalkan Doni dengan perasaan jengkel penuh emosi.
"Emang dikira gue apa?"


                                                                                                  *********


"Re.... ada yang nyari loe tuh......" Dian datang menghampirinya.
"Siapa?" tanya Andrea sambil melepas MP3-nya.
"Gak tau dech, kayaknya mahasiswa pindahan tapi cakep loh".
"Siapa nich....." Andrea semakin penasaran.
"Pokoknya cowok itu cakep kayak bintang sinetron".
"Ah loe..... kalo ngeliat cowok matanya berubah, Golek loe mau kemanain".
"Gue jadiin simpenan".
"Emang loe kira tuh orang barang bisa loe simpen, kok jadi panjang lebar gini, ngomong-ngomong tuh cowok dimana?"
"Tahu tuh..... tadi sich ada didepan kampus pada norak kayak kagak pernah ngeliat cowok cakep dikit. Jadi tuh cowok dikerubunin dech kayak gula".
"Nah..... loe tahu darimana kalo tu orang nyari gue".
"Gue.....kan juga ikut ngerubutin die" Dian meringis menahan tawa. "Tapi tadi gue bilang ke die suruh nunggu dikantin. Paling dirinya ada disono......M.....m...."Dian mulai bertungkah aneh.
"Idih......nich anak kenapa lagi?"
"Nanti loe kenalin gue yach........" ia menutup wajah nya dengan file yang dipegang dari tadi.
"Wah.....nanti gue kasih tahu Golek nich......." sindir Andrea yang membuatnya jadi panik.
"E........ gue kan cuma mau kenalan doang. Syukur syukur sich kalo gue udah putus ama Golek kan gue kan bisa cari yang lain".
"Gawat juga loe orang yach. Ya sudah dech......sekarang bener dikantin....?"
"Iya kayaknya, Tapi......loe jangan bilang ke dia kalo gue udah punya pacar".
"Ok boss" ia langsung berjalan menuju kantin kampuis yang sudah mirip kafe-kafe yang bertebaran dikota Jakarta.
"Wow....rame banget nich kantin” Andrea clingak-clinguk nyari tuh cowok. Ia jinjitkan kakinya karena tidak kelihatan batang hidung cowok misterius itu. "Mampus dech gue.....mau nyari dimana, gue kan gak kenal tuch cowok" Ia lalu mencari tempat kosong ia memperhatikan sebuah meja yang letaknya lumayan jauh dari mejanya yang sekarang ditempati. "Penuh amat!! Jangan-jangan........." Andrea mulai berfikir yang masuk akal, tempat yang ia pandangi dipenuhi kumpulan cewek kampus yang gatel plus genit apalagi kalo ngeliat cowok keren sedikit.
"Hey, Dre...!" teriak lelaki yang dikerubutin itu sambil melambaikan tangan. Ia tersenyum senang sekali seperti orang yang kehausan dan tiba-tiba bertemu dengan air.
            Andrea menahan ludah dan menatap tak percaya.
"Jack?!" pekiknya antara senang dan heran.
            Jack beranjak dari kursinya, cewek-cewek melongos kecewa ketika Jack menghampiri Andrea.
"What are you doing here?" tanya Andrea.
"I'm waiting for you" Jack kembali tersenyum.
Andrea memeluknya "It's surprise for me" ucapnya dan melepaskan pelukan itu. "Where is Lisa?!"
Jack berpaling "Kenapa kamu tanya dia sekarang?" nada bicaranya seperti tertekan. "Kenapa?" tiba-tiba Jack memegang bahu Andrea keras, air matanya mengalir dan tak diduga-duga.
            Andrea bingung sendiri, ia tidak mengerti sama sekali.
"Jack what happend with you?" tanya Andrea.
"Nothing" Jack malah sekarang tertawa melihat Andrea kebingungan "Just kidding" ucapnya menahan tawa.
"Kamu curang Re, kamu tidak pernah hubungi kami" Jack kembali terdiam.
"Apa maksudmu Jack, saya tidak mengerti"
"Kamu sudah melupakan kami ya kan?!"
"Oh my God, Why you say like that, imposibble mustahil saya melupakan kalian".
"Lalu, mengapa kamu tidak pernah memberi kabar kepada kami? Apa itu yang dinamakan persahabatan".
Andrea terdiam mendegar kata-kata itu." Ya..... saya salah tapi ..... apa kesalahan yang aku lakukan terhadap kalian tidak bisa dimaafkan"
Jack tersenyum " Sudahlah lupakan semua itu".
"Tapi kamu yang mulai duluan" Andrea cemberut.
"Ok.....sekarang kita makan dulu, biar aku yang traktir" Jack menghampiri ibu kantin dan memesan dua mangkok mie ayam serta dua gelas jus alpukat.
"Hey ndre......."Dian menghampiri Andrea yang lagi sendirian.”Udah ketemu belum dengan orangnya? Kerenkan? Siapa namanya? Pasti tajir tuh anak, kenalin dong!!"
"Dih cerewet banget jadi orang. Kenalan aja sendiri".
"Permisi!!" Jack membawa dua mangkok tersebut di atas meja. "Aku ambil minumnya dulu"
Dian melongok tak percaya. "Ya ampun......." ia menelan ludah sambil terus menatap laki-laki itu.
"Keren banget" bibirnya bergetar. "Gila.....gue kira Brad pit".
"Hey, ngomongin apa?" tanya Andrea mengejutkannya.
"Ndre.....please kenalin gue ama tuh cowok. Ya.....mau kan....ya..ya..."
"Tapi gue gak nanggung"
"Nanggung apaan?"
"Hubungan loe ama Golek".
"Ah..... Biarin.Ntar juga kita bakal pisah kok".
"Lah, kenapa harus pisah?"
"Kok malah balik nanya, kalo lo sendiri gimana sama siapa tuh kakaknya Jay....... M.......m..... Doni ya Doni.....lo sendiri gimana?"
Andrea terkejut "Kita memang gak ada hubungan apa-apa" ucapnya buru-buru. "Eh jack.... thanks yach" untungnya Jack sudah keburu datang kalo nggak dia bakal semakin sakit hati "Oh iya.... kenalin nich temen gue Dian".
"Dian......." sapa Dian dengan lemah lembut dan tampang manis yang dibuat-buat.
"Jack....."ia mengeluarkan tangan yang segera dibalas dengan tangan Dian.
"Oh my God......"katanya Dian pelan. hatinya dag dig dug gak karuan.
"Ehm....." Andrea pura-pura batuk.
Jack dan Dian melepaskan jabatan tangan mereka.
"Makan?" tanya jadi pada Dian.
"Thank's".
"Oh..... disini rupanya" Golek dengan berang menghampiri mereka. "Eh, cowok.... jangan coba-coba deketin cewek gue" ia menarik kerah baju Jack.
"Lek....apa-apaan sich loe" Dian berusaha melepaskan cengkraman tersebut. "Dia gak salah...."
"Oh.....gitu..... terserah lo dech, Gue udah capek pacaran ama cewek murahan kayak loe".
"Plak........" tamparan Dian tepat mengenai pipi Golek, Golek mendelik marah dan meninggalkan kantin dengan perasaan membati buta.
"Dian..... udah gue bilangkan" Andrea merangkul bahunya lalu menatap sekeliling mereka "Apa liat-liat ini bukan tontonan"
            Mahasiswa yang menyaksikan peristiwa itu kembali melakukan kesibukannya masing-masing. Mereka tidak berani menatap mata Andrea yang melotot seperti akan menerkam mangsa.
"Tapi Ndre....... loe denger sendirikan" Dian mulai menangis " Cewek mana yang mau dibilang seperti itu".
"Gue sudah bilang berapa kali ke loe, sekarang gini jadinya".
"Biar aku saja yang bilang ke dia “Jack ikut bicara . "Ini semua kan salahku".
"Bukan Jack.......loe gak salah". kata Dian sambil menahan isak tangis.
"Kalo gitu, loe tenang aja, Gue dan Jack yang bakal ngejelasin semua".
"Gak usah dech, biarin gue putus sama dia. Emang dia doang cowok di dunia"
"Kok loe bilang gitu"
"Biarin....gue emang udah gak mood lagi sama tuh cowok".
"Jangan gitu dong, diakan baik sama loe".
"Udah dech gak usah belain guek muak"
"Terserah loe, Gue cuma pengen nolong loe doang kok" Andrea menyeruput jus alpulkatnya.
"Thank's gue mau cabut dulu" Dian meraih ransel kulitnya.
"Loe kagak ngikut mata kuliah Mr. Frank?"
"Bilang aja gue sakit" katanya masa bodoh. "Gue duluan yach..... sory Jack gue udah nyusahin loe"
"Nevermind" Jack tersenyum.

**********


"Don.... gue pengen ngomong ama loe" Jay menarik lengan Doni.
"Mau ngomong apa? Gue pengen buru-buru nich".
"Ya, gue tahu. Tapi ini lebih penting".
"Penting!!!"
"Banget...."
"Oh ya? " ia malah tertawa dan menyangka Jay hanya bercanda.
"Apa bener loe buntungin tuh cewek?" tanya Jay yang membuat Doni terdiam cukup lama. "Bener loe ngelakuin itu?"
"Loe ngomong apa sich, gua gak paham".
"Jangan pura-pura dech, Loekan calon ayah dari bayi yang dikandung cewek yang dirumah sakit".
"Plak...." sebuah tamparan melayang dan mendarat tepat dipipi Jay. " Loe kalo ngomong jangan sembarangan yach!"
"Jadi bener kan loe yang ngelakuin semua. Gue gak nyangka punya abang sebejat loe" Jay keluar rumah dengan penuh emosi.
"Jay!!" loe belum denger penjelasan dari gue" percuma Doni berteriak, Jay sudah melesat dengan motornya itu.
            Emak yang baru pulang dari pasar merasa heran. "Don, ada ape dengan adik loe?" tanya emak cemas.
"Tau tuh anak, Lagi Be te kali".
"Mak ijah, barang-barang mau ditaruh dimana?" Somad, tukang ojek langanggan emak tampak sibuk menurunkan barang keperluan warung.
"Loe taruh aje disitu". Ia masuk kedalam. "Don, loe gak berantemkan ama adik loe?"
"Kagak mak, aye dan die akur-akur aje, Aye pergi dulu dech mak, takut telat"
""Ati-ati aje dijalan" Emak keluar menemani Doni sampai halaman depan.
            RX-King yang dikendarai Doni melaju. Emak memandang motor itu sampai menghilang diujung jalan. "Ude kelar Mad".
"Bentar lagi Mak, nich yang terakhir" ia memanggul karung beras. "Dimane aye mesti naro nich karung?".
"Disitu aje dech".
"Huh..... beres juga kerjaan" si Somad menghela nafas sambil mengusap keringat dengan handuk kecil.
"Makasih ye, Mad".
"Mak, ngomong-ngomong Doni kerja apaan ye?"
"Ape ye......? Gue juga lupa. Yang jelas die ntu kerja diperusahaan gede".
"Hebat ya tuh anak. Masih muda udah berhasil".
"Ya...... moga-moga si Doni jadi anak yang berbakti".
"Mudah-mudahan aja ya Mak, Syukur dech kalo dia jadi orang gede"Somad melirik arlojinya yang sudah usang.
"Wah.....Mak, aye masih harus nyari obyekan nich".
"Kagak minum dulu"
"Gak usah dech mak, makasih"
Nih Ongkosnye".
"Makasih Mak, aye permisi dulu" Somad memacu bebeknya.
"Sama-sama" emak tersenyum lalu membawa kantong-kantong plastik ke dalam.

                                                                                                                                    **********


"Jadi gak nanti malem kita nonton?" tanya Jack.
"M....m....." Andrea berdiri sambil memperhatikannya. "Gue heran sama loe jack...."
"Heran....? Maksudnya?"
"Loe kok lancar yach bahasa Indonesia".
"Oh..... itu, Aku latihan".
"Latihan?!" dahi Andrea mengkerut.
"Maksudnya gini selama kamu pergi aku ikut kursus Bahasa Indonesia dan yang paling menggembirakan mama dan papa akan tinggal di Indonesia.....so.....aku akan menetap di Jakarta".
"Loe mau tinggal di Indonesia?!"
"Memangnya kenapa? salah kalau aku sekeluarga tinggal di Indonesia."
"Ya enggak, tapi lucu aja."
"Kok lucu emangnya aku badut."
"Bukan gitu, aneh aja” Andrea kembali duduk.
"Gue kan bukan makhluk asing."
"Idih....... bisa bicara Jakarta juga loe."
"Yoi......"
"M.....m.... tapi loe mau kuliah di mana?"
            Jack menunujuk ke atas, Andrea mendongak.
"Ya, gue mau kuliah disini."
"What......gak salah."
"Sepertinya gak tuh."
"Lantas, gimana kabar Lisa?" tanya Andrea mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja, No problem, hanya saja dia rindu sama kamu Re."
"Are you sure?"
"Of course."
"Ok dech, nanti gue hubungi dia."
"Ngomong-ngomong, jadi gak kita ke bioskop."
"Gimana yach....." Andrea berfikir sejenak. Sementara Jack harap tiarap cemas. " Kalo nanti malem gue ada acara gak yach?" ucapnya dalam hati.
"Gimana keputusannya, Re?!"
"Daripada gue Bete sendirian.....mendingan gue terima aja yach....."pikirnya.
"Ayo dong, I need your answer" Jack semakin mendesak.
"Ok dech....."
"Ya udah, nanti loe gue jemput jam tujuh malem" Jack tampak seneng sekali.
"Dre?!" Amara berteriak dari kejauhan. Ia berlari menghampirinya. " Gue muter-muter satu kampus nyariin loe kemana-mana..... eh taunya ada disini. " Ia lalu melirik pria yang ada disampimg Andrea.
"Siapa tuh cowok, boleh juga” bisiknya ketelinga Andrea.             
"Kenapa loe. Kayak cacing kepanasan aja. Dateng-dateng udah gini-gitu."
"Ya... payah loe, Guekan pengen ngomong ama loe. Ada berita penting nich."
"Banget gak?!"
"Banget banget."
"Baik...? buruk?"
"Maunya?"
"Terserah!!"
Amara menarik lengan sepupunya itu. "Ini rahasia " katanya pelan. "Dia gak boleh tahu."
"Kenapa?"
"Pokoknya loe harus ikut gue dulu" Ia membawa keluar Andrea.
"Jack, loe tunggu dulu disini yach."   
            Setelah dapat tempat yang agak sepi Amara baru membuka mulutnya. " Ini kabar tentang....."
"Doni kan?!" tebak Andrea yang langsung mukanya cemberut kayak perkutut.
"Jadi loe udah tahu" seru Amara tak percaya.
"Udah dech, Loe jangan bicarain dia lagi, Bete tau gak"
"Jadi loe sakit hati yach."
"Dih, emangnya gue ada rasa ama dia."
"Tapi Ndre......." tiba-tiba keceriaan pada raut wajah Amara hilang. Ia kelihatan tampak sedih sekali.
"Udah...gue capek kalo bahas dia lagi, Gue ama dia cuma HTS."
"Apaan tuh?"
"Hubungan Tanpa Status."
"Tapi gue gak masalahin itu."
"Masalah apa lagi sich yang loe hadapi? Gue bingung nich. Setiap loe nyamperin gue pasti ada aja."
"Gue udah janji sama Jay kalo ternyata hal itu benar gue harus putus sama dia."
"Ya ampun.....loe bego yach. Gue udah cape-cape ngebelain hubungan loe berdua. Eh....loe main janji putus segala."
"Tapikan ini demi loe."
"Iya..... lantas kenapa loe nyesel."
"Ya..... karena gue masih sayang ama Jay " Amara tertunduk lesu.
"Kalo gitu loe baikkan aja ama dia. Bilang aja loe khilaf. Lagian gue juga gak terlalu peduli dengan Doni."
"Tapi.....guekan malu."
"Apa gue harus yang ngomong."
"Nggak....nggak usah.... Gue udah ngerepotin loe terus. Gue gak enak ama loe."
"So.... semua bereskan apa yang mau loe ceritain."
"He eh dech, Loe udah gak ada hubungannya kan dengan Doni."
"Gue jadi rese nich kalo sebut nama itu." Andrea jadi kesal.
"Sorry.....jangan-jangan loe udah punya gebetan baru" Amara menggodanya.
"Ah...... loe"
"Oh.... ya ya..... gue tahu. Cowok yang dikantin itukan. Kalo gak salah nama yang loe sebutin itu Jack kan. Ngaku dech!!"
"Sudahlah...... gak usah dibahas. Kita jalani dulu yang ada. Ngomong-ngomong loe mau gak gue kenalin sama dia?"
"Kapan-kapan aja kali ya. Gue mesti masuk nich. Ntar dosennya ngamuk lagi."
"Gorila kali" Andrea kembali tersenyum.

*********


"Eh..... Jay loe kok kayak ada masalah. Tampang loe kusut banget" Golek menghampirinya.
"Yach.... gitu dech. Hubungan gue kayaknya bakal berakhir sampai disini." Jay tampak lesu menjawab pertanyaannya.
"Ternyata bukan gue doang yach yang lagi patah hati. Gue bener-bener kecewa sama cewek."
"Memangnya loe lagi ngadapin masalah apa?"
"Ya.... gitu dech cewek. Kalo ngeliat cowok keren dikit, matanya langsung ijo."
"Emang loe kira duit."
"Ya...pokoknya gue gak mau pacaran lagi dech Gue kecewa banget. sakit tau gak."
"Gawat tuh...."
"Gawat kenapa?"
"Jangan-jangan loe udah gak normal."
"Emangnya gue gay loe kira gue gak normal." Golek manyun dan cukup tersinggung.
"Sorry.... BSD aja marah " Jay menahan tawa.
"BSD ? Dalam kamus bahasa Indonesia kayaknya kagak ada singkatan kayak gitu" Golek sok berfikir.
"Emang kagak ada BSD kan gue yang buat 'Becanda Sedikit Doang...... ha......ha" Jay kali ini tidak dapat menahan tawanya namun tiba-tiba dia terdiam lagi.
"Tadi diem, terus ketawa eh.. diem lagi. "
"Gue gak habis pikir Lek, Masalah yang loe hadapi tidak seberat gue. Gue sendiri aja bingung mo ngapain." Jay menghela napas dan pasrah dengan keadaan.
Golek mengamati sahabatnya itu. "Bukannya gue mo ikut campur nich. Tapi sebagai CeeSan, loe mesti ceritain ke gue siapa tau gue bisa bantu loe yach gini-gini gue mantan DC Loh."
"Wah hebat dong loe bisa ngidupin dinamo."
"Emangnya gue aki, DC itu Dokter Cinta tau ga?"  
"Ya ampun.... kenapa gue mesti cerita ke loe. Gue gak yakin, soalnya loe sendiri aja gak bisa nyelesain semua urusan loe. Katanya DC?” sindir Jay.
"Eit..... yang itu lain. Itukan masalah privasi gue. Jangan diganggu." Golek mengelak. " Gue bisa nyelesain masalah orang lain, ibarat pepatah bagai telur di ujung tanduk."
"Maksudnya?"
"Yach kalo kagak bisa di ujung tanduk mendingan loe ceplok aja telornya."
"Jayus ah.Gue kira loe bisa diandelin. Gue cabut dulu nich.... udah siang bentar lagi gue siaran" Jay berdiri dari bangku yang di dudukinya.
"Lantas..... gue gimana?"
“Apanya yang gimana?” Jay balik bertanya.
"Yach..... hubungan gue."
"Au ah.... gue aja pusing mikirin diri gue apalagi mikirin loe" Jay beranjak meninggalkan kampus.
"Aduh mak..pusing ambo......pusing....."

                                                                                                                                    *******


            Andrea keluar dari kelasnya. Ia tergesa-gesa menuju mobilnya di tempat parker. Hari ini dia akan menjemput papa di rumah sakit. “Gubrak......." tanpa disadari dia menabrak orang lain sehingga buku-bukunya berjatuhan.
"Aduh..... sorry yach " Andrea segera memunguti buku-bukunya yang berserakan. "Kayaknya gue kenal sepatu ini dech" pikiranya ketika salah satu bukunya tergeletak tepat di samping orang yang ditabraknya.
"Heran yach, ngeliat sepatu gue" pria itupun membantunya mengumpulkan buku yang berserakan.
"Ya ampun Jack, Loe masih disini!!" seru Andrea tak percaya.
"Yap, why not. I still wait you."
"Sorry dech. Gue mesti buru-buru nich."
"Kenapa apa loe tidak suka kalau gue dari tadi tunggu loe?"
"Bukan itu, Gue mesti jemput papa di rumah sakit."
"Ok... I know....I know. Boleh gue ikut? " pinta Jack menawarkan diri.
"Loe bawa mobil?!"
"Ya....."
"Gue juga bawa, Loe ikutin gue dari belakang gimana?"
"Ah..... tidak romantis. Gue ingin ikut sama loe naik mobil loe aja gimana?" Ia balik bertanya.
"M.......m...... Boleh but your car?"
"Gampang, gue bisa suruh satpam untuk jagain mobil gue sampai gue kesini lagi. Tidak lama bukan?"
"Ya..... asal kita cepat sampai aja."
"Kalau gitu kita berangkat sekarang."

*********


"Kamu nanti ikut aku” ajak Lexi.
"Baik" jawab Doni singkat, ia lagi merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
"Kamu ada kuliah gak hari ini?"
Doni berfikir sejenak "Jam 5 sore"
"Ya sudah kalo begitu kita pergi sekarang."
"Sekarang?!" Doni terkejut.
"Kita jemput pak Direktur dirumah sakit"
"Tapi......"
            Lexi berjalan keluar dari ruang kerja Doni. Terpaksa Doni meninggalkan pekerjaannya dan mengejar Lexi.
"Cepet naik?" Lex sudah berada di dalam mobilnya. Ia membuka pintu Mercedes dan langsung naik ke dalam.
"Memangnya pak Direktur sudah dapat kita jemput?"
"Ya..... tadi beliau menelepon aku untuk menjemputnya."
"Kenapa tidak putrinya saja."
"Andrea maksud kamu?"
"Ya........"
"Dia lagi kuliah. Ngomong-ngomong mengenai putri pak Direktur kamu sudah kenal lama ya dengannya?"
"M.....m..... nggak....aku gak kenal" jawab Doni gelagapan. Ia tidak ingin Lexi mengetahuinya karena ini masalah pribadi yang tak seorangpun boleh mencampurinya.
"Dia memang cantik" Lexi tersenyum. "Namun sifat keras kepalanya membuat dia berbeda dari cewek-cewek lain. Gue suka dia" ucap Lexi blak-blakan.
"Iya......dia memang cantik. Cocok dengan cowok kayak kamu."
"Tapi rasanya sulit kalo gue dapetin dia."
"Aku gak ngerti Lex."
"Gue tau kalo dia gak suka gue. Dia mencintai orang lain.Walaupun gue berusaha ngedapetin dia seumur hiduppun, hatinya bukan buat gue."
"Kamu gak boleh nyerah gitu dong."
"Ya...gue juga mau berusaha ngerebut simpatinya." dia memukul pelan bahu Doni. Doni pun tertawa kecil melihat keinginan Lexi yang sebegitu besarnya Walaupun dalam hati kecilnya dia cemburu sebab ia juga menyukai Andrea.
"Nah.... kita sampai nich. Loe turun dan segera temui pak Direktur, gue mau markirin mobil dulu. Nanti gue susul."
"Ok Boss" tampaknya Doni mulai bisa mengakrabkan diri dengan Lexi. Ia memang berusaha untuk itu bukan padanya saja tapi semua orang di perusahaan.
            Lexi memang tipe pria yang luar biasa, Pantang menyerah, disiplin, tegas dan ia enak diajak bicara, Andrea pantas mendapatkan pria tersebut.

*********


"Kita sudah sampai nich" Andrea memperlambat laju kendaraannya. "Loe, tunggu direseptionis."     "Yah.... cepet sekali" Jack melepaskan safety beltnya.
"Sun nya mana?" ia menawarkan pipinya untuk dicium.
"Idih..... genit banget" Andrea membalasnya dengan cubitan dipipi Jack yang disodorkan padanya.
"Aw......wah.... sakit nich" Jack mengelus-ngelus pipinya.
"Lagian......" Andrea tersenyum “Udah turun sono, gue mau markirin nich mobil."
"Ok honey" dia turun sambil memberikan hormat seperti pengawal kepada permaisurinya.
Andrea memarkirkan kendaraannya di bestmen rumah sakit.
"Hei.... hati-hati kalo jalan!!" teriak seseorang yang hampir tertabrak untungnya cuma terserempet dan lecet dikit doang.
"Maaf...... "Andrea turun dan menghampirinya.
"Eh..... ingat nich kalo loe kagak bisa nyetir mobil mendingan loe kagak usah pake mobil mobilan lagi!!" bentaknya, dia berusaha bangkit dan membersihkan pakaiannya.
"Biar aku bantu."
"Kagak......." pria terdiam lau mengangkat wajahnya "Re."
"Lexi?!"
"Ngapain kamu disini?" suaranya merendah.
"Loe ngapain disini juga?" ia malah balik bertanya.
"Aku disuruh om jemput dia, kamu kagak kuliah?"
"Udah selesai......"
"Ya udah" Lexi kembali memasang tampang juteknya dan pergi menuju ruang inap papa.
"Sok banget sich, jadi orang kalo tau gini gue tabrak aja sekalian Huh" dia kembali masuk ke mobilnya.

*********


"Siang pak" sapa Doni.
"Eh....Don, Lexi datang?"
"Yach......dia sebentar lagi ke sini. Gimana keadaannya pak?" tanya Doni sambil memperhatikan keadaan pak direktur.
"Yah begitulah. Aku sudah bosan ngirup bau rumah sakit. Pengen banget keluar dari sini. Sudah kangen dengan perusahaan" kelakar papa.
"Siang om” Lexi masuk terburu-buru.
"Nah panjang umur tuh" seru papa.
"Berangakt sekarang om?!" tanya Lexi tanpa basa-basi.
"Boleh” papa berusaha baranjak dari tempat tidurnya.
"Biar aku bantu pak" ucap Doni,
            Semetara Lexi mengambil kursi roda yang berada disamping lemari kecil yang bercat putih.
Ditempat lain.........
"Ayo cepet" Andrea menarik lengan Jack yang lagi godain suster.
"Slowly dong, jealous yach.??"
"Ini bukan masalah perasaan, "Andrea menggerutu ia semakin panik.
"Kenapa kita harus terburu-buru? papakan masih kurang sehat."
"Mau ikut apa kagak?" Andrea berhenti tepat di depan lift.
"Ya.....tentu dong..."
            Lift terbuka dan.......  
"Papa?!"
"Re......" papa kemudian tersenyum. "Papa tidak ingin ganggu kuliah kamu jadi......"
"Papa kenapa gak telepon Re aja, sms kek, memangnya Re gak bisa jemput papa. Re kan gak sesibuk yang papa bayangkan?" Andrea jengkel, ia merasa tidak bisa diandalkan, sebagai seorang anak dia juga ingin berbakti pada orangtuanya tapi papanya membuat seakan dia bayi kecil yang gak bisa apa-apa.
"Bukannya gitu Re, Lexi dan Doni juga sudah cukup kamu jangan cemberut gitu."
"Tapi pa......" belum sempat dia melanjutkan kata-kata papa sudah menasehatinya lagi.
"Sudah dech pa......" Andrea meninggalkan papa begitu saja. Lexi, Doni, Jack dan Papa sendiri bingung. Kelakuannya kayak anak kecil ngambek.
"Biar aku saja yang bilang ke dia om" ucap Lexi namun tangannya dipegang papa.
"Tak usah, ntar juga dia baik sendiri."
"Kalo gitu, aku saja yang menghampirinya sebab aku kesini bersamanya” Jack pergi berlalu dari tempat itu.
"Hey, siapa namamu? " teriak papa.
"Jack......" jawabnya tanpa menoleh.
            Lexi beradu pandang dengan Doni dari sorot matanya.....Doni mampu membaca pikirannya, Ia pun merasakan hal yang sama. Entah perasaan apa yang jelas sangat menusuk dan menyakitkan.

**********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar