Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

Bawang Merah Bawang Putih

Zaman dahulu kala, di sebuah desa yang bernama “Desa Bumbu” tinggalah sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera. Bawang Bombay dan Daun Bawang mereka saling mencintai dan menyayangi. Hingga suatu ketika Daun Bawang akan melahirkan seorang anak.
Adegan 1
Daun Bawang            : “Mas aku sudah tidak tahan lagi, anak ini sebentar lagi akan lahir”
Bawang Bombay       : “Sabar ya bu. Sebentar lagi bidan kunyit datang” (ia khawatir dan cemas)
Tak lama kemudian bidan kunyitpun datang.
Bidan kunyit              : “ Ayo bu terus tarik nafas… ya dorong..terus dorong”
(Dengan sekuat tenaga Daun Bawang berusaha untuk dapat melahirkan. Suara tangisanpun terdengar)
Bidan Kunyit             : “Alhamdulillah bu, anak ibu perempuan”
Daun Bawang            : “ Cantiknya anakku. Akan kuberi nama ia bawang putih”
Daun bawangpun tiba-tiba menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bawang Bombaypun menangis namun ia tak ingin larut dalam kesedihan. Ia harus menjalani kehidupannya bersama si bayi mungil Bawang Putih.
Adegan 2
Tahun demi tahunpun berlalu, musim demi musim silih berganti. Bawang Putih tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Sang Ayahpun berfikir bahwa anaknya membutuhkan sosok ibu yang baru. Iapun akhirnya menikahi seorang janda yang telah memiliki seorang anak perempuan.
Bawang Bombay       : “Saya terima nikahnya ibu Bawanng Merah dengan mas kawin seperangkat bumbu dapur dibayar tunai”
Penghulu                    : “Gimana saksi? Sah??
Saksi                           : Sah..sah
Penghulu                    : Alhamdulillah
 Adegan 3
Mulanya ibu tiri Bawang Putih menyayanginya seperti ia menyayangi Bawang Merah. Hingga suatu ketika sang ayah pergi untuk berdagang dan tak kunjung datang. Bagaimana perlakuan ibu Bawang Merah terhadap Bawang Putih??? Langsung saja kita saksikan bersama.
Ibu Tiri                       : “He..he..he. Sekarang aku yang berkuasa di rumah ini. Apa lihat-lihat? Tuh sapu lantainya masih kotor”
Bawang Merah          : “Kalo nyapu tuh harus sampai bersih dong”(sambil membuang kertas-kertas ke lantai)
Bawang Putih            : “Bawang Merah hentikan. Lantai ini takakan pernah bersih kalau kau mengotorinya seperti itu”
Bawang Merah          : “ Wah mom, rupanya dia sudah mulai berani”
Ibu Tiri                       : “ Hmm sudah berani rupanya” (ia menjambak rambut bawang putih)
Bawang Putih            : “Ampun Bu, aku pasti akan mengikuti apa kata ibu dan Bawang Merah
Ibu Tiri                       : “Bagus kalo begitu. Oya..jangan lupa cuci pakaian di sungai. Ibu dan Bawang Merah mau istirahat dulu”
(Ibu dan Bawang Merahpun istirahat)
Bawang Putih            : “Ya Allah, ampunilah ibu dan saudariku”
Beberapa saat kemudian datang si Cabe Rawit. Sahabat Bawang Merah.
Cabe Rawit                : “Halooo Spada??!”
Bawang Putih            : “ Waalaikum salam”
Cabe Rawit                : “Bawang Merahnya ada?”
Bawang Putih            : “Ada, tunggu aku panggilkan dulu”
Cabe Rawit                : “Gak usah, i datang untuk mengantarkan undangn ini. Oya undangannya hanya untuk ibu dan Bawang Merah saja, untuk you no way!!” (iapun pergi begitu saja)
Bawang Merah          : “Apa itu?” (ia langsung merampasnya dari tangan Bawang Puith) “Wah undangan dari pangeran Jahe, berarti aku harus memakai baju yang paling bagus nih. Eh bawng putih segera cuci pakaian-pakaian itu. Aku ingin memakainya besok pagi.”
Bawang Putih            : “Baik bawang merah.”
Adegan 4
Bawang Putihpun membawa seluruh pakaian kotor untuk dicuci di sungai. Kebetulan disana ia bertemu dengan teman-teman yang ingin mencuci pakaian mereka. Ada Lada, Ketumbar. Karena asyik mengobrol tiba-tiba pakaian kesayangan bawang Merah hanyut terbawa arus.
Ketumbar                  :  “Sudah besok saja dicari, sekarang sudah hampir malam”
Bawang Putih            : “ Kalian Pulang saja dulu. Mungkin baju itu tersangkut disekitar sini.”
Lada                           :  “Baiklah kita pulang duluan. Hati-hati ya bawang putih”
Lada dan Ketumbar beranjak terlebih dahulu sementara bawang putih mencari pakaian itu. Namun sayang ia belum menemukan juga, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan memberitahukannya kepada ibu dan Bawang Merah.
Adegan 5
Bawang Merah          : “ Apa? Mom lihat tuh bajuku hilang” (Sambil Merengek)
Ibu Tiri                       : “Kamu” (Sambil menarik rambut bawang putih)
Bawang Putih            : “Sakit Bu, ampun”
Ibu Tiri                       : “ Malam ini harus kamu cari sampai ketemu. Jika belum ketemu jangn berharap kamu bisa balik ke rumah”
Bawang Putih            : “Tapi Bu sekarang sudah malam”
Ibu Tiri                       : “Gak ada alasan, cepat sekarang pergi. Kalau gelap ambil penerang sana. Dan kamu Bawang Putih sudah jangan nangis. Besok pagi kita ke toko beli baju terbaik dan termahal di desa bumbu ini. Biar pangeran suka sama kamu”
Bawang Merah          : “Benar mom, makasih ya. You are the best mom”
Adegan 6
Malam itu juga Bawang Putih mencari pakaian yang terbawa arus sungai. Ia menyusuri sungai itu dengan bantuan penerang yang seadanya.
Bawang Putih            : “Astagfirullah apa itu” (ia terkejut dan mendekatinya) “Masya Allah, nenek gak papa?” (ia mencoba membantunya berdiri)
Nenek             Coek               : “Terima Kasih Nak, nenek hanya tersandung”
Bawang Putih            : “ Rumah nenek dimana? Biar aku antar”
Nenek             Coek               : “Tidak usah. Kamu baik sekali. Kenapa kamu malam-malam keluar sendirian?”
Bawang Putih            : “Aku menghilangkan pakaian saudariku, mungkin nenek melihatnya”
Nenek Coek               : “Ya tadi nenek lihat. Mungkin pakaian itu sudah berada  di dekat istana bumbu”
Bawang Putih            : “Kalau begitu aku harus segera kesana”
Nenek Coek               : “Bawalah ini?”
Bawang Putih            : “ Tidak perlu nek.”
Nenek Coek               : “Nenek akan kecewa kalau kamu tidak membawanya”
Bawang Putih            : “Terima Kasih nek”
Adegan 7
Akhirnya  Bawang Putihpun tiba di depan istana bumbu. Namun karena terlalu lelah iapun tertidur.
Prajurit Kencur        : “Hey..kamu siapa???”
Bawang Putih            : “Aku Bawang Putih. Aku ingin mencari pakaianku yang hilang”
Tak lama kemudian pangeran Jahe muncul.
Pangeran Jahe           : “Apa maksudmu pakaian ini?!”
Bawang Putih            : “Iya itu pakaian…”
Bawang Merah          : “Bohong pangeran, itu pakaian saya. Ia menghanyutkannya di sungai”
Ibu Tiri                       : “Betul pangeran, setelah menghilangkan pakaian ia kabur dan ia pergi membawa kotak perhiasan saya”
Bawang Putih            : “Tapi ini..”
Ibu Tiri                        : (langsung merebut kotak yang dipegang oleh Bawang Putih) “Lihat ..ini semua perhiasan saya. (ia langsung memakainya)
Tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan gatal.
Bawang Merah          : “Mommy, kenapa?” (iapun memegang perhiasan yang dipakai ibu tangannyapun terasa gatal)
Ibu Tiri                       : “Kamu pasti sudah guna-guna perhiasan ini”
Bawang Putih            : “Kenapa ibu selalu berfikir buruk padaku. Itu perhiasan dari seorang nenek yang kutemui semalam”
Pangeran Jahe           : “Maksudmu nenek coek?”
Bawang Putih            : “ Sepertinya begitu”
Pangeran Jahe           : “Wahai ibu dan anak, minta maaflah kepadanya. Mungkin selama ini kalian telah berbuat jahat kepadanya”
Bawang Merah          : “Bawang Putih, aku minta maaf. Selama ini aku sudah bersikap tidak baik padamu. Sungguh aku menyesal. Maafkan aku.
Ibu Tiri                       : “Ibu juga minta maaf bawang putih, seharusnya ibu menjadi pelindung bagimu. Ibu sudah berlaku tidak adil. Ibu mohon, kamu mau memaafkan ibu.
Bawang Putih            : “Sudahlah, aku sudah memaafkan kalian. Aku yakin kalian pasti berubah.
Ibu Tiri                       : “Terima Kasih Bawang Putih. Engkau memang anak yang Sholehah.
 Setelah Bawang Putih memaafkan ibu dan saudarinya, rasa gatal dan panas yang menimpa merekapun hilang. Mereka sangat bersyukur dan semenjak itu Ibu dan Bawang Merah bersikap baik dan sopan. Bukan hanya kepada Bawang putih saja namun kepada seluruh penghuni desa Bumbu Dapur.  Demikianlah kisah Bawang Merah dan Bawang Putih ini. Merekapun hidup bahagia


Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya diakan melihat blasannya pula. Untuk itu berlomba-lombalah dalam hal kebaikan ya teman-teman. Sampai jumpa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar