Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

MENJADI PELUKIS TERKENAL


Oleh
Alifah Fauziah 5 Baghdad Angkatan 16

“Aku yatim piatu, kedua orangtuaku sudah meninggal” kata Juna sambil bersedih dengan wajah sendu.
Juna adalah anak perempuan yang sering menyendiri namun ia merupakan anak yang pintar dan cantik. Matanya sipit dengan alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Ia juga memiliki kepribadian yang sopan sehingga semua pengurus panti asuhan sayang dengannya. Selain itu ia rajin belajar dan khusyu dalam beribadah. Bakat alami yang dimiliknya adalah melukis. Hampir di setiap ruang yang ada di panti terpajang lukisan hasil karyanya.
Juna bercita-cita menjadi seorang pelukis yang dikenal oleh orang banyak. Suatu hari ia menemui ibu pengurus panti asuhan yang biasa dipanggil oleh anak panti Bu Asih. “ Bu, apa ibu sebelumnya punya cita-cita sebagai pengurus panti asuhan?”
Bu Asihpun tersenyum “Sebenarnya ibu ingin sekali menjadi seorang guru, tapi cita-cita ibu untuk menjadi guru terhalang biaya ketika itu. Namun ibu merasa senang. Sekarang ibu bisa mengasuh kalian di panti ini kan sama saja ibu dapat mengajar dan mendidik kalian, itu juga pekerjaan seorang guru loh. Oya memangnya ada apa kamu bertanya seperti itu?” tanya bu Asih.
“Sebenarnya aku ingin sekali menjadi pelukis” jawabnya sedikit ragu.
“Wah bagus sekali cita-citamu” puji bu Asih.
“ Tapi aku takut bu, aku takut gagal” ucap Juna memelas.
Bu Asih mengelus punggung Juna dengan lembut “Kamu jangan bilang seperti itu, percayalah dan buktikan bahwa kamu bisa” bu Asih mencoba meningkatkan kepercayaan diri Juna agar tidak menyerah pada cita-citanya.
Setelah itu Juna langsung menuju ruang makan untuk sarapan, disana sudah ada anak panti lainnya yang asyik menikmati sarapan. Juna tersenyum dan bergabung bersama mereka. Selepas itu Juna kembali ke dalam kamarnya dan mengambil alat-alat lukisnya. Keinginan untuk menjadi seorang pelukis semakin tinggi. Tekadnya semakin bulat dan mantap.
Ketika ia sedang asyik memainkan warna dalam lukisannya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum Salam” ia beranjak dari tempat duduknya. “Oh ibu Asih, ada apa?” tanya Juna sambil membukakan pintu kamarnya.
“Juna, ibu baca di Koran ada sebuah lembaga yang akan mengadakan perlombaan melukis” kata ibu sambil memberikan Koran tersebut.
Junapun membacanya. “Tapi bu, apa aku pantas untuk dapat mengikuti lomba ini?”
“Kenapa tidak? Kamu punya bakat yang sangat luar biasa”
“Tapi bu, biaya pendaftarannya cukup mahal. Uang tabunganku saja tak cukup”
“Kamu jangan khawatir, sisanya nanti ibu akan penuhi”
“Tapi bu..”
“Sudah.. yang penting sekarang kamu berlatih dengan sungguh-sungguh. Nanti nama kamu akan ibu daftarkan dan jangan lupa berdoa”
“Terima kasih bu” ia memeluk bu Asih.
Setelah nama Juna terdaftar sebagai salah satu peserta melukis, ia semakin giat berlatih. Dalam hati dia selalu berdoa semoga ia berhasil mewujudkan cita-citanya itu. Ia tidak akan membuang kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Waktu perlombaanpun tiba, sebelum dimulai, Juna memohon kepada Allah SWT “Ya Allah, mudah-mudahan usaha yang kulakukan selama ini tak sia-sia. Semoga Engkau memberiku kemudahan dalam perlombaan ini Amiiin” iapun membawa segala macam perlengkapan melukisnya ke sebuah ruangan yang nanti akan digunakan untuk perlombaan itu.
Semua peserta sudah bersiap di depan meja yang sudah disediakan panitia. Seorang laki-laki berdiri untuk membacakan syarat-syarat perlombaan. Dan tema perlombaan melukis ini adalah pemandangan alam dan keanekaragaman hayati yang harus dilestarikan.
Laki-laki itu memberikan isyarat pertanda perlombaan dimulai. Semuapun sibuk dengan lukisannya masing-masing, begitu juga Juna. Awalnya ia tidak punya gambaran sama sekali untuk melukis pemandangan yang seperti apa. Namun ia berusaha untuk bisa membuat lukisan yang terbaik.
Waktupun berlalu. Selesai juga hasil lukisannya. Tidak begitu buruk hasilnya. Juna cukup puas dengan karyanya itu. Ia berharap seluruh juri memberikan nilai yang besar walaupun masih banyak peserta lain yang hasil lukisannya cukup bagus juga.
Para juri memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk melakukan penilaian dan para peserta diperbolehkan untuk istirahat. Juna segera menemui bu Asih dan beberapa anak panti yang menunggunya di luar ruangan.
“Alhamdulillah bu, aku mampu menyelesaikannya”
“Syukurlah kalau begitu”
“Tapi bu, banyak peserta yang lukisannya jauh lebih bagus dari aku”
“Yang penting kamu sudah berusaha keras. Menang atau kalah kita serahkan kepada Allah”
“Ya bu”
“Tenang kak Juna, aku dan Leo juga berdoa kok” kata Mia salah satu anak panti yang ikut menemaninya.
Dua jam berlalu. Seluruh peserta diharapkan untuk kembali ke ruangan karena sebentar lagi akan diumumkan siapa pemenangnya.” Ibu, temani aku ya?” ia memegang tangan bu Asih.
“Bu.. kita ikut dong ke dalam?”pinta Mia
“Ayo cepat masuk. Sebentar lagi akan dibacakan hasilnya” kata laki-laki yang menjadi pembawa acara.
“Maaf mas, ibu dan teman-teman panti boleh masuk?” tanya Juna kepadanya.
“Ya sudah masuk saja tapi harus tertib ya”
“Siap oom” Mia dan Leo tersenyum
Semua peserta tampak cemas dan mereka berharap hasil karya mereka mendapat nilai yang paling tinggi. Karena pemenang lomba melukis ini akan mendapatkan hadiah yang lumayan besar. Juara satunya akan mendapatkan uang tunai sebesar 10 juta dan beasiswa untuk mendalami bidang seni melukis di luar negeri.
“ Dan.. yang berhak untuk mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 10 juta rupiah pada kesempatan kali ini adalah…Putri Juna Kurnia”
Juna seakan tak percaya. Ia langsung sujud dan memeluk bu Asih. “Bu aku berhasil”
“Selamat ya Juna” kata bu Asih ikut senang
Iapun ke depan untuk menerima hadiah dari panitia. “Alhamdulillah ya Allah, doaku terkabul.”
Setelah ia menerima hadiah tersebut, ia kembali menghampiri bu Asih. “Bu, terima kasih. Karena ibu aku bisa seperti ini”
“Ya ibupun senang. Tapi kamu tidak boleh puas dengan hasilmu saat ini. Ingat tujuan utamamu”
“Baik bu, aku akan berusaha untuk mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang pelukis yang terkenal”
Perjalanan masih panjang. Juna harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk mendalami seni melukis ini, karena suatu saat nanti ia ingin namanya dapat dikenal oleh seluruh masyarakat baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri Indonesia. Amiin ya Allah

MEMORI INDAH DI MASA LALU



Aduh aku bingung. Semua yang kulakukan di matanya salah. Aku jadi takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Gimana dong??
“ Andiiiiiiii... Bangun sayang!” jerit mama dari luar kamar.”Sekarang kamu harus mengantar kue-kue ini ke rumah tante Mira!!”teriak mama lagi membuatku benar-benar terjaga.
“Ya ma, Andi sudah bangun dari tadi” kataku malas. Aku bangkit dari tidurku. “Astagfirullah…siapa yang ada di cermin itu?” aku terkejut melihat bayanganku sendiri di cermin. Rambutku sangat berantakan dan kusam. Sedikit kotoran di sudut mataku. “Aw…” kupencet jerawat yang tumbuh subur di wajahku.
Masa remaja..yach memang aku mulai tumbuh menjadi laki-laki remaja. Suaraku mulai berubah. Pertumbuhan badankupun meningkat dengan pesat. Jakunku menonjol dan wajahku ditumbuhi rambut-rambut tipis kalau kebanyakan orang bilang itu kumis. Tapi ada satu hal yang paling tidak kusukai, wajahku dipenuhi jerawat-jerawat kecil yang begitu mengganggu penampilanku dan membuatku sedikit minder. Untung saja jerawat yang kumiliki tidak sebesar yang dimiliki Roni, teman sekelasku. Karena jerawatnya yang besar itu Roni dijuluki strawberry garden. Oops sorry tidak baik menceritakan keburukan seseorang.
“Andi, nanti kamu antar kue-kue ini ke tante Mira. Kamu tahukan rumahnya dimana?” tanya mama sambil menyusun kue tersebut ke dalam rantang dan kotak putih khusus makanan. “Mmm.. sekalian kamu mampir ke rumah oom Fredo, bilang padanya, kue yang dipesan belum dibuat. Mama sedang mencari bahan-bahannya, sekarang harga lagi naik. Jadi mama mau cari langganan agen yang lebih murah dan bisa ditawar…”
“Ok boss” jawabku memotong pembicaraan mama. Kalau tidak dipotong, pasti mama nyerocos terus. Aku yang jadi bête mendengarkan ocehan mama yang kurasa tidak begitu penting. Tapi aku bukanlah anak durhaka yang tidak suka bila orang tua sedang bicara. Aku cukup berbakti jika tidak percaya langsung tanya saja mama.
“Ma…Andi jalan dulu” aku meraih rantang dan sekotak kardus putih yang sudah disiapkan mama di atas meja makan. Lalu aku mencium tangan mama dan pamit segera.
“Hati-hati yach!” ucap mama melambaikan tangan.
Aku tersenyum sambil terus mengayuh kereta anginku yang sudah tua.
Eit..tunggu. Mengapa aku baru sadar. Aku harus mengantar pesanan kue ini kepada tante Mira. Bukankah tante Mira itu orang tua Nina? Oh my God, berarti aku harus ke rumah Nina. bagaimana mungkin aku bertemu Nina dalam keadaan seperti ini. Mau diletakkan dimana mukaku.
Aku jadi ragu untuk kembali mengayuhkan kereta anginku. hatiku berdetak kencang. Ok..ok  aku harus mengantarkan pesanan ini. Aku berfikir sejenak dan mulai menarik nafas. kucoba tenangkan hatiku. Berusaha untuk menjernihkan kalut yang menyelimuti diriku.
Baiklah sudah kuputuskan, aku harus melanjutkan perjalananku. aku tak perlu malu dan tak akan ragu. Mungkin saja aku dapat mengenal Nina lebih dekat.
Kata teman-teman di sekolah Nina senang sekali menikmati ice cream coklat vanilla. Ternyata seleraku sama dengannya. Bagaimana kalau aku membelikan satu untuknya.. siapa tahu dia semakin menyukaiku.
Akupun mulai mengarahkan kereta anginku menuju salah satu mini market yang menjual ice cream kesukaanku dan kesukaannya. Setelah membayar bill dikasir…
“Hei Ndi,!” tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku kenal suara itu. itu suara Nina. Tapi mengapa suaranya membuat jantungku semakin berdebar kencang. Oh tidak…suara langkah kakinya semakin dekat.
“Kok diam saja?” suaranya membuat tubuhku luluh seakan ingin terjatuh.
“Ni..na…??”
Jantungku berdegup semakin tak terkendali. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. suara langkah kakinya semakin dekat denganku. Aku berusaha tetap tenang. “ Sorry…” kataku kelu. Sulit sekali bagiku untuk mengeluarkan kata-kata. Itupun dengan beribu kali pemikiran di dalam otakku yang membeku sebeku ice cream cornetto yang baru keluar dari pendingin.
“Kamu beli apa?” tanyanya membuat kakiku semakin susah di gerakkan. Wajahnya yang cantik rupawan membuatku tersihir. Tuhan memang Maha Pencipta, Ia telah menciptakan seorang manusia dengan sempurna dihadapanku walaupun aku tahu tak ada manusia yang terlahir sempurna.
“Eh..ini, aku mau..” aku mengangkat ice cream yang kupegang tanpa kusadari.
Nina tersenyum” Kok mukamu merah? Kamu sakit?”tanyanya lagi.
Aku menggeleng dan hanya bisa menutup wajahku dengan rantang itu. Yap..aku benar-benar sakit. Bukan karena infeksi virus atau mikrobakteri juga bukan karena aku tidak sarapan tadi pagi. Namun semua ini terjadi karena detak jantungku yang cepat sehingga darah melaju dengan cukup kencang mencapai wajahku.”Gak..aku baik-baik saja.”
“Mampir yuk! Rumahku dekat kok dari sini” ajaknya.
“Aduh mati aku” jeritku dalam hati. Memang sebenarnya aku mau ke rumahnya. Mengantarkan pesanan tante Mira alias ibunya. Lagipula aku sudah pernah lewat depan rumahnya. Aku tahu karena aku sengaja membuntutinya setelah pulang sekolah. Dia memang tidak menyadarinya waktu itu. Whateverlah so sekarang gimana? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Atau aku ikut dengannya tanpa memberitahukan maksud kedatanganku yang disengaja ini? Aku tidak boleh berbohong. Pertama jika aku berbohong aku sudah menipu diriku sendiri, kedua aku sudah membohongi Nina dan yang ketiga aku akan mengecewakan mama dan pelanggannya.
Aku harus jujur. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Jangan pernah takut. Pada dasarnya kejujuran itu pahit namun akan berbuah manis dikemudian hari.
“Oo..kamu beli juga rupanya!” katanya membuatku makin luluh seperti ice cream yang mulai mencair. Padahal aku ingin sekali memberikan ini untuknya tapi ia sudah memegang ice cream yang lainnya.
“Sebenarnya aku…”tiba-tiba aku kembali terdiam ketika aku hendak jujur padanya. Hatiku sakit melihatnya. Bagaimana tidak, seorang pria menghampirinya dan merangkul mesra.
Badannya lebih besar dariku dan mungkin usianya lima tahun lebih tua dariku. Ia jauh lebih keren dibandingkan diriku yang biasa-biasa saja. Ia lebih dewasa. Aku tak mampu membandingkan diriku dan dengan dirinya karena kelebihan-kelebihannya itu.
“Siapa dia Nin?” tanya laki-laki itu dengan pandangan penuh curiga.
“Oh.. kenalkan ini Andi, dia teman sekelasku” katanya sambil tersenyum.
Pemandangan itu membuat hatiku menjerit. Nina memeluk pinggang pria yang berdiri di depanku sambil mengulurkan tangannya sekedar berkenalan danganku. Tanganku sulit untuk diangkat, terasa seperti mengangkat beban ratusan ton. Lebih baik aku tenggelam saja  ke dalam lautan yang luas. Pikirku mulai berkecamuk
“Andi…” akhirnya aku mengenalkan diriku.
“Dani” balasnya. “Nin, kita ajak sekalian aja ke rumah”
Oh my God, aku terbelalak kaget. Apa yang terjadi di antara mereka berdua. Otakku kembali berfikir. Jangan-jangan mereka akan tunangan? Pantas saja tante Mira memesan kue cukup banyak. Oooh tidak.. tubuhku hampir pingsan.
“Ayo Ndi, kamu ikut kami!” ajak Nina memaksaku.
Aku semakin kesal dibuatnya. Nina mungkin ingin membuatku kecewa dan menderita. Mungkin dia sengaja melakukan ini semua. Aduh..pusing. Aku tolak atau tidak yach? tapi aku harus mengantar pesanan ini. Apa aku langsung saja memberikannya pada Nina. Gak..gak bisa. Aku harus bertatap muka dengan tante Mira. Ini sebuah amanah. kalau tidak aku akan dicap sebagai orang yang munafik.
Tapi bagaimana dengan perasaanku? Apa aku harus memainkan perasaanku sendiri? Seperti memakan buah simalakama saja. Gak dimakan ayah hilang dimakan ibu menghilang.Semua itu omong kosong, mana ada buah seperti itu. Kalaupun ada, pasti setiap manusia akan menjerit ketakutan . Bagaimana tidak buah tersebut akan membuat celaka.
Ok..ok.. sekarang aku tidak akan membahas buah terkutuk itu, akan membuang waktuku saja. Aku harus segera mengambil keputusan. Inilah pilihan yang sulit dalam hidupku. Baiklah. aku akan memberinya jawaban. Aku tarik nafas dalam-dalam.
“Yap..aku ikut dengan kalian” jawabku membuat Nina tampak senang. Ia tersenyum saling berpandangan dengan Dani. Iapun membayar bill dikasir. Kemudian kamipun keluar dari mini market tersebut.
Wuh.. sungguh menyebalakan. Ingin rasanya menonjok muka Dani dengan kepalan tanganku ini. Tapi setelah kupikir lagi nanti bukannya dia yang babak belur malah mukaku yang bonyok. Tangan dia tampak lebih kuat dan kekar. Jadi ngeri sendiri membayangkannya. Bisa-bisa wajah gantengku  hancur berantakan.
Aku menuntun sepedaku. Aku mengikuti mereka dari belakang.” Kamu bodoh sekali Andi masa mau-maunya kamu melihat dia bermesraan dengan orang lain. “Suara hatiku berbisik.
“Bagus itu Ndi, kamu punya jiwa besar. Lagipula Ninakan bukan siapa-siapa kamu” suara hatiku yang lain mencoba menenangkan.
“Tapi itukan wanita pujaanmu Ndi, memang kamu punya yang lain?”
“Kalau dia jodoh, dia tak akan kemana”
“Sudah kamu pulang saja Ndi, daripada kamu tambah sakit hati”
“Jangan Ndi, kamu harus terus melanjutkan perjalananmu. Itu amanah”
“Pulang!”
“Teruskan”
“Pulang”
“Teruskan” kedua suara hatiku membuatku semakin kacau.
“Stop!”teriakku. Membuat Nina dan Dani menghentikan langkah mereka karena terkejut dengan teriakanku.
“Ada apa Ndi?” Nina datang menghampiriku.
“Oh gak..gak ada apa-apa” jawabku buru-buru. Mendadak wajahku seperti terbakar. Ingin rasanya aku menghilang seperti debu yang tertiup angin.
“Bentar lagi kok sampai” ucap Nina sambil tersenyum. Aduh.. senyuman itu membuatku semakin gelisah. “Eh lihat ice cream kamu mencair tuh” ucap Nina lembut.
“I..ya..” kataku lagi. Dia kembali tersenyum dan meninggalkanku. Aku sedikit tersenyum melihatnya karena ada bekas ice cream di sudut mulutnya yang mungil. Tapi gimana ya?? Aku ingin memberikan ice cream ini untuknya, namun dia sudah makan bersama pria bernama Dani itu. Apa sebaiknya aku buang?? Tapi sayang lebih baik aku makan aja sendiri.
Tak lama kemudian kamipun tiba di rumah Nina. Rumahnya berpagar besi dengan cat warna merah gading. Dani mendorong pintu gerbang sehingga tampak dari luar mobil Alpard yang diparkir di garasi.
Seorang wanita tampak sedang asyik menyiram tanaman di halaman. Aku yakin wanita itu adalah ibu Nina, tante Mira. Ia sangat mirip dengan Nina terutama mata dan bibirnya. Wajahnya masih cantik walaupun usianya mungkin seusia mamaku. Ia tersenyum ke arah kami.
“Eh Andi… Ayo masuk” ajak tante Mira sambil mematikan kran air.
Aku heran kok tante Mira mengenalku. Padahal tante Mira belum pernah melihatku. Apa mama sudah memberikan fotoku padanya?  Kayaknya gak mungkin deh mama kayak gitu. Ah sudahlah gak usah dibahas. Lebih baik aku segera masuk kemudian memberikan kue ini dan langsung pergi ke rumah paman Freedo.
Aku masuk ke dalam rumah itu. Wah... ternyata rumahnya begitu mewah. Sudah kelihatan sih dari luar tapi belum puas kalau belum melihat isi dalamnya. Seperti kalau kita melihat seseorang. Jangan menilai dari luarnya saja tapi kita juga menilai dari sisi hatinya yang paling dalam.
Oya bukan berarti aku matre melihat rumah mewah Nina loh tapi aku salut melihat keberhasilan kedua orangtuanya yang terbilang cukup sukses. Sepertinya keluarga mereka cukup bahagia dan yang paling penting anak mereka terdidik dengan baik. Seperti Nina itu. Nina yang kukenal selain cantik, ia cerdas dalam segala bidang baik pelajaran maupun social. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama sejak kami masuk SLTP sampai tahun ketiga ini. Bukan aku bermaksud merendahkan diriku sendiri dengan membandingkannya terhadap diriku.
Mama juga merupakan orang tua yang cukup sukses mendidikku, walaupun aku hanya bisa mengekor Nina diperingkat kedua. Memang sejak Nina satu sekolah denganku segala prestasi yang pernah kuraih selalu diraihnya. Waktu aku di SD aku selalu mendapatkan peringkat pertama karena Nina memang tidak sekolah di tempat yang sama denganku. Ia sekolah di Bandung dan sekarang pindah ke sini, Jakarta.
Tante Mira mempersilahkanku untuk duduk. Aku tersenyum ke arahnya. “Makasih tante” jawabku sambil memandang foto keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu.
Aku terkejut.. itukan foto Dani. Kok dia ada di situ. Apa jangan-jangan Dani kakak Nina? Atau jangan-jangan mereka sudah tunangan? Ah… hatiku semakin hancur.
Tak lama kemudian  Nina tiba sambil membawa minuman dan makanan kecil. Ia menghidangkannya di atas meja di hadapanku. Kemudian ia duduk di samping ibunya. “Ayo silahkan diminum”
Aku meraih cangkir itu. Tanganku sedikit gemetar. Gimana nggak? Ibu dan anak memperhatikanku. Tentu aku jadi grogi. Aku malu-malu meneguknya. Tenang..tenang. jangan sampai air di dalam cangkir ini tumpah. Lebih memalukan lagi nantinya.
“Bagaimana kabar ibumu Ndi?” tanya tante Mira.
“Baik tante” jawabku sambil meletakkan cangkir itu kembali. “Oya tante ini kue pesanan tante” kataku memberikan bungkusan yang berisi kue  kepada tante Mira. Sebenarnya aku ingin bertanya buat apa tante Mira memesan kue cukup banyak. Kalau hanya untuk dimakan sendrikan gak perlu banyak.
“Wah terima kasih ya” tante Mira menerimanya. “Nanti malam kami akan mengadakan acara. Kebetulan Dani baru saja lulus dari AKABRI” ucapnya lagi.
“Oh...” kataku. Berusaha menarik nafas.
Tiba-tiba Dani muncul dan merangkul bahuku. Dia merasa sok akrab denganku, padahal aku baru kenal dengannya tadi. “ Ndi, kamu jadi jangkung gini. Dulu kamu kuntet banget” katanya mengacak rambutku yang sudah kutata dengan rapi.
Si Dani ini semakin membuatku jengkel saja. Jelas-jelas aku tidak mengenalnya. SKSD nih. Sok Kenal Sok Deket. Tapi kok Dani tahu ya dulu tinggiku hanya 100 cm aja.
Akhirnya semua terungkap. Tante Mira menceritakan kisah sebenarnya.sedikit demi sedikit aku mengingatnya. Dulu tante Mira dan keluarganya memang pernah tinggal di Jakarta. Ia sudah lama berteman dengan mamaku sejak kecil. Bahkan aku dan Nina pernah berteman sebelumnya. Dan tentu saja si Dani yang ternyata adalah kakak kandung Nina. Waktu aku masih kecil aku memang sering diusili oleh Dani. Ia sering membuatku nangis. Namun Nina selalu menghiburku dengan memberiku ice cream coklat vanilla kesukaannya. Mungkin ini yang membuatku menyukai ice cream tersebut.
Aku kembali teringat ketika suatu hari ia menyembunyikan mainan kesayanganku di balik lemari. Hingga aku menggigit lengan Dani dan akhirnya iapun menangis. Aku jadi malu dengan diriku sendiri kalau mengingat kejadian itu.
Karena ketika itu, Nina melihat aku menggigit kakaknya dengan ganas. Ia berlari ketakutan sambil menangis dan membuang boneka beruang yang ada dipelukannya. Aku benar-benar terlihat jahat di hadapannya.
Aku menyesal setelah kejadian itu keluarga mereka pindah ke Bandung. Aku merasa semua itu karena perbuatanku. Bahkan semenjak kepergian mereka aku selalu menangis setiap malamnya. Namun mama menghiburku. Mamapun sering memberiku ice cream coklat vanilla demi membuatku nyaman. Mama mengatakan bahwa kepergian mereka bukan karena aku.
Aku sedikit lega dan sedikit demi sedikit melupakan mereka. Apalagi ketika ayahku akhirnya pergi meninggalkan aku dan mama. Aku benar-benar melupakan mereka. Aku sangat bersedih karena ayahku telah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu.
Tapi mengapa Nina tak pernah mengatakan yang sebenarnya? Padahal sudah hampir tiga tahun kita bersama lagi. Apa ia masih memendam rasa marah pada diriku akibat tingkahku yang membuatnya merasa ketakutan? 
Seandainya ia tahu bahwa aku merindukannya. Aku berharap ia memaafkanku?? Oh Tuhan aku harus bagaimana?
“Ndi, kamu ko melamun?” tanya Nina kepadaku.
“Oh gak papa..aku baru ingat kalau kita pernah saling mengenal” jawabku sedikit sedih.
Tante Mira dan Danipun meninggalkan kami. Mereka ingin menyiapkan tempat untuk acara syukuran Dani. Tinggallah  kami berdua di ruang tamu tersebut. Aku sangat gugup sekali. Tak ada satu katapun yang keluar. Kami diam membisu.
Akhirnya aku mengumpulkan kekuatanku untuk dapat berbicara padanya. “Nin, maafkan aku ya. Dulu aku telah membuatmu ketakutan”
Nina tersenyum. “Semua sudah berlalu, lagipula kami pindah bukan karena hal tersebut”
Akupun semakin lega. Hatiku berbunga-bunga. Semua sudah jelas. Mama dan tante Mira bersahabat. Aku menyukai Nina dan mudah-mudahan Ninapun menyukai aku.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Oh.,, gak kok” kataku. Oya aku punya sesuatu untuk kamu tapi tunggu sebentar ya!” aku segera mengambil sepedaku dan mengayuh ekencang-kencangnya menuju mini market yang terdekat, lalu aku kembali ke rumah Nina.
“Ini untuk kamu” kataku sambil memberikan ice cream vanilla coklat kesukaannya.
“ Ternyata kamu masih ingat” Nina tampak bahagia menerimanya.
Kamipun menikmati ice cream coklat vanilla yang sudah menacair sambil mengingat memori indah di masa lalu.

TAK SECANTIK RUPANYA





Hujan tadi malam menyisakan tanah yang basah dan air yang tergenang menjadi kubangan. Bunga- bunga tampak segar dikelilingi kupu-kupu cantik dan berbagai jenis lebah yang siap menghisap madunya. Sebagian besar bunga tersebut mulai bermekaran menebarkan wangi yang begitu mendamaikan hati. Burung- burung berkicau mendendangkan nyanyian alam diikuti merdunya kokok ayam jantan ,membangunkan manusia yang masih terlelap di antara selimut tebalnya dan enggan untuk beranjak dari  tidurnya. Mentari bersinar menghangatkan bumi pertiwi, cahayanya perlahan-lahan masuk di antara celah-celah dinding jendela. Sebagian sinarnya merambat membelai wajah gadis itu sehingga membuatnya terjaga.
Gadis itu cantik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis begitu pula alisnya. Matanya  biru mewarisi garis keturunan ayahnya. Ia gadis Indo blesteran antara Belanda dan Sunda. Ayahnya sir Van Dee Sork seorang pengusaha  dari negeri kincir angin. Di Indonesia ia memiliki perusahaan tekstil yang baru saja selesai pembangunannya. Sementara ibunya Carmila Sutini binti Dadang Suratman, putri seorang pemilik kebun teh di Sukabumi. Mereka bertemu pada acara peresmian perusahaan teh botol 18 tahun silam. Kebetulan ayah Van Dee Sork merupakan salah seorang investor terbesar pada perusahaan teh botol ini, tapi entah kenapa Van Dee Sork sendiri lebih memilih membuka perusahaan tekstil di negeri istrinya.
Pricilia nama gadis itu. Sekarang usianya menginjak usia 17 tahun. Ia sekolah di Lab International School di Jakarta, salah satu sekolah terelit yang ada di Indonesia. Ia memilih tinggal di Jakarta, jauh dari kedua orang tuanya yang tinggal di Sukabumi untuk mengurus perusahaan teh botol dan perusahaan tekstil. Tentu saja kedua orang tuanya tidak membiarkannya tinggal sendiri di Jakarta. Mereka mengutus mbok Minah dan keluarganya untuk menemani Pricilia di rumah mewah yang berada di kawasan Pondok Indah.
 “Mbok…!” teriak Pricilia dari dalam kamarnya. Matanya masih mengantuk dan sesekali menguap lebar. Ia rentangkan tangannya ke atas sambil melekukkan tubuhnya yang langsing. “Mbok…!!!!” teriaknya lagi.” Pergi ke mana sih mbok” gumamnya kesal, iapun beranjak dari kasurnya yang empuk dan menyibakkan selimutnya yang tebal lalu melemparnya begitu saja.
Pintu tiba-tiba terbuka. Muncul seorang gadis yang sebaya dengannya. Rambutnya dikuncir dengan sedikit poni yang menutupi dahinya. Tubuhnya tak setinggi Pricilia, kulitnya sawo matang, matanya besar dan berwarna coklat kehitaman seperti kebanyakan orang Indonesia.”Maaf non, Ibu sedang sakit. Kalau ada sesuatu yang non butuhkan biar saya saja yang kerjakan” ucap gadis itu sedikit membungkuk.
“Kamu bisa apa?” tanya Pricilia meremehkannya. Pandangannya begitu mengejek. “ Oya PR matematikaku sudah kamu kerjakan??” tanya kembali.
“Sudah non, sudah selesai semuanya”jawabnya gugup.
Pricilia mendekatinya. Ia berputar mengamatinya. “Kalau begitu nanti kamu ikut saya ke sekolah” ucapnya sambil tersenyum, entah rencana apa yang ada di dalam benaknya.
“Tapi non, hari ini saya ada ujian di sekolah saya” katanya takut. Ia kembali menundukkan wajahnya.
“ Kamu gimana sih Fatimah, bukannya kamu tadi bilang apa yang saya inginkan kamu akan lakukan!!” protesnya. Ia mengangkat wajah Fatimah dengan tangannya.
Fatimah tampak semakin ketakutan. Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sadar bahwa ia tak mungkin menolak apa yang diinginkan Pricilia. Kalau ia tidak melaksanakan perintahnya, mungkin Pricilia akan mengadukan perlakuannya pada kedua orangtua Pricilia. Dengan begitu akan berdampak buruk bagi bapak dan ibu, mungkin saja mereka akan dipecat dari pekerjaan ini.”Baik non, saya akan ikut non ke sekolah” akhirnya ia buka mulut. Ini semua demi bapak dan ibu. Biarlah untuk hari ini ia bolos dari sekolah. Mudah- mudahan ini permintaan Pricilia yang pertama dan terakhir.
“Nah, gitu dong. Sekarang saya mau mandi dulu. Kamu juga siap-siap gih. Lagipula kapan lagi kamu bisa lihat sekolah yang mewah seperti sekolah saya.” ucapnya, iapun berlalu menuju kamar mandi yang tentu saja berada dalam kamar Pricilia yang begitu besar.
“Baik non” jawab Fatimah singkat. Iapun segera kembali ke kamarnya, tentu saja kamar pembantu yang letaknya dekat dengan dapur. Jauh sekali jurang yang memisahkan keduanya. Bagaikan langit dan bumi. Pricilia yang memiliki wajah cantik dengan segala kebutuhan terpenuhi sementara Fatimah hanya gadis yang serba pas-pasan dan sederhana.
Sekolah Pricilia sangat megah dengan 3 tingkat dan 12 ruang kelas. Setiap kelas dilengkapi dengan proyektor, fasilitas computer dan ruangan ber-AC. Masing-masing kelas terdiri dari maksimal 25 siswa. Sangat nyaman sekali untuk belajar. Seragam yang mereka gunakan juga sangat mewah. Sepatunya hitam mengkilap dan tampak baru.
Beda sekali dengan sekolah Fatimah di kampung, atapnya bolong. Keramik atau ubin lantainya juga mulai retak. Kalau hujan, ruang kelas banjir. Terkadang mereka harus mengeringkan terlebih dahulu kelas yang kebanjiran. Untuk melakukan ini saja sudah memakan waktu yang cukup banyak sehingga waktu belajarpun terbuang.
“Timah..!! Sudah siap belum??” tanya Pricilia. Ia tampak sangat cantik mengenakan seragam sekolahnya. Sebuah pita berbentuk kupu-kupu terlihat menghiasi rambutnya yang lurus dan panjang itu.
“Ya non saya sudah siap” ucap Fatimah pelan, ia hanya mengenakan kaos warna hijau yang tampak kebesaran di tubuhnya. Rambutnya ia kepang menjadi dua.
Pricilia memperhatikan Fatimah. “ Hmm… Ok sekarang tolong kamu bawakan tas saya” perintahnya kemudian ia berjalan menuju mobil sedan yang sudah siap mengantarnya.
Tak lama kemudian Pak Unang sopir pribadi keluarga Pricilia mulai menyalakan mesin mobil, Fatimah duduk di samping Pak Unang. Sementara Pricilia duduk di belakang bak seorang putri kerajaan.
Akhirnya mereka tiba di sekolah Pricilia yang megah.
“Kamu bawa tas saya ok” perintah Pricilia dengan congkak. Ia  pun keluar dari mobilnya. “Pak, jangan lupa nanti jemput saya jam 12”
“Baik non” kata pak Unang tenang.
“Eh..kamu sampai kapan duduk di mobil? Cepat turun!” ucapnya lagi dengan ketus.
“B..a..ik non” kata Fatimah gugup, iapun melepas safetybelt yang dikenakannya.
“Sabar ya nak” Pak Unang berbisik pelan yang dijawab dengan anggukan dan senyum yang sedikit dipaksakan.
Fatimah membuntuti Pricilia dari belakang sampai mereka menuju sebuah kelas di lantai 5. Semua orang menatap ke arahnya dengan pandangan hina. Mungkin penampilannya cukup lusuh dan kampungan. Tapi ini semua ia lakukan demi kedua orangtuanya.
“Hai Pricil, morning!” Sapa seorang gadis keturunan Cina. Matanya sipit dengan kulit kuning langsat dan rambut panjang yang lurus.
“Morning” jawabnya singkat. Lalu ia duduk di kursinya sendiri.
“Siapa gadis di luar itu?” tanyanya penasaran.
“Oh..itu? Dia anak pembokap kenapa?” tanyanya kembali.
“Kampungan banget tuh anak, kamu gak risih apa jalan dengannya?”
“Risih?? Dah pastilah. Tapikan disini dia cuma babu yang membawakan tas saya dan jadi pesuruh kalau saya ingin sesuatu.” Pricilia semakin memandang rendah Fatimah.
“Eh tu Jason bukan?” ucap Tsen-tsen memastikan.
“Kayaknya sich dia” kata Pricil, acuh tak acuh. “What.. Jason.. ngapain dia sama babu itu?” Pricilia baru menyadari kalau  pria tinggi yang berdiri di depan Fatimah adalah Jason.
Jason merupakan murid pindahan dari Amerika. Wajahnya Indo bule. Dia merupakan primadona sekolah Pricilia. Selain pintar dalam pelajaran, dia juga pandai dalam bermain basket. Selama di Amerika, ia pernah masuk ke dalam klub basket terkenal “Chichago Bulls” walaupun junior. Catatan prestasinya juga sangat banyak. Mulai dari duta Anti Merokok sampai menjadi aktivis Palang Merah.
Sudah pasti banyak sekali gadis-gadis yang tergila-gila dengannya. Namun belum satupun yang berhasil menjadi kekasihnya. Termasuk Pricilia yang selama ini mencari peerhatian dari Jason.
“Kurang ajar banget tuh babu, berani-beraninya ngobrol dengan Jason” Pricilia merasa dipecundangi dengan seorang gadis kampungan dan rendahan itu.
“Sabar Cil, kalau kamu berbuat sesuatu yang aneh di depan Jason, maka Jason tidak akan menyukai kamu.” Ia menarik lengan Pricilia yang sudah tak sabar untuk mendamprat Fatimah.
“Ok..ok saya tau” Akhirnya ia kembali duduk di kursinya kembali.
Belpun berdering, semua siswa masuk ke dalam kelasnya. Fatimah kemudian pergi ke kantin untuk membunuh waktunya menunggu Pricilia selesai sekolah.
Hatinya sedikit tenang, karena baru saja ia berkenalan dengan seorang laki-laki yang begitu tampan dan baik hati. Ia tidak mengharapkan lebih darinya. Cukup berteman dengannya saja sudah beruntung baginya.
“Non, Pricil?!” kata Fatimah terkejut mendapati Pricilia sudah berdiri dihadapannya. “Kok non Pricil gak masuk kelas?”
“HEH… jangan sok perhatian dengan saya. Baru diajak ke sekolah ini aja sudah berlagak.”
“Maksud  non apa?”
“ Kamu jangan berlagak bodoh dech, kamu tuh jadi perempuan jangan genit. Lihat cowok cakep aja sudah salah tingkah. Kamu tuh harus nyadar kamu tuh siapa?”
“Maaf non, saya tidak bermaksud itu.”
“Ok.. kalau saya tau kamu bicara lagi dengan Jason, saya akan minta sama papa untuk memecat kedua orang tua kamu.” Ancamnya dengan nada tinggi. Kebetulan di kantin itu tak ada seorangpun disana. Bu Nana pemilik kantinpun tak tampak.
“Jangan non, saya mohon jangan pecat kedua orang tua saya. Saya akan menuruti perintah non” kata Fatimah sambil berlutut pasrah.
Pricilia tersenyum licik. “Baik.. tapi kamu harus mengikuti apa yang saya inginkan” iapun berjalan menuju kelasnya.
Pembelajaranpun usai. Pricilia segera merapikan buku pelajarannya dan meletakkan buku tersebut pada loker yang berada di samping laboratorium kimia. Tiba-tiba Jason menghampirinya.
“Halo Cil, gimana kabarnya?”
Dup…jantung Pricilia berdegup kencang. Tidak menyangka Jason akan menyapanya. Ia jadi serba salah dihadapan pemuda pindahan Amerika itu.
“B..bb.baik” katanya terbata-bata. Mungkin kalau ia melihat cermin, wajahnya pasti merah seperti kepiting rebus.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya sambil memegang kening.
“Gak…kok” jawabnya. Jantungnya sudah seperti mau copot dari rongga dada.
“Kamu lihat Fatimah?” tanya Jason pada Pricilia.
“Gak..” jawab Pricilia sambil menepis tangan Jason yang masih berada di keningnya. Ia mengunci loker dan meninggalkan Jason yang hanya berdiri terdiam menatapnya pergi.
Sesampainya di rumah, Pricilia mulai bertingkah aneh. Ia membanting vas yang berada di atas meja sehingga pecah berkeping-keping. Amarahnya meledak dan mulai menghancurkan sesuatu yang ada di hadapannya.
Fatimah menghampirinya. “Non, kenapa?” tanyanya sambil memunguti pecahan-pecahan vas dan beberapa barang pecah belah lainnya agar tidak mengenai kaki majikannya.
“Kamu jangan sok perhatian dengan saya. Semua gara-gara kamu tau gak?” matanya melotot tajam ke arahnya. Ia lalu pergi ke kamarnya.
“Ya Allah, mengapa non Pricilia menyalahkan saya. Apa salah saya ya Allah??” ucapnya dalam hati. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai yang kotor dan penuh pecahan kaca yang dapat membahayakan semuanya.
Setelah keadaan lebih tenang, Fatimah menghampiri Pricilia di kamarnya dengan membawa sepiring nasi goring kesukaan Pricilia.
“Tok..tok..” Fatimah mengetuk pintu kamar majikannya tersebut. Hampir tiga puluh menit ia berdiri di depan kamarnya. Namun tak ada jawaban dari dalam. Fatimah khawatir dengan keadaan Pricilia. Dan ia mengetuk pintu lebih keras.
Pintu terbuka. Pricilia sudah berdiri dihadapannya. Namun tak ada tanda kesedihan di raut wajahnya itu seperti yang dicemaskan oleh Fatimah sebelumnya.
“Mulai besok.. kamu ikut sekolah dengan saya. Saya sudah meminta pak Fajar untuk mengurus semuanya.” Kata Pricilia tenang.
“Tapi…” Belum sempat Fatimah meneruskan kata-katanya, Pricilia menutup kembali pintu kamarnya.
“Oya.. nasi goreng saya” pintu terbuka, Pricilia segera meraih nampan yang diatasnya sepiring nasi goring dan susu yang mulai dingin. Ia menutup kembali pintu kamarnya sambil tersenyum licik memandang Fatimah yang keheranan dengan sikapnya itu.
Pricilia berencana mengubah penampilan Fatimah. Dari gaya rambutnya yang kampungan hingga mengubahnya menjadi gaya rambut artis-artis Korea. Rambut lurus panjang dengan poni yang menutupi dahi. Selain tatanan rambut ia mengubah cara berpakaian Fatimah. Baju-baju yang usang ia buang dan membelikannya beberapa pakaian baru yang sangat bagus.
“Saya sudah membuatmu menjadi seseorang yang akan dipandang oleh orang banyak, sekarang kamu harus menuruti apa yang saya inginkan. Kalau tidak kamu akan menerima resikonya.” Ia berbisik didekat telinga Fatimah sambil memandang cermin.
Fatimah hanya mengangguk pasrah. Ia memandang sesosok tubuh yang rupanya begitu menarik dan cantik di dalam cermin dengan senyum yang dipaksakan. Matanya memiliki pancaran yang kuat seakan jiwanya rela melepaskan raganya. Kalau bisa memilih.. ia lebih baik menjadi dirinya yang dulu. Gadis yang lugu dan kedesaan. Daripada cantik luar namun dikendalikan orang lain.
Pak Unang diperintahkan oleh Pricilia untuk mengurus surat pindah sekolah Fatimah ke sekolah yang sama dengannya. Tentunya dengan seizin kedua orang tua Fatimah dan kedua orang tuanya juga. Rasa terima kasih yang cukup besar terlontar dari mulut kedua orang tua Fatimah ketika mengetahui bahwa putrid mereka akan di sekolahkan di sekolah unggulan yang ada di Jakarta.
Hari pertama Fatimah di sekolah barunya…
Tsen-tsen berlari menghampiri Pricilia dan menarik lengannya “ Siapa dia?” tanya Tsen-tsen berbisik namun Pricilia hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Tsen-tsen penasaran dengan Fatimah yang sudah di make over olehnya.
 Fatimah berjalan membuntuti mereka sambil menundukkan wajahnya. Tapi tak sengaja ia menabrak tubuh Pricilia yang tiba-tiba berhenti. “Maaf non” kata Fatimah semakin menunduk.
“Jadi dia …?” Tsen-tsen mulai menebak.
“Ya dia pembantu saya. Kenapa? Heran ya?” kata Pricilia sinis.
“Oh gak..gak papa?” ucap Tsen-tsen. Walaupun banyak sekali yang ingin ia tanyakan. Namun sepertinya hari ini Pricilia sedang bad mood.
“Selamat Pagi anak-anak!” bu Wanda masuk ke dalam kelas. Sementara semua siswa sudah duduk tertib di bangkunya masing-masing.
“Selamat pagi bu!!” seru mereka.
Bu Wanda adalah guru Bahasa Indonesia di kelas Pricilia sekaligus wali kelas di kelas yang diajarnya itu. Ia mengenakan kacamata dengan rantai yang menggantung agar tidak terjatuh. Rambutnya pendek dan sedikit ikal. Sifatnya begitu tegas dan bijaksana sehingga banyak murid yang menyukainya.
“Bulan depan sekolah kita akan mengadakan pentas seni. Setiap kelas wajib mengirimkan satu penampilan” belum selesai bicara Arman yang duduknya paling pojok mengacungksan tangannya.
“Kalo lebih dari satu boleh bu?” tanyanya.
“Ibu belum selesai menjelaskan, maka jangan memotong pembicaraan ibu dulu.”
“Maaf bu, soalnya saya semngat sekali” jawab Arman tersipu-sipu.
“Woooo..” Arman mendapat sorakan dari teman-temannya. Sehingga suasana menjadi ramai.
“Tenang semuanya” ucap Ibu Wanda membuat suasana kembali hening. Kemudian ia mulai melanjutkan”Baiklah ibu akan jelaskan tentang pentas seni ini. Masing-masing kelas mendapatkan durasi waktu kurang lebih 30 menit. Jadi bisa saja kita dapat mengirim lebih dari satu penampilan. Nanti setiap penampilan akan diberikan penilaian dan satu penampilan yang terbaik akan diberikan beasiswa selama satu tahun oleh pihak sekolah” Suasana kembali ramai lagi. “Mungkin ada yang punya usulan mengenai penampilan dari kelas kita”
Pricilia mengacungkan tangannya”Bagaimana kalau menampilakan dance bu? Kan disini kita ada Fanya yang kakaknya merupakan koreografer penyayi terkenal di Indonesia. Mungkin nanti bisa bantu kita. Yak an Fanya??”
“Bisa” jawab Fanya buru-buru.
“Puisi aja bu..kan ada Dudung yang ahli” ucap Dudung percaya diri
“Maaf bu, kalau saya boleh usul bagaimana kalau kita menampilkan drama saja. Mungkin pesertanya bisa satu kelas ini. Tadi saya mendengar penampilan ini akan dinilai dan penampilan terbaik akan mendapatkan beasiswa dari sekolah selama setahun. Kalau saja kelas kita menang semua bisa berkesempata mendapatkan beasiswa” tiba-tiba Fatimah mengeluarkan isi hatinya dan memberanikan diri untuk membuka mulutnya,
“Usul yang bagus. Oya kamu Fatimah murid baru itukan?” tanya bu Wanda padanya.
Fatimah menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Namun Pricilia bertingkah sebaliknya. “Dasar bocah miskin, pikirannya cuma uang dan uang aja.” gumam Pricilia dalam hati. “Sabar Pricil.. sabar rencanamu jangan sampai gagal. Biarkan si Fatimah cari muka. Nanti kalau sudah waktunya baru kamu mulai mainkan permainannya” pikiran jahat tergambar jelas dalam benaknya.
Bu Wanda akhirnya memutuskan apa yang mereka akan tampilkan dalam pentas seni yang akan datang nanti. Ia memberikan amanat kepada Cha-cha sebagai ketua kelas untuk membuat drama yang menarik dan tentu saja ia mempercayakan Fatimah untuk membantu Cha-cha. Karena Bu Wanda yakin Fatimah sangat berkompeten dan memiliki kemampuan dalam hal ini.
Bel istirahatpun berdering…
Pelajaran Matematika adalah pelajaran keempat sebelum jam istirahat pertama. Pak Ayub memberikan 20 soal kepada mereka dan harus diselesaikan di sekolah juga. “Baik bagi yang sudah mengerjakan 1 sampai 20 kumpulkan buku di atas meja. Nanti bapak minta tolong kepada ketua kelas untuk mengantarnya ke ruang guru” pak Ayubpun keluar dari kelas dengan membawa tas hitamnya.
“Kamu sudah selesai?” tanya Fatimah pada Pricilia.
“Belum…kamu pasti sudahkan. Sini mana bukumu?” ia meminta pada Fatimah untuk disalin jawabannya.
“Tapi..”
“Sudah gak ada tapi-tapian. Kamu di sekolah ini buat ngikutin apa perintah saya salah satunya ini” ucap Pricilia sambil melotot. “Oya, kamu beliin saya minuman di kantin yang seger-seger. Nih uangnya” katanya ketus sambil mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari sakunya.
Fatimahpun menuruti apa kemauan Pricilia. Ia menerima uang tersebut dan beranjak dari kursinya untuk pergi membeli minuman yang diinginkan Pricilia sebagai majikannya.
Sementara Fatimah pergi, Pricilia segera menyalin jawaban Fatimah. Karena sebelum bel istirahat berakhir, buku harus dikumpulkan. “Ternyata banyak manfaatnya juga tuh Fatimah di sekolahin disini.” Katanya pelan sambil tersenyum licik dan mengejek.
Fatimah mempercepat langkahnya menuju kantin dan sekali lagi tanpa sengaja ia menabrak seseorang kali ini bukan Pricilia tapi seorang laki-laki yang kemarin dikenalnya.
“Kamu gak papa? Tanyanya sambil membantu Fatimah berdiri.
“Maaf.. saya terburu-buru” kata Fatimah.
“Kayaknya saya pernah lihat kamu?? Tapi dimana ya??”
“Mungkin kamu salah orang” ucap Fatimah. Ia membersihkan kedua tangannya yang kotor. “ Maaf sekali lagi. Saya harus pergi membeli sesuatu sebelum bel masuk berbunyi” Fatimah berusaha menghindar dari Jason dan memalingkan wajahnya.
Jason hanya melenggokan kepalanya saja. Ia merasa yakin mengenali siapa gadis yang menabraknya barusan. Tapi ia tak ingin mengambil pusing dan meraih bola basketnya tersebut lalu berlari menuju lapangan untuk kembali bermain bersama teman-temannya itu.
Lima menit kemudian segelas jus alpukat segar sudah berada di tangan Fatimah. Ia berharap Pricilia mau bersabar menunggunya beberapa menit lagi sebelum jus tersebut berpindah tangan ke Pricilia untuk dinikmati.
“Kamu Fatiamahkan??” tiba-tiba Jason membuatnya terkejut. Untungnya jus yang berada di tangannya tidak ikut terlepas.
Fatimah terus berusaha memalingkan wajahnya agar tak dikenali.
“Kok kamu menghindar dari saya? Memangnya saya salah apa?” tanya Jason semakin penasaran.
“Maaf saya terburu-buru” uacapnya lagi. Ia mempercepat langkahnya. Kalau ia meladeni Jason, bisa-bisa Pricilia marah padanya dan mungkin ia akan mendapatkan ganjaran yang sesuai dengan apa yang ingin Pricilia lakukan.
Jason hanya menarik nafas. Ia merasakan ada sesuatu yang salah terhadap gadis yang dikenalnya kemarin itu. Dan ia yakin bahwa itu Fatimah. Tapi apa yang terjadi padanya ia benar-benar tak mengerti.
Fatimah segera menemui Pricilia yang lagi asyik menyalin jawaban Fatimah. “Hey, hati-hati” ucap Pricilia ketika menerima segelas jus dari Fatimah.
“Maaf” kata Fatimah. Wajahnya masih belum berpaling dari luar kelas. Ia takut Jason mengikutinya.
Pricilia hanya tersenyum. Mangsa sudah mulai masuk jebakan yang dipasangnya. “Bagus Fatimah, kamu memang artis yang berbakat” ia melanjutkan tulisannya.
“Fatimah, jadi rencana kamu apa supaya kelas kita bisa memenangkan kontes ini?” seorang perempuan berwajah bulat dengan lemak yang menutupi leher menghampirinya. Ia bernama Lila. Murid tergendut di kelas.
Fatimah sedikit terkejut. Lalu ia berusaha lebih tenang. “Besok skenario sudah bisa saya bagikan. Jadi kamu sabar ya?” kata Fatimah. Ia tidak ingin berpanjang lebar menjelaskan semuanya, karena sebelumnya ia sudah menceritakan sedikit ringkasan cerita yang akan ditampilkan nanti.
Akhirnya bel akhir pembelajaran berdering. Pricilia segera merapikan buku pelajarannya. “Fatimah kamu pulang sendiri ok, aku mau ke mall bersama yang lain. Nich ongkos buat kamu pulang” ia memberikan selembar uang berwarna merah kepada Fatimah.
Ia segera meninggalkan Fatimah begitu saja. Fatimah hanya terdiam. Sebenarnya dia tidak tahu dimana rumah majikannya itu. Yang ia tahu ia tinggal di komplek mewah di Jakarta.
Tiba-tiba seorang pria menghampirinya. “Belum pulang?” tanyanya.
“Maaf, bukan urusan kamu” jawab Fatimah ketus
Pria itu tersenyum. “Aku hanya bertanya, tapi kamu kok ketus sih!” kata pria yang belum dikenalnya itu.
“Maaf saya tidak bicara dengan orang asing seperti kamu” ia meraih tasnya dan beranjak dari kursi menuju keluar kelas.
Pria itu membuntutinya dari belakang sampai pintu gerbang sekolah.
“Kamu kenapa sich ikutin saya terus?” Fatimah kesal.
“Perkenalkan namaku Adam” ia mengulurkan tanganannya namun Fatimah menampiknya. “Aku tahu kamu lagi mencari tumpangankan pulang ke rumah majikanmu”
Fatimah kembali terkejut kenapa laki-laki itu bisa mengetahui rahasianya.
“Kamu jangan heran begitu, semua sudah membicarakan tentangmu, tapi tak disangka kamu cantik juga” Adam mulai menggodanya.
“Hei.. kamu pikir saya gak punya harga diri. Walaupun saya pembantu saya juga punya harga diri” Fatimah makin kesal dibuatnya tapi Adam malah tertawa.
“Sorry aku aku gak bermaksud menjatuhkan harga dirimu, tapi kamu terlalu naïf dengan penampilanmu seperti ini”
“Maksudmu?” Fatimah tidak mengerti dengan kat-kata yang terucap dari biir Adam.
“Aku tinggal tak jauh dari rumah Pricilia, dan beberapa hari ini aku memperhatikanmu. Kamu lebih baik dengan penampilan sebelumnya” kata Adam mulai menjelaskan. “Aku tahu kamu tak bermaksud seperti ini, kamu pasti punya alasan dan bukan maksudku utuk mencampuri urusanmu dengan Pricilia”
Fatimah tertunduk.” Maaf sebelumnya sudah berfikir jelek tentangmu. Tapi tak ada alasan bagi saya untuk menjelaskannya. Pricilia bukanlah orang yang seperti kamu kenal walaupun dari luar dia cuek dan tak peduli dengan siapapun tapi sebenarnya ia baik”
“Aku tahu” Adampun meraih tangan Fatimah. “Mari kuantar pulang”
Sementara di mall…
“Cil, kok kamu tinggalkan Fatimah begitu saja??” tanya Nilam gadis yang duduk di belakang Pricilia di kelas.
“Santai aja kali, oya kalian mau makan apa? Hari ini aku traktir kalian” ucap Pricilia dengan riangnya. Tentu semua itu disambut hangat dengan teman-teman Pricilia.
“Fatimah… kamu cerdas, walaupun aku meninggalkan kamu di sekolah kamu pasti bisa pulang ke rumahku” kata Pricilia dalam hati dengan senyum penuh kepuasaan.
Merekapun masuk ke dalam sebuah rumah makan yang cukup terkenal dan enak masakannya.
………………………………………………………………………………….
“Terima kasih sudah memberikan saya tumpangan” ia turun dari motor sport milik Adam dan melepaskan helm berwarna putih.
“Sama-sama. Kalau kamu perlu bantuanku kamu tak perlu sungkan berkunjung ke rumahku. Tiga deret rumah dari sini” Adam menyalakan mesin motornya kembali. “Selamat siang” iapun pergi memacu motornya.
Fatimah melambai pelan sambil tersenyum. Ia tak menyangka ada pria yang baik dan perhatian. Kemudian ia kembali teringat dengan tugasnya membuat scenario. Iapun berlari menuju kamarnya yang terletak di dekat dapur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB namun belum ada tanda Pricilia tiba di rumah. Fatimah berharap tidak terjadi apa-apa dengan majikannya itu.
Bel berbunyi, Fatimah segera berlari untuk membuka pintu. Tampak Pricilia berdiri di depan pintu dengan bungkusan yang sangat banyak tergeletak di lantai.
“Lama amat buka pintunya” ia masuk ke dalam tanpa mengindahkan Fatimah yang berdiri di hadapannya, ia menabrak sedikit bahu Fatimah.” Awas …ah. Oh iya bawa masuk semua barang dan letakkan di kamarku”
“Baik non” Fatimah mengambil bungkusan-bungkusan itu dan memindahkannya ke kamar Pricilia. Namun tak cukup sekali untuk memindahkannya. Barang-barang yang dibeli Pricilia sangat banyak.
Pricilia sudah terbaring di kasurnya dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Dengan keadaan yang setengah sadar karena lelahnya berbelanja ia mengatakan sesuatu “ Bungkusan yang berwarna kuning itu untukmu Fatimah” kemudian ia kembali tertidur.
Fatimah menghela nafas. Sungguh baik hati Pricilia namun sayang banyak orang yang dekat padanya hanya ingin memanfaatkan kekayaannya. Ia meneteskan air mata sambil meraih bungkusan berwarna kuning. Ia melangkah perlahan dan menutup pintu kamar Pricilia dari luar. Ia tak ingin membangunkan Pricilia yang sudah terlelap dengan mimpinya.
“Ya Allah… tolong bukankan pintu hati non Pricilia. Semoga non Pricilia menjadi anak yang baik ya Allah. “ Fatimah berdoa seusai sholat. Kemudian ia merapikan mukena dan sejadahnya. Ia lalu menatap bungkusan berwarna kuning pemberian Pricilia.
Sebuah pakaian cantik dan elok membuat Fatimah terkesima. “Subhanallah, ini pasti sangat mahal” ucap Fatimah antara percaya dan tidak. Selain pakaian juga masih ada bandana yang sangat indah.  Ia menyayangkan sekali sikap Pricilia yang terlalu menghamburkan uangnya hanya untuk membeli pakaian dan bandana untuknya. Bukannya ia tidak merasa bersyukur dengan pemberian Pricilia itu tapi… ia tak mampu berkata-kata lagi.
Pagipun menjelang…
“Non, makasih ya” ucap Fatimah sambil menuangkan susu ke dalam gelas yang ada di hadapan Pricilia.
“Gak perlu kali, Cuma segitu aja dibesar-besarin” kata Pricilia kemudian menggigit sandwichnya itu dan meneguk susu yang baru dituangkan Fatimah. “Oh ya.. kamu sudah mengerjakan seluruh PRku hari ini?” tanyanya pada Fatimah.
“Sudah non, semuanya sudah saya kerjakan dan sudah saya salin ke buku non”
“Bagus” ia mengelap mulutnya dengan tisu. “Ok aku tunggu kamu di mobil.
“Baik non” ia merapikan piring dan gelas bekas non Pricilia sarapan di westafel tempat pencucian piring. Ia meninggalkannya begitu saja. Sepulang sekolah baru ia akan membersihkannya.
Di sekolah..
“Hey Fatimah, gimana skenarionya? Sudah jadi?” tanya Lila yang penasaran. Karena Fatimah berjanji semua murid di kelas akan tampil.
“Ya sudah” ia pun mengelurkan buku tulisnya yang sedikit using.
“Loh kok dibuku tulis?”
“Maaf, saya belum menyalinnya lagi” Fatimah merasa bersalah. Ia memang tidak bisa menggunakan komputer untuk mengetik.
“Ya sudah gak papa, nanti aku saja yang mengetik” tiba-tiba Rayhan menawarkan diri.
“Makasih” ia menyerahkan buku tulis itu pada Rayhan.
“Aku pinjam dulu dong“ kata Lila.
“Ok tapi nanti dikembalikan lagi ya padaku” kata Rayhan dan memberikannya pada Lila.
Lila menggangguk dan meraih buku itu dengan cepat. Lalu ia membacanya di tempat duduknya. Ia tampak tersenyum, sesekali tertawa dan sesekali tampak sedih membacanya. Teman-teman yang lainnyapun mendekati Lila dan ikut terlarut dalam isi cerita yang ada di buku tulis.
Fatimah merasa lega, ternyata cerita yang ditulisnya tidak mengecewakan teman-temannya. Itu terlihat dari guratan-guratan wajah teman-teman yang membaca skenarionya.
Jam istirahat…
Lila kembali menghampiri Fatimah. “Cerita kamu bagus banget, aku yakin kita mampu memenangkan kontes ini”
Fatimah hanya tersenyum. “Saya senang sekali kalau kalian menyukai cerita saya. Tapi yang terpenting kita semua harus maksimal dalam memerankan tokohnya”
“Betul juga sich, walaupun ceritanya bagus tapi perannya gak maksimal malah jadi jelek. Oya kapan kita mulai latihan? Kita Cuma memeliki beberapa pekan aja nich. Dan memangnya peran utama dalam cerita kamu siapa…?
“Ya kalau bisa secepatnya tergantung Rayhan mengetik scenario itu, nanti kita gandakan supaya semuanya punya. Untuk tokoh utama mungkin akan diperankan oleh…”
Belum sempat Fatimah menyelesaikan pembicaraannya Rayhan datang dengan wajah cemas. “Fatimah… scenario kamu hilang????”
“Apa????”
Fatimah segera berlari ke dalam kelas. Didapatinya Pricilia sedang tertawa terbahak-bahak. “Kok kamu tega sama aku, aku salah apa sama kamu?” tak terasa air matanya mengalir deras.
Pricilia terdiam sejenak. “What??? Sebentar –sebentar.. emang ada apa ya??”Pricilia seakan-akan tak mengetahui apa yang terjadi.
“Ngaku aja kalo kamu yang ambil scenario Fatimah, kamu kan gak suka sama dia” Lila mulai emosi.
Pricilia tak meneriam tuduhan itu. “ Hey gendut..jaga omongan kamu ya? Walaupun aku gak suka dengan Fatimah aku gak akan selicik itu. Tau” matanya mendelik tajam ke arah Lila. “Dan yang perlu kamu ketahui Fatimah… aku bersyukur kalo scenariomu hilang” iapun pergi keluar kelas.
“Dasar nenek sihir” teriak Nina sementara Pricilia sudah menghilang dari pandangan.
“Terus gimana dong?”  Gita jadi risih dan tidak tenang.
“ Git, kamu jangan memperburuk suasana dong, kita kan belum mencarinya?” Intan yang usianya baru bertambah kemarin mencoba menenangkan suasana.
“Coba kita cari dulu yuk sama-sama” ajak Ridwan.
Fatimahpun menghela nafas panjang dan berusaha untuk tegar. Entah mengapa dia langsung menuduh Picilia yang menyembunyikan scenario itu. Padahal mungkin saja Rayhan lupa meletakkannya. Timbul perasaan menyesal dalam dirinya. “Non, aku minta maaf” iapun pergi berlalu meninggalkan ruang kelas.

Sampai menjelang siang, scenariopun belum di temukan. Padahal seharusnya sore ini mereka akan latihan Karena sebentar lagi pentas seni akan diselenggarakan, kalo persiapannya belum matang mereka tidak akan menjadi pemenang.
Adam datang menghampiri Fatimah. “ Aku sudah mendengar tentang scenario itu, kamu jangan khawatir, aku pasti akan bantu kamu untuk menemukannya”
“Saya sudah tidak mempermasalahkan itu lagi, saya menyesal mengapa langsung menuduh Pricilia yang mengambilnya, pasti dia sangat marah sama saya”
“Kamu minta maaf saja dengannya??”
“Pasti, tapi apa dia mau memaafkan?”
“Pricilia bukan orang yang kamu kira kok, aku yakin dia memaafkanmu” kata Adam membuatnya sedikit lega.
Tiba-tiba terdengar suara keributaan dari luar pagar sekolah.
Adam dan Fatimah segera berlari menuju keramaian tersebut.
“Astagfirullah, non Pricilia” Fatimah terkejut mendapati Pricilia bersimbah darah. “Cepat tolong panggilkan ambulance!” teriak Fatimah kalut.
Segera saja Jason menyeruak dari kerumunan. Ia segera membawa Pricilia ke mobilnya. Adam dan Fatimahpun ikut menemaninya.
“Non, bertahanlah…” ucap Fatimah sambil mengucapkan doa-doa kepada Allah agar senantiasa Allah melindungi  keselamtan Pricilia.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Segera saja para perawat dan petugas membawanya ke unit gawat darurat untuk perawatan yang lebih  intensif.
Mereka bertiga disuruh menunggu di ruang terpisah. Tak lama kemudian seorang suster datang dengan segera menjumpai mereka.
“ Pasien memerlukan transfuse darah secepatnya, namun di rumah sakit ini darah yang diperlukan sedang tidak tersedia, mungkin diantara kalian ada yang cocok”
“Baik suster kita bertiga siap diperiksa” Jason segera mengikuti intruksi suster diikuti Adam dan Fatimah.
Beberapa menit kemudian suster tersebut selesai melakukan pemeriksaan dan ternyata darah Fatimah dan Pricilia sangat ccocok. Suster tersebutpun segera melakukan prosedur pengambilan darah.
Fatimah diperintahkan untuk berbaring, jarum suntikpun menusuk kulit Fatimah. Darah mulai memenuhi kantong yang dipersiapkan oleh suster.” Ya Allah lindungilah Pricilia”