BAB
2
“Aduh
. . . . . sakit mak” Doni
meringis , emak mengompreskan handuk yang direndam air hangat pada luka memar
yang ada di wajah anaknya itu.
“Makanye
pan udah emak bilang ati-ati di jalan. Eh kualat deh akhirnya.” emak meletakkan handuk
tersebut ke baskom. “ Udah sekarang loe tidur dah sholat Isyakan?”
“Udah mak” kata Doni sambil memegang memarnya.
“Loe bawa tidur aje, besok paling dah sembuh memarnya.”
Emak beranjak pergi membawa baskom berisi air hangat
tapi sebelumnya memberi
handuk kecil yang kering.
“Mak, Doni kenapa ?” tanya
Jay yang tiba-tiba muncul dari
kamarnya. Ia mengenakan koko dan kain
sarung serta peci yang tampak butut.
“ Katenye sich kepentok tiang listrik”
“Oh..tapi gak kenapa-napakan mak?”
“Alhamdulillah baek, gimana sekolah loe?” tanya emak.
“Alhamdulillah juga mak hari ini pengumuman kelulusan dan Jay
lulus”
“
Bener loe Jay ??!Emak menatapnya seakan-akan tak percaya apa yang diucapkan anak
keduanya tersebut.
“Iya
mak, masa aye boong ama emak”
Mak
ijah meletakkan baskom di atas meja dan langsung memeluk Jay “Alhamdulillah syukur ya Allah.
Akhirnya loe bisa ngikutin jejak abang loe Jay” Mak Ijah
menangis haru.Ada perasaan bahagia didalam dirinya. Ia sekarang sudah merasa
agak tenang, kedua jagoannya sudah bisa sekolah tinggi.
“Ade apa nih , kok pake
peluk-pelukan segala ? Kayak adegan di
sinetron aje” Doni keluar dari kamar, ia masih
memegang luka memarnya dengan handuk kecil.
“Ini
adek loe lulus “ ucap mak Ijah
melepas pelukkannya, menyeka air mata dengan kain batik yang dikenakannya.
“Bener
loe jay?!”
“Iye”
Doni
tersenyum lebar. Ia memukul pelan bahu adiknya itu. “Alhamdulillah. Terus loe mau
lanjutin dimana?”
“Belum
tahu ni, pengennye gue langsung kerja”
Jay mengangkat pundaknya pasrah.
“Tapi
hari gini mana ada perusahaan yang menerima lulusan SMU lulusan S1 saja masih
banyak yang ditolak . “ Doni berkomentar.
“Bener
juga omongan loe . . . .tapi..”
“Jangan khawatir, emak masih punya
simpanan buat kuliah loe Jay.
Emak udah persiapain
dari kemaren – kemaren”
emak mengambil baskom lalu berjalan menuju dapur.
“Tuh,
Jay, emak baikkan?! Emak emang yang paling top dech”
Doni menyikut perut adiknya.
“Tapi
?! Gue nggak enak ma emak. Gue belum bisa ngasih apa-apa !!” ia tertunduk lesu.
“
Loe kuliah aje yang bener. Insyaallah kalo loe berprestasi loe bisa ngajuin beasiswa. Kayak gue.
Emang harus
tunggu sampai semester keduanya. Tapi setidaknya bisa dipersiapkan dari
sekarangkan.”
“Ye, tapi gue juga mau kerja. Nabung dikit-dikit”
“Gue sebenernye juga mau
cari kerja, selain itu gue gak boleh ngandelin emak terus. Harusnya gue
dah bisa bantu emak.Gue belum bisa
ngasih apa-apa ke emak. Mulai besok gue usahain
untuk cari kerja mudah-mudahan gue keterima
.”
“Amien. Gue juga”
Mereka
pun tertawa hingga air mata tumpah. Keduanya saling menggenggam tangan, berikrar untuk membahagiakan emak yang melahirkan, merawat ,
mendidik , dan membesarkan mereka dengan cinta , kasih sayang serta harapan
yang tulus yang tak terbayar dengan harta yang paling berharga sekalipun. Semoga Allah mendengar ikrar mereka. Amien ya Rabbal ‘Alamin.
************************************************************
“Ladies and gentlemen, attention please, we
have started our descent for landing , please make sure your seat and try table
are in their full uppraut position , make sure your seat belt is securely
fastened”
Andrea
terjaga dari tidurnya. Ia melihat ke
jendela pesawat namun hanya kabut awan saja yang terlihat.Sebentar
lagi ia akan tiba di Indonesia, tanah kelahirannya yang tercinta.
Perlahan
tapi pasti, pesawat dengan nomor penerbangan I 12 SR yang membawa Andrea, take
off di bandara Soekarno Hatta. Lampu saving belt padam dan pesawat sudah
benar-benar berhenti. Ia mengambil ranselnya dari conveyer belt.
“May
I help you?” seorang bertubuh atletis, hidung mancung, rambut pirang menawarkan diri
menolongnya.
“
With pleasure” kata Andrea tanpa
ragu.
Pria
bule tersebut dengan mudah menggapai ransel kulit berwarna hitam dari conveyor
belt kemudian menyerahkannya pada
Andrea.
“Thank’s” ucapnya sopan
“You’re
welcome” dia tersenyum lalu
kembali sibuk mengambil barang-barangnya.
Andrea
turun dari pesawat. Ia gembira sekali. Akhirnya ia dapat menghirup udara
Jakarta lagi. Padahal udara Jakarta
berpolusi kok bisa senang???
‘’’’’’’’
“Pa . . . . , kok ngga ada yang jemput Andrea ?” tanya kesal, ia
menyeruput coca-cola yang dibeli di counter minuman.
“Kamu
sekarang dimana sayang?”
papa balik bertanya, ia sibuk dengan surat-surat yang harus ditandatanganinya.
“Ya
di bandaralah
pa, pokoknya kalo Andre nggak di jemput juga, Andre nggak bakal pulang ke rumah” ia menutup HPnya lalu
tersenyum. “Sekali-kalikan nggak apa-apa” gumamnya dan meremuk
kaleng cola yang sudah tidak berisi lagi lalu membuangnya di tempat sampah yang terdekat
darinya.
Tak
jauh darinya, Doni tampak kelelahan
setelah seharian dia mencari pekerjaaan. Ia menyeka keringat yang membanjiri wajahnya.
Sudah tak terhitung perusahaan yang didatangi namun belum ada yang mau
menerimanya sebagai karyawan, sebenarnya
ada tapi mereka hanya mempekerjakannya sebagai bagian keamanan. Tentu saja Doni
menolak, karena itu bukan keahliannya. Kecuali kalau ia kuliah di akademik
militer, pasti dia tak akan menolaknya.
Terik
matahari membuatnya merasa haus. Ia memeriksa kantong celananya. Ada selembar uang
sepuluh ribu. Ia tersenyum senang, akhirnya
dahaganya akan segera hilang. Segera saja ia menuju counter minuman.Setelah
menerima kembalian dia
ingin kembali duduk dan menikmati soft drink segar tersebut. Tapi tiba-tiba
saja kakinya tersandung sesuatu sehingga kaleng minuman yang baru saja dibuka
tumpah dan . . . .
“E...” Andrea yang sedang
asyik bermain game dari HPnya spontan terkejut.
Semua isinya tumpah membasahi dirinya.
“Ma
. . . . ma . . . ma . . . maaf mbak . . .” Doni menyesal sekali ,
sesuatu yang ceroboh baru saja ia lakukan.
Padahal sayang sekali air minumnya tumpah. Bukannya merasakan kesegaraan tapi malah kesengsaraan.
“Maaf, maaf. Enak aja minta maaf”
Andrea bangkit dan mencoba membersihkan pakaiannya
yang tersiram.
“Ak...aku nggak sengaja” katanya gugup, ia
kembali minta maaf dari gadis yang tertimpa kecelakaan kecil. Ia sungguh menyesal.
“Makanya kalo jalan pakai mata, udah tau pakai kacamata.
Masih kurang jelas apa? Kalo udah begini mau
gimana lagi” kata Andrea kesal.
“Astagfirullah mbak, aku dah minta maaf. Aku bener-bener
gak sengaja” Doni cukup gerah juga menghadapi wanita ini.
“Ya sudahlah” kata Andrea ketus mendengar suara Doni yang
polos itu.
“Andrea
. . .!” papa berlari
menghampiri anaknya itu.
“Pap . . .!”
ia ingin memeluk papa tapi diurungkan niatnya tersebut. Baju yang dikenakannya basah dan lengket.
“Kamu kenapa sayang?!” tanya papa heran, jelas saja putri
satu-satunya itu tampak aneh dengan baju basah yang dipakainya.
“Gak papa! Tadi ada orang aneh aja numpahin baju ke Andre” katanya lalu
meraih ransel dan kopernya.
“Biar
aku saja mbak yang
bantu” Doni yang merasa bersalah
dan menawarkan diri untuk menolong.
Walaupun kata-kata yang keluar dari mulut gadis tersebut cukup menyindir dan
menyakitinya.
“Thank’s deh, tapi
kayaknya gak
perlu” Andrea berjalan sambil
menyeret kopernya.
Ada perasaan kesal juga dihatinya terhadap pria itu tapi pria itu pun
membuatnya merasa simpati. Mungkin
karena dia terlihat polos. Akhirnya Andrea hanya tersenyum.
“Siapa
dia?!” papa yang berjalan di
belakang Andrea bertanya penasaran.
“Mungkin cuma sekedar petugas yang ada di bandara” jawab Andrea sedikit ketus.
“Maaf
om, aku telat” seorang
pria berjas yang
umurnya kira-kira 3
tahun lebih tua dari Andrea
tergesa-gesa menghampiri mereka.
“Gak kok” papa lalu
memperkenalkan pria itu pada Andrea.
Lexi,
cowok asli Indonesia yang tubuhnya tinggi
sekitar 180 cm, atletis, berotot terlihat dari lehernya yang tampak kokok dan
rambutnya tersisir rapi hitam.Wajahnya
sangat tampan, dengan hidungnya yang mancung mata masuk ke dalam dan alisnya
tebal. Ia sopan tampak berwibawa dan
kelihatannya baik. Lexi benar – benar cowok yang sempurna di mata seorang
wanita, selain kepribadiannya yang bagus otaknya pun cemerlang. Ia sudah dua tahun bekerja dengan papa di perusahaan.
Dan menjadi salah satu staf yang menjadi kepercayaan perusahaan.
“Let
me to bring it” pintanya menawarkan.
“Dengan
senang hati” ujarnya dan berjalan mengikuti
Lexi menuju mobil yang dikendarainya.
Sementara itu, Doni hanya mampu memandangnya
dari kejauhan. Ia hanya bisa
menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya. Semoga ia diberikan kesempatan untuk
meminta maaf di kemudian hari dan wanita itu memaafkannya dengan tulus. Tidak
semua yang tampak dari luar mencerminkan sikapnya. Ia percaya gadis tersebut
merupakan gadis baik dan mungkin menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar