Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 7



BAB 7      

"Mak, aye berangkat dulu yach" Jay tampak terburu-buru, Ia mengenakan seragam SMUnya.
"Loe udeh makan?" tanya emak khawatir .
"Udeh mak, tadi aye udeh ngerebus indomie". ia lalu meraih tangan emak yang keriput dan menciumnya.
"Aye berangkat dulu. Ntar telat bisa berabe"
Emak tersenyum dan mengelus kepalanya “Ati-ati dijalan kalo ada ape-ape. Loe minta bantuan aje sama orang yang dideket loe"
"Nyantai mak, aye kan gini-gini ikutan silat".
Jay nyengir. Ia mengambil tasnya dan keluar emak menggeleng-gelengkan kepala "Tuh anak udeh gede aje, dulu waktu masih kecil cengengnye minta ampun".
"Mak, aye juga mo berangkat nich" Doni muncul ia masih tampak sibuk dengan dasi yang dikenakannya.
"Loe udah sarapan"
"Ntar aja dech mak, di kantor aye juga banyak kantin. Ntar aye beli di sono aje".
"Tapi kalo loe sakit gimane? emak juga yang repot".
"Mak nggak usah khawatir" ia memegang pundak emak.
"Aye nggak papa kok" lalu mencium tangan emak.
"Emak hanya bisa pasrah ." Ya udeh Emak doain dech, smoga loe berhasil, smoga loe selamet aje".
"Amin........."ucap Doni, mengusap telapak tangannya ke muka.

                                                            ***************

"Kring......kring" suara alarm jam waker membuat Andrea terjaga. Dengan males, ia mematikannya.
"What.......gue bisa telat nich" ia lalu mensibakkan selimutnya begitu saja dan buru-buru kekamar mandi.
Lima belas menit kemudian ia turun menjumpai papa yang lagi asyik menikmati sarapannya. "Pagi papa" ia mencium keningnya.
"Wangi sekali kamu, mau kemana pagi-pagi begini?" tanya papa heran.
"Kuliah " jawabnya singkat ia menggigit omlet buatan bi Darsih dan meneguk susunya " Sudah yach pa, nanti comelete lagi"
"Nggak di antar Lexi?!"
"Lexi?"
"Tadi papa telpon dia, suruh kesini bentar lagi juga dateng" papa melipat surat kabar yang baru dibaca.
"Nggak usah dech pa, Andre bisa sendiri " ia meneguk kembali sisi coklatmya "Andre berangkat, dah pap"
            Ia berjalan agak tergesa-gesa, Ketika ingin membuka pintu, Lexi sudah masuk terlebih dahulu, kebetulan tidak dikunci.
"Hai Lex !" sapa Andrea.
"Hai" jawabnya singkat tanpa senyum . Tatapannya dingin jutek abis. "Oom ada"
"Tuh......"kata Andrea cuek dan keluar tanpa senyum pula.
"Tuh cowok jual mahal banget. Keren sich keren tapi........" ia ngedumel sendiri membuka pintu volvonya dan memasang safety beltnya lalu meluncur menuju kampus MP.

                                                                        ************

"Kalian lagi....kalian lagi"bentak Dudu kesal.
"Duh, sial dech gue " Dian menepuk jidatnya.
"Yang ngomong itu gue harusnya gue, bukan loe" Andrea menatap tajam. Rasanya ingin sekali memendamkan kepala cewek yang berdiri disampingnya ke kolam.
"Kalian jangan saling menyalahkan sekarang kalian akan saya hukum" Dudu menggiringi mereka ke tempat mahasiswa baru yang sedang melakukan upacara pembukaan OSPEK hari kedua.
"Sekarang kalian berdiri di sini"
Dian dan Andrea saling pandang. "Duh mau di taroh dimana muka gue" Dian mulai ketakutan.
"Sudah ikutin aja" ucap Andrea sok tenang. Padahal dia tuh malu banget apalagi berdiri didepan mahasiswa baru yang mungkin bakal sekelas ama dia.
"Lihat.....ini contoh mahasiswa yang sudah berani melanggar peraturan. Coba kalian amati wajah-wajah indisipliner ini" Udin memberikan pengarahan sambil menunjuk-nunjuk mereka.
            Andrea menundukkan kepala begitu pula Dian. Wajah mereka sudah seperti kepiting rebus merah padam. Amara datang agak telat, Namun ia sempat menyaksikan Andrea dipajang didepan barisan dan tertawa.
"Aduh, kalo gini terus kulit gue bisa item nich" ucap Dian sambil memperhatikan lengannya dengan detail.
            Mahasiswa baru beristirahat setelah kegiatan OSPEKhari kedua berakhir, Mereka memadati kantin yang di desain seperti cafe-cafe yang sudah terkenal.
"Loe bawel banget sich" Andrea kesal, ia menenguk kembali juice orangenya.
"Yee....siapa juga yang ngomong ke situ" Dian sewot.
            Andrea beranjak ia menghampiri Amara yang sedang memesan semangkok mie ayam.
"Ntar yach Bu" Amara membalikkan tubuh. "Eh Andre, kok cemberut aja"
"Gue nggak papa kok. Eh ngomong-ngomong OSPEKnya kapan selesai sich. Gue udeh cape nich" bisiknya pelan. Ia melihat sekeliling tempat itu barang kali ada mahasiswa senior yang mendengarnya.
"Besok kayaknya sich. Oh iya..... malemnya upacara penutupan. Kayak pesta-pesta gitu dech. Pokoknya seru. Soalnya bakal ada pengarahan khusus dari paman......."kata paman ia ucapkan pelan sekali. "Terus juga ada penobatan mahasiswa teladan, yang indisipliner juga ada......."ia mengikik sendiri.
"Weh.....shit you are?"
"Booong deng" Amara kembali tertawa melihat reaksi Andrea. Ia teringat kemballi denganya waktu masih SD, Andrea di kerjain habis-habis olehnya dan David. Mulai dibuat terkejut dengan ular karet sampai dibuat nangis gara-gara prakaryanya disembunyikan David di kamar mandi.
"Mbak, mie ayamnya" wanita yang jaga dikantin itu sudah menunggu Amara cukup lama.
"Sorry Bu" ia mengambil mangkok tersebut dan membayarnya lansung.
            Andrea mulai iseng lagi. ia mengambil sambal yang ada didekatnya dan menuangkan sambal cabe rawit ke dalam mangkok yang diletakkan Amara diatas meja.
"Makasih Bu" ia membawa mie ayamnya itu dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
            Meja yang belum berpenghuni tinggal satu dan itupun bersebelahan dengan meja yang ditempati  Dian yang lagi sibuk mengamati wajahnya dicermin kecil.
"Loe nggak makan? enak loe?"
"Sudah kenyang " ia menahan tawa. Apalagi melihat Amara kepedesan gara-gara sambal cabe rawit yang ia masukkan.
"Wuah.......pedes........air........."teriaknya sehingga mahasiswa yang ada dikantin semua pandangan mereka tertuju pada Amara."Cepet air"  ia mengipas-ngipas mulutnya, matanya tampak berair.

                                                                        *************   

"Don....."Pak Rudi menghampirinya "Bapak direktur memanggil kamu tuh.....katanya penting".
"Iya pak"ucap Doni, ia segera menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar dari ruangan menemui direktur perusahaannya.Sudah hampir sepekan dia bekerja disini namun ia belum pernah melihat wajah pimpinannya. Ia baru mendengar dari orang lain saja.
"Maaf pak" Doni membuka pintu perlahan-lahan.
            Pria itu memandangi dengan seksama, sepertinya ia pernah melihat laki-laki yang sedang duduk dikursi kerja yamg empuk.
"Kamu Doni" tanyanya, membuat Doni gelagapan.
"I......ya......iya...pak" jawabnya gugup.
Lelaki itu tersenyum "Duduklah......" ia mempersilahkan Doni duduk dikursi yang ada dihadapannya "Nggak usah tegang, rileks aja".
"Iya pak" kata Doni lagi. ia lalu menuruti perintah atasannya.
"Bapak sudah dengar usul kamu dan bapak rasa kita bisa mencobanya" ia meraih telepon yang ada didekatnya dan mulai memencet tombol satu persatu "Lex, Om ada tugas untuk kamu, Sekarang kamu temui Om "ia kembali meletakkan gagang teleponnya."Oh iya... katanya kamu masih sekolah.... kuliah dimana?"
"Di Universitas Merah Putih, Jurusan IT mungkin sebentar lagi lulus".
"Oh......"papa manggut-manggut.”Rasanya bapak pernah melihat kamu....... tapi dimana yach?" ia memandang Doni lekat-lekat dan mengerenyitkan dahi berusaha berfikir.
Lexi muncul. Ia menghampiri papa. "Ada apa Om?"
"Tolong kamu bantu dia "papa mengalihkan pembicaraan Doni tersenyum lega, Ia berdiri "Doni" ia berjabat tangan dengan Lexi.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya waktu yang bisa menjawab.

                                                                        *************

"Itu cewek kemarin, deketin gih" ucap Golek mendorong-dorong tubuh Jay
"Ogah ah....."
"Cepet.....kayanya dia kepedesan tuch"
"Biarin aja, yang kepedesan dia bukan gue ko" katanya sambil menyendok bakso dengan lahap.
"Kalo gitu, gue aja dech yang nyamperin"
"Sono......." ucapJay nggak jelas, ia masih menikmati baksonya. "Eh......tuch anak nekat banget......." kata Jay dalam hati sambil memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu dengan seksama.
            Andrea dan Amara melongos melihat penampilan Golek. Rada geli juga, bahkan Andrea sempat cekikikan. Amara yang kepedesan pun nggak ketinggalan bahkan rasa pedasnya langsung hilang.
"Mbak......." sapa Golek sok kenal
Andrea dan Amara pura-pura tidak mendengar.
"Mbak.......tengok dong kesini"
"Gue......." tanya Andrea
"Bukan, yang kepedesan ituloh" Golek menunjuk Amara yang langsung terdiam. Sementara Andrea yang geli melihat tampang Amara yang sudah kaya tomat busuk.
"Please dech, gue rasa gue belom tua" ucap Amara sewot
"Ikhlas aja lagi" timpal Andrea yang langsung di cubit Amara."Au, sakit"
Golek yang melihat kedua cewek itu jadi rada segen juga. Genit ternyata.
"Gini..........emmmm temen aye mau kenalan sama kamu, tuch orangnya" ia menunjuk Jay yang sedari tadi memperhatikannya
Jay mengempalkan tangan ke arah Golek.
"O......, elo berdua kan kemaren ntu"
"Ko tahu"
"Emang gue pikun, kalo cowo itukan kedap-kedip mata ama gue"
"Ya.........bener dia kan naksir sama mbak.......eh maksudnya sama kamu"
"Aduh........formalitas banget loe jadi orang. Loe bisa panggil gue Vanesha Rizka Mulia Seruni Rasa Strowberi Indah Mewangi, biasa di panggil Ara, nggak nyambungkan? tapi inget loch, ortu gue nyari nama sampe tujuh hari tujuh malem. Pusing nggak tuch?"
"Kapan loe dapet nama sepanjang itu?" Andrea .
"Bukan urusan loe..........." mata Amara melotot tajam "Kita lanjut.......nggak usah pikirin nich yang di samping. Orangnya rada......." ia menempelkan telunjuk di keningnya
"Ok dech.......... jadi gimana, mau kemenalin diri kan ke dia"
"Gimana ya......yang perlu siapa coba?"
"Jadi boleh nich.....?!"
Amara hanya mengangkat bahu Golek berteriak girang, ia lalu berlari menuju Jay yang lagi nyeruput es tehnya.
"Eh.......kabar gembira buat loe. dia mau kenalan sama loe, tapi loenya yang nyamperin dia"
"Gue mau pulang ah, ada siaran nich"
"Sejak kapan lo ada siaran siang?!" tanya Golek bingung. Sesekali ia melirik Amara, Dian dan Andrea yang sedang asik ngobrol.
"Sejak loe ngomong ke dia, oon banget sich loe" wajah Jay tampak kesal. Ia beranjak dari tempat duduknya.
"Gue kan cuma mau nolongin elo doang"
"Tapi gue nggak suka. Emang gue kurang gentle apa?"
"Nah kalo loe gentle, samperin tuch cewek jangan ngomong doang" Golek membalikan pertanyaan Jay yang membuat Jay skak mat."Aayo.....tunjukin kalo loe gentle"dalam hati Golek tertawa tumben dia pinter bersilat lidah.
Jay duduk kembali. ia ragu" Nggak jadi dech. Gue tarik pernyataan gue"
"Eits, nggak bisa. seorang Jay yang gue kenal nggak cemen kaya gini. Pokoknya elo mesti kenalan"
"Tapi........."
"Udah cepet..........dia udah nungguin"
Jay berpikir sejenak" Kalo itu mau loe, terpaksa dech" ia kembali bangkit namun semangatnya masih terpendam.....
Golek tersenyum"Akhirnya my friend berani juga"

                                                                                                            **************

"Don, tolong kamu ambilkan arsip yang ada disitu" ucap Lexi yang sedang menerima telepon dari mitra perusahaan.
 "Baik pak" jawab Doni, ia berjalan menuju rak yang penuh dengan arsip yang rada membingungkan.
"B7 R21 A" teriak Lexi lagi.
"B7 R21 A" gumamnya mengulangi lagi, ia mulai mencari dari sudut yang paling kiri. "Nah, kayaknya ini dech" ia mengambil arsip tersebut lalu membawanya.
"Wait a moment Mr" Lexi segera mengambil arsip tersebut. "Ok......not.....one billion dollar oh no....rupiahs I meant, oh... we'll wait you. Ok thanks" ia menutup gagang telepon tersebut.
"Akhirnya kita berhasil juga" Lexi tampak seneng.
"Don, kamu bisa panggil saya Lexi, gini-gini saya masih muda" Lexi yang dipanggil pak rada risih juga, usianya gak jauh berbeda sama Doni.
"Iya pak.....maksud saya Lexi" Doni masih cangung mengucapkan nama itu.
"Ok dech, sekarang kamu pelajari ini. Nanti kalo ada yang tidak mengerti bisa tanyakan kesaya" ia memberikan proposal permintaan perusahaan "C.O.K" untuk pembuatan iklan.
"Baik, saya akan pelajari lebih lanjut" ia membawa map yang berisi proposal tersebut. Lalu keluar untuk kembali ke ruang kerjanya.

***************

"Apa? Jadi loe Jay" Amara tampak terpesona dan gak percaya.
            Andrea yang duduk disampingnyapun terkejut. Ternyata gak suaranya aja yang cakep tapi wajahnya manis ditopang dengan tubuh yang ideal."Kenapa kagak jadi model aja sekalian atau bintang film" pikirnya.    
"Aduh......." tiba-tiba Dian berteriak.
"Kenapa?" tanya Amara dan Andrea berbarengan.
"Gue kebelet nich"
"Sialan, gue kirain loe jantungan" Andrea mendengus kesal. ia kemudian kembali memperhatikan Jay.
"Eh, loe kan yang pembawa acara radio itukan?"
"Iya....Emang dia orangnya, suaranya keren kan" Golek yang gak ditanya malah tiba-tiba nyeletuk.
"Gini loh, sebenernya loe emang ok banget sampe-sampe temen gue falling love cuma ngedengerin suara loe" Andrea memang jail dan suka usil, ia bikin Amara udeh bener kayak sambel tomat plus cabe plus jambu yang diulek hingga gak berbentuk lagi warnanya.
"Sial" bisik Amara dalam hati ingin sekali ia membuang cubitannya yang pedas ke tubuh Andrea namun tuh cewek udah menghindar duluan.
"Eh, jagain yach sepupu gue dia tuch ngefans banget ama loe" Andrea ngibrit keluar kantin
"Andrea......awas nanti" ia mengepalkan tangannya ke arah Andrea yang sudah menghilang dibalik kantin. "Eh....sorry, dia emang rada sinting" Amara kembali sopan ia tidak ingin dikatakan liar sama cowok yang duduk di depannya.
"Ah gak papa kok.Oh yach dari tadi cuma gue yang ngenalin diri kalo boleh tahu nama loe siapa?"
"Vanesha Amara" jawabnya singkat.
"Bukannya nama loe Vanesha Rizka Mulya Seruni Rasa Strawbery Indah mewangi" Golek tampak ngotot soalnya dia hapal betul apa yang dikatakannya.
"Oh........itu.......gue cuma ngarang, boleh kan?!"
"Berarti cewek yang itu gak gila dong. Jadi siapa dong yang gila?"
"Nich cowok bawel banget yach" gumamnya Amara dalam hati. "Udah ga ada yang gila kok"
"Berarti loe bener ngefans dong ama temen gue ini" Golek menepuk bahu Jay yang kupingnya mulai panas.
"Aduh mampus gue" katanya dalam hati.
Tiba-tiba Dian muncul lagi "Andrea mana?"
"Tahu tuh, udah pergi kali" ucapnya sok sewot padahal dalam hatinya bersyukur banget udah nolongin dia dalam kesulitan yang cukup besar.
"Eh loe kan cewek yang dipajang itu" celetuk Golek lagi.
"Ah loe loading banget" Dian mengambil tasnya lalu pergi.
"Eh......gue belum tahu nama loe" Golek berlari mengejarnya.
            Akhirnya Jay dan Amara bisa bernapas lega. Si cowok cerewet udah gak lagi duduk bersama mereka, klop dech tinggal berdua.Tapi mereka cuma liri-lirikan gak tahu apa yang mau diomongin.
"Ara.......balik yuk” David sudah berdiri dibelakangnya.
"Duluan aja" ucap Amara dengan pandangan yang tak lepas dari Jay.
"Mama sakit" kata David
"What...!" Amara terkejut. “Bener???”tanyanya tak percaya.
“Gak percaya banget ma saudara sendiri”
“Iya, ya. Sorry ya Jay lain kali percakapan ini kita lanjutkan lagi” ia beranjak dari kursinya. Meletakkan sejumlah uang di atas meja.
“Ya gak papa lagi. Mudah-mudahan mama kamu cepat sembuh” Jay hanya bisa berkat demikian.
“Makasih ya” Amara tersenyum lalu pergi meninggalkannya mengikuti David yang sudah berjalan labih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar