BAB
10
Belakangan ini Andrea enggan bicara,
hanya menghabiskan waktu dengan menerawang jauh tanpa tujuan yang jelas. Mama
heran dengan perubahan yang terjadi pada anaknya dan dia belum sempat
menanyakan hal itu karena waktu bersama Andrea terlalu singkat.
Papa masih dirawat di rumah sakit, Ia
mengalami cedera ringan di bagian kaki dan luka memar akibat terbentur kaca
mobil. Dokter baru mengizikan papa keluar dari rumah sakit tiga hari lagi, jadi
seluruh pekerjaannya mama dan Lexi yang handle.
"Hallo
pa?" Andrea mampir untuk menjenguk papa. Ia membawa sekantung apel dan
jeruk.
"Papa
udah baikan?" tanya Andrea yang langsung duduk di kasur tempat papa
berbaring.
"Udah.....
lumayan sich. Kamu sendiri?"
"Iya
pa........ lagi males aja ditemenin". Ia mengambil sebuah jeruk, Lalu
mengupasnya " Oh ya..... bi Darsih sudah kesini belum?"
"Sudah......
tapi katanya mau ke toilet dulu. Ngomong-ngomong kamu gak bareng Lexi ke sini".
"Kan
tadi Rea sudah bilang ke papa, Andrea lagi males ditemenin, emangnya kenapa
sich pa?"
"Papa
mau tanya masalah kantor, rasanya kangen banget kerja lagi......." Papa
mengambil jeruk yang sudah dikupas, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
Pintu
terbuka Lexi muncul dengan membawa sebuah bingkisan. "Siang Om"
katanya sopan.
Papa tersenyum senang dan Andrea
berpaling pura-pura tidak melihat siapa yang datang.
"Hey
Lex, baru saja kita omongin kamu, Panjang umur rupanya, Bagaimana kabar
perusahaan?"
"Baik
Oom " jawabnya lalu meletakkan bingkisan di samping buah-buahan.
"Sama
siapa kamu kesini?"
"Sama
teman".
"Wah.....
sudah punya pacar kamu yach". Papa mulai menebak.
"Nggak
Oom, dia tuh karyawan perusahaan juga".
"Pasti
Doni" ucap papa yakin. Ia hanya menganggukkan kepala pelan “Kok gak kamu
suruh masuk?"
"Oh......dia
lagi ada urusan sebentar, paling sebentar lagi dia kesini".
"Doni?!
sejak kapan dia bertemen ama orang jutek kayak gini" Andrea memperhatikan
papa dan Lexi. "Daripada gue ketemu ama dia mendingan gue balik"
pikirnya dalam hati. "Pa.....Andrea mau keluar dulu...... ada masalah
kecil yang belum diselesaikan".
"Kok
buru-buru amat? Baru aja datang".
"Penting
nich pa" kata Andrea mendesak sesekali matanya melirik ke arah Lexi yang
cengar-cengir ngeselin. Tuh anak sudah berubah 1800 dari yang dulu. Sifat
jutek yang selama ini selalu menyertainya seperti hilang tersapu ombak.
Andrea beranjak dan merapikan tank
topnya. Lalu keluar dari ruang rawat itu. Ia menutup pintu pelan-pelan karena
tidak ingin mengganggu pasien lain yang dirawat di ruang sebelah.
"Andre........”
sapa orang yang tentunya sudah tak asing lagi Andrea bersikap acuh tak acuh
seakan-akan dia tak pernah mengenal orang yang berada dihadapannya. " Mau
ngapain kesini?" tanyanya sinis.
"Saya
cuma mau tengok pak direktur . M......m...... kok kamu gak pernah ke rumah
lagi?" tanya Doni.
"Ke
rumah? Ngapain......?" kemudian Andrea meninggalkan Doni dengan perasaan
jengkel penuh emosi.
"Emang
dikira gue apa?"
*********
"Re....
ada yang nyari loe tuh......" Dian datang menghampirinya.
"Siapa?"
tanya Andrea sambil melepas MP3-nya.
"Gak
tau dech, kayaknya mahasiswa pindahan tapi cakep loh".
"Siapa
nich....." Andrea semakin penasaran.
"Pokoknya
cowok itu cakep kayak bintang sinetron".
"Ah
loe..... kalo ngeliat cowok matanya berubah, Golek loe mau kemanain".
"Gue
jadiin simpenan".
"Emang
loe kira tuh orang barang bisa loe simpen, kok jadi panjang lebar gini,
ngomong-ngomong tuh cowok dimana?"
"Tahu
tuh..... tadi sich ada didepan kampus pada norak kayak kagak pernah ngeliat
cowok cakep dikit. Jadi tuh cowok dikerubunin dech kayak gula".
"Nah.....
loe tahu darimana kalo tu orang nyari gue".
"Gue.....kan
juga ikut ngerubutin die" Dian meringis menahan tawa. "Tapi tadi gue
bilang ke die suruh nunggu dikantin. Paling dirinya ada
disono......M.....m...."Dian mulai bertungkah aneh.
"Idih......nich
anak kenapa lagi?"
"Nanti
loe kenalin gue yach........" ia menutup wajah nya dengan file yang
dipegang dari tadi.
"Wah.....nanti
gue kasih tahu Golek nich......." sindir Andrea yang membuatnya jadi
panik.
"E........
gue kan cuma mau kenalan doang. Syukur syukur sich kalo gue udah putus ama
Golek kan gue kan bisa cari yang lain".
"Gawat
juga loe orang yach. Ya sudah dech......sekarang bener dikantin....?"
"Iya
kayaknya, Tapi......loe jangan bilang ke dia kalo gue udah punya pacar".
"Ok
boss" ia langsung berjalan menuju kantin kampuis yang sudah mirip
kafe-kafe yang bertebaran dikota Jakarta.
"Wow....rame
banget nich kantin” Andrea clingak-clinguk nyari tuh cowok. Ia jinjitkan
kakinya karena tidak kelihatan batang hidung cowok misterius itu. "Mampus
dech gue.....mau nyari dimana, gue kan gak kenal tuch cowok" Ia lalu
mencari tempat kosong ia memperhatikan sebuah meja yang letaknya lumayan jauh
dari mejanya yang sekarang ditempati. "Penuh amat!!
Jangan-jangan........." Andrea mulai berfikir yang masuk akal, tempat yang
ia pandangi dipenuhi kumpulan cewek kampus yang gatel plus genit apalagi kalo
ngeliat cowok keren sedikit.
"Hey,
Dre...!" teriak lelaki yang dikerubutin itu sambil melambaikan tangan. Ia
tersenyum senang sekali seperti orang yang kehausan dan tiba-tiba bertemu
dengan air.
Andrea menahan ludah dan menatap tak
percaya.
"Jack?!"
pekiknya antara senang dan heran.
Jack beranjak dari kursinya,
cewek-cewek melongos kecewa ketika Jack menghampiri Andrea.
"What
are you doing here?" tanya Andrea.
"I'm
waiting for you" Jack kembali tersenyum.
Andrea
memeluknya "It's surprise for me" ucapnya dan melepaskan pelukan itu.
"Where is Lisa?!"
Jack
berpaling "Kenapa kamu tanya dia sekarang?" nada bicaranya seperti tertekan.
"Kenapa?" tiba-tiba Jack memegang bahu Andrea keras, air matanya
mengalir dan tak diduga-duga.
Andrea bingung sendiri, ia tidak
mengerti sama sekali.
"Jack
what happend with you?" tanya Andrea.
"Nothing"
Jack malah sekarang tertawa melihat Andrea kebingungan "Just kidding"
ucapnya menahan tawa.
"Kamu
curang Re, kamu tidak pernah hubungi kami" Jack kembali terdiam.
"Apa
maksudmu Jack, saya tidak mengerti"
"Kamu
sudah melupakan kami ya kan?!"
"Oh
my God, Why you say like that, imposibble mustahil saya melupakan kalian".
"Lalu,
mengapa kamu tidak pernah memberi kabar kepada kami? Apa itu yang dinamakan
persahabatan".
Andrea
terdiam mendegar kata-kata itu." Ya..... saya salah tapi ..... apa
kesalahan yang aku lakukan terhadap kalian tidak bisa dimaafkan"
Jack
tersenyum " Sudahlah lupakan semua itu".
"Tapi
kamu yang mulai duluan" Andrea cemberut.
"Ok.....sekarang
kita makan dulu, biar aku yang traktir" Jack menghampiri ibu kantin dan
memesan dua mangkok mie ayam serta dua gelas jus alpukat.
"Hey
ndre......."Dian menghampiri Andrea yang lagi sendirian.”Udah ketemu belum
dengan orangnya? Kerenkan? Siapa namanya? Pasti tajir tuh anak, kenalin
dong!!"
"Dih
cerewet banget jadi orang. Kenalan aja sendiri".
"Permisi!!"
Jack membawa dua mangkok tersebut di atas meja. "Aku ambil minumnya
dulu"
Dian
melongok tak percaya. "Ya ampun......." ia menelan ludah sambil terus
menatap laki-laki itu.
"Keren
banget" bibirnya bergetar. "Gila.....gue kira Brad pit".
"Hey,
ngomongin apa?" tanya Andrea mengejutkannya.
"Ndre.....please
kenalin gue ama tuh cowok. Ya.....mau kan....ya..ya..."
"Tapi
gue gak nanggung"
"Nanggung
apaan?"
"Hubungan
loe ama Golek".
"Ah.....
Biarin.Ntar juga kita bakal pisah kok".
"Lah,
kenapa harus pisah?"
"Kok
malah balik nanya, kalo lo sendiri gimana sama siapa tuh kakaknya Jay.......
M.......m..... Doni ya Doni.....lo sendiri gimana?"
Andrea
terkejut "Kita memang gak ada hubungan apa-apa" ucapnya buru-buru.
"Eh jack.... thanks yach" untungnya Jack sudah keburu datang kalo
nggak dia bakal semakin sakit hati "Oh iya.... kenalin nich temen gue
Dian".
"Dian......."
sapa Dian dengan lemah lembut dan tampang manis yang dibuat-buat.
"Jack....."ia
mengeluarkan tangan yang segera dibalas dengan tangan Dian.
"Oh
my God......"katanya Dian pelan. hatinya dag dig dug gak karuan.
"Ehm....."
Andrea pura-pura batuk.
Jack
dan Dian melepaskan jabatan tangan mereka.
"Makan?"
tanya jadi pada Dian.
"Thank's".
"Oh.....
disini rupanya" Golek dengan berang menghampiri mereka. "Eh,
cowok.... jangan coba-coba deketin cewek gue" ia menarik kerah baju Jack.
"Lek....apa-apaan
sich loe" Dian berusaha melepaskan cengkraman tersebut. "Dia gak
salah...."
"Oh.....gitu.....
terserah lo dech, Gue udah capek pacaran ama cewek murahan kayak loe".
"Plak........"
tamparan Dian tepat mengenai pipi Golek, Golek mendelik marah dan meninggalkan
kantin dengan perasaan membati buta.
"Dian.....
udah gue bilangkan" Andrea merangkul bahunya lalu menatap sekeliling
mereka "Apa liat-liat ini bukan tontonan"
Mahasiswa yang menyaksikan peristiwa
itu kembali melakukan kesibukannya masing-masing. Mereka tidak berani menatap
mata Andrea yang melotot seperti akan menerkam mangsa.
"Tapi
Ndre....... loe denger sendirikan" Dian mulai menangis " Cewek mana
yang mau dibilang seperti itu".
"Gue
sudah bilang berapa kali ke loe, sekarang gini jadinya".
"Biar
aku saja yang bilang ke dia “Jack ikut bicara . "Ini semua kan salahku".
"Bukan
Jack.......loe gak salah". kata Dian sambil menahan isak tangis.
"Kalo
gitu, loe tenang aja, Gue dan Jack yang bakal ngejelasin semua".
"Gak
usah dech, biarin gue putus sama dia. Emang dia doang cowok di dunia"
"Kok
loe bilang gitu"
"Biarin....gue
emang udah gak mood lagi sama tuh cowok".
"Jangan
gitu dong, diakan baik sama loe".
"Udah
dech gak usah belain guek muak"
"Terserah
loe, Gue cuma pengen nolong loe doang kok" Andrea menyeruput jus
alpulkatnya.
"Thank's
gue mau cabut dulu" Dian meraih ransel kulitnya.
"Loe
kagak ngikut mata kuliah Mr. Frank?"
"Bilang
aja gue sakit" katanya masa bodoh. "Gue duluan yach..... sory Jack
gue udah nyusahin loe"
"Nevermind"
Jack tersenyum.
**********
"Don....
gue pengen ngomong ama loe" Jay menarik lengan Doni.
"Mau
ngomong apa? Gue pengen buru-buru nich".
"Ya,
gue tahu. Tapi ini lebih penting".
"Penting!!!"
"Banget...."
"Oh
ya? " ia malah tertawa dan menyangka Jay hanya bercanda.
"Apa
bener loe buntungin tuh cewek?" tanya Jay yang membuat Doni terdiam cukup
lama. "Bener loe ngelakuin itu?"
"Loe
ngomong apa sich, gua gak paham".
"Jangan
pura-pura dech, Loekan calon ayah dari bayi yang dikandung cewek yang dirumah
sakit".
"Plak...."
sebuah tamparan melayang dan mendarat tepat dipipi Jay. " Loe kalo ngomong
jangan sembarangan yach!"
"Jadi
bener kan loe yang ngelakuin semua. Gue gak nyangka punya abang sebejat
loe" Jay keluar rumah dengan penuh emosi.
"Jay!!"
loe belum denger penjelasan dari gue" percuma Doni berteriak, Jay sudah
melesat dengan motornya itu.
Emak yang baru pulang dari pasar
merasa heran. "Don, ada ape dengan adik loe?" tanya emak cemas.
"Tau
tuh anak, Lagi Be te kali".
"Mak
ijah, barang-barang mau ditaruh dimana?" Somad, tukang ojek langanggan
emak tampak sibuk menurunkan barang keperluan warung.
"Loe
taruh aje disitu". Ia masuk kedalam. "Don, loe gak berantemkan ama
adik loe?"
"Kagak
mak, aye dan die akur-akur aje, Aye pergi dulu dech mak, takut telat"
""Ati-ati
aje dijalan" Emak keluar menemani Doni sampai halaman depan.
RX-King yang dikendarai Doni melaju.
Emak memandang motor itu sampai menghilang diujung jalan. "Ude kelar
Mad".
"Bentar
lagi Mak, nich yang terakhir" ia memanggul karung beras. "Dimane aye
mesti naro nich karung?".
"Disitu
aje dech".
"Huh.....
beres juga kerjaan" si Somad menghela nafas sambil mengusap keringat
dengan handuk kecil.
"Makasih
ye, Mad".
"Mak,
ngomong-ngomong Doni kerja apaan ye?"
"Ape
ye......? Gue juga lupa. Yang jelas die ntu kerja diperusahaan gede".
"Hebat
ya tuh anak. Masih muda udah berhasil".
"Ya......
moga-moga si Doni jadi anak yang berbakti".
"Mudah-mudahan
aja ya Mak, Syukur dech kalo dia jadi orang gede"Somad melirik arlojinya
yang sudah usang.
"Wah.....Mak,
aye masih harus nyari obyekan nich".
"Kagak
minum dulu"
"Gak
usah dech mak, makasih"
Nih
Ongkosnye".
"Makasih
Mak, aye permisi dulu" Somad memacu bebeknya.
"Sama-sama"
emak tersenyum lalu membawa kantong-kantong plastik ke dalam.
**********
"Jadi
gak nanti malem kita nonton?" tanya Jack.
"M....m....."
Andrea berdiri sambil memperhatikannya. "Gue heran sama loe jack...."
"Heran....?
Maksudnya?"
"Loe
kok lancar yach bahasa Indonesia".
"Oh.....
itu, Aku latihan".
"Latihan?!"
dahi Andrea mengkerut.
"Maksudnya
gini selama kamu pergi aku ikut kursus Bahasa Indonesia dan yang paling
menggembirakan mama dan papa akan tinggal di Indonesia.....so.....aku akan
menetap di Jakarta".
"Loe
mau tinggal di Indonesia?!"
"Memangnya
kenapa? salah kalau aku sekeluarga tinggal di Indonesia."
"Ya
enggak, tapi lucu aja."
"Kok
lucu emangnya aku badut."
"Bukan
gitu, aneh aja” Andrea kembali duduk.
"Gue
kan bukan makhluk asing."
"Idih.......
bisa bicara Jakarta juga loe."
"Yoi......"
"M.....m....
tapi loe mau kuliah di mana?"
Jack menunujuk ke atas, Andrea
mendongak.
"Ya,
gue mau kuliah disini."
"What......gak
salah."
"Sepertinya
gak tuh."
"Lantas,
gimana kabar Lisa?" tanya Andrea mengalihkan pembicaraan.
"Dia
baik-baik saja, No problem, hanya saja dia rindu sama kamu Re."
"Are
you sure?"
"Of
course."
"Ok
dech, nanti gue hubungi dia."
"Ngomong-ngomong,
jadi gak kita ke bioskop."
"Gimana
yach....." Andrea berfikir sejenak. Sementara Jack harap tiarap cemas.
" Kalo nanti malem gue ada acara gak yach?" ucapnya dalam hati.
"Gimana
keputusannya, Re?!"
"Daripada
gue Bete sendirian.....mendingan gue terima aja yach....."pikirnya.
"Ayo
dong, I need your answer" Jack semakin mendesak.
"Ok
dech....."
"Ya
udah, nanti loe gue jemput jam tujuh malem" Jack tampak seneng sekali.
"Dre?!"
Amara berteriak dari kejauhan. Ia berlari menghampirinya. " Gue
muter-muter satu kampus nyariin loe kemana-mana..... eh taunya ada disini.
" Ia lalu melirik pria yang ada disampimg Andrea.
"Siapa
tuh cowok, boleh juga” bisiknya ketelinga Andrea.
"Kenapa
loe. Kayak cacing kepanasan aja. Dateng-dateng udah gini-gitu."
"Ya...
payah loe, Guekan pengen ngomong ama loe. Ada berita penting nich."
"Banget
gak?!"
"Banget
banget."
"Baik...?
buruk?"
"Maunya?"
"Terserah!!"
Amara
menarik lengan sepupunya itu. "Ini rahasia " katanya pelan. "Dia
gak boleh tahu."
"Kenapa?"
"Pokoknya
loe harus ikut gue dulu" Ia membawa keluar Andrea.
"Jack,
loe tunggu dulu disini yach."
Setelah dapat tempat yang agak sepi
Amara baru membuka mulutnya. " Ini kabar tentang....."
"Doni
kan?!" tebak Andrea yang langsung mukanya cemberut kayak perkutut.
"Jadi
loe udah tahu" seru Amara tak percaya.
"Udah
dech, Loe jangan bicarain dia lagi, Bete tau gak"
"Jadi
loe sakit hati yach."
"Dih,
emangnya gue ada rasa ama dia."
"Tapi
Ndre......." tiba-tiba keceriaan pada raut wajah Amara hilang. Ia
kelihatan tampak sedih sekali.
"Udah...gue
capek kalo bahas dia lagi, Gue ama dia cuma HTS."
"Apaan
tuh?"
"Hubungan
Tanpa Status."
"Tapi
gue gak masalahin itu."
"Masalah
apa lagi sich yang loe hadapi? Gue bingung nich. Setiap loe nyamperin gue pasti
ada aja."
"Gue
udah janji sama Jay kalo ternyata hal itu benar gue harus putus sama dia."
"Ya
ampun.....loe bego yach. Gue udah cape-cape ngebelain hubungan loe berdua.
Eh....loe main janji putus segala."
"Tapikan
ini demi loe."
"Iya.....
lantas kenapa loe nyesel."
"Ya.....
karena gue masih sayang ama Jay " Amara tertunduk lesu.
"Kalo
gitu loe baikkan aja ama dia. Bilang aja loe khilaf. Lagian gue juga gak
terlalu peduli dengan Doni."
"Tapi.....guekan
malu."
"Apa
gue harus yang ngomong."
"Nggak....nggak
usah.... Gue udah ngerepotin loe terus. Gue gak enak ama loe."
"So....
semua bereskan apa yang mau loe ceritain."
"He
eh dech, Loe udah gak ada hubungannya kan dengan Doni."
"Gue
jadi rese nich kalo sebut nama itu." Andrea jadi kesal.
"Sorry.....jangan-jangan
loe udah punya gebetan baru" Amara menggodanya.
"Ah......
loe"
"Oh....
ya ya..... gue tahu. Cowok yang dikantin itukan. Kalo gak salah nama yang loe
sebutin itu Jack kan. Ngaku dech!!"
"Sudahlah......
gak usah dibahas. Kita jalani dulu yang ada. Ngomong-ngomong loe mau gak gue
kenalin sama dia?"
"Kapan-kapan
aja kali ya. Gue mesti masuk nich. Ntar dosennya ngamuk lagi."
"Gorila
kali" Andrea kembali tersenyum.
*********
"Eh.....
Jay loe kok kayak ada masalah. Tampang loe kusut banget" Golek
menghampirinya.
"Yach....
gitu dech. Hubungan gue kayaknya bakal berakhir sampai disini." Jay tampak
lesu menjawab pertanyaannya.
"Ternyata
bukan gue doang yach yang lagi patah hati. Gue bener-bener kecewa sama
cewek."
"Memangnya
loe lagi ngadapin masalah apa?"
"Ya....
gitu dech cewek. Kalo ngeliat cowok keren dikit, matanya langsung ijo."
"Emang
loe kira duit."
"Ya...pokoknya
gue gak mau pacaran lagi dech Gue kecewa banget. sakit tau gak."
"Gawat
tuh...."
"Gawat
kenapa?"
"Jangan-jangan
loe udah gak normal."
"Emangnya
gue gay loe kira gue gak normal." Golek manyun dan cukup tersinggung.
"Sorry....
BSD aja marah " Jay menahan tawa.
"BSD
? Dalam kamus bahasa Indonesia kayaknya kagak ada singkatan kayak gitu"
Golek sok berfikir.
"Emang
kagak ada BSD kan gue yang buat 'Becanda Sedikit Doang...... ha......ha"
Jay kali ini tidak dapat menahan tawanya namun tiba-tiba dia terdiam lagi.
"Tadi
diem, terus ketawa eh.. diem lagi. "
"Gue
gak habis pikir Lek, Masalah yang loe hadapi tidak seberat gue. Gue sendiri aja
bingung mo ngapain." Jay menghela napas dan pasrah dengan keadaan.
Golek
mengamati sahabatnya itu. "Bukannya gue mo ikut campur nich. Tapi sebagai
CeeSan, loe mesti ceritain ke gue siapa tau gue bisa bantu loe yach gini-gini
gue mantan DC Loh."
"Wah
hebat dong loe bisa ngidupin dinamo."
"Emangnya
gue aki, DC itu Dokter Cinta tau ga?"
"Ya
ampun.... kenapa gue mesti cerita ke loe. Gue gak yakin, soalnya loe sendiri
aja gak bisa nyelesain semua urusan loe. Katanya DC?” sindir Jay.
"Eit.....
yang itu lain. Itukan masalah privasi gue. Jangan diganggu." Golek
mengelak. " Gue bisa nyelesain masalah orang lain, ibarat pepatah bagai
telur di ujung tanduk."
"Maksudnya?"
"Yach
kalo kagak bisa di ujung tanduk mendingan loe ceplok aja telornya."
"Jayus
ah.Gue kira loe bisa diandelin. Gue cabut dulu nich.... udah siang bentar lagi
gue siaran" Jay berdiri dari bangku yang di dudukinya.
"Lantas.....
gue gimana?"
“Apanya
yang gimana?” Jay balik bertanya.
"Yach.....
hubungan gue."
"Au
ah.... gue aja pusing mikirin diri gue apalagi mikirin loe" Jay beranjak
meninggalkan kampus.
"Aduh
mak..pusing ambo......pusing....."
*******
Andrea keluar dari kelasnya. Ia
tergesa-gesa menuju mobilnya di tempat parker. Hari ini dia akan menjemput papa
di rumah sakit. “Gubrak......." tanpa disadari dia menabrak orang lain
sehingga buku-bukunya berjatuhan.
"Aduh.....
sorry yach " Andrea segera memunguti buku-bukunya yang berserakan.
"Kayaknya gue kenal sepatu ini dech" pikiranya ketika salah satu
bukunya tergeletak tepat di samping orang yang ditabraknya.
"Heran
yach, ngeliat sepatu gue" pria itupun membantunya mengumpulkan buku yang
berserakan.
"Ya
ampun Jack, Loe masih disini!!" seru Andrea tak percaya.
"Yap,
why not. I still wait you."
"Sorry
dech. Gue mesti buru-buru nich."
"Kenapa
apa loe tidak suka kalau gue dari tadi tunggu loe?"
"Bukan
itu, Gue mesti jemput papa di rumah sakit."
"Ok...
I know....I know. Boleh gue ikut? " pinta Jack menawarkan diri.
"Loe
bawa mobil?!"
"Ya....."
"Gue
juga bawa, Loe ikutin gue dari belakang gimana?"
"Ah.....
tidak romantis. Gue ingin ikut sama loe naik mobil loe aja gimana?" Ia
balik bertanya.
"M.......m......
Boleh but your car?"
"Gampang,
gue bisa suruh satpam untuk jagain mobil gue sampai gue kesini lagi. Tidak lama
bukan?"
"Ya.....
asal kita cepat sampai aja."
"Kalau
gitu kita berangkat sekarang."
*********
"Kamu
nanti ikut aku” ajak Lexi.
"Baik"
jawab Doni singkat, ia lagi merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
"Kamu
ada kuliah gak hari ini?"
Doni
berfikir sejenak "Jam 5 sore"
"Ya
sudah kalo begitu kita pergi sekarang."
"Sekarang?!"
Doni terkejut.
"Kita
jemput pak Direktur dirumah sakit"
"Tapi......"
Lexi berjalan keluar dari ruang
kerja Doni. Terpaksa Doni meninggalkan pekerjaannya dan mengejar Lexi.
"Cepet
naik?" Lex sudah berada di dalam mobilnya. Ia membuka pintu Mercedes dan
langsung naik ke dalam.
"Memangnya
pak Direktur sudah dapat kita jemput?"
"Ya.....
tadi beliau menelepon aku untuk menjemputnya."
"Kenapa
tidak putrinya saja."
"Andrea
maksud kamu?"
"Ya........"
"Dia
lagi kuliah. Ngomong-ngomong mengenai putri pak Direktur kamu sudah kenal lama
ya dengannya?"
"M.....m.....
nggak....aku gak kenal" jawab Doni gelagapan. Ia tidak ingin Lexi
mengetahuinya karena ini masalah pribadi yang tak seorangpun boleh
mencampurinya.
"Dia
memang cantik" Lexi tersenyum. "Namun sifat keras kepalanya membuat
dia berbeda dari cewek-cewek lain. Gue suka dia" ucap Lexi blak-blakan.
"Iya......dia
memang cantik. Cocok dengan cowok kayak kamu."
"Tapi
rasanya sulit kalo gue dapetin dia."
"Aku
gak ngerti Lex."
"Gue
tau kalo dia gak suka gue. Dia mencintai orang lain.Walaupun gue berusaha
ngedapetin dia seumur hiduppun, hatinya bukan buat gue."
"Kamu
gak boleh nyerah gitu dong."
"Ya...gue
juga mau berusaha ngerebut simpatinya." dia memukul pelan bahu Doni. Doni
pun tertawa kecil melihat keinginan Lexi yang sebegitu besarnya Walaupun dalam
hati kecilnya dia cemburu sebab ia juga menyukai Andrea.
"Nah....
kita sampai nich. Loe turun dan segera temui pak Direktur, gue mau markirin
mobil dulu. Nanti gue susul."
"Ok
Boss" tampaknya Doni mulai bisa mengakrabkan diri dengan Lexi. Ia memang
berusaha untuk itu bukan padanya saja tapi semua orang di perusahaan.
Lexi memang tipe pria yang luar
biasa, Pantang menyerah, disiplin, tegas dan ia enak diajak bicara, Andrea
pantas mendapatkan pria tersebut.
*********
"Kita
sudah sampai nich" Andrea memperlambat laju kendaraannya. "Loe,
tunggu direseptionis." "Yah....
cepet sekali" Jack melepaskan safety beltnya.
"Sun
nya mana?" ia menawarkan pipinya untuk dicium.
"Idih.....
genit banget" Andrea membalasnya dengan cubitan dipipi Jack yang
disodorkan padanya.
"Aw......wah....
sakit nich" Jack mengelus-ngelus pipinya.
"Lagian......"
Andrea tersenyum “Udah turun sono, gue mau markirin nich mobil."
"Ok
honey" dia turun sambil memberikan hormat seperti pengawal kepada
permaisurinya.
Andrea
memarkirkan kendaraannya di
bestmen rumah sakit.
"Hei....
hati-hati kalo jalan!!" teriak seseorang yang hampir tertabrak untungnya
cuma terserempet dan lecet dikit doang.
"Maaf......
"Andrea turun dan menghampirinya.
"Eh.....
ingat nich kalo loe kagak bisa nyetir mobil mendingan loe kagak usah pake mobil
mobilan lagi!!" bentaknya, dia berusaha bangkit dan membersihkan
pakaiannya.
"Biar
aku bantu."
"Kagak......."
pria terdiam lau mengangkat wajahnya "Re."
"Lexi?!"
"Ngapain
kamu disini?" suaranya merendah.
"Loe
ngapain disini juga?" ia malah balik bertanya.
"Aku
disuruh om jemput dia, kamu kagak kuliah?"
"Udah
selesai......"
"Ya
udah" Lexi kembali memasang tampang juteknya dan pergi menuju ruang inap
papa.
"Sok
banget sich, jadi orang kalo tau gini gue tabrak aja sekalian Huh" dia
kembali masuk ke mobilnya.
*********
"Siang
pak" sapa Doni.
"Eh....Don,
Lexi datang?"
"Yach......dia
sebentar lagi ke sini. Gimana keadaannya pak?" tanya Doni sambil
memperhatikan keadaan pak direktur.
"Yah
begitulah. Aku sudah bosan ngirup bau rumah sakit. Pengen banget keluar dari
sini. Sudah kangen dengan perusahaan" kelakar papa.
"Siang
om” Lexi masuk terburu-buru.
"Nah
panjang umur tuh" seru papa.
"Berangakt
sekarang om?!" tanya Lexi tanpa basa-basi.
"Boleh”
papa berusaha baranjak dari tempat tidurnya.
"Biar
aku bantu pak" ucap Doni,
Semetara Lexi mengambil kursi roda
yang berada disamping lemari kecil yang bercat putih.
Ditempat
lain.........
"Ayo
cepet" Andrea menarik lengan Jack yang lagi godain suster.
"Slowly
dong, jealous yach.??"
"Ini
bukan masalah perasaan, "Andrea menggerutu ia semakin panik.
"Kenapa
kita harus terburu-buru? papakan masih kurang sehat."
"Mau
ikut apa kagak?" Andrea berhenti tepat di depan lift.
"Ya.....tentu
dong..."
Lift terbuka dan.......
"Papa?!"
"Re......"
papa kemudian tersenyum. "Papa tidak ingin ganggu kuliah kamu
jadi......"
"Papa
kenapa gak telepon Re aja, sms kek, memangnya Re gak bisa jemput papa. Re kan
gak sesibuk yang papa bayangkan?" Andrea jengkel, ia merasa tidak bisa
diandalkan, sebagai seorang anak dia juga ingin berbakti pada orangtuanya tapi
papanya membuat seakan dia bayi kecil yang gak bisa apa-apa.
"Bukannya
gitu Re, Lexi dan Doni juga sudah cukup kamu jangan cemberut gitu."
"Tapi
pa......" belum sempat dia melanjutkan kata-kata papa sudah menasehatinya
lagi.
"Sudah
dech pa......" Andrea meninggalkan papa begitu saja. Lexi, Doni, Jack dan
Papa sendiri bingung. Kelakuannya kayak anak kecil ngambek.
"Biar
aku saja yang bilang ke dia om" ucap Lexi namun tangannya dipegang papa.
"Tak
usah, ntar juga dia baik sendiri."
"Kalo
gitu, aku saja yang menghampirinya sebab aku kesini bersamanya” Jack pergi
berlalu dari tempat itu.
"Hey,
siapa namamu? " teriak papa.
"Jack......"
jawabnya tanpa menoleh.
Lexi beradu pandang dengan Doni dari
sorot matanya.....Doni mampu membaca pikirannya, Ia pun merasakan hal yang
sama. Entah perasaan apa yang jelas sangat menusuk dan menyakitkan.
**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar