Zaman
dahulu kala, di sebuah desa yang bernama “Desa Bumbu” tinggalah sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Bawang Bombay dan Daun Bawang mereka saling mencintai dan menyayangi. Hingga
suatu ketika Daun Bawang akan melahirkan seorang anak.
Adegan 1
Daun
Bawang : “Mas aku
sudah tidak tahan lagi, anak ini sebentar lagi akan lahir”
Bawang
Bombay : “Sabar
ya bu. Sebentar lagi bidan kunyit datang” (ia khawatir dan cemas)
Tak
lama kemudian bidan kunyitpun datang.
Bidan
kunyit :
“ Ayo bu terus tarik nafas… ya dorong..terus dorong”
(Dengan sekuat tenaga Daun Bawang berusaha
untuk dapat melahirkan. Suara tangisanpun terdengar)
Bidan
Kunyit :
“Alhamdulillah bu, anak ibu perempuan”
Daun
Bawang :
“ Cantiknya anakku. Akan kuberi nama ia bawang putih”
Daun
bawangpun tiba-tiba menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bawang Bombaypun
menangis namun ia tak ingin larut dalam kesedihan. Ia harus menjalani
kehidupannya bersama si bayi mungil Bawang Putih.
Adegan 2
Tahun
demi tahunpun berlalu, musim demi musim silih berganti. Bawang Putih tumbuh
menjadi gadis yang cantik dan pintar. Sang Ayahpun berfikir bahwa anaknya
membutuhkan sosok ibu yang baru. Iapun akhirnya menikahi seorang janda yang
telah memiliki seorang anak perempuan.
Bawang
Bombay :
“Saya terima nikahnya ibu Bawanng Merah dengan mas kawin seperangkat bumbu
dapur dibayar tunai”
Penghulu
:
“Gimana saksi? Sah??
Saksi : Sah..sah
Penghulu
: Alhamdulillah
Adegan
3
Mulanya
ibu tiri Bawang Putih menyayanginya seperti ia menyayangi Bawang Merah. Hingga
suatu ketika sang ayah pergi untuk berdagang dan tak kunjung datang. Bagaimana
perlakuan ibu Bawang Merah terhadap Bawang Putih??? Langsung saja kita saksikan
bersama.
Ibu
Tiri :
“He..he..he. Sekarang aku yang berkuasa di rumah ini. Apa lihat-lihat? Tuh sapu
lantainya masih kotor”
Bawang
Merah :
“Kalo nyapu tuh harus sampai bersih dong”(sambil membuang kertas-kertas ke
lantai)
Bawang
Putih :
“Bawang Merah hentikan. Lantai ini takakan pernah bersih kalau kau mengotorinya
seperti itu”
Bawang
Merah :
“ Wah mom, rupanya dia sudah mulai berani”
Ibu
Tiri :
“ Hmm sudah berani rupanya” (ia menjambak rambut bawang putih)
Bawang
Putih :
“Ampun Bu, aku pasti akan mengikuti apa kata ibu dan Bawang Merah
Ibu
Tiri :
“Bagus kalo begitu. Oya..jangan lupa cuci pakaian di sungai. Ibu dan Bawang
Merah mau istirahat dulu”
(Ibu dan Bawang Merahpun istirahat)
Bawang
Putih :
“Ya Allah, ampunilah ibu dan saudariku”
Beberapa
saat kemudian datang si Cabe Rawit. Sahabat Bawang Merah.
Cabe
Rawit :
“Halooo Spada??!”
Bawang
Putih :
“ Waalaikum salam”
Cabe
Rawit :
“Bawang Merahnya ada?”
Bawang
Putih :
“Ada, tunggu aku panggilkan dulu”
Cabe
Rawit :
“Gak usah, i datang untuk mengantarkan undangn ini. Oya undangannya hanya untuk
ibu dan Bawang Merah saja, untuk you no way!!” (iapun pergi begitu saja)
Bawang
Merah
: “Apa itu?” (ia langsung
merampasnya dari tangan Bawang Puith) “Wah undangan dari pangeran Jahe, berarti
aku harus memakai baju yang paling bagus nih. Eh bawng putih segera cuci
pakaian-pakaian itu. Aku ingin memakainya besok pagi.”
Bawang
Putih :
“Baik bawang merah.”
Adegan 4
Bawang
Putihpun membawa seluruh pakaian kotor untuk dicuci di sungai. Kebetulan disana
ia bertemu dengan teman-teman yang ingin mencuci pakaian mereka. Ada Lada,
Ketumbar. Karena asyik mengobrol tiba-tiba pakaian kesayangan bawang Merah
hanyut terbawa arus.
Ketumbar
: “Sudah besok saja dicari, sekarang sudah
hampir malam”
Bawang
Putih :
“ Kalian Pulang saja dulu. Mungkin baju itu tersangkut disekitar sini.”
Lada : “Baiklah kita pulang duluan. Hati-hati ya
bawang putih”
Lada
dan Ketumbar beranjak terlebih dahulu sementara bawang putih mencari pakaian
itu. Namun sayang ia belum menemukan juga, akhirnya ia memutuskan untuk pulang
dan memberitahukannya kepada ibu dan Bawang Merah.
Adegan 5
Bawang
Merah :
“ Apa? Mom lihat tuh bajuku hilang” (Sambil Merengek)
Ibu
Tiri : “Kamu” (Sambil menarik rambut
bawang putih)
Bawang
Putih :
“Sakit Bu, ampun”
Ibu
Tiri :
“ Malam ini harus kamu cari sampai ketemu. Jika belum ketemu jangn berharap
kamu bisa balik ke rumah”
Bawang
Putih :
“Tapi Bu sekarang sudah malam”
Ibu
Tiri : “Gak ada alasan, cepat sekarang
pergi. Kalau gelap ambil penerang sana. Dan kamu Bawang Putih sudah jangan
nangis. Besok pagi kita ke toko beli baju terbaik dan termahal di desa bumbu
ini. Biar pangeran suka sama kamu”
Bawang
Merah :
“Benar mom, makasih ya. You are the best mom”
Adegan 6
Malam
itu juga Bawang Putih mencari pakaian yang terbawa arus sungai. Ia menyusuri
sungai itu dengan bantuan penerang yang seadanya.
Bawang
Putih :
“Astagfirullah apa itu” (ia terkejut dan mendekatinya) “Masya Allah, nenek gak
papa?” (ia mencoba membantunya berdiri)
Nenek
Coek : “Terima Kasih Nak, nenek hanya
tersandung”
Bawang
Putih :
“ Rumah nenek dimana? Biar aku antar”
Nenek
Coek : “Tidak usah. Kamu baik sekali.
Kenapa kamu malam-malam keluar sendirian?”
Bawang
Putih :
“Aku menghilangkan pakaian saudariku, mungkin nenek melihatnya”
Nenek Coek : “Ya tadi nenek lihat. Mungkin
pakaian itu sudah berada di dekat istana
bumbu”
Bawang
Putih :
“Kalau begitu aku harus segera kesana”
Nenek Coek : “Bawalah ini?”
Bawang
Putih :
“ Tidak perlu nek.”
Nenek Coek : “Nenek akan kecewa kalau kamu
tidak membawanya”
Adegan 7
Akhirnya Bawang Putihpun tiba di depan istana bumbu. Namun
karena terlalu lelah iapun tertidur.
Prajurit
Kencur :
“Hey..kamu siapa???”
Bawang
Putih :
“Aku Bawang Putih. Aku ingin mencari pakaianku yang hilang”
Tak
lama kemudian pangeran Jahe muncul.
Pangeran
Jahe :
“Apa maksudmu pakaian ini?!”
Bawang
Putih :
“Iya itu pakaian…”
Bawang
Merah :
“Bohong pangeran, itu pakaian saya. Ia menghanyutkannya di sungai”
Ibu
Tiri :
“Betul pangeran, setelah menghilangkan pakaian ia kabur dan ia pergi membawa
kotak perhiasan saya”
Bawang
Putih :
“Tapi ini..”
Ibu Tiri :
(langsung merebut kotak yang dipegang oleh Bawang Putih) “Lihat ..ini semua
perhiasan saya. (ia langsung memakainya)
Tiba-tiba
tubuhnya terasa panas dan gatal.
Bawang
Merah :
“Mommy, kenapa?” (iapun memegang perhiasan yang dipakai ibu tangannyapun terasa
gatal)
Ibu
Tiri :
“Kamu pasti sudah guna-guna perhiasan ini”
Bawang
Putih :
“Kenapa ibu selalu berfikir buruk padaku. Itu perhiasan dari seorang nenek yang
kutemui semalam”
Pangeran
Jahe :
“Maksudmu nenek coek?”
Bawang
Putih :
“ Sepertinya begitu”
Pangeran
Jahe :
“Wahai ibu dan anak, minta maaflah kepadanya. Mungkin selama ini kalian telah
berbuat jahat kepadanya”
Bawang
Merah :
“Bawang Putih, aku minta maaf. Selama ini aku sudah bersikap tidak baik padamu.
Sungguh aku menyesal. Maafkan aku.
Ibu
Tiri :
“Ibu juga minta maaf bawang putih, seharusnya ibu menjadi pelindung bagimu. Ibu
sudah berlaku tidak adil. Ibu mohon, kamu mau memaafkan ibu.
Bawang
Putih :
“Sudahlah, aku sudah memaafkan kalian. Aku yakin kalian pasti berubah.
Ibu
Tiri :
“Terima Kasih Bawang Putih. Engkau memang anak yang Sholehah.
Setelah Bawang Putih memaafkan ibu dan saudarinya, rasa gatal dan panas
yang menimpa merekapun hilang. Mereka sangat bersyukur dan semenjak itu Ibu dan
Bawang Merah bersikap baik dan sopan. Bukan hanya kepada Bawang putih saja
namun kepada seluruh penghuni desa Bumbu Dapur.
Demikianlah kisah Bawang Merah dan Bawang Putih ini. Merekapun hidup
bahagia
Barang
siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat
balasannya
Dan
barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya diakan
melihat blasannya pula. Untuk itu berlomba-lombalah dalam hal kebaikan ya
teman-teman. Sampai jumpa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar