BAB 3
Malam semakin larut, suara jangkrik
membuat suasana tenggelam dalam keheningan. Bulan tampak merah sekali diiringi
awan yang sekali-kali terlihat berarak.Andrea menatap langit yang bertabur
bintang. Ia teringat kejadian tadi siang lalu tersenyum sendiri. Pria yang ditemuinya tadi benar-benar polos. Dengan
wajahnya yang terlihat bodoh meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“Non
Andrea . . . ndoro putri sudah menunggu non di bawah” bi Darsih berdiri di
belakang Andrea yang sedang asyik
meikmati indahnya malam.
“Iya
bi, nanti Andrea turun”
ia menoleh ke arah
bi Darsih. “Bibi duluan aja Andrea masih
ingin menatap indahnya malam.”
Bi
Darsih memahami hal itu. Ia memang
sudah jauh mengenal Andrea karena semenjak
bayi bi Darsihlah yang merawat. Mama
dan papanya sibuk bekerja, sehingga kedekatan diantara mereka layaknya seorang ibu dan anak
walaupun tanpa hubungan darah sekalipun.
Andrea
sering menceritakan masalah yang pribadinya
pada bi Darsih dan meminta nasihat padanya. Ketika
Andrea mengalami haid pertama, Bi Darsilah yang pertama kali diberitahunya.Bi
Darsih pun telah menganggap Andrea seperti anaknya sendiri meskipun ia telah
dikaruniai dua orang putra dan putri.
Memang terkadang sifat keegoisan Andrea muncul, tapi seiring berjalannya waktu
Andrea sudah tumbuh dewasa dan dia bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Bi
Darsihpun turun, mama sudah menanti
Andrea dengan gelisah “Mana
Andrea bi?” tanya mama sedikit kecewa karena menyangka Andrea akan ikut turun.
“Sebentar lagi nyonya, katanya masih ingin melihat bintang
di langit” kata bibi menjelaskan.
“Makasih ya bi” kata mama tersenyum
lega ia kembali ke ruang makan.
Memang dari dulu Andrea
sangat senang sekali dengan
bintang. Sampai suatu hari ia tidak mau sekolah gara-gara papa
tidak mengambilkan bintang untuknya ketika Andrea berulang tahun. Papa sampai
bingung dibuatnya dan akhirnya papa membelikannya replika bintang yang sampai
saat ini ia gantung di dinding kamarnya.
“Mana
Andrea ma?” tanya papa tak sabar.
“Masih
dia atas. Mungkin sebentar lagi dia turun ke sini” timpal mama .
Tak
lama kemudian Andrea muncul dengan mengenakan pakaian yang simple dan santai serta
rok midi yang agak gelap. “Hallo
ma” dia langsung mencium manja
kedua pipi mama lalu duduk
di sampingnya.
“Kok papa gak dicium?” kata papa protes.
“Kan udah tadi siang” kata Andrea diiringi dengan tawa
dari mama.“Hai Lex . . .” sapanya kemudian. Lexi hanya mengangguk kecil sambil tersenyum
memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih baris rapi. “Wah kayaknya
masakannya enak nih” Andrea memandangi meja yang penuh dengan hidangan.
“Tadi mama pesan supaya bibi yang masak masakan
kesukaanmu Re” kata mama.
“Bibi tau aja makanan kesukaan Re, jadi bingung mau makan
yang mana dulu”
“Makannya nanti ya sayang sekarang kita
rayakan dulu kedatangan Andrea dengan bersulang” papa mengangkat gelas diikuti mama, Lexi dan juga
Andrea yang tak ingin ketinggalan.
“Ting-tong”
tiba-tiba semua terkejut dengar suara bel yang berbunyi.
“Biar Andrea aja yang
buka “ ia meninggalkan meja makan.
Bi
Darsih yang sedang mencuci piring di dapur segera mengeringkan tangannya
dengan serbet kotak – kotak yang ada di dekatnya. Namun andrea sudah membuka
pintu terlebih dahulu.
“Andre !” seorang gadis sebayanya
langsung memeluknya begitu saja. “Sudah
lama kita gak
ketemu. I miss u so much”
dia melepaskan pelukan yang membuat
Andrea sulit bernafas.
Gadis
itu cantik, rambutnya halus dan lembut
dikuncir kuda dengan ikat
rambut merah mawar, dia lebih tinggi empat senti dari Andrea. Matanya lebih sipit dibandingkan Andrea. Bulu matanya
lentik dan mengenakan sedikit maskara. Bibirnyapun mungil dengan lipstik merah
tipis pula.Tanktop yang dikenakan memperlihatkan
lekuk tubuh yang ideal dan kulit putih yang mulus dibalut blue jeans yang super
ketat. Sepatu kets berwarna coklat tua bertali membuatnya
kelihatan santai.
“Amara
!!”Andrea seakan tak
percaya. Gadis itu sepupunya. “
David mana ?” tanyanya.
“Gue
pasti ke sini
dong” laki-laki yang wajahnya mirip
Amara muncul dari balik pintu.
Dia
saudara kembar Amara. Tubuhnya tinggi
tegap, rambutnya pirang lurus terbelah di
tengah. Dulunya mantan pemain basket sewaktu SMA.
Gayanya cool rada cuek. Pandai merayu
perempuan. Sudah 53 kali punya pacar tapi sudah putus. Dikenal sebagai playboy
di kampusnya but sangat
perhatian dengan adik kembarnya terkadang over protektif tapi bukan posesif.
“Tambah
genteng ja sepupu gue nih” ujar
Andrea berkelakar. Memeluknya dengan
hangat dan mempersilahkan kedua sepupunya itu
masuk.
“Oom,
tante” Amara
dengan santainya mencium pipi mama dan papa.
“Sama bunda?” tanya
mama padanya.
“Nggak
tante, bunda di Singapura
menemani ayah. Katanya lagi ada proyek besar “ lalu ia
duduk. “ Oya ayah dan bunda
titip salam buat oom dan tante”
Andrea
dan David pun bergabung di meja makan.
Lexi jadi nggak enak sendiri pasalnya dia bukan anggota keluarga Ricard De Niro
pemilik perusahaan Visi Indotainment & CO, perusahaan yang
memiliki aset terbesar
di Indonesia yang bergerak di bidang periklanan dan entertainment.
“Udah
nyantai aja Lex” Andrea
melihat tingkah laku Lexi yang sedikit grogi. Langsung saja muka Lexi merona merah seperti kepiting
rebus.
Lexi hanya tersenyum tipis menundukkan wajahnya yang
tampan. Lucu juga melihatnya.
******
Di sebuah rumah yang sederhana,
bersih dan asri Doni membantu
emak menutup
warung.
“Emak
kok dari tadi kagak ngeliat Jay, die kemana ye?”
“Gak tau mak, katanye mau cari kerja” Doni menanggapi
pertanyaan emak sambil meletakkan kaleng kerupuk di atas meja yang masih kosong.
“Tu die muncul mak, panjang umur ye kali tu anak” Doni menunjuk ke arah Jay. “Motor loe mane?” tanya Doni lagi.
“Nah
itu die, motornya
lagi turun mesin nih. Terpaksa
aye bawa ke Koh A Hong” kata Jay menyeka keringatnya.
“Oh...” Doni mengangguk paham dan pergi ke dalam.
“Kayaknya tu motor
dah saatnya masuk museum Mak?”
“Iye mak tau. Nanti insyaallah kalo ada rezeki emak nyicil
motor yang baru. Nih minum tehnya dulu, biar badan
anget” emak menuangkan air
panas ke dalam mug besar.
“Bukan itu maksud Jay mak. Motornya disimpan aja di rumah.
Soalnya Jay sudah dapet kerja mak. Kalo sudah gajian Jay yang mau nyicil motor.”
“Alhamdulillah,
bagus dech kalo gitu,
tapi loe kerja apa? Pan
loe baru lulus SMU”
emak sedikit heran. “Halalkan?”
“Insyaallah mak, pekerjaaan aye halal. Gini
mak, aye diterima jadi presenter radio ntu tu yang suka ciap-ciap di radio”
“Emang loe kata burung ciap-ciap”
Doni muncul sambil membawa segelas kopi hangat dan pisang goreng yang baru di masak.
“Maksud aye, penyiar
radio”. Jay menegaskan.
Ia mencomot pisang yang berada di depan mata
dan melahapnya. Ternyata masih panas hingga Jay hanya bisa memonyongkan
bibirnya yang kepanasan.
“Makanya lihat-lihat dulu kalo mau makan. Sudah tau
ngebul kayak asap begini” Donipun mencomot pisang goreng dan meniupnya
pelan-pelan agar panasnya berkurang.
“Kalo loe sendiri gimana?” tanya Jay dengan mulut
penuh sehingga Doni tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
“
Makan-makan , ngomong-ngomong. Nanti
keselek baru tau rasa” Doni jengkel melihat
tingkah adiknya itu.
Jay
menelannya langsung lalu menyeruput teh hangat
yang belum diberi gula. Nikmat sekali
rasanya. Ia sangat bersyukur bisa merasakan nikmat yang luar biasa ini di
tengah keluarganya yang perhatian dan penuh sayang. Walaupun terkadang sikap
Doni, kakaknya itu menjengkelkan dan menyebalkan. Tapi itu karena Doni sayang
padanya.
Setelah
benar-benar habis Doni
lalu berujar “Susah
banget gue cari pekerjaan. Nggak satu pun perusahaan mau menerima gue. Yang ada
paling jadi tukang sapu atau satpam.
Padahal kemampuan gue di Informatika. Gue sudah bisa bikin program yang
mempermudah pekerjaan”Doni sedikit mengeluh
matanya tampak berkaca-kaca.
“Inget
Don, sesuatu itu perlu proses. Waktu emak ngelahirin loe emang emak nggak hamil
dulu apa ?” emak mencoba mengingatkannya.
“Astagfirullah mak, aye khilaf” ia menepuk jidatnya.
“Kalo
ada pekerjaan apapun itu selagi pekerjaan itu halal loe
terima aja, siapa tahu ntar loe jadi orang berhasil. Emak juga
nggak ngarepin apa-apa kok dari loe-loe pada. Emak cuma pengen kalian berdua
bahagia ampe emak mati nanti”
kata emak menatap mereka berdua.
“Emak
jangan ngomong gitu dong. Aye jadi sedih”
Doni bangkit dan memeluk emak. Terasa kehangatan kasih
sayang antara seorang anak dan ibunya. Tanpa terasa air mata meleleh begitu
saja dari pelupuh matanya.“ Emak aye sayang emak. Aye pengen buat emak bahagia
dan bangga. Aye janji”
“Aye
juga mak “ Jay mendekati emak dan memegang tangannya yang keriput dan menciumnya.
Emak
tersenyum bahagia. Seandainya suami
tercinta masih berada diantara mereka mungkin ia juga akan merasakan hal yang
sama dengan apa yang dirasakannya saat ini.
*******************************************
“So loe mau terusin
di mana?” tanya
Amara sambil duduk di kasur Andrea yang
empuk. Andrea
hanya mengangkat bahu. Dia
tak tahu apa-apa tentang Universitas yang ada di Indonesia.
“Eh,
gimana kalo loe terusin di UMP aja”tawar
Amara. Tiba-tiba ia mendapat ide cemerlang yang
mungkin bisa jadi solusi untuk memecahkan permasalahan.
“Apa, UMP? Apalagi tuh?"
“Universitas
Merah Putih. Gue juga kuliah
di sana kok. Loe pasti suka.
Cowoknya keren-keren bo.”
“Kalo ngomongin cowok aja cepet” David muncul dari luar
kamar menghampiri mereka.
“Ngapain
loe kesini, masuk nggak bilang-bilang” Amara kesal dengan
saudara kembarnya itu. Mukanya ditekuk kayak kain kusut.
“Emang nggak boleh”
“Ini
kan kamar cewek-cewek, pergi dah sana” Amara beranjak dan mendorong
tubuh David.
Andrea tersenyum sesekali tertawa
lepas melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil. “Ya Vid, kamu temani Lexi aja di ruang keluarga!” teriak
Andrea.
“Dia sudah pulang” jawabnya dengan suara keras.
“Dah beres” Amara tampak senang
sekali lalu kembali duduk di spring bed Andrea
dengan meluncur
sehingga ranjang tersebut turun naik karena empuk sekali. “Kita lanjutkan lagi pembicaraan kita” Namun
wajah Andrea sudah terlihat
bête. “Duh sepupuku janganlah engkau
risau. Aku pasti membantumu “Andreapun akhirnya kembali
tertawa. Bisa saja Amara menghibur dirinya.
“Ya
udah, jadi gimana keputusannya?”
Andrea balik mendesak .
“Pokoknya loe mesti masuk UMP, titik
! Nggak pake koma.”
“Ok deh kalo gitu”
“Nah, ntu die sepupu gue.” senyum mengembang dari
bibirnya. “Eh By the way
loe udah punya gebetan belum sich”
Amara mengalihkan topik pembicaraan.
Andrea diam. Ia teringat Jack. Pria yang pertama kali mengutarakan cinta.
Ia merasakan ketulusan cinta, yang mungkin tidak dapat diberikan pria lain tapi
dia sama sekali tidak merasakan cinta tersebut mengalir
dari sanubarinya dan ia akan belajar lagi untuk memahami arti cinta yang
sesungguhnya.
“Hey, kok malah ngelamun. Inget
cowok ya?”
Amara mengejutkannya.
“Ah nggak” katanya sambil
menggeleng-gelengkan kepala, namun sorot matanya tak mampu untuk menutupi
kebohongan itu. “Udahlah ngapain kita ngebahas cowok, toh semua itu sudah
diatur ko, tinggal tunggu aja nanti” Andrea menghempaskan tubuhnya yang mungil
di atas kasur yang empuk dan dia merasa lebih nyaman sekarang.
“Menurut loe Lexi gimana?” tanya Amara.
“No comment”jawabnya, ia memandang
langit-langit rumah seakan dia masih berada di apartement.
“Gue rasa, dia cowok yang keren.
Orangnya sopan terus tampak berwibawa.
Pokoknya top habis deh. Kenapa loe nggak gebet
aja dia. Lagi pula dia tuh udah deket ma keluarga loe”
“He, enak aja ye ngomong. Mikir dulu
ke” Andrea bangkit menatap sepupunya yang rada ngeselin. “Cinta itu gak bisa dipaksakan. Cinta datang dari hati
yang paling dalam.”
“Tapi loe suka kan” ledeknya lagi.
“Bluk” sebuah bantal mendarat di kepala Amara. Amarapun membalasnya hingga tercetuslah perang bantal
malam itu.
*************
Suara dengkuran Jay terdengar jelas.
Doni tidak mampu menutup matanya. Ia masih terbayang gambaran wanita yang
menjadi korban kecerobohannya tadi siang. Ia beranjak dari kasur sehingga
decitan-decitan ranjang terdengar begitu memilukan hati. Ia meraih sweaternya
yang udah agak kusam dan berjalan keluar.
Jalan begitu gelap. Tidak ada
manusia yang berani lalu lalang di tengah malam begini. Konon kata orang yang masih
percaya hal yang begituan, setiap
tengah malam pasti berkeliaran wanita berambut panjang dengan baju putih yang
berjuntai sampai menutupi kaki serta kuku hitam yang panjang pula. Biasanya
orang-orang menyebut dedemit itu dengan sebutan kuntilanak atau sendel bolong.
Doni orangnya rasional , dia tak
percaya dengan golongan-golongan dedemit yang sering muncul di televisi. Ia sering berfikir dan bertanya-tanya dalam hati katanya
sudah zaman modern teknologi canggih tapi kok masih percaya sama hal berbau mistik
seperti itu. Sampai-sampai dibuat tontonan di bioskop. Merusak moral bangsa
Indonesia saja apalagi sekarang film-film seperti itu dibumbui dengan adegan yang berbau
mesum. Sungguh sebuah tontonan yang tidak layak untuk disajikan. Kok jadi malah
membicarakan itu, kembali lagi ke cerita Doni.
“Coba
seandainya gue ketemu lagi sama tuh cewek” gumamnya. Ia lalu menguap
lebar-lebar. “Gue harus minta maaf sama dia”
“Don,
loe belum tidur” Emak
menghampirinya.
Doni
terkejut lalu menoleh ke belakang “Nggak bisa mak,
aye kagak bisa mejemin nich mata.”
Emak
tersenyum. “Kayaknye ade sesuatu nich
yang loe sembunyiin sama emak?”
“Gak
kok mak gak ade apa-apa” Doni menggeser tempat duduk yang terbuat dari rotan
itu.
“Loe gak bisa bohong sama emak. Ya mak harap loe bisa
nyelesaikan masalah loe”
Doni membuang pandangan ke arah jalan setapak yang
sepi dan senyap. Ia tahu emak bisa membaca
matanya.
“Udah
gih masuk aje. Ntar loe kagak bisa kuliah
lagi pan besok loe katanya mo ngelamar kerje”
emak beranjak dari bale-bale yang terbuat dari rotan itu.
“Iye mak. Emak
masuk duluan aje. Aye nanti mau sholat
tahajud dulu mau mendapat petunjuk” Wanita paruh baya itu berjalan ke
dalam disusul Doni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar