BAB
7
"Mak,
aye berangkat dulu yach" Jay tampak terburu-buru, Ia mengenakan seragam
SMUnya.
"Loe
udeh makan?" tanya emak khawatir .
"Udeh
mak, tadi aye udeh ngerebus indomie". ia lalu meraih tangan emak yang
keriput dan menciumnya.
"Aye
berangkat dulu. Ntar telat bisa berabe"
Emak
tersenyum dan mengelus kepalanya “Ati-ati dijalan kalo ada ape-ape. Loe minta
bantuan aje sama orang yang dideket loe"
"Nyantai
mak, aye kan gini-gini ikutan silat".
Jay
nyengir. Ia mengambil tasnya dan keluar emak menggeleng-gelengkan kepala
"Tuh anak udeh gede aje, dulu waktu masih kecil cengengnye minta
ampun".
"Mak,
aye juga mo berangkat nich" Doni muncul ia masih tampak sibuk dengan dasi
yang dikenakannya.
"Loe
udah sarapan"
"Ntar
aja dech mak, di kantor aye juga banyak kantin. Ntar aye beli di sono
aje".
"Tapi
kalo loe sakit gimane? emak juga yang repot".
"Mak
nggak usah khawatir" ia memegang pundak emak.
"Aye
nggak papa kok" lalu mencium tangan emak.
"Emak
hanya bisa pasrah ." Ya udeh Emak doain dech, smoga loe berhasil, smoga
loe selamet aje".
"Amin........."ucap
Doni, mengusap telapak tangannya ke muka.
***************
"Kring......kring"
suara alarm jam waker membuat Andrea terjaga. Dengan males, ia mematikannya.
"What.......gue
bisa telat nich" ia lalu mensibakkan selimutnya begitu saja dan buru-buru
kekamar mandi.
Lima
belas menit kemudian ia turun menjumpai papa yang lagi asyik menikmati
sarapannya. "Pagi papa" ia mencium keningnya.
"Wangi
sekali kamu, mau kemana pagi-pagi begini?" tanya papa heran.
"Kuliah
" jawabnya singkat ia menggigit omlet buatan bi Darsih dan meneguk susunya
" Sudah yach pa, nanti comelete lagi"
"Nggak
di antar Lexi?!"
"Lexi?"
"Tadi
papa telpon dia, suruh kesini bentar lagi juga dateng" papa melipat surat
kabar yang baru dibaca.
"Nggak
usah dech pa, Andre bisa sendiri " ia meneguk kembali sisi coklatmya
"Andre berangkat, dah pap"
Ia berjalan agak tergesa-gesa,
Ketika ingin membuka pintu, Lexi sudah masuk terlebih dahulu, kebetulan tidak
dikunci.
"Hai
Lex !" sapa Andrea.
"Hai"
jawabnya singkat tanpa senyum . Tatapannya dingin jutek abis. "Oom
ada"
"Tuh......"kata
Andrea cuek dan keluar tanpa senyum pula.
"Tuh
cowok jual mahal banget. Keren sich keren tapi........" ia ngedumel
sendiri membuka pintu volvonya dan memasang safety beltnya lalu meluncur menuju
kampus MP.
************
"Kalian
lagi....kalian lagi"bentak Dudu kesal.
"Duh,
sial dech gue " Dian menepuk jidatnya.
"Yang
ngomong itu gue harusnya gue, bukan loe" Andrea menatap tajam. Rasanya
ingin sekali memendamkan kepala cewek yang berdiri disampingnya ke kolam.
"Kalian
jangan saling menyalahkan sekarang kalian akan saya hukum" Dudu
menggiringi mereka ke tempat mahasiswa baru yang sedang melakukan upacara pembukaan
OSPEK hari kedua.
"Sekarang
kalian berdiri di sini"
Dian
dan Andrea saling pandang. "Duh mau di taroh dimana muka gue" Dian
mulai ketakutan.
"Sudah
ikutin aja" ucap Andrea sok tenang. Padahal dia tuh malu banget apalagi
berdiri didepan mahasiswa baru yang mungkin bakal sekelas ama dia.
"Lihat.....ini
contoh mahasiswa yang sudah berani melanggar peraturan. Coba kalian amati
wajah-wajah indisipliner ini" Udin memberikan pengarahan sambil
menunjuk-nunjuk mereka.
Andrea menundukkan kepala begitu
pula Dian. Wajah mereka sudah seperti kepiting rebus merah padam. Amara datang
agak telat, Namun ia sempat menyaksikan Andrea dipajang didepan barisan dan
tertawa.
"Aduh,
kalo gini terus kulit gue bisa item nich" ucap Dian sambil memperhatikan
lengannya dengan detail.
Mahasiswa baru beristirahat setelah
kegiatan OSPEKhari kedua berakhir, Mereka memadati kantin yang di desain
seperti cafe-cafe yang sudah terkenal.
"Loe
bawel banget sich" Andrea kesal, ia menenguk kembali juice orangenya.
"Yee....siapa
juga yang ngomong ke situ" Dian sewot.
Andrea
beranjak ia menghampiri Amara yang sedang memesan semangkok mie ayam.
"Ntar
yach Bu" Amara membalikkan tubuh. "Eh Andre, kok cemberut aja"
"Gue
nggak papa kok. Eh ngomong-ngomong OSPEKnya kapan selesai sich. Gue udeh cape
nich" bisiknya pelan. Ia melihat sekeliling tempat itu barang kali ada
mahasiswa senior yang mendengarnya.
"Besok
kayaknya sich. Oh iya..... malemnya upacara penutupan. Kayak pesta-pesta gitu
dech. Pokoknya seru. Soalnya bakal ada pengarahan khusus dari
paman......."kata paman ia ucapkan pelan sekali. "Terus juga ada
penobatan mahasiswa teladan, yang indisipliner juga ada......."ia mengikik
sendiri.
"Weh.....shit
you are?"
"Booong
deng" Amara kembali tertawa melihat reaksi Andrea. Ia teringat kemballi
denganya waktu masih SD, Andrea di kerjain habis-habis olehnya dan David. Mulai
dibuat terkejut dengan ular karet sampai dibuat nangis gara-gara prakaryanya
disembunyikan David di kamar mandi.
"Mbak,
mie ayamnya" wanita yang jaga dikantin itu sudah menunggu Amara cukup
lama.
"Sorry
Bu" ia mengambil mangkok tersebut dan membayarnya lansung.
Andrea mulai iseng lagi. ia
mengambil sambal yang ada didekatnya dan menuangkan sambal cabe rawit ke dalam
mangkok yang diletakkan Amara diatas meja.
"Makasih
Bu" ia membawa mie ayamnya itu dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
Meja yang belum berpenghuni tinggal
satu dan itupun bersebelahan dengan meja yang ditempati Dian yang lagi sibuk mengamati wajahnya
dicermin kecil.
"Loe
nggak makan? enak loe?"
"Sudah
kenyang " ia menahan tawa. Apalagi melihat Amara kepedesan gara-gara
sambal cabe rawit yang ia masukkan.
"Wuah.......pedes........air........."teriaknya
sehingga mahasiswa yang ada dikantin semua pandangan mereka tertuju pada
Amara."Cepet air" ia
mengipas-ngipas mulutnya, matanya tampak berair.
*************
"Don....."Pak
Rudi menghampirinya "Bapak direktur memanggil kamu tuh.....katanya
penting".
"Iya
pak"ucap Doni, ia segera menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar dari
ruangan menemui direktur perusahaannya.Sudah hampir sepekan dia bekerja disini
namun ia belum pernah melihat wajah pimpinannya. Ia baru mendengar dari orang
lain saja.
"Maaf
pak" Doni membuka pintu perlahan-lahan.
Pria itu memandangi dengan seksama,
sepertinya ia pernah melihat laki-laki yang sedang duduk dikursi kerja yamg
empuk.
"Kamu
Doni" tanyanya, membuat Doni gelagapan.
"I......ya......iya...pak"
jawabnya gugup.
Lelaki
itu tersenyum "Duduklah......" ia mempersilahkan Doni duduk dikursi
yang ada dihadapannya "Nggak usah tegang, rileks aja".
"Iya
pak" kata Doni lagi. ia lalu menuruti perintah atasannya.
"Bapak
sudah dengar usul kamu dan bapak rasa kita bisa mencobanya" ia meraih
telepon yang ada didekatnya dan mulai memencet tombol satu persatu "Lex,
Om ada tugas untuk kamu, Sekarang kamu temui Om "ia kembali meletakkan
gagang teleponnya."Oh iya... katanya kamu masih sekolah.... kuliah
dimana?"
"Di
Universitas Merah Putih, Jurusan IT mungkin sebentar lagi lulus".
"Oh......"papa
manggut-manggut.”Rasanya bapak pernah melihat kamu....... tapi dimana yach?"
ia memandang Doni lekat-lekat dan mengerenyitkan dahi berusaha berfikir.
Lexi
muncul. Ia menghampiri papa. "Ada apa Om?"
"Tolong
kamu bantu dia "papa mengalihkan pembicaraan Doni tersenyum lega, Ia
berdiri "Doni" ia berjabat tangan dengan Lexi.
Apa
yang akan terjadi selanjutnya, hanya waktu yang bisa menjawab.
*************
"Itu
cewek kemarin, deketin gih" ucap Golek mendorong-dorong tubuh Jay
"Ogah
ah....."
"Cepet.....kayanya
dia kepedesan tuch"
"Biarin
aja, yang kepedesan dia bukan gue ko" katanya sambil menyendok bakso
dengan lahap.
"Kalo
gitu, gue aja dech yang nyamperin"
"Sono......."
ucapJay nggak jelas, ia masih menikmati baksonya. "Eh......tuch anak nekat
banget......." kata Jay dalam hati sambil memperhatikan gerak-gerik
sahabatnya itu dengan seksama.
Andrea dan Amara melongos melihat
penampilan Golek. Rada geli juga, bahkan Andrea sempat cekikikan. Amara yang
kepedesan pun nggak ketinggalan bahkan rasa pedasnya langsung hilang.
"Mbak......."
sapa Golek sok kenal
Andrea
dan Amara pura-pura tidak mendengar.
"Mbak.......tengok
dong kesini"
"Gue......."
tanya Andrea
"Bukan,
yang kepedesan ituloh" Golek menunjuk Amara yang langsung terdiam. Sementara
Andrea yang geli melihat tampang Amara yang sudah kaya tomat busuk.
"Please
dech, gue rasa gue belom tua" ucap Amara sewot
"Ikhlas
aja lagi" timpal Andrea yang langsung di cubit Amara."Au, sakit"
Golek
yang melihat kedua cewek itu jadi rada segen juga. Genit ternyata.
"Gini..........emmmm
temen aye mau kenalan sama kamu, tuch orangnya" ia menunjuk Jay yang
sedari tadi memperhatikannya
Jay
mengempalkan tangan ke arah Golek.
"O......,
elo berdua kan kemaren ntu"
"Ko
tahu"
"Emang
gue pikun, kalo cowo itukan kedap-kedip mata ama gue"
"Ya.........bener
dia kan naksir sama mbak.......eh maksudnya sama kamu"
"Aduh........formalitas
banget loe jadi orang. Loe bisa panggil gue Vanesha Rizka Mulia Seruni Rasa
Strowberi Indah Mewangi, biasa di panggil Ara, nggak nyambungkan? tapi inget
loch, ortu gue nyari nama sampe tujuh hari tujuh malem. Pusing nggak
tuch?"
"Kapan
loe dapet nama sepanjang itu?" Andrea .
"Bukan
urusan loe..........." mata Amara melotot tajam "Kita
lanjut.......nggak usah pikirin nich yang di samping. Orangnya
rada......." ia menempelkan telunjuk di keningnya
"Ok
dech.......... jadi gimana, mau kemenalin diri kan ke dia"
"Gimana
ya......yang perlu siapa coba?"
"Jadi
boleh nich.....?!"
Amara
hanya mengangkat bahu Golek berteriak girang, ia lalu berlari menuju Jay yang
lagi nyeruput es tehnya.
"Eh.......kabar
gembira buat loe. dia mau kenalan sama loe, tapi loenya yang nyamperin
dia"
"Gue
mau pulang ah, ada siaran nich"
"Sejak
kapan lo ada siaran siang?!" tanya Golek bingung. Sesekali ia melirik
Amara, Dian dan Andrea yang sedang asik ngobrol.
"Sejak
loe ngomong ke dia, oon banget sich loe" wajah Jay tampak kesal. Ia
beranjak dari tempat duduknya.
"Gue
kan cuma mau nolongin elo doang"
"Tapi
gue nggak suka. Emang gue kurang gentle apa?"
"Nah
kalo loe gentle, samperin tuch cewek jangan ngomong doang" Golek
membalikan pertanyaan Jay yang membuat Jay skak mat."Aayo.....tunjukin
kalo loe gentle"dalam hati Golek tertawa tumben dia pinter bersilat lidah.
Jay
duduk kembali. ia ragu" Nggak jadi dech. Gue tarik pernyataan gue"
"Eits,
nggak bisa. seorang Jay yang gue kenal nggak cemen kaya gini. Pokoknya elo
mesti kenalan"
"Tapi........."
"Udah
cepet..........dia udah nungguin"
Jay
berpikir sejenak" Kalo itu mau loe, terpaksa dech" ia kembali bangkit
namun semangatnya masih terpendam.....
Golek
tersenyum"Akhirnya my friend berani juga"
**************
"Don,
tolong kamu ambilkan arsip yang ada disitu" ucap Lexi yang sedang menerima
telepon dari mitra perusahaan.
"Baik pak" jawab Doni, ia berjalan
menuju rak yang penuh dengan arsip yang rada membingungkan.
"B7
R21 A" teriak Lexi lagi.
"B7
R21 A" gumamnya mengulangi lagi, ia mulai mencari dari sudut yang paling
kiri. "Nah, kayaknya ini dech" ia mengambil arsip tersebut lalu
membawanya.
"Wait
a moment Mr" Lexi segera mengambil arsip tersebut. "Ok......not.....one
billion dollar oh no....rupiahs I meant, oh... we'll wait you. Ok thanks"
ia menutup gagang telepon tersebut.
"Akhirnya
kita berhasil juga" Lexi tampak seneng.
"Don,
kamu bisa panggil saya Lexi, gini-gini saya masih muda" Lexi yang dipanggil
pak rada risih juga, usianya gak jauh berbeda sama Doni.
"Iya
pak.....maksud saya Lexi" Doni masih cangung mengucapkan nama itu.
"Ok
dech, sekarang kamu pelajari ini. Nanti kalo ada yang tidak mengerti bisa
tanyakan kesaya" ia memberikan proposal permintaan perusahaan
"C.O.K" untuk pembuatan iklan.
"Baik,
saya akan pelajari lebih lanjut" ia membawa map yang berisi proposal
tersebut. Lalu keluar untuk kembali ke ruang kerjanya.
***************
"Apa?
Jadi loe Jay" Amara tampak terpesona dan gak percaya.
Andrea yang duduk disampingnyapun
terkejut. Ternyata gak suaranya aja yang cakep tapi wajahnya manis ditopang
dengan tubuh yang ideal."Kenapa kagak jadi model aja sekalian atau bintang
film" pikirnya.
"Aduh......."
tiba-tiba Dian berteriak.
"Kenapa?"
tanya Amara dan Andrea berbarengan.
"Gue
kebelet nich"
"Sialan,
gue kirain loe jantungan" Andrea mendengus kesal. ia kemudian kembali memperhatikan
Jay.
"Eh,
loe kan yang pembawa acara radio itukan?"
"Iya....Emang
dia orangnya, suaranya keren kan" Golek yang gak ditanya malah tiba-tiba
nyeletuk.
"Gini
loh, sebenernya loe emang ok banget sampe-sampe temen gue falling love cuma
ngedengerin suara loe" Andrea memang jail dan suka usil, ia bikin Amara
udeh bener kayak sambel tomat plus cabe plus jambu yang diulek hingga gak
berbentuk lagi warnanya.
"Sial"
bisik Amara dalam hati ingin sekali ia membuang cubitannya yang pedas ke tubuh
Andrea namun tuh cewek udah menghindar duluan.
"Eh,
jagain yach sepupu gue dia tuch ngefans banget ama loe" Andrea ngibrit
keluar kantin
"Andrea......awas
nanti" ia mengepalkan tangannya ke arah Andrea yang sudah menghilang
dibalik kantin. "Eh....sorry, dia emang rada sinting" Amara kembali
sopan ia tidak ingin dikatakan liar sama cowok yang duduk di depannya.
"Ah
gak papa kok.Oh yach dari tadi cuma gue yang ngenalin diri kalo boleh tahu nama
loe siapa?"
"Vanesha
Amara" jawabnya singkat.
"Bukannya
nama loe Vanesha Rizka Mulya Seruni Rasa Strawbery Indah mewangi" Golek
tampak ngotot soalnya dia hapal betul apa yang dikatakannya.
"Oh........itu.......gue
cuma ngarang, boleh kan?!"
"Berarti
cewek yang itu gak gila dong. Jadi siapa dong yang gila?"
"Nich
cowok bawel banget yach" gumamnya Amara dalam hati. "Udah ga ada yang
gila kok"
"Berarti
loe bener ngefans dong ama temen gue ini" Golek menepuk bahu Jay yang
kupingnya mulai panas.
"Aduh
mampus gue" katanya dalam hati.
Tiba-tiba
Dian muncul lagi "Andrea mana?"
"Tahu
tuh, udah pergi kali" ucapnya sok sewot padahal dalam hatinya bersyukur
banget udah nolongin dia dalam kesulitan yang cukup besar.
"Eh
loe kan cewek yang dipajang itu" celetuk Golek lagi.
"Ah
loe loading banget" Dian mengambil tasnya lalu pergi.
"Eh......gue
belum tahu nama loe" Golek berlari mengejarnya.
Akhirnya Jay dan Amara bisa bernapas
lega. Si cowok cerewet udah gak lagi duduk bersama mereka, klop dech tinggal
berdua.Tapi mereka cuma liri-lirikan gak tahu apa yang mau diomongin.
"Ara.......balik
yuk” David sudah berdiri dibelakangnya.
"Duluan
aja" ucap Amara dengan pandangan yang tak lepas dari Jay.
"Mama
sakit" kata David
"What...!"
Amara terkejut. “Bener???”tanyanya tak percaya.
“Gak
percaya banget ma saudara sendiri”
“Iya,
ya. Sorry ya Jay lain kali percakapan ini kita lanjutkan lagi” ia beranjak dari
kursinya. Meletakkan sejumlah uang di atas meja.
“Ya
gak papa lagi. Mudah-mudahan mama kamu cepat sembuh” Jay hanya bisa berkat
demikian.
“Makasih
ya” Amara tersenyum lalu pergi meninggalkannya mengikuti David yang sudah
berjalan labih dahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar