Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 3



BAB 3

            Malam semakin larut, suara jangkrik membuat suasana tenggelam dalam keheningan. Bulan tampak merah sekali diiringi awan yang sekali-kali terlihat berarak.Andrea menatap langit yang bertabur bintang. Ia teringat kejadian tadi siang lalu tersenyum sendiri. Pria yang ditemuinya tadi benar-benar polos. Dengan wajahnya yang terlihat bodoh meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“Non Andrea . . . ndoro putri sudah menunggu non di bawah bi Darsih berdiri di belakang Andrea yang sedang asyik meikmati indahnya malam.
“Iya bi, nanti Andrea turun ia menoleh ke arah bi Darsih. “Bibi duluan aja Andrea masih ingin menatap indahnya malam.”
Bi Darsih memahami hal itu. Ia memang sudah jauh mengenal Andrea karena semenjak bayi bi Darsihlah yang merawat. Mama dan papanya sibuk bekerja, sehingga kedekatan diantara mereka layaknya seorang ibu dan anak walaupun tanpa hubungan darah sekalipun.
Andrea sering menceritakan masalah yang pribadinya pada bi Darsih dan meminta nasihat padanya. Ketika Andrea mengalami haid pertama, Bi Darsilah yang pertama kali diberitahunya.Bi Darsih pun telah menganggap Andrea seperti anaknya sendiri meskipun ia telah dikaruniai dua orang putra dan putri. Memang terkadang sifat keegoisan Andrea muncul, tapi seiring berjalannya waktu Andrea sudah tumbuh dewasa dan dia bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Bi Darsihpun turun, mama sudah menanti Andrea dengan gelisah “Mana Andrea bi? tanya mama sedikit kecewa karena menyangka Andrea akan ikut turun.
“Sebentar lagi nyonya, katanya masih ingin melihat bintang di langit” kata bibi menjelaskan.
Makasih ya bikata mama tersenyum lega ia kembali ke ruang makan.
Memang dari dulu Andrea sangat senang sekali dengan bintang. Sampai suatu hari ia tidak mau sekolah gara-gara papa tidak mengambilkan bintang untuknya ketika Andrea berulang tahun. Papa sampai bingung dibuatnya dan akhirnya papa membelikannya replika bintang yang sampai saat ini ia gantung di dinding kamarnya.
“Mana Andrea ma?” tanya papa tak sabar.
“Masih dia atas. Mungkin sebentar lagi dia turun ke sini timpal mama .
Tak lama kemudian Andrea muncul dengan mengenakan pakaian yang simple dan santai serta rok midi yang agak gelap. “Hallo madia langsung mencium manja kedua pipi mama lalu duduk di sampingnya.
“Kok papa gak dicium?” kata papa protes.
“Kan udah tadi siang” kata Andrea diiringi dengan tawa dari mama.“Hai Lex . . .” sapanya kemudian. Lexi hanya mengangguk kecil sambil tersenyum memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih baris rapi. “Wah kayaknya masakannya enak nih” Andrea memandangi meja yang penuh dengan hidangan.
“Tadi mama pesan supaya bibi yang masak masakan kesukaanmu Re” kata mama.
“Bibi tau aja makanan kesukaan Re, jadi bingung mau makan yang mana dulu”
Makannya nanti ya sayang sekarang kita rayakan dulu kedatangan Andrea dengan bersulang papa mengangkat gelas diikuti mama, Lexi dan juga Andrea yang tak ingin ketinggalan.
“Ting-tong” tiba-tiba semua terkejut dengar suara bel yang berbunyi.
Biar Andrea aja yang buka “ ia meninggalkan meja makan.
Bi Darsih yang sedang mencuci piring di dapur segera mengeringkan tangannya dengan serbet kotak – kotak yang ada di dekatnya. Namun andrea sudah membuka pintu terlebih dahulu.
Andre !” seorang gadis sebayanya langsung memeluknya begitu saja. “Sudah lama kita gak ketemu. I miss u so much” dia melepaskan pelukan yang membuat Andrea sulit bernafas.
Gadis itu cantik, rambutnya halus dan lembut dikuncir kuda dengan ikat rambut merah mawar, dia lebih tinggi empat senti dari Andrea. Matanya lebih sipit dibandingkan Andrea. Bulu matanya lentik dan mengenakan sedikit maskara. Bibirnyapun mungil dengan lipstik merah tipis pula.Tanktop yang dikenakan memperlihatkan lekuk tubuh yang ideal dan kulit putih yang mulus dibalut blue jeans yang super ketat. Sepatu kets berwarna coklat tua bertali membuatnya kelihatan santai.
“Amara !!Andrea seakan tak percaya. Gadis itu sepupunya. David mana ?” tanyanya.
“Gue pasti ke sini dong” laki-laki yang wajahnya mirip Amara muncul dari balik pintu.
Dia saudara kembar Amara. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya pirang lurus terbelah di tengah. Dulunya mantan pemain basket sewaktu SMA. Gayanya cool rada cuek. Pandai merayu perempuan. Sudah 53 kali punya pacar tapi sudah putus. Dikenal sebagai playboy di kampusnya but sangat perhatian dengan adik kembarnya terkadang over protektif tapi bukan posesif.
“Tambah genteng ja sepupu gue nihujar Andrea berkelakar. Memeluknya dengan hangat dan mempersilahkan kedua sepupunya itu masuk.
“Oom, tante” Amara dengan santainya mencium pipi mama dan papa.
Sama bunda? tanya mama padanya.
“Nggak tante, bunda di Singapura menemani ayah. Katanya lagi ada proyek besar “ lalu ia duduk. Oya ayah dan bunda titip salam buat oom dan tante”
Andrea dan David pun bergabung di meja makan. Lexi jadi nggak enak sendiri pasalnya dia bukan anggota keluarga Ricard De Niro pemilik perusahaan Visi Indotainment & CO, perusahaan yang memiliki aset terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang periklanan dan entertainment.
“Udah nyantai aja LexAndrea melihat tingkah laku Lexi yang sedikit grogi. Langsung saja muka Lexi merona merah seperti kepiting rebus.
Lexi hanya tersenyum tipis menundukkan wajahnya yang tampan. Lucu juga melihatnya.
                            ******
Di sebuah rumah yang sederhana, bersih dan asri Doni membantu emak menutup warung.
“Emak kok dari tadi kagak ngeliat Jay, die kemana ye?”
“Gak tau mak, katanye mau cari kerja” Doni menanggapi pertanyaan emak sambil meletakkan kaleng kerupuk di atas meja yang masih kosong. “Tu die muncul mak, panjang umur ye kali tu anak” Doni menunjuk ke arah Jay. “Motor loe mane?” tanya Doni lagi.
“Nah itu die, motornya lagi turun mesin nih. Terpaksa aye bawa ke Koh A Hong” kata Jay menyeka keringatnya.
“Oh...” Doni mengangguk paham dan pergi ke dalam.
 “Kayaknya tu motor dah saatnya masuk museum Mak?”
Iye mak tau. Nanti insyaallah kalo ada rezeki emak nyicil motor yang baru. Nih minum tehnya dulu, biar badan anget emak menuangkan air panas ke dalam mug besar.
“Bukan itu maksud Jay mak. Motornya disimpan aja di rumah. Soalnya Jay sudah dapet kerja mak. Kalo sudah gajian Jay yang mau nyicil motor.
“Alhamdulillah, bagus dech kalo gitu, tapi loe kerja apa? Pan loe baru lulus SMU emak sedikit heran. “Halalkan?”
“Insyaallah mak, pekerjaaan aye halal. Gini mak, aye diterima jadi presenter radio ntu tu yang suka ciap-ciap di radio
Emang loe kata burung ciap-ciap” Doni muncul sambil membawa segelas kopi hangat dan pisang goreng yang baru di masak.
Maksud aye, penyiar radio”. Jay menegaskan. Ia mencomot pisang yang berada di depan mata dan melahapnya. Ternyata masih panas hingga Jay hanya bisa memonyongkan bibirnya yang kepanasan.
“Makanya lihat-lihat dulu kalo mau makan. Sudah tau ngebul kayak asap begini” Donipun mencomot pisang goreng dan meniupnya pelan-pelan agar panasnya berkurang.
Kalo loe sendiri gimana?” tanya Jay dengan mulut penuh sehingga Doni tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“ Makan-makan , ngomong-ngomong. Nanti keselek baru tau rasa” Doni jengkel melihat tingkah adiknya itu.
Jay menelannya langsung lalu menyeruput teh hangat yang belum diberi gula. Nikmat sekali rasanya. Ia sangat bersyukur bisa merasakan nikmat yang luar biasa ini di tengah keluarganya yang perhatian dan penuh sayang. Walaupun terkadang sikap Doni, kakaknya itu menjengkelkan dan menyebalkan. Tapi itu karena Doni sayang padanya.
Setelah benar-benar habis Doni lalu berujar “Susah banget gue cari pekerjaan. Nggak satu pun perusahaan mau menerima gue. Yang ada paling jadi tukang sapu atau satpam. Padahal kemampuan gue di Informatika. Gue sudah bisa bikin program yang mempermudah pekerjaan”Doni  sedikit mengeluh matanya tampak berkaca-kaca.
“Inget Don, sesuatu itu perlu proses. Waktu emak ngelahirin loe emang emak nggak hamil dulu apa ?” emak mencoba mengingatkannya.
“Astagfirullah mak, aye khilaf” ia menepuk jidatnya.
“Kalo ada pekerjaan apapun itu selagi pekerjaan itu halal loe terima aja, siapa tahu ntar loe jadi orang berhasil. Emak juga nggak ngarepin apa-apa kok dari loe-loe pada. Emak cuma pengen kalian berdua bahagia ampe emak mati nanti kata emak menatap mereka berdua.
“Emak jangan ngomong gitu dong. Aye jadi sedih” Doni bangkit dan memeluk emak. Terasa kehangatan kasih sayang antara seorang anak dan ibunya. Tanpa terasa air mata meleleh begitu saja dari pelupuh matanya.“ Emak aye sayang emak. Aye pengen buat emak bahagia dan bangga. Aye janji
“Aye juga mak “ Jay mendekati emak dan memegang tangannya yang keriput dan menciumnya.
Emak tersenyum bahagia. Seandainya suami tercinta masih berada diantara mereka mungkin ia juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya saat ini.

            *******************************************                                          

            “So loe mau terusin di mana? tanya Amara sambil duduk di kasur Andrea yang empuk. Andrea hanya mengangkat bahu. Dia tak tahu apa-apa tentang Universitas yang ada di Indonesia.
             Eh, gimana kalo loe terusin di UMP aja”tawar Amara. Tiba-tiba ia mendapat ide cemerlang yang mungkin bisa jadi solusi untuk memecahkan permasalahan.
Apa, UMP? Apalagi tuh?"
“Universitas Merah Putih. Gue juga kuliah di sana kok. Loe pasti suka. Cowoknya keren-keren bo.”
            “Kalo ngomongin cowok aja cepet David muncul dari luar kamar menghampiri mereka.
            Ngapain loe kesini, masuk nggak bilang-bilang Amara kesal dengan saudara kembarnya itu. Mukanya ditekuk kayak kain kusut.
            “Emang nggak boleh
            Ini kan kamar cewek-cewek, pergi dah sana” Amara beranjak dan mendorong tubuh David.
            Andrea tersenyum sesekali tertawa lepas melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil. “Ya Vid, kamu temani Lexi aja di ruang keluarga!” teriak Andrea.
“Dia sudah pulang” jawabnya dengan suara keras.
            “Dah beres Amara tampak senang sekali lalu kembali duduk di spring bed Andrea dengan meluncur sehingga ranjang tersebut turun naik karena empuk sekali. “Kita lanjutkan lagi pembicaraan kita” Namun wajah Andrea sudah terlihat bête. “Duh sepupuku janganlah engkau risau. Aku pasti membantumu Andreapun akhirnya kembali tertawa. Bisa saja Amara menghibur dirinya.
            Ya udah, jadi gimana keputusannya?” Andrea balik mendesak .
            “Pokoknya loe mesti masuk UMP, titik ! Nggak pake koma.
            “Ok deh kalo gitu
            “Nah, ntu die sepupu gue.senyum mengembang dari bibirnya. “Eh By the way loe udah punya gebetan belum sich Amara mengalihkan topik pembicaraan.
            Andrea diam. Ia teringat Jack. Pria yang pertama kali mengutarakan cinta. Ia merasakan ketulusan cinta, yang mungkin tidak dapat diberikan pria lain tapi dia sama sekali tidak merasakan cinta  tersebut mengalir dari sanubarinya dan ia akan belajar lagi untuk memahami arti cinta yang sesungguhnya.
            “Hey, kok malah ngelamun. Inget cowok ya? Amara mengejutkannya.
            “Ah nggak” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, namun sorot matanya tak mampu untuk menutupi kebohongan itu. “Udahlah ngapain kita ngebahas cowok, toh semua itu sudah diatur ko, tinggal tunggu aja nanti” Andrea menghempaskan tubuhnya yang mungil di atas kasur yang empuk dan dia merasa lebih nyaman sekarang.
            Menurut loe Lexi gimana?” tanya Amara.
            “No commentjawabnya, ia memandang langit-langit rumah seakan dia masih berada di apartement.
            “Gue rasa, dia cowok yang keren. Orangnya sopan terus tampak berwibawa. Pokoknya top habis deh. Kenapa loe nggak gebet aja dia. Lagi pula dia tuh udah deket ma keluarga loe
            “He, enak aja ye ngomong. Mikir dulu ke” Andrea bangkit menatap sepupunya yang rada ngeselin. “Cinta itu gak bisa dipaksakan. Cinta datang dari hati yang paling dalam.”
            “Tapi loe suka kan ledeknya lagi.
            “Bluk sebuah bantal mendarat di kepala Amara. Amarapun membalasnya hingga tercetuslah perang bantal malam itu.
                                     *************

            Suara dengkuran Jay terdengar jelas. Doni tidak mampu menutup matanya. Ia masih terbayang gambaran wanita yang menjadi korban kecerobohannya tadi siang. Ia beranjak dari kasur sehingga decitan-decitan ranjang terdengar begitu memilukan hati. Ia meraih sweaternya yang udah agak kusam dan berjalan keluar.
            Jalan begitu gelap. Tidak ada manusia yang berani lalu lalang di tengah malam begini. Konon kata orang yang masih percaya hal yang begituan, setiap tengah malam pasti berkeliaran wanita berambut panjang dengan baju putih yang berjuntai sampai menutupi kaki serta kuku hitam yang panjang pula. Biasanya orang-orang menyebut dedemit itu dengan sebutan kuntilanak atau sendel bolong.
            Doni orangnya rasional , dia tak percaya dengan golongan-golongan dedemit yang sering muncul di televisi. Ia sering berfikir dan bertanya-tanya dalam hati        katanya sudah zaman modern teknologi canggih tapi kok masih percaya sama hal berbau mistik seperti itu. Sampai-sampai dibuat tontonan di bioskop. Merusak moral bangsa Indonesia saja apalagi sekarang film-film seperti itu dibumbui dengan adegan yang berbau mesum. Sungguh sebuah tontonan yang tidak layak untuk disajikan. Kok jadi malah membicarakan itu, kembali lagi ke cerita Doni.
“Coba seandainya gue ketemu lagi sama tuh cewek” gumamnya. Ia lalu menguap lebar-lebar. “Gue harus minta maaf sama dia”
            Don, loe belum tidurEmak menghampirinya.
            Doni terkejut lalu menoleh ke belakang “Nggak bisa mak, aye kagak bisa mejemin nich mata.
Emak tersenyum. “Kayaknye ade sesuatu nich yang loe sembunyiin sama emak?”
“Gak kok mak gak ade apa-apa” Doni menggeser tempat duduk yang terbuat dari rotan itu.
Loe gak bisa bohong sama emak. Ya mak harap loe bisa nyelesaikan masalah loe”
            Doni membuang pandangan ke arah jalan setapak yang sepi dan senyap. Ia tahu emak bisa membaca matanya.
            Udah gih masuk aje. Ntar loe kagak bisa kuliah lagi pan besok loe katanya mo ngelamar kerje” emak beranjak dari bale-bale yang terbuat dari rotan itu.
            “Iye mak. Emak masuk duluan aje. Aye nanti mau sholat tahajud dulu mau mendapat petunjuk Wanita paruh baya itu berjalan ke dalam disusul Doni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar