Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

MEMORI INDAH DI MASA LALU



Aduh aku bingung. Semua yang kulakukan di matanya salah. Aku jadi takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Gimana dong??
“ Andiiiiiiii... Bangun sayang!” jerit mama dari luar kamar.”Sekarang kamu harus mengantar kue-kue ini ke rumah tante Mira!!”teriak mama lagi membuatku benar-benar terjaga.
“Ya ma, Andi sudah bangun dari tadi” kataku malas. Aku bangkit dari tidurku. “Astagfirullah…siapa yang ada di cermin itu?” aku terkejut melihat bayanganku sendiri di cermin. Rambutku sangat berantakan dan kusam. Sedikit kotoran di sudut mataku. “Aw…” kupencet jerawat yang tumbuh subur di wajahku.
Masa remaja..yach memang aku mulai tumbuh menjadi laki-laki remaja. Suaraku mulai berubah. Pertumbuhan badankupun meningkat dengan pesat. Jakunku menonjol dan wajahku ditumbuhi rambut-rambut tipis kalau kebanyakan orang bilang itu kumis. Tapi ada satu hal yang paling tidak kusukai, wajahku dipenuhi jerawat-jerawat kecil yang begitu mengganggu penampilanku dan membuatku sedikit minder. Untung saja jerawat yang kumiliki tidak sebesar yang dimiliki Roni, teman sekelasku. Karena jerawatnya yang besar itu Roni dijuluki strawberry garden. Oops sorry tidak baik menceritakan keburukan seseorang.
“Andi, nanti kamu antar kue-kue ini ke tante Mira. Kamu tahukan rumahnya dimana?” tanya mama sambil menyusun kue tersebut ke dalam rantang dan kotak putih khusus makanan. “Mmm.. sekalian kamu mampir ke rumah oom Fredo, bilang padanya, kue yang dipesan belum dibuat. Mama sedang mencari bahan-bahannya, sekarang harga lagi naik. Jadi mama mau cari langganan agen yang lebih murah dan bisa ditawar…”
“Ok boss” jawabku memotong pembicaraan mama. Kalau tidak dipotong, pasti mama nyerocos terus. Aku yang jadi bête mendengarkan ocehan mama yang kurasa tidak begitu penting. Tapi aku bukanlah anak durhaka yang tidak suka bila orang tua sedang bicara. Aku cukup berbakti jika tidak percaya langsung tanya saja mama.
“Ma…Andi jalan dulu” aku meraih rantang dan sekotak kardus putih yang sudah disiapkan mama di atas meja makan. Lalu aku mencium tangan mama dan pamit segera.
“Hati-hati yach!” ucap mama melambaikan tangan.
Aku tersenyum sambil terus mengayuh kereta anginku yang sudah tua.
Eit..tunggu. Mengapa aku baru sadar. Aku harus mengantar pesanan kue ini kepada tante Mira. Bukankah tante Mira itu orang tua Nina? Oh my God, berarti aku harus ke rumah Nina. bagaimana mungkin aku bertemu Nina dalam keadaan seperti ini. Mau diletakkan dimana mukaku.
Aku jadi ragu untuk kembali mengayuhkan kereta anginku. hatiku berdetak kencang. Ok..ok  aku harus mengantarkan pesanan ini. Aku berfikir sejenak dan mulai menarik nafas. kucoba tenangkan hatiku. Berusaha untuk menjernihkan kalut yang menyelimuti diriku.
Baiklah sudah kuputuskan, aku harus melanjutkan perjalananku. aku tak perlu malu dan tak akan ragu. Mungkin saja aku dapat mengenal Nina lebih dekat.
Kata teman-teman di sekolah Nina senang sekali menikmati ice cream coklat vanilla. Ternyata seleraku sama dengannya. Bagaimana kalau aku membelikan satu untuknya.. siapa tahu dia semakin menyukaiku.
Akupun mulai mengarahkan kereta anginku menuju salah satu mini market yang menjual ice cream kesukaanku dan kesukaannya. Setelah membayar bill dikasir…
“Hei Ndi,!” tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku kenal suara itu. itu suara Nina. Tapi mengapa suaranya membuat jantungku semakin berdebar kencang. Oh tidak…suara langkah kakinya semakin dekat.
“Kok diam saja?” suaranya membuat tubuhku luluh seakan ingin terjatuh.
“Ni..na…??”
Jantungku berdegup semakin tak terkendali. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. suara langkah kakinya semakin dekat denganku. Aku berusaha tetap tenang. “ Sorry…” kataku kelu. Sulit sekali bagiku untuk mengeluarkan kata-kata. Itupun dengan beribu kali pemikiran di dalam otakku yang membeku sebeku ice cream cornetto yang baru keluar dari pendingin.
“Kamu beli apa?” tanyanya membuat kakiku semakin susah di gerakkan. Wajahnya yang cantik rupawan membuatku tersihir. Tuhan memang Maha Pencipta, Ia telah menciptakan seorang manusia dengan sempurna dihadapanku walaupun aku tahu tak ada manusia yang terlahir sempurna.
“Eh..ini, aku mau..” aku mengangkat ice cream yang kupegang tanpa kusadari.
Nina tersenyum” Kok mukamu merah? Kamu sakit?”tanyanya lagi.
Aku menggeleng dan hanya bisa menutup wajahku dengan rantang itu. Yap..aku benar-benar sakit. Bukan karena infeksi virus atau mikrobakteri juga bukan karena aku tidak sarapan tadi pagi. Namun semua ini terjadi karena detak jantungku yang cepat sehingga darah melaju dengan cukup kencang mencapai wajahku.”Gak..aku baik-baik saja.”
“Mampir yuk! Rumahku dekat kok dari sini” ajaknya.
“Aduh mati aku” jeritku dalam hati. Memang sebenarnya aku mau ke rumahnya. Mengantarkan pesanan tante Mira alias ibunya. Lagipula aku sudah pernah lewat depan rumahnya. Aku tahu karena aku sengaja membuntutinya setelah pulang sekolah. Dia memang tidak menyadarinya waktu itu. Whateverlah so sekarang gimana? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Atau aku ikut dengannya tanpa memberitahukan maksud kedatanganku yang disengaja ini? Aku tidak boleh berbohong. Pertama jika aku berbohong aku sudah menipu diriku sendiri, kedua aku sudah membohongi Nina dan yang ketiga aku akan mengecewakan mama dan pelanggannya.
Aku harus jujur. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Jangan pernah takut. Pada dasarnya kejujuran itu pahit namun akan berbuah manis dikemudian hari.
“Oo..kamu beli juga rupanya!” katanya membuatku makin luluh seperti ice cream yang mulai mencair. Padahal aku ingin sekali memberikan ini untuknya tapi ia sudah memegang ice cream yang lainnya.
“Sebenarnya aku…”tiba-tiba aku kembali terdiam ketika aku hendak jujur padanya. Hatiku sakit melihatnya. Bagaimana tidak, seorang pria menghampirinya dan merangkul mesra.
Badannya lebih besar dariku dan mungkin usianya lima tahun lebih tua dariku. Ia jauh lebih keren dibandingkan diriku yang biasa-biasa saja. Ia lebih dewasa. Aku tak mampu membandingkan diriku dan dengan dirinya karena kelebihan-kelebihannya itu.
“Siapa dia Nin?” tanya laki-laki itu dengan pandangan penuh curiga.
“Oh.. kenalkan ini Andi, dia teman sekelasku” katanya sambil tersenyum.
Pemandangan itu membuat hatiku menjerit. Nina memeluk pinggang pria yang berdiri di depanku sambil mengulurkan tangannya sekedar berkenalan danganku. Tanganku sulit untuk diangkat, terasa seperti mengangkat beban ratusan ton. Lebih baik aku tenggelam saja  ke dalam lautan yang luas. Pikirku mulai berkecamuk
“Andi…” akhirnya aku mengenalkan diriku.
“Dani” balasnya. “Nin, kita ajak sekalian aja ke rumah”
Oh my God, aku terbelalak kaget. Apa yang terjadi di antara mereka berdua. Otakku kembali berfikir. Jangan-jangan mereka akan tunangan? Pantas saja tante Mira memesan kue cukup banyak. Oooh tidak.. tubuhku hampir pingsan.
“Ayo Ndi, kamu ikut kami!” ajak Nina memaksaku.
Aku semakin kesal dibuatnya. Nina mungkin ingin membuatku kecewa dan menderita. Mungkin dia sengaja melakukan ini semua. Aduh..pusing. Aku tolak atau tidak yach? tapi aku harus mengantar pesanan ini. Apa aku langsung saja memberikannya pada Nina. Gak..gak bisa. Aku harus bertatap muka dengan tante Mira. Ini sebuah amanah. kalau tidak aku akan dicap sebagai orang yang munafik.
Tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa aku harus memainkan perasaanku sendiri? Seperti memakan buah simalakama saja. Gak dimakan ayah hilang dimakan ibu menghilang.Semua itu omong kosong, mana ada buah seperti itu. Kalaupun ada, pasti setiap manusia akan menjerit ketakutan . Bagaimana tidak buah tersebut akan membuat celaka.
Ok..ok.. sekarang aku tidak akan membahas buah terkutuk itu, akan membuang waktuku saja. Aku harus segera mengambil keputusan. Inilah pilihan yang sulit dalam hidupku. Baiklah. aku akan memberinya jawaban. Aku tarik nafas dalam-dalam.
“Yap..aku ikut dengan kalian” jawabku membuat Nina tampak senang. Ia tersenyum saling berpandangan dengan Dani. Iapun membayar bill dikasir. Kemudian kamipun keluar dari mini market tersebut.
Wuh.. sungguh menyebalakan. Ingin rasanya menonjok muka Dani dengan kepalan tanganku ini. Tapi setelah kupikir lagi nanti bukannya dia yang babak belur malah mukaku yang bonyok. Tangan dia tampak lebih kuat dan kekar. Jadi ngeri sendiri membayangkannya. Bisa-bisa wajah gantengku  hancur berantakan.
Aku menuntun sepedaku. Aku mengikuti mereka dari belakang.” Kamu bodoh sekali Andi masa mau-maunya kamu melihat dia bermesraan dengan orang lain. “Suara hatiku berbisik.
“Bagus itu Ndi, kamu punya jiwa besar. Lagipula Ninakan bukan siapa-siapa kamu” suara hatiku yang lain mencoba menenangkan.
“Tapi itukan wanita pujaanmu Ndi, memang kamu punya yang lain?”
“Kalau dia jodoh, dia tak akan kemana”
“Sudah kamu pulang saja Ndi, daripada kamu tambah sakit hati”
“Jangan Ndi, kamu harus terus melanjutkan perjalananmu. Itu amanah”
“Pulang!”
“Teruskan”
“Pulang”
“Teruskan” kedua suara hatiku membuatku semakin kacau.
“Stop!”teriakku. Membuat Nina dan Dani menghentikan langkah mereka karena terkejut dengan teriakanku.
“Ada apa Ndi?” Nina datang menghampiriku.
“Oh gak..gak ada apa-apa” jawabku buru-buru. Mendadak wajahku seperti terbakar. Ingin rasanya aku menghilang seperti debu yang tertiup angin.
“Bentar lagi kok sampai” ucap Nina sambil tersenyum. Aduh.. senyuman itu membuatku semakin gelisah. “Eh lihat ice cream kamu mencair tuh” ucap Nina lembut.
“I..ya..” kataku lagi. Dia kembali tersenyum dan meninggalkanku. Aku sedikit tersenyum melihatnya karena ada bekas ice cream di sudut mulutnya yang mungil. Tapi gimana ya?? Aku ingin memberikan ice cream ini untuknya, namun dia sudah makan bersama pria bernama Dani itu. Apa sebaiknya aku buang?? Tapi sayang lebih baik aku makan aja sendiri.
Tak lama kemudian kamipun tiba di rumah Nina. Rumahnya berpagar besi dengan cat warna merah gading. Dani mendorong pintu gerbang sehingga tampak dari luar mobil Alpard yang diparkir di garasi.
Seorang wanita tampak sedang asyik menyiram tanaman di halaman. Aku yakin wanita itu adalah ibu Nina, tante Mira. Ia sangat mirip dengan Nina terutama mata dan bibirnya. Wajahnya masih cantik walaupun usianya mungkin seusia mamaku. Ia tersenyum ke arah kami.
“Eh Andi… Ayo masuk” ajak tante Mira sambil mematikan kran air.
Aku heran kok tante Mira mengenalku. Padahal tante Mira belum pernah melihatku. Apa mama sudah memberikan fotoku padanya?  Kayaknya gak mungkin deh mama kayak gitu. Ah sudahlah gak usah dibahas. Lebih baik aku segera masuk kemudian memberikan kue ini dan langsung pergi ke rumah paman Freedo.
Aku masuk ke dalam rumah itu. Wah... ternyata rumahnya begitu mewah. Sudah kelihatan sih dari luar tapi belum puas kalau belum melihat isi dalamnya. Seperti kalau kita melihat seseorang. Jangan menilai dari luarnya saja tapi kita juga menilai dari sisi hatinya yang paling dalam.
Oya bukan berarti aku matre melihat rumah mewah Nina loh tapi aku salut melihat keberhasilan kedua orangtuanya yang terbilang cukup sukses. Sepertinya keluarga mereka cukup bahagia dan yang paling penting anak mereka terdidik dengan baik. Seperti Nina itu. Nina yang kukenal selain cantik, ia cerdas dalam segala bidang baik pelajaran maupun social. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama sejak kami masuk SLTP sampai tahun ketiga ini. Bukan aku bermaksud merendahkan diriku sendiri dengan membandingkannya terhadap diriku.
Mama juga merupakan orang tua yang cukup sukses mendidikku, walaupun aku hanya bisa mengekor Nina diperingkat kedua. Memang sejak Nina satu sekolah denganku segala prestasi yang pernah kuraih selalu diraihnya. Waktu aku di SD aku selalu mendapatkan peringkat pertama karena Nina memang tidak sekolah di tempat yang sama denganku. Ia sekolah di Bandung dan sekarang pindah ke sini, Jakarta.
Tante Mira mempersilahkanku untuk duduk. Aku tersenyum ke arahnya. “Makasih tante” jawabku sambil memandang foto keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu.
Aku terkejut.. itukan foto Dani. Kok dia ada di situ. Apa jangan-jangan Dani kakak Nina? Atau jangan-jangan mereka sudah tunangan? Ah… hatiku semakin hancur.
Tak lama kemudian  Nina tiba sambil membawa minuman dan makanan kecil. Ia menghidangkannya di atas meja di hadapanku. Kemudian ia duduk di samping ibunya. “Ayo silahkan diminum”
Aku meraih cangkir itu. Tanganku sedikit gemetar. Gimana nggak? Ibu dan anak memperhatikanku. Tentu aku jadi grogi. Aku malu-malu meneguknya. Tenang..tenang. jangan sampai air di dalam cangkir ini tumpah. Lebih memalukan lagi nantinya.
“Bagaimana kabar ibumu Ndi?” tanya tante Mira.
“Baik tante” jawabku sambil meletakkan cangkir itu kembali. “Oya tante ini kue pesanan tante” kataku memberikan bungkusan yang berisi kue  kepada tante Mira. Sebenarnya aku ingin bertanya buat apa tante Mira memesan kue cukup banyak. Kalau hanya untuk dimakan sendrikan gak perlu banyak.
“Wah terima kasih ya” tante Mira menerimanya. “Nanti malam kami akan mengadakan acara. Kebetulan Dani baru saja lulus dari AKABRI” ucapnya lagi.
“Oh...” kataku. Berusaha menarik nafas.
Tiba-tiba Dani muncul dan merangkul bahuku. Dia merasa sok akrab denganku, padahal aku baru kenal dengannya tadi. “ Ndi, kamu jadi jangkung gini. Dulu kamu kuntet banget” katanya mengacak rambutku yang sudah kutata dengan rapi.
Si Dani ini semakin membuatku jengkel saja. Jelas-jelas aku tidak mengenalnya. SKSD nih. Sok Kenal Sok Deket. Tapi kok Dani tahu ya dulu tinggiku hanya 100 cm aja.
Akhirnya semua terungkap. Tante Mira menceritakan kisah sebenarnya.sedikit demi sedikit aku mengingatnya. Dulu tante Mira dan keluarganya memang pernah tinggal di Jakarta. Ia sudah lama berteman dengan mamaku sejak kecil. Bahkan aku dan Nina pernah berteman sebelumnya. Dan tentu saja si Dani yang ternyata adalah kakak kandung Nina. Waktu aku masih kecil aku memang sering diusili oleh Dani. Ia sering membuatku nangis. Namun Nina selalu menghiburku dengan memberiku ice cream coklat vanilla kesukaannya. Mungkin ini yang membuatku menyukai ice cream tersebut.
Aku kembali teringat ketika suatu hari ia menyembunyikan mainan kesayanganku di balik lemari. Hingga aku menggigit lengan Dani dan akhirnya iapun menangis. Aku jadi malu dengan diriku sendiri kalau mengingat kejadian itu.
Karena ketika itu, Nina melihat aku menggigit kakaknya dengan ganas. Ia berlari ketakutan sambil menangis dan membuang boneka beruang yang ada dipelukannya. Aku benar-benar terlihat jahat di hadapannya.
Aku menyesal setelah kejadian itu keluarga mereka pindah ke Bandung. Aku merasa semua itu karena perbuatanku. Bahkan semenjak kepergian mereka aku selalu menangis setiap malamnya. Namun mama menghiburku. Mamapun sering memberiku ice cream coklat vanilla demi membuatku nyaman. Mama mengatakan bahwa kepergian mereka bukan karena aku.
Aku sedikit lega dan sedikit demi sedikit melupakan mereka. Apalagi ketika ayahku akhirnya pergi meninggalkan aku dan mama. Aku benar-benar melupakan mereka. Aku sangat bersedih karena ayahku telah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu.
Tapi mengapa Nina tak pernah mengatakan yang sebenarnya? Padahal sudah hampir tiga tahun kita bersama lagi. Apa ia masih memendam rasa marah pada diriku akibat tingkahku yang membuatnya merasa ketakutan? 
Seandainya ia tahu bahwa aku merindukannya. Aku berharap ia memaafkanku?? Oh Tuhan aku harus bagaimana?
“Ndi, kamu ko melamun?” tanya Nina kepadaku.
“Oh gak papa..aku baru ingat kalau kita pernah saling mengenal” jawabku sedikit sedih.
Tante Mira dan Danipun meninggalkan kami. Mereka ingin menyiapkan tempat untuk acara syukuran Dani. Tinggallah  kami berdua di ruang tamu tersebut. Aku sangat gugup sekali. Tak ada satu katapun yang keluar. Kami diam membisu.
Akhirnya aku mengumpulkan kekuatanku untuk dapat berbicara padanya. “Nin, maafkan aku ya. Dulu aku telah membuatmu ketakutan”
Nina tersenyum. “Semua sudah berlalu, lagipula kami pindah bukan karena hal tersebut”
Akupun semakin lega. Hatiku berbunga-bunga. Semua sudah jelas. Mama dan tante Mira bersahabat. Aku menyukai Nina dan mudah-mudahan Ninapun menyukai aku.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Oh.,, gak kok” kataku. Oya aku punya sesuatu untuk kamu tapi tunggu sebentar ya!” aku segera mengambil sepedaku dan mengayuh ekencang-kencangnya menuju mini market yang terdekat, lalu aku kembali ke rumah Nina.
“Ini untuk kamu” kataku sambil memberikan ice cream vanilla coklat kesukaannya.
“ Ternyata kamu masih ingat” Nina tampak bahagia menerimanya.
Kamipun menikmati ice cream coklat vanilla yang sudah menacair sambil mengingat memori indah di masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar