Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 2



BAB 2
“Aduh . . . . . sakit makDoni meringis , emak mengompreskan handuk yang direndam air hangat pada luka memar yang ada di wajah anaknya itu.
“Makanye pan udah emak bilang ati-ati di jalan. Eh kualat deh akhirnya. emak meletakkan handuk tersebut ke baskom. “ Udah sekarang loe tidur dah sholat Isyakan?”
“Udah mak” kata Doni sambil memegang memarnya.
“Loe bawa tidur aje, besok paling dah sembuh memarnya.” Emak beranjak pergi membawa baskom berisi air hangat tapi sebelumnya memberi handuk kecil yang kering.
Mak, Doni kenapa ? tanya Jay yang tiba-tiba muncul dari kamarnya. Ia mengenakan koko dan kain sarung serta peci yang tampak butut.
“ Katenye sich kepentok tiang listrik”
“Oh..tapi gak kenapa-napakan mak?”
“Alhamdulillah baek, gimana sekolah loe?” tanya emak.
“Alhamdulillah juga mak hari ini pengumuman kelulusan dan Jay lulus”
“ Bener loe Jay ??!Emak menatapnya seakan-akan tak percaya apa yang diucapkan anak keduanya tersebut.
“Iya mak, masa aye boong ama emak”
Mak ijah meletakkan baskom di atas meja dan langsung memeluk Jay “Alhamdulillah syukur ya Allah. Akhirnya loe bisa ngikutin jejak abang loe JayMak Ijah menangis haru.Ada perasaan bahagia didalam dirinya. Ia sekarang sudah merasa agak tenang, kedua jagoannya sudah bisa sekolah tinggi.
Ade apa nih , kok pake peluk-pelukan segala ? Kayak adegan di sinetron aje” Doni keluar dari kamar, ia masih memegang luka memarnya dengan handuk kecil.
“Ini adek loe lulus “ ucap mak Ijah melepas pelukkannya, menyeka air mata dengan kain batik yang dikenakannya.
“Bener loe jay?!
“Iye”
Doni tersenyum lebar. Ia memukul pelan bahu adiknya itu. “Alhamdulillah. Terus loe mau lanjutin dimana?”
“Belum tahu ni, pengennye gue langsung kerja Jay mengangkat pundaknya pasrah.
“Tapi hari gini mana ada perusahaan yang menerima lulusan SMU lulusan S1 saja masih banyak yang ditolak . “ Doni berkomentar.
“Bener juga omongan loe . . . .tapi..”
Jangan khawatir, emak masih punya simpanan buat kuliah loe Jay. Emak udah persiapain dari kemaren – kemaren emak mengambil baskom lalu berjalan menuju dapur.
“Tuh, Jay, emak baikkan?! Emak emang yang paling top dech” Doni menyikut perut adiknya.
“Tapi ?! Gue nggak enak ma emak. Gue belum bisa ngasih apa-apa !!ia tertunduk lesu.
Loe kuliah aje yang bener. Insyaallah kalo loe berprestasi loe bisa ngajuin beasiswa. Kayak gue. Emang harus tunggu sampai semester keduanya. Tapi setidaknya bisa dipersiapkan dari sekarangkan.”
“Ye, tapi gue juga mau kerja. Nabung dikit-dikit”
Gue sebenernye juga mau cari kerja, selain itu gue gak boleh ngandelin emak terus. Harusnya gue dah bisa bantu emak.Gue belum bisa ngasih apa-apa ke emak. Mulai besok gue usahain untuk cari kerja mudah-mudahan gue keterima .”
“Amien. Gue juga”
Mereka pun tertawa hingga air mata tumpah. Keduanya saling menggenggam tangan, berikrar untuk membahagiakan emak yang melahirkan, merawat , mendidik , dan membesarkan mereka dengan cinta , kasih sayang serta harapan yang tulus yang tak terbayar dengan harta yang paling berharga sekalipun. Semoga Allah mendengar ikrar mereka. Amien ya Rabbal ‘Alamin.

************************************************************

Ladies and gentlemen, attention please, we have started our descent for landing , please make sure your seat and try table are in their full uppraut position , make sure your seat belt is securely fastened
Andrea terjaga dari tidurnya. Ia melihat ke jendela pesawat namun hanya kabut awan saja yang terlihat.Sebentar lagi ia akan tiba di Indonesia, tanah kelahirannya yang tercinta.
Perlahan tapi pasti, pesawat dengan nomor penerbangan I 12 SR yang membawa Andrea, take off di bandara Soekarno Hatta. Lampu saving belt padam dan pesawat sudah benar-benar berhenti. Ia mengambil ranselnya dari conveyer belt.
“May I help you? seorang bertubuh atletis, hidung mancung, rambut pirang menawarkan diri menolongnya.
“ With pleasure kata Andrea tanpa ragu.
Pria bule tersebut dengan mudah menggapai ransel kulit berwarna hitam dari conveyor belt kemudian menyerahkannya pada Andrea.
“Thanksucapnya sopan
“You’re welcomedia tersenyum lalu kembali sibuk mengambil barang-barangnya.
Andrea turun dari pesawat. Ia gembira sekali. Akhirnya ia dapat menghirup udara Jakarta lagi. Padahal udara Jakarta berpolusi kok bisa senang???

                                 ‘’’’’’’’
 “Pa . . . . , kok ngga ada yang jemput Andrea ?” tanya kesal, ia menyeruput coca-cola yang dibeli di counter minuman.
“Kamu sekarang dimana sayang? papa balik bertanya, ia sibuk dengan surat-surat yang harus ditandatanganinya.
“Ya di bandaralah pa, pokoknya kalo Andre nggak di jemput juga, Andre nggak bakal pulang ke rumah” ia menutup HPnya lalu tersenyum. “Sekali-kalikan nggak apa-apagumamnya dan meremuk kaleng cola yang sudah tidak berisi lagi lalu membuangnya di tempat sampah yang terdekat darinya.
Tak jauh darinya, Doni tampak kelelahan setelah seharian dia mencari pekerjaaan. Ia menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Sudah tak terhitung perusahaan yang didatangi namun belum ada yang mau menerimanya sebagai karyawan, sebenarnya ada tapi mereka hanya mempekerjakannya sebagai bagian keamanan. Tentu saja Doni menolak, karena itu bukan keahliannya. Kecuali kalau ia kuliah di akademik militer, pasti dia tak akan menolaknya.
Terik matahari membuatnya merasa haus. Ia memeriksa kantong celananya. Ada selembar uang sepuluh ribu. Ia tersenyum senang, akhirnya dahaganya akan segera hilang. Segera saja ia menuju counter minuman.Setelah menerima kembalian dia ingin kembali duduk dan menikmati soft drink segar tersebut. Tapi tiba-tiba saja kakinya tersandung sesuatu sehingga kaleng minuman yang baru saja dibuka tumpah dan . . . .
“E...” Andrea yang sedang asyik bermain game dari HPnya spontan terkejut. Semua isinya tumpah membasahi dirinya.
“Ma . . . . ma . . . ma . . . maaf mbak . . .” Doni menyesal sekali , sesuatu yang ceroboh baru saja ia lakukan. Padahal sayang sekali air minumnya tumpah. Bukannya merasakan kesegaraan tapi malah kesengsaraan.
“Maaf, maaf. Enak aja minta maaf” Andrea bangkit dan mencoba membersihkan pakaiannya yang tersiram.
Ak...aku nggak sengaja katanya gugup, ia kembali minta maaf dari gadis yang tertimpa kecelakaan kecil. Ia sungguh menyesal.
Makanya kalo jalan pakai mata, udah tau pakai kacamata. Masih kurang jelas apa? Kalo udah begini mau gimana lagi” kata Andrea kesal.
“Astagfirullah mbak, aku dah minta maaf. Aku bener-bener gak sengaja” Doni cukup gerah juga menghadapi wanita ini.
“Ya sudahlah” kata Andrea ketus mendengar suara Doni yang polos itu.
“Andrea . . .!papa berlari menghampiri anaknya itu.
“Pap  . . .! ia ingin memeluk papa tapi diurungkan niatnya tersebut. Baju yang dikenakannya basah dan lengket.
“Kamu kenapa sayang?!” tanya papa heran, jelas saja putri satu-satunya itu tampak aneh dengan baju basah yang dipakainya.
Gak papa! Tadi ada orang aneh aja numpahin baju ke Andre” katanya lalu meraih ransel dan kopernya.
“Biar aku saja mbak yang bantu Doni yang merasa bersalah dan menawarkan diri untuk menolong. Walaupun kata-kata yang keluar dari mulut gadis tersebut cukup menyindir dan menyakitinya.
Thank’s deh, tapi kayaknya gak perluAndrea berjalan sambil menyeret kopernya. Ada perasaan kesal juga dihatinya terhadap pria itu tapi pria itu pun membuatnya merasa simpati. Mungkin karena dia terlihat polos. Akhirnya Andrea hanya tersenyum.
“Siapa dia?! papa yang berjalan di belakang Andrea bertanya penasaran.
Mungkin cuma sekedar petugas yang ada di bandara” jawab Andrea sedikit ketus.
“Maaf om, aku telatseorang pria berjas yang umurnya kira-kira 3 tahun lebih tua dari Andrea tergesa-gesa menghampiri mereka.
Gak kok” papa lalu memperkenalkan pria itu pada Andrea.
Lexi, cowok asli Indonesia yang tubuhnya tinggi sekitar 180 cm, atletis, berotot terlihat dari lehernya yang tampak kokok dan rambutnya tersisir rapi hitam.Wajahnya sangat tampan, dengan hidungnya yang mancung mata masuk ke dalam dan alisnya tebal. Ia sopan tampak berwibawa dan kelihatannya baik. Lexi benar – benar cowok yang sempurna di mata seorang wanita, selain kepribadiannya yang bagus otaknya pun cemerlang. Ia sudah dua tahun bekerja dengan papa di perusahaan. Dan menjadi salah satu staf yang menjadi kepercayaan perusahaan.
“Let me to bring it” pintanya menawarkan.
“Dengan senang hatiujarnya dan berjalan mengikuti Lexi menuju mobil yang dikendarainya.
  Sementara itu, Doni hanya mampu memandangnya dari kejauhan. Ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya. Semoga ia diberikan kesempatan untuk meminta maaf di kemudian hari dan wanita itu memaafkannya dengan tulus. Tidak semua yang tampak dari luar mencerminkan sikapnya. Ia percaya gadis tersebut merupakan gadis baik dan mungkin menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar