Oleh
Alifah
Fauziah 5 Baghdad Angkatan 16
“Aku
yatim piatu, kedua orangtuaku sudah meninggal” kata Juna sambil bersedih dengan
wajah sendu.
Juna
adalah anak perempuan yang sering menyendiri namun ia merupakan anak yang
pintar dan cantik. Matanya sipit dengan alis yang tebal dan bulu mata yang
lentik. Ia juga memiliki kepribadian yang sopan sehingga semua pengurus panti
asuhan sayang dengannya. Selain itu ia rajin belajar dan khusyu dalam
beribadah. Bakat alami yang dimiliknya adalah melukis. Hampir di setiap ruang
yang ada di panti terpajang lukisan hasil karyanya.
Juna
bercita-cita menjadi seorang pelukis yang dikenal oleh orang banyak. Suatu hari
ia menemui ibu pengurus panti asuhan yang biasa dipanggil oleh anak panti Bu
Asih. “ Bu, apa ibu sebelumnya punya cita-cita sebagai pengurus panti asuhan?”
Bu
Asihpun tersenyum “Sebenarnya ibu ingin sekali menjadi seorang guru, tapi
cita-cita ibu untuk menjadi guru terhalang biaya ketika itu. Namun ibu merasa
senang. Sekarang ibu bisa mengasuh kalian di panti ini kan sama saja ibu dapat
mengajar dan mendidik kalian, itu juga pekerjaan seorang guru loh. Oya
memangnya ada apa kamu bertanya seperti itu?” tanya bu Asih.
“Sebenarnya
aku ingin sekali menjadi pelukis” jawabnya sedikit ragu.
“Wah
bagus sekali cita-citamu” puji bu Asih.
“
Tapi aku takut bu, aku takut gagal” ucap Juna memelas.
Bu
Asih mengelus punggung Juna dengan lembut “Kamu jangan bilang seperti itu,
percayalah dan buktikan bahwa kamu bisa” bu Asih mencoba meningkatkan
kepercayaan diri Juna agar tidak menyerah pada cita-citanya.
Setelah
itu Juna langsung menuju ruang makan untuk sarapan, disana sudah ada anak panti
lainnya yang asyik menikmati sarapan. Juna tersenyum dan bergabung bersama
mereka. Selepas itu Juna kembali ke dalam kamarnya dan mengambil alat-alat
lukisnya. Keinginan untuk menjadi seorang pelukis semakin tinggi. Tekadnya
semakin bulat dan mantap.
Ketika
ia sedang asyik memainkan warna dalam lukisannya, tiba-tiba pintu kamarnya
diketuk.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum
Salam” ia beranjak dari tempat duduknya. “Oh ibu Asih, ada apa?” tanya Juna
sambil membukakan pintu kamarnya.
“Juna,
ibu baca di Koran ada sebuah lembaga yang akan mengadakan perlombaan melukis”
kata ibu sambil memberikan Koran tersebut.
Junapun
membacanya. “Tapi bu, apa aku pantas untuk dapat mengikuti lomba ini?”
“Kenapa
tidak? Kamu punya bakat yang sangat luar biasa”
“Tapi
bu, biaya pendaftarannya cukup mahal. Uang tabunganku saja tak cukup”
“Kamu
jangan khawatir, sisanya nanti ibu akan penuhi”
“Tapi
bu..”
“Sudah..
yang penting sekarang kamu berlatih dengan sungguh-sungguh. Nanti nama kamu
akan ibu daftarkan dan jangan lupa berdoa”
“Terima
kasih bu” ia memeluk bu Asih.
Setelah
nama Juna terdaftar sebagai salah satu peserta melukis, ia semakin giat
berlatih. Dalam hati dia selalu berdoa semoga ia berhasil mewujudkan
cita-citanya itu. Ia tidak akan membuang kesempatan yang diberikan Tuhan
kepadanya.
Waktu
perlombaanpun tiba, sebelum dimulai, Juna memohon kepada Allah SWT “Ya Allah,
mudah-mudahan usaha yang kulakukan selama ini tak sia-sia. Semoga Engkau
memberiku kemudahan dalam perlombaan ini Amiiin” iapun membawa segala macam
perlengkapan melukisnya ke sebuah ruangan yang nanti akan digunakan untuk
perlombaan itu.
Semua
peserta sudah bersiap di depan meja yang sudah disediakan panitia. Seorang
laki-laki berdiri untuk membacakan syarat-syarat perlombaan. Dan tema
perlombaan melukis ini adalah pemandangan alam dan keanekaragaman hayati yang
harus dilestarikan.
Laki-laki
itu memberikan isyarat pertanda perlombaan dimulai. Semuapun sibuk dengan
lukisannya masing-masing, begitu juga Juna. Awalnya ia tidak punya gambaran
sama sekali untuk melukis pemandangan yang seperti apa. Namun ia berusaha untuk
bisa membuat lukisan yang terbaik.
Waktupun
berlalu. Selesai juga hasil lukisannya. Tidak begitu buruk hasilnya. Juna cukup
puas dengan karyanya itu. Ia berharap seluruh juri memberikan nilai yang besar
walaupun masih banyak peserta lain yang hasil lukisannya cukup bagus juga.
Para
juri memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk melakukan penilaian dan para peserta
diperbolehkan untuk istirahat. Juna segera menemui bu Asih dan beberapa anak
panti yang menunggunya di luar ruangan.
“Alhamdulillah
bu, aku mampu menyelesaikannya”
“Syukurlah
kalau begitu”
“Tapi
bu, banyak peserta yang lukisannya jauh lebih bagus dari aku”
“Yang
penting kamu sudah berusaha keras. Menang atau kalah kita serahkan kepada
Allah”
“Ya
bu”
“Tenang
kak Juna, aku dan Leo juga berdoa kok” kata Mia salah satu anak panti yang ikut
menemaninya.
Dua
jam berlalu. Seluruh peserta diharapkan untuk kembali ke ruangan karena
sebentar lagi akan diumumkan siapa pemenangnya.” Ibu, temani aku ya?” ia
memegang tangan bu Asih.
“Bu..
kita ikut dong ke dalam?”pinta Mia
“Ayo
cepat masuk. Sebentar lagi akan dibacakan hasilnya” kata laki-laki yang menjadi
pembawa acara.
“Maaf
mas, ibu dan teman-teman panti boleh masuk?” tanya Juna kepadanya.
“Ya
sudah masuk saja tapi harus tertib ya”
“Siap
oom” Mia dan Leo tersenyum
Semua
peserta tampak cemas dan mereka berharap hasil karya mereka mendapat nilai yang
paling tinggi. Karena pemenang lomba melukis ini akan mendapatkan hadiah yang
lumayan besar. Juara satunya akan mendapatkan uang tunai sebesar 10 juta dan
beasiswa untuk mendalami bidang seni melukis di luar negeri.
“
Dan.. yang berhak untuk mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 10 juta rupiah
pada kesempatan kali ini adalah…Putri Juna Kurnia”
Juna
seakan tak percaya. Ia langsung sujud dan memeluk bu Asih. “Bu aku berhasil”
“Selamat
ya Juna” kata bu Asih ikut senang
Iapun
ke depan untuk menerima hadiah dari panitia. “Alhamdulillah ya Allah, doaku
terkabul.”
Setelah
ia menerima hadiah tersebut, ia kembali menghampiri bu Asih. “Bu, terima kasih.
Karena ibu aku bisa seperti ini”
“Ya
ibupun senang. Tapi kamu tidak boleh puas dengan hasilmu saat ini. Ingat tujuan
utamamu”
“Baik
bu, aku akan berusaha untuk mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang
pelukis yang terkenal”
Perjalanan
masih panjang. Juna harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk
mendalami seni melukis ini, karena suatu saat nanti ia ingin namanya dapat
dikenal oleh seluruh masyarakat baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri
Indonesia. Amiin ya Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar