Aduh aku bingung. Semua yang
kulakukan di matanya salah. Aku jadi takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
Gimana dong??
“ Andiiiiiiii... Bangun sayang!”
jerit mama dari luar kamar.”Sekarang kamu harus mengantar kue-kue ini ke rumah
tante Mira!!”teriak mama lagi membuatku benar-benar terjaga.
“Ya ma, Andi sudah bangun dari
tadi” kataku malas. Aku bangkit dari tidurku. “Astagfirullah…siapa yang ada di
cermin itu?” aku terkejut melihat bayanganku sendiri di cermin. Rambutku sangat
berantakan dan kusam. Sedikit kotoran di sudut mataku. “Aw…” kupencet jerawat
yang tumbuh subur di wajahku.
Masa remaja..yach memang aku mulai
tumbuh menjadi laki-laki remaja. Suaraku mulai berubah. Pertumbuhan badankupun
meningkat dengan pesat. Jakunku menonjol dan wajahku ditumbuhi rambut-rambut
tipis kalau kebanyakan orang bilang itu kumis. Tapi ada satu hal yang paling
tidak kusukai, wajahku dipenuhi jerawat-jerawat kecil yang begitu mengganggu
penampilanku dan membuatku sedikit minder. Untung saja jerawat yang kumiliki
tidak sebesar yang dimiliki Roni, teman sekelasku. Karena jerawatnya yang besar
itu Roni dijuluki strawberry garden. Oops sorry tidak baik menceritakan
keburukan seseorang.
“Andi, nanti kamu antar kue-kue ini
ke tante Mira. Kamu tahukan rumahnya dimana?” tanya mama sambil menyusun kue
tersebut ke dalam rantang dan kotak putih khusus makanan. “Mmm.. sekalian kamu
mampir ke rumah oom Fredo, bilang padanya, kue yang dipesan belum dibuat. Mama
sedang mencari bahan-bahannya, sekarang harga lagi naik. Jadi mama mau cari
langganan agen yang lebih murah dan bisa ditawar…”
“Ok boss” jawabku memotong
pembicaraan mama. Kalau tidak dipotong, pasti mama nyerocos terus. Aku yang
jadi bête mendengarkan ocehan mama yang kurasa tidak begitu penting. Tapi aku
bukanlah anak durhaka yang tidak suka bila orang tua sedang bicara. Aku cukup
berbakti jika tidak percaya langsung tanya saja mama.
“Ma…Andi jalan dulu” aku meraih
rantang dan sekotak kardus putih yang sudah disiapkan mama di atas meja makan.
Lalu aku mencium tangan mama dan pamit segera.
“Hati-hati yach!” ucap mama
melambaikan tangan.
Aku tersenyum sambil terus mengayuh
kereta anginku yang sudah tua.
Eit..tunggu. Mengapa aku baru
sadar. Aku harus mengantar pesanan kue ini kepada tante Mira. Bukankah tante
Mira itu orang tua Nina? Oh my God, berarti aku harus ke rumah Nina. bagaimana
mungkin aku bertemu Nina dalam keadaan seperti ini. Mau diletakkan dimana
mukaku.
Aku jadi ragu untuk kembali
mengayuhkan kereta anginku. hatiku berdetak kencang. Ok..ok aku harus mengantarkan pesanan ini. Aku berfikir
sejenak dan mulai menarik nafas. kucoba tenangkan hatiku. Berusaha untuk
menjernihkan kalut yang menyelimuti diriku.
Baiklah sudah kuputuskan, aku harus
melanjutkan perjalananku. aku tak perlu malu dan tak akan ragu. Mungkin saja
aku dapat mengenal Nina lebih dekat.
Kata teman-teman di sekolah Nina
senang sekali menikmati ice cream coklat vanilla. Ternyata seleraku sama
dengannya. Bagaimana kalau aku membelikan satu untuknya.. siapa tahu dia
semakin menyukaiku.
Akupun mulai mengarahkan kereta
anginku menuju salah satu mini market yang menjual ice cream kesukaanku dan
kesukaannya. Setelah membayar bill dikasir…
“Hei Ndi,!” tiba-tiba seseorang
memanggilku. Aku kenal suara itu. itu suara Nina. Tapi mengapa suaranya membuat
jantungku semakin berdebar kencang. Oh tidak…suara langkah kakinya semakin
dekat.
“Kok diam saja?” suaranya membuat
tubuhku luluh seakan ingin terjatuh.
“Ni..na…??”
Jantungku berdegup semakin tak
terkendali. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. suara langkah kakinya
semakin dekat denganku. Aku berusaha tetap tenang. “ Sorry…” kataku kelu. Sulit
sekali bagiku untuk mengeluarkan kata-kata. Itupun dengan beribu kali pemikiran
di dalam otakku yang membeku sebeku ice cream cornetto yang baru keluar dari
pendingin.
“Kamu beli apa?” tanyanya membuat
kakiku semakin susah di gerakkan. Wajahnya yang cantik rupawan membuatku
tersihir. Tuhan memang Maha Pencipta, Ia telah menciptakan seorang manusia
dengan sempurna dihadapanku walaupun aku tahu tak ada manusia yang terlahir
sempurna.
“Eh..ini, aku mau..” aku mengangkat
ice cream yang kupegang tanpa kusadari.
Nina tersenyum” Kok mukamu merah?
Kamu sakit?”tanyanya lagi.
Aku menggeleng dan hanya bisa
menutup wajahku dengan rantang itu. Yap..aku benar-benar sakit. Bukan karena
infeksi virus atau mikrobakteri juga bukan karena aku tidak sarapan tadi pagi.
Namun semua ini terjadi karena detak jantungku yang cepat sehingga darah melaju
dengan cukup kencang mencapai wajahku.”Gak..aku baik-baik saja.”
“Mampir yuk! Rumahku dekat kok dari
sini” ajaknya.
“Aduh mati aku” jeritku dalam hati.
Memang sebenarnya aku mau ke rumahnya. Mengantarkan pesanan tante Mira alias
ibunya. Lagipula aku sudah pernah lewat depan rumahnya. Aku tahu karena aku
sengaja membuntutinya setelah pulang sekolah. Dia memang tidak menyadarinya
waktu itu. Whateverlah so sekarang
gimana? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Atau aku ikut dengannya tanpa
memberitahukan maksud kedatanganku yang disengaja ini? Aku tidak boleh
berbohong. Pertama jika aku berbohong aku sudah menipu diriku sendiri, kedua
aku sudah membohongi Nina dan yang ketiga aku akan mengecewakan mama dan
pelanggannya.
Aku harus jujur. Aku harus
mengatakan yang sebenarnya. Jangan pernah takut. Pada dasarnya kejujuran itu
pahit namun akan berbuah manis dikemudian hari.
“Oo..kamu beli juga rupanya!”
katanya membuatku makin luluh seperti ice cream yang mulai mencair. Padahal aku
ingin sekali memberikan ini untuknya tapi ia sudah memegang ice cream yang
lainnya.
“Sebenarnya aku…”tiba-tiba aku
kembali terdiam ketika aku hendak jujur padanya. Hatiku sakit melihatnya.
Bagaimana tidak, seorang pria menghampirinya dan merangkul mesra.
Badannya lebih besar dariku dan
mungkin usianya lima tahun lebih tua dariku. Ia jauh lebih keren dibandingkan diriku
yang biasa-biasa saja. Ia lebih dewasa. Aku tak mampu membandingkan diriku dan
dengan dirinya karena kelebihan-kelebihannya itu.
“Siapa dia Nin?” tanya laki-laki
itu dengan pandangan penuh curiga.
“Oh.. kenalkan ini Andi, dia teman
sekelasku” katanya sambil tersenyum.
Pemandangan itu membuat hatiku
menjerit. Nina memeluk pinggang pria yang berdiri di depanku sambil mengulurkan
tangannya sekedar berkenalan danganku. Tanganku sulit untuk diangkat, terasa
seperti mengangkat beban ratusan ton. Lebih baik aku tenggelam saja ke dalam lautan yang luas. Pikirku mulai berkecamuk
“Andi…” akhirnya aku mengenalkan
diriku.
“Dani” balasnya. “Nin, kita ajak
sekalian aja ke rumah”
Oh my God, aku terbelalak kaget. Apa
yang terjadi di antara mereka berdua. Otakku kembali berfikir. Jangan-jangan
mereka akan tunangan? Pantas saja tante Mira memesan kue cukup banyak. Oooh
tidak.. tubuhku hampir pingsan.
“Ayo Ndi, kamu ikut kami!” ajak
Nina memaksaku.
Aku semakin kesal dibuatnya. Nina
mungkin ingin membuatku kecewa dan menderita. Mungkin dia sengaja melakukan ini
semua. Aduh..pusing. Aku tolak atau tidak yach? tapi aku harus mengantar pesanan
ini. Apa aku langsung saja memberikannya pada Nina. Gak..gak bisa. Aku harus
bertatap muka dengan tante Mira. Ini sebuah amanah. kalau tidak aku akan dicap
sebagai orang yang munafik.
Tapi bagaimana dengan perasaanku?
Apa aku harus memainkan perasaanku sendiri? Seperti memakan buah simalakama
saja. Gak dimakan ayah hilang dimakan ibu menghilang.Semua itu omong kosong,
mana ada buah seperti itu. Kalaupun ada, pasti setiap manusia akan menjerit
ketakutan . Bagaimana tidak buah tersebut akan membuat celaka.
Ok..ok.. sekarang aku tidak akan
membahas buah terkutuk itu, akan membuang waktuku saja. Aku harus segera
mengambil keputusan. Inilah pilihan yang sulit dalam hidupku. Baiklah. aku akan
memberinya jawaban. Aku tarik nafas dalam-dalam.
“Yap..aku ikut dengan kalian”
jawabku membuat Nina tampak senang. Ia tersenyum saling berpandangan dengan Dani. Iapun
membayar bill dikasir. Kemudian kamipun keluar dari mini market tersebut.
Wuh.. sungguh menyebalakan. Ingin
rasanya menonjok muka Dani dengan kepalan tanganku ini. Tapi setelah kupikir
lagi nanti bukannya dia yang babak belur malah mukaku yang bonyok. Tangan dia
tampak lebih kuat dan kekar. Jadi ngeri sendiri membayangkannya. Bisa-bisa
wajah gantengku hancur berantakan.
Aku
menuntun sepedaku. Aku mengikuti mereka dari belakang.” Kamu bodoh sekali Andi
masa mau-maunya kamu melihat dia bermesraan dengan orang lain. “Suara hatiku
berbisik.
“Bagus itu Ndi, kamu punya jiwa
besar. Lagipula Ninakan bukan siapa-siapa kamu” suara hatiku yang lain mencoba
menenangkan.
“Tapi itukan wanita pujaanmu Ndi,
memang kamu punya yang lain?”
“Kalau dia jodoh, dia tak akan
kemana”
“Sudah kamu pulang saja Ndi, daripada
kamu tambah sakit hati”
“Jangan Ndi, kamu harus terus
melanjutkan perjalananmu. Itu amanah”
“Pulang!”
“Teruskan”
“Pulang”
“Teruskan” kedua suara hatiku
membuatku semakin kacau.
“Stop!”teriakku. Membuat Nina dan
Dani menghentikan langkah mereka karena terkejut dengan teriakanku.
“Ada apa Ndi?” Nina datang
menghampiriku.
“Oh gak..gak ada apa-apa” jawabku
buru-buru. Mendadak wajahku seperti terbakar. Ingin rasanya aku menghilang
seperti debu yang tertiup angin.
“Bentar lagi kok sampai” ucap Nina
sambil tersenyum. Aduh.. senyuman itu membuatku semakin gelisah. “Eh
lihat ice cream kamu mencair tuh” ucap Nina lembut.
“I..ya..” kataku lagi. Dia kembali
tersenyum dan meninggalkanku.
Aku sedikit tersenyum melihatnya karena ada bekas ice cream di sudut mulutnya
yang mungil. Tapi gimana ya?? Aku ingin memberikan ice cream ini untuknya,
namun dia sudah makan bersama pria bernama Dani itu. Apa sebaiknya aku buang??
Tapi sayang lebih baik aku makan aja sendiri.
Tak lama kemudian kamipun tiba di
rumah Nina. Rumahnya berpagar besi dengan cat warna merah gading. Dani
mendorong pintu gerbang sehingga tampak dari luar mobil Alpard yang diparkir di
garasi.
Seorang wanita tampak sedang asyik
menyiram tanaman di halaman. Aku yakin wanita itu adalah ibu Nina, tante Mira.
Ia sangat mirip dengan Nina terutama mata dan bibirnya. Wajahnya masih cantik
walaupun usianya mungkin seusia mamaku. Ia tersenyum ke arah kami.
“Eh Andi… Ayo masuk” ajak tante
Mira sambil mematikan kran air.
Aku heran kok tante Mira
mengenalku. Padahal tante Mira belum pernah melihatku. Apa mama sudah
memberikan fotoku padanya? Kayaknya gak
mungkin deh mama kayak gitu. Ah sudahlah gak usah dibahas. Lebih baik aku
segera masuk kemudian memberikan kue ini dan langsung pergi ke rumah paman
Freedo.
Aku masuk ke dalam rumah itu. Wah...
ternyata rumahnya begitu mewah. Sudah kelihatan sih dari luar tapi belum puas
kalau belum melihat isi dalamnya. Seperti kalau kita melihat seseorang. Jangan
menilai dari luarnya saja tapi kita juga menilai dari sisi hatinya yang paling
dalam.
Oya bukan berarti aku matre melihat
rumah mewah Nina loh tapi aku salut melihat keberhasilan kedua orangtuanya yang
terbilang cukup sukses. Sepertinya keluarga mereka cukup bahagia dan yang
paling penting anak mereka terdidik dengan baik. Seperti Nina itu. Nina yang
kukenal selain cantik, ia cerdas dalam segala bidang baik pelajaran maupun
social. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama sejak kami masuk SLTP sampai
tahun ketiga ini. Bukan aku bermaksud merendahkan diriku sendiri dengan
membandingkannya terhadap diriku.
Mama juga merupakan orang tua yang
cukup sukses mendidikku, walaupun aku hanya bisa mengekor Nina diperingkat
kedua. Memang sejak Nina satu sekolah denganku segala prestasi yang pernah
kuraih selalu diraihnya. Waktu aku di SD aku selalu mendapatkan peringkat
pertama karena Nina memang tidak sekolah di tempat yang sama denganku. Ia
sekolah di Bandung dan sekarang pindah ke sini, Jakarta.
Tante Mira mempersilahkanku untuk
duduk. Aku tersenyum ke arahnya. “Makasih tante” jawabku sambil memandang foto
keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu.
Aku terkejut.. itukan foto Dani.
Kok dia ada di situ. Apa jangan-jangan Dani kakak Nina? Atau jangan-jangan
mereka sudah tunangan? Ah… hatiku semakin hancur.
Tak lama kemudian Nina tiba sambil membawa minuman dan makanan
kecil. Ia menghidangkannya di atas meja di hadapanku. Kemudian ia duduk di
samping ibunya. “Ayo silahkan diminum”
Aku meraih cangkir itu. Tanganku
sedikit gemetar. Gimana nggak? Ibu dan anak memperhatikanku. Tentu aku jadi
grogi. Aku malu-malu meneguknya. Tenang..tenang. jangan sampai air di dalam
cangkir ini tumpah. Lebih memalukan lagi nantinya.
“Bagaimana kabar ibumu Ndi?” tanya
tante Mira.
“Baik tante” jawabku sambil
meletakkan cangkir itu kembali. “Oya tante ini kue pesanan tante” kataku
memberikan bungkusan yang berisi kue kepada
tante Mira. Sebenarnya aku ingin bertanya buat apa tante Mira memesan kue cukup
banyak. Kalau hanya untuk dimakan sendrikan gak perlu banyak.
“Wah terima kasih ya” tante Mira
menerimanya. “Nanti malam kami akan mengadakan acara. Kebetulan Dani baru saja
lulus dari AKABRI” ucapnya lagi.
“Oh...” kataku. Berusaha menarik
nafas.
Tiba-tiba Dani muncul dan merangkul
bahuku. Dia merasa sok akrab denganku, padahal aku baru kenal dengannya tadi. “
Ndi, kamu jadi jangkung gini. Dulu kamu kuntet banget” katanya mengacak
rambutku yang sudah kutata dengan rapi.
Si Dani ini semakin membuatku
jengkel saja. Jelas-jelas aku tidak mengenalnya. SKSD nih. Sok Kenal Sok Deket.
Tapi kok Dani tahu ya dulu tinggiku hanya 100 cm aja.
Akhirnya semua terungkap. Tante
Mira menceritakan kisah sebenarnya.sedikit demi sedikit aku mengingatnya. Dulu
tante Mira dan keluarganya memang pernah tinggal di Jakarta. Ia sudah lama
berteman dengan mamaku sejak kecil. Bahkan aku dan Nina pernah berteman
sebelumnya. Dan tentu saja si Dani yang ternyata adalah kakak kandung Nina. Waktu
aku masih kecil aku memang sering diusili oleh Dani. Ia sering membuatku
nangis. Namun Nina selalu menghiburku dengan memberiku ice cream coklat vanilla
kesukaannya. Mungkin ini yang membuatku menyukai ice cream tersebut.
Aku kembali teringat ketika suatu
hari ia menyembunyikan mainan kesayanganku di balik lemari. Hingga aku
menggigit lengan Dani dan akhirnya iapun menangis. Aku jadi malu dengan diriku
sendiri kalau mengingat kejadian itu.
Karena ketika itu, Nina melihat aku
menggigit kakaknya dengan ganas. Ia berlari ketakutan sambil menangis dan
membuang boneka beruang yang ada dipelukannya. Aku benar-benar terlihat jahat
di hadapannya.
Aku menyesal setelah kejadian itu
keluarga mereka pindah ke Bandung. Aku merasa semua itu karena perbuatanku. Bahkan
semenjak kepergian mereka aku selalu menangis setiap malamnya. Namun mama
menghiburku. Mamapun sering memberiku ice cream coklat vanilla demi membuatku
nyaman. Mama mengatakan bahwa kepergian mereka bukan karena aku.
Aku sedikit lega dan sedikit demi sedikit
melupakan mereka. Apalagi ketika ayahku akhirnya pergi meninggalkan aku dan
mama. Aku benar-benar melupakan mereka. Aku sangat bersedih karena ayahku telah
dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu.
Tapi mengapa Nina tak pernah
mengatakan yang sebenarnya? Padahal sudah hampir tiga tahun kita bersama lagi.
Apa ia masih memendam rasa marah pada diriku akibat tingkahku yang membuatnya
merasa ketakutan?
Seandainya ia tahu bahwa aku
merindukannya. Aku berharap ia memaafkanku?? Oh Tuhan aku harus bagaimana?
“Ndi, kamu ko melamun?” tanya Nina
kepadaku.
“Oh gak papa..aku baru ingat kalau
kita pernah saling mengenal” jawabku sedikit sedih.
Tante Mira dan Danipun meninggalkan
kami. Mereka ingin menyiapkan tempat untuk acara syukuran Dani. Tinggallah kami berdua di ruang tamu tersebut. Aku sangat
gugup sekali. Tak ada satu katapun yang keluar. Kami diam membisu.
Akhirnya aku mengumpulkan
kekuatanku untuk dapat berbicara padanya. “Nin, maafkan aku ya. Dulu aku telah
membuatmu ketakutan”
Nina tersenyum. “Semua sudah
berlalu, lagipula kami pindah bukan karena hal tersebut”
Akupun semakin lega. Hatiku
berbunga-bunga. Semua sudah jelas. Mama dan tante Mira bersahabat. Aku menyukai
Nina dan mudah-mudahan Ninapun menyukai aku.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum
sendiri?”
“Oh.,, gak kok” kataku. Oya aku
punya sesuatu untuk kamu tapi tunggu sebentar ya!” aku segera mengambil
sepedaku dan mengayuh ekencang-kencangnya menuju mini market yang terdekat,
lalu aku kembali ke rumah Nina.
“Ini untuk kamu” kataku sambil
memberikan ice cream vanilla coklat kesukaannya.
“ Ternyata kamu masih ingat” Nina
tampak bahagia menerimanya.
Kamipun menikmati ice cream coklat
vanilla yang sudah menacair sambil mengingat memori indah di masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar