Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

MENJADI PELUKIS TERKENAL


Oleh
Alifah Fauziah 5 Baghdad Angkatan 16

“Aku yatim piatu, kedua orangtuaku sudah meninggal” kata Juna sambil bersedih dengan wajah sendu.
Juna adalah anak perempuan yang sering menyendiri namun ia merupakan anak yang pintar dan cantik. Matanya sipit dengan alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Ia juga memiliki kepribadian yang sopan sehingga semua pengurus panti asuhan sayang dengannya. Selain itu ia rajin belajar dan khusyu dalam beribadah. Bakat alami yang dimiliknya adalah melukis. Hampir di setiap ruang yang ada di panti terpajang lukisan hasil karyanya.
Juna bercita-cita menjadi seorang pelukis yang dikenal oleh orang banyak. Suatu hari ia menemui ibu pengurus panti asuhan yang biasa dipanggil oleh anak panti Bu Asih. “ Bu, apa ibu sebelumnya punya cita-cita sebagai pengurus panti asuhan?”
Bu Asihpun tersenyum “Sebenarnya ibu ingin sekali menjadi seorang guru, tapi cita-cita ibu untuk menjadi guru terhalang biaya ketika itu. Namun ibu merasa senang. Sekarang ibu bisa mengasuh kalian di panti ini kan sama saja ibu dapat mengajar dan mendidik kalian, itu juga pekerjaan seorang guru loh. Oya memangnya ada apa kamu bertanya seperti itu?” tanya bu Asih.
“Sebenarnya aku ingin sekali menjadi pelukis” jawabnya sedikit ragu.
“Wah bagus sekali cita-citamu” puji bu Asih.
“ Tapi aku takut bu, aku takut gagal” ucap Juna memelas.
Bu Asih mengelus punggung Juna dengan lembut “Kamu jangan bilang seperti itu, percayalah dan buktikan bahwa kamu bisa” bu Asih mencoba meningkatkan kepercayaan diri Juna agar tidak menyerah pada cita-citanya.
Setelah itu Juna langsung menuju ruang makan untuk sarapan, disana sudah ada anak panti lainnya yang asyik menikmati sarapan. Juna tersenyum dan bergabung bersama mereka. Selepas itu Juna kembali ke dalam kamarnya dan mengambil alat-alat lukisnya. Keinginan untuk menjadi seorang pelukis semakin tinggi. Tekadnya semakin bulat dan mantap.
Ketika ia sedang asyik memainkan warna dalam lukisannya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum Salam” ia beranjak dari tempat duduknya. “Oh ibu Asih, ada apa?” tanya Juna sambil membukakan pintu kamarnya.
“Juna, ibu baca di Koran ada sebuah lembaga yang akan mengadakan perlombaan melukis” kata ibu sambil memberikan Koran tersebut.
Junapun membacanya. “Tapi bu, apa aku pantas untuk dapat mengikuti lomba ini?”
“Kenapa tidak? Kamu punya bakat yang sangat luar biasa”
“Tapi bu, biaya pendaftarannya cukup mahal. Uang tabunganku saja tak cukup”
“Kamu jangan khawatir, sisanya nanti ibu akan penuhi”
“Tapi bu..”
“Sudah.. yang penting sekarang kamu berlatih dengan sungguh-sungguh. Nanti nama kamu akan ibu daftarkan dan jangan lupa berdoa”
“Terima kasih bu” ia memeluk bu Asih.
Setelah nama Juna terdaftar sebagai salah satu peserta melukis, ia semakin giat berlatih. Dalam hati dia selalu berdoa semoga ia berhasil mewujudkan cita-citanya itu. Ia tidak akan membuang kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Waktu perlombaanpun tiba, sebelum dimulai, Juna memohon kepada Allah SWT “Ya Allah, mudah-mudahan usaha yang kulakukan selama ini tak sia-sia. Semoga Engkau memberiku kemudahan dalam perlombaan ini Amiiin” iapun membawa segala macam perlengkapan melukisnya ke sebuah ruangan yang nanti akan digunakan untuk perlombaan itu.
Semua peserta sudah bersiap di depan meja yang sudah disediakan panitia. Seorang laki-laki berdiri untuk membacakan syarat-syarat perlombaan. Dan tema perlombaan melukis ini adalah pemandangan alam dan keanekaragaman hayati yang harus dilestarikan.
Laki-laki itu memberikan isyarat pertanda perlombaan dimulai. Semuapun sibuk dengan lukisannya masing-masing, begitu juga Juna. Awalnya ia tidak punya gambaran sama sekali untuk melukis pemandangan yang seperti apa. Namun ia berusaha untuk bisa membuat lukisan yang terbaik.
Waktupun berlalu. Selesai juga hasil lukisannya. Tidak begitu buruk hasilnya. Juna cukup puas dengan karyanya itu. Ia berharap seluruh juri memberikan nilai yang besar walaupun masih banyak peserta lain yang hasil lukisannya cukup bagus juga.
Para juri memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk melakukan penilaian dan para peserta diperbolehkan untuk istirahat. Juna segera menemui bu Asih dan beberapa anak panti yang menunggunya di luar ruangan.
“Alhamdulillah bu, aku mampu menyelesaikannya”
“Syukurlah kalau begitu”
“Tapi bu, banyak peserta yang lukisannya jauh lebih bagus dari aku”
“Yang penting kamu sudah berusaha keras. Menang atau kalah kita serahkan kepada Allah”
“Ya bu”
“Tenang kak Juna, aku dan Leo juga berdoa kok” kata Mia salah satu anak panti yang ikut menemaninya.
Dua jam berlalu. Seluruh peserta diharapkan untuk kembali ke ruangan karena sebentar lagi akan diumumkan siapa pemenangnya.” Ibu, temani aku ya?” ia memegang tangan bu Asih.
“Bu.. kita ikut dong ke dalam?”pinta Mia
“Ayo cepat masuk. Sebentar lagi akan dibacakan hasilnya” kata laki-laki yang menjadi pembawa acara.
“Maaf mas, ibu dan teman-teman panti boleh masuk?” tanya Juna kepadanya.
“Ya sudah masuk saja tapi harus tertib ya”
“Siap oom” Mia dan Leo tersenyum
Semua peserta tampak cemas dan mereka berharap hasil karya mereka mendapat nilai yang paling tinggi. Karena pemenang lomba melukis ini akan mendapatkan hadiah yang lumayan besar. Juara satunya akan mendapatkan uang tunai sebesar 10 juta dan beasiswa untuk mendalami bidang seni melukis di luar negeri.
“ Dan.. yang berhak untuk mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 10 juta rupiah pada kesempatan kali ini adalah…Putri Juna Kurnia”
Juna seakan tak percaya. Ia langsung sujud dan memeluk bu Asih. “Bu aku berhasil”
“Selamat ya Juna” kata bu Asih ikut senang
Iapun ke depan untuk menerima hadiah dari panitia. “Alhamdulillah ya Allah, doaku terkabul.”
Setelah ia menerima hadiah tersebut, ia kembali menghampiri bu Asih. “Bu, terima kasih. Karena ibu aku bisa seperti ini”
“Ya ibupun senang. Tapi kamu tidak boleh puas dengan hasilmu saat ini. Ingat tujuan utamamu”
“Baik bu, aku akan berusaha untuk mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang pelukis yang terkenal”
Perjalanan masih panjang. Juna harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk mendalami seni melukis ini, karena suatu saat nanti ia ingin namanya dapat dikenal oleh seluruh masyarakat baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri Indonesia. Amiin ya Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar