BAB
8
Sudah dua bulan semenjak Andrea meninggalkan
Swiss dan kembali ke Indonesia. Andrea lebih ceria dan lebih cerewet dari pada
biasanya. Ia sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan yang ada, baik kampusnya
maupun temen-temennya.
Ada satu hal yang selalu mengganjal
hatinya. Perasaan bimbang dan tak menetu terkadang menyelimuti dirinya.
"Ah.....malem
ini gue pengen cari udara seger dulu" ia lalu meraih kunci volvonya diatas
meja riasnya.
**************
Udara malam begitu dingin namun tak
sedingin di Swiss. Kota Jakarta tampak indah di kala malam mulai menyelimuti,
lalu lintas cukup renggang, deretan gedung bertingkat, lampu-lampu jalan dan
gedung-gedung kecil yang berdiri kokoh menambah keindahan kota Jakarta.
Matanya mencari tempat yang nyaman
untuk duduk. Hari ini resto tersebut cukup penuh dengan pengunjung, semua tempat
hampir terisi, hanya beberapa tempat yang kosong. Terpaksa Andrea duduk di
tempat yang letaknya agak menjorok ke dalam. Seorang waiter menghampirinya.
"Pesan
apa mbak?" tanya waiter tersebut sambil membawa pena dan kertas.
"Seperti
biasa aja"
"Ice
cream tiga lapis dan roti lapis cream” waiter itu memang sudah mengenali wajah
Andrea. jadi dia tidak terlalu kesulitan dalam melayani pengunjung yang satu
ini.
Tak lama kemudian ia muncul sambil
membawa pesanan tersebut. Thank’s" ucap Andrea yang disambut senyum waiter
yang ramah.
"Aduh,
tumben nich resto penuh" seorang pria yang sudah tidak asing lagi duduk di
hadapan Andrea yang sedang menikmati lapis demi lapis ice creamnya. Pria itu
belum menyadari perempuan yang duduk di depannya, karena Andrea sengaja
menutupi wajahnya. "Eh.......makan ko ngumpet-ngumpet gitu sich. Emangnya
ada apa?" tanyanya penasaran
"Aduh!
Mati dech. Ah cuekin aja " katanya dalam hati dan terus merasakan
kenikmatan ice cream tiga lapisnya.
"Eh...........punya
mulut nggak?? diajak ngomong malah makin nunduk, malu yah punya muka
jelek"
"Eh
sial............." ia lalu membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Nggak
liat apa gue lagi makan" ucap Andrea sewot dan agak keras sampai-sampai
pengunjung yang ada di resto itu
ngelirik ke arahnya.
"Mampus
dah gue" Lexi tampak terkejut mendapati Andrea yang sudah berwajah ganas
yang seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat."Sorry......gue nggak
sengaja. Loe jangan bilang sama om yah."
"Kalo
gue bilangin emangnya kenapa?"
"Ntar
gue dipecat jadi mantunya"
"Idih............PD
banget lo"
"Abisnya
anak pak Rafi De Niro cakepnya nggak abis-abis."
"Ngeselin
banget........" ia beranjak dari tempatnya.
"Mas..........nanti
di bayar sama orang itu"
"Beres
dech" ucap waiter itu
Andrea
segera membawa volvo-nya jauh-jauh."Tumben, nggak biasanya tuch anak
ngocol kaya gitu" tiba-tiba hape-nya berdering.Ia mengambilnya dengan
tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang setir mobil.
"Ada
apa?" tanya Andrea sewot
"Sori
Dre, gue nggak sengaja kalo ada kata yang nyinggung lo, just kidding ko"
"Udah
dech ...........don't call me again oke" ia menurtup pembicaraan. Sadis
juga perlakuannya. biarkan saja, ntar juga reda sendiri."Aduh, mau kemana
yah......" dia berhenti sejenak. "Oh iya...." dia kembali
menancap gas volvo-nya.
***********
"Udah
dech, jual aja tuch motor, emak rela ko" ucap emak sambil melipat pakaian.
"Sayang
mak, ni kan peninggalan bapak" kata Jay, sambil membersihkan motor
tersebut dengan kain lap yang telah di basahi.
"Ia
nich mak, motor ini kan keramat "
"Emak
tau, tapi kalau udah sering mogok mendingankan dijual terus uangnya dibeliin
motor lagi yang baruan".
"Emak
gak usah khawatir dech. Pokoknya motor ini kagak bakal kita jual. Kebetulan Aye
dapet rejeki dari perusahaan yang katenye mo ngasih alat transportasi buat aye,
kalo gak pekan ini yach pekan depan yang akan datang".
Emak
sedikit lega. “ ya udah sekarang pada ke dalam”Emak membawaember plastik yang
berisi pakaian yang baru dilipat.
"Nanggung
mak, bentar lagi" kata Jay.
"Biar
aye yang bawa dech mak" Doni segera meraih ember plastik hitam dari tangan
emak dan masuk ke dalam rumah.
Sebuah volvo berheti tepat di depan
pagar rumah Doni yang terbuat dari patok kayu. Andrea masih memperhatikan rumah
Doni dari dalam mobilnya."Eh.....itukan Jay, Lagi ngapain di disini"
ia kemudian membuka matanya lebar-lebar. "Ah, perasaan ini bener dech
alamatnya." ia membuka buku kecil dari tasnya."Bener kok, ga salah.
Tapi ngapain Jay ada disini, ama motor keluaran tahun berapa tuch".
Jay yang sibuk dengan pekerjaannya
tidak memperhatikan mobil yang berhenti di depan rumah. Ia bersiul sambil
bernyanyi-nyanyi kecil.
Doni
muncul dari dalam "Jay masuk, ntar loe masuk angin aje".
"Nyantai
aje.......gue udah minum tolak angin ko".
"Ya
udah......"Doni kembali ke dalam. Andrea yang memperhatikan gerak-gerik
penghuni rumah itu terlonjak kaget."Itukan
Doni.......Jadi........."Andrea terlihat senang. Ia kemudian menghidupkan
mesin mobilnya lalu balik dech ke rumah.
***********
"Ra.......kenapa
loe, kok loe sedih gitu......"Andrea yang lagi asyik baca buku di perpus
kampus confuse ngeliat sepupunya mewek penuh belek.
"Jay......Ndre......Jay".
"Kenapa
lagi dengan dia.....Loe kan baru jadian ama dia".
"Iya
gue tahu. Tapi dia mutusin gue tanpa sebab" kata Andrea terisak.
"Hey,
Please tell me trully, I don't understand what did you say".
"Oh
my God, it is not the good place for telling all".
"Ok.....kalo
gitu kita pindah atau kita pergi ke mana ke......" ajak Andrea bingung
sendiri. ia mengembalikan buku yang baru saja dibacanya itu ke tempat semula.
Amara berusaha menghapus air
matanya. ia berjalan membuntuti Andrea. Matanya sembah dan kelihatan merah.
Andrea
mengambil kunci dari dalam ranselnya."Kita kemana?" tanya Andrea yang
sudah menghidupkan mesin. " Up to U" jawab Amara, ia hanya memandang
keluar.
************
"Jay......."
sapa Golek yang baru aja dari toilet dateng menghampiri Jay yang lagi bengong
di bangku taman, Ia duduk di sebelahnya.
"Eh,
loe Lek, gue kira siapa" Jay berusaha menghidar.
"Kalo
dilihat dari nada bicara loe, gue rasa loe lagi berantem sama Amara".
"Sotoy
loe" ucap Jay sebenernya, dia tidak ingin masalah privasinya diganggu
orang lain.
"Gue
gak bisa ditipu, gue kenal ama loe sejak kecil man".
Jay hanya diam, ia tidak mau
berkomentar lebih banyak lagi. "Ke kantin yuk "ajak Jay mengalihkan
pembicaraan.
"Tapi
loe gak papa kan?!" tanya Golek meyakinkan.
"Siip
dech...." ia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh,
Dian gak sama loe?" tanya Jay lagi.
"Oh....dia
lagi kuliah. Paling-paling ntar juga nongol dikantin" ia meraih lengan Jay
untuk berdiri.
*********
"Loe
mau pesan apa?" tanya Andrea dengan buku menu yang sudah ada di tangannya.
"Up
to u dech. Gue lagi gak modd nich"
"Ok....
biar loe kagak larut dalam kesedihan gue pesenin ice cream 3
lapis........"
"Gak
ah.... ntar gue gemuk lagi".
"Katanya
up to me," ia meletakkan buku menu tersebut.
"Mbak
dua gelas lce cream 3 lapis dan loe mau apa?" ia kembali bertanya pada
Amara yang hanya disambut bahu yang diangkat. "Hot dog.....eh sandwichnya
2".
"2
Ice cream 3 lapis dan 2 sandwich" waiter itu mengulangi pesanan Andrea sambil mencatat
dibuku kecilnya. "Ada lagi?"
"Enough
dech mbak" Andrea tersenyum, setelah waiter itu pergi, Andrea melanjutkan
pembicaraan.
"Nah,
sekarang loe bisa cerita ke gue masalah loe, siapa tahu gue bisa bantu".
Amara
diam sejenak ia menarik nafas terlebih dahulu sebelum memulai "Jay
Ndre.......Jay....."
"Kenapa
dengan Jay dia selingkuh?"
Amara menggelengkan kepalanya. "Dia bukan
orang seperti itu.Gue tahu kok"
"Lantas....."
"Dia
mutusin gue........ dia bilang hubungan kita sudah berakhir" matanya
kembali berkaca-kaca.
Andrea
mengerenyitkan dahi "Dia ada alasan mutusin loe".
"Itu
makanya. dia ga bilang, yang jelas dia udah mutusin gue. Dan
kita..............ga ada hubungan lagi" Amara mulai menetaskan air mata.
"Mbak
nich pesanannya" waiter tadi muncul lagi dengan membawa pesanan Andrea.
"Makasih
mbak" ucap Andrea.
"Mbak
ini lagi putus cinta yach, emang lelaki di dunia sama aja" ia ikut nimbung
lalu pergi membawa nampan kosong.
"Dre......rasanya
gue pengen bunuh diri aja".
"Ya
ampun Ra, pikiran loe udah gak sehat gini sich, loe tuh orang yang
berpendidikan pikir secara matang" Andrea terus nasehatinya. "Sekarang
makan dulu gih ntar icenya keburu cair" ia mengambil gelas yang berisi 3
lapis ice cream.
Walaupun lagi illfil, Amara
mengambil juga dan memasukkan perlahan-lahan ice cream ke dalam mulutnya. Ia
merasa agak tenangan dan merasa sedikit plong meski gak tahu apa yang harus
dilakukan.
"Gue
bakal bantu hubungan loe. gue pengen tahu sebab kenapa dia mutusin loe."
"Bener
yach Re".
"Bener,
suer gue janji. Gue bakal selidiki kasus loe, gue gak pengen sepupu gue
dicampakkan seperti ini".
"Thank's
ya Ndre" menepuk-nepuk pipi Andrea pelan dan menyatap Ice cream 3 lapis
dengan lahap plus sandwichnya yang menggoyang lidah.
*************
Malam itu juga, Andrea berangkat menuju rumah Jay yang tak
lain rumah Doni juga, ia ingin sekali mengungkapkan peristiwa yang membuat
sepupunya frustasi sekaligus membuka tabir hubungan Doni dan Jay.
"Rumahnya
kelihat sepi, ada orang gak yach?" ia lalu melepas safety belt, dan turun
dari volvo-nya.
Rumah Doni memang sederhana namun
kebersihannya sangat terjaga, pintunya terbelalak tak dikunci. Doni baru saja
pulang dari kuliah tapi keluar sebentar dan lupa menutup pintu sedangkan Emak,
lagi ikut pengajian di rumah pak RT.
"Permisi,
ada orang didalam?" tanya Andrea, ia memperhatikan setiap jengkal isi
rumahnya. "Hallo, ada orang gak?" ia mengulanginya lagi.
"He........mau
maling yach!!!" suara dibelakang itu mengejutkannya. Andrea segera
membalikkan tubuhnya.
"Do.......ni.......kan"
kata Andrea gugup memang semenjak kejadian di kantor papa, Andrea berusah
menyembunyikan diri walau terkadang ia mencuri pandang Doni yang lagi sibuk
kerja di kantor papanya.
"Kamu?!
Ngapain malem-malem kesini?"
"Nggak
ko...cuma mau nyari Jay" ia tampak kikuk.
"Jay?
Ada urusan apa dengan dia" Doni yang gak tahu apa-apa ingin ikut tenggelam
dalam urusan ini.
"Eh.....ada tamu rupanye. Kok kagak
disuruh masuk Don?" Emak tiba-tiba muncul dari belakang. "Maaf yach
neng, lama nunggunya?"
"Nggak
papa bu" Andrea tersenyum "Saya gak lama-lama kok, Cuma ingin ketemu
Jay".
"Masuk
aja dulu. Jay belum pulang, bentar lagi juga dia dateng" Emak mempersilahkannya
masuk.
"Makasih
bu" sudah kepalang basah, akhirnya Andrea mengikuti emak masuk.
"Duduk
neng, emak ke dalam bentar. Don, temenin tuh temenya Jay".
"M.....m....
gue udah maafin loe kok" ucap Andrea refleks.
"Makasih
dech. Akhirnya aku gak punya utang lagi" Doni tersenyum simpul.
"Kamu....."
"Andrea,
yach panggil aja gue Andrea jangan formal gitu".
"Iya.....Andrea
maksudku, kamu kan putri direktur atasanku kan?"
"M......m.....kenapa?
Apa gue gak boleh main kesini".
"Bukan
gitu, Cuma ya.......gimana yach....."
"Papa
orangnya bebas kok, Jadi gue boleh kemana aja sesuai dengan keinginan
gue".
"Tapi
kalo papa kamu tahu kalo kamu kesini?......eh maaf kok ngomongnya jadi
ngelantur gini" muka Doni memerah,untung aja emak datang membawa teh hangat
dan risol goreng.
"Nich....biar
badan neng hangat"
"Makasih
bu gak usah repot-repot" kata Andrea.
"Gak
papa kok mumpung ade?" ucap Emak. "Diminum neng".
"Iya
bu" ia meraih cangkir berisi teh hangat itu dan meneguknya.
"Ngomong-ngomong
ade ape yach neng......."
"Andrea
bu" ucap Andrea sambil meletakkan cangkir tersebut.
"Neng
Andrea datang ke sini nyari Jay"
Andrea
diam sejenak "Gak ada apa-apa kok bu, cuma ingin berkunjung aja".
"Oh.....kira
emak neng kenape-nape. Yach udeh neng emak tinggal dulu. Gosokan banyak maklum
kagak ade pembantu" Emak ke belakang.
"Deg"
jantung Andrea langsung berdetak. Ia memang gak pernah merasakan kesusahan,
makan tinggal makan, pakaian tinggal makai dan masih banyak lain yang
seharusnya bisa dikerjakan sendiri. Ternyata dia baru sadar kalau selama ini
orang tuanya menyuruhnya sekolah di Swiss untuk meniliti kemandirian bukan
untuk sebuah kemewahan yang gak berarti sama sekali.
"Ndre....
ngelamunin apa?" Doni menegurnya.
Ia
tersentak kaget.
"Ah.....gak
kok"
"Dimakan
dulu risolnya, Yach beginilah keadaan kami" Andrea kembali merasa
tersindir."Iya......" Ia mencomot sebuah risol yang masih hangat.
Tak lama kemudian Jay muncul dengan
motor kreditnya yang baru. Ia tampak terkejut melihat Andrea sudah berada di dalam
rumahnya. "Loe ngapain kesini?!"
"Jay
yang sopan!!" ucap Doni tegas.
"Sorry
Don, loe kayaknya gak usah ikut campur dulu masalah ini. Ini cuma menyangkut
Jay " Andrea beranjak dan keluar dari rumah itu.
"Gue
pengen kepastian dari loe Jay".
"About?"
"Amara,
sepupu gue. Kok loe tega mutusin dia kayak gitu, salah apa dia".
"Dia
gak salah".
"So,
kenapa loe akhiri hubungan loe? loe tahu akibatnya dia, Dia hampir aja bunuh
diri".
"Apa?"
sekarang Jay bener-bener terkejut.
"Loe
seneng kan kalo dia mati"
"Loe
jangan ngomong sembarangan" Jay menatap lekat wajah Andrea.
"Wajah
loe kenapa?" tanya Andrea lagi loe heran dengan luka memar yang terdapat
di sekitar wajah Jay.
"Bukan
urusan loe" ia menutupinya dengan telapak tangan.
"Tell
me Jay, you must believe me"
"No,
idon't want"
"Please....
loe percaya ama gue, gue bakal bantu loe"
Jay mulai becerita panjang lebar
permasalahan yang menimpa dirinya, dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi ke dalam
masalah yang cukup membingungkan ini.
"Ok......thank's
karena loe udah percaya gue".
"Seharusnya
gue yang terima kasih sama loe".
"Kalo
gitu gue balik dulu. Bilang sama ibu terima kasih atas risol dan teh hangatnya “ia
berjalan pergi.
"Salam
buat Doni" ia tersenyum sebelum masuk ke mobilnya.
Jay hanya mengacungkan jempolnya dan
tertawa lepas.
"Jay,
gue udah denger semuanya" Doni sudah berdiri di belakangnya. "Gue
dukung loe"
Jay memeluk Doni ternyata abangnya
sangat menyenangkan dan sepertinya bakal menyimpan rahasianya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar