Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 8



BAB 8               


             Sudah dua bulan semenjak Andrea meninggalkan Swiss dan kembali ke Indonesia. Andrea lebih ceria dan lebih cerewet dari pada biasanya. Ia sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan yang ada, baik kampusnya maupun temen-temennya.
            Ada satu hal yang selalu mengganjal hatinya. Perasaan bimbang dan tak menetu terkadang menyelimuti dirinya.
"Ah.....malem ini gue pengen cari udara seger dulu" ia lalu meraih kunci volvonya diatas meja riasnya.

**************

            Udara malam begitu dingin namun tak sedingin di Swiss. Kota Jakarta tampak indah di kala malam mulai menyelimuti, lalu lintas cukup renggang, deretan gedung bertingkat, lampu-lampu jalan dan gedung-gedung kecil yang berdiri kokoh menambah keindahan kota Jakarta.
            Matanya mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Hari ini resto tersebut cukup penuh dengan pengunjung, semua tempat hampir terisi, hanya beberapa tempat yang kosong. Terpaksa Andrea duduk di tempat yang letaknya agak menjorok ke dalam. Seorang waiter menghampirinya.
"Pesan apa mbak?" tanya waiter tersebut sambil membawa pena dan kertas.
"Seperti biasa aja"
"Ice cream tiga lapis dan roti lapis cream” waiter itu memang sudah mengenali wajah Andrea. jadi dia tidak terlalu kesulitan dalam melayani pengunjung yang satu ini.
            Tak lama kemudian ia muncul sambil membawa pesanan tersebut. Thank’s" ucap Andrea yang disambut senyum waiter yang ramah.
"Aduh, tumben nich resto penuh" seorang pria yang sudah tidak asing lagi duduk di hadapan Andrea yang sedang menikmati lapis demi lapis ice creamnya. Pria itu belum menyadari perempuan yang duduk di depannya, karena Andrea sengaja menutupi wajahnya. "Eh.......makan ko ngumpet-ngumpet gitu sich. Emangnya ada apa?" tanyanya penasaran
"Aduh! Mati dech. Ah cuekin aja " katanya dalam hati dan terus merasakan kenikmatan ice cream tiga lapisnya.
"Eh...........punya mulut nggak?? diajak ngomong malah makin nunduk, malu yah punya muka jelek"
"Eh sial............." ia lalu membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Nggak liat apa gue lagi makan" ucap Andrea sewot dan agak keras sampai-sampai pengunjung  yang ada di resto itu ngelirik ke arahnya.
"Mampus dah gue" Lexi tampak terkejut mendapati Andrea yang sudah berwajah ganas yang seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat."Sorry......gue nggak sengaja. Loe jangan bilang sama om yah."
"Kalo gue bilangin emangnya kenapa?"
"Ntar gue dipecat jadi mantunya"
"Idih............PD banget lo"
"Abisnya anak pak Rafi De Niro cakepnya nggak abis-abis."
"Ngeselin banget........" ia beranjak dari tempatnya.
"Mas..........nanti di bayar sama orang itu"
"Beres dech" ucap waiter itu
Andrea segera membawa volvo-nya jauh-jauh."Tumben, nggak biasanya tuch anak ngocol kaya gitu" tiba-tiba hape-nya berdering.Ia mengambilnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang setir mobil.
"Ada apa?" tanya Andrea sewot
"Sori Dre, gue nggak sengaja kalo ada kata yang nyinggung lo, just kidding ko"
"Udah dech ...........don't call me again oke" ia menurtup pembicaraan. Sadis juga perlakuannya. biarkan saja, ntar juga reda sendiri."Aduh, mau kemana yah......" dia berhenti sejenak. "Oh iya...." dia kembali menancap gas volvo-nya.

                                                                                                   ***********

"Udah dech, jual aja tuch motor, emak rela ko" ucap emak sambil melipat pakaian.
"Sayang mak, ni kan peninggalan bapak" kata Jay, sambil membersihkan motor tersebut dengan kain lap yang telah di basahi.
"Ia nich mak, motor ini kan keramat "
"Emak tau, tapi kalau udah sering mogok mendingankan dijual terus uangnya dibeliin motor lagi yang baruan".
"Emak gak usah khawatir dech. Pokoknya motor ini kagak bakal kita jual. Kebetulan Aye dapet rejeki dari perusahaan yang katenye mo ngasih alat transportasi buat aye, kalo gak pekan ini yach pekan depan yang akan datang".
Emak sedikit lega. “ ya udah sekarang pada ke dalam”Emak membawaember plastik yang berisi pakaian yang baru dilipat.
"Nanggung mak, bentar lagi" kata Jay.
"Biar aye yang bawa dech mak" Doni segera meraih ember plastik hitam dari tangan emak dan masuk ke dalam rumah.
            Sebuah volvo berheti tepat di depan pagar rumah Doni yang terbuat dari patok kayu. Andrea masih memperhatikan rumah Doni dari dalam mobilnya."Eh.....itukan Jay, Lagi ngapain di disini" ia kemudian membuka matanya lebar-lebar. "Ah, perasaan ini bener dech alamatnya." ia membuka buku kecil dari tasnya."Bener kok, ga salah. Tapi ngapain Jay ada disini, ama motor keluaran tahun berapa tuch".
            Jay yang sibuk dengan pekerjaannya tidak memperhatikan mobil yang berhenti di depan rumah. Ia bersiul sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Doni muncul dari dalam "Jay masuk, ntar loe masuk angin aje".
"Nyantai aje.......gue udah minum tolak angin ko".
"Ya udah......"Doni kembali ke dalam. Andrea yang memperhatikan gerak-gerik penghuni rumah itu terlonjak kaget."Itukan Doni.......Jadi........."Andrea terlihat senang. Ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya lalu balik dech ke rumah.

                                                                                                  ***********

"Ra.......kenapa loe, kok loe sedih gitu......"Andrea yang lagi asyik baca buku di perpus kampus confuse ngeliat sepupunya mewek penuh belek.
"Jay......Ndre......Jay".
"Kenapa lagi dengan dia.....Loe kan baru jadian ama dia".
"Iya gue tahu. Tapi dia mutusin gue tanpa sebab" kata Andrea terisak.
"Hey, Please tell me trully, I don't understand what did you say".
"Oh my God, it is not the good place for telling all".
"Ok.....kalo gitu kita pindah atau kita pergi ke mana ke......" ajak Andrea bingung sendiri. ia mengembalikan buku yang baru saja dibacanya itu ke tempat semula.
            Amara berusaha menghapus air matanya. ia berjalan membuntuti Andrea. Matanya sembah dan kelihatan merah.
Andrea mengambil kunci dari dalam ranselnya."Kita kemana?" tanya Andrea yang sudah menghidupkan mesin. " Up to U" jawab Amara, ia hanya memandang keluar.

************

"Jay......." sapa Golek yang baru aja dari toilet dateng menghampiri Jay yang lagi bengong di bangku taman, Ia duduk di sebelahnya.
"Eh, loe Lek, gue kira siapa" Jay berusaha menghidar.
"Kalo dilihat dari nada bicara loe, gue rasa loe lagi berantem sama Amara".
"Sotoy loe" ucap Jay sebenernya, dia tidak ingin masalah privasinya diganggu orang lain.
"Gue gak bisa ditipu, gue kenal ama loe sejak kecil man".
            Jay hanya diam, ia tidak mau berkomentar lebih banyak lagi. "Ke kantin yuk "ajak Jay mengalihkan pembicaraan.
"Tapi loe gak papa kan?!" tanya Golek meyakinkan.
"Siip dech...." ia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, Dian gak sama loe?" tanya Jay lagi.
"Oh....dia lagi kuliah. Paling-paling ntar juga nongol dikantin" ia meraih lengan Jay untuk berdiri.

                                                                                                       *********

"Loe mau pesan apa?" tanya Andrea dengan buku menu yang sudah ada di tangannya.
"Up to u dech. Gue lagi gak modd nich"
"Ok.... biar loe kagak larut dalam kesedihan gue pesenin ice cream 3 lapis........"
"Gak ah.... ntar gue gemuk lagi".
"Katanya up to me," ia meletakkan buku menu tersebut.
"Mbak dua gelas lce cream 3 lapis dan loe mau apa?" ia kembali bertanya pada Amara yang hanya disambut bahu yang diangkat. "Hot dog.....eh sandwichnya 2".
"2 Ice cream 3 lapis dan 2 sandwich" waiter itu  mengulangi pesanan Andrea sambil mencatat dibuku kecilnya. "Ada lagi?"
"Enough dech mbak" Andrea tersenyum, setelah waiter itu pergi, Andrea melanjutkan pembicaraan.
"Nah, sekarang loe bisa cerita ke gue masalah loe, siapa tahu gue bisa bantu".
Amara diam sejenak ia menarik nafas terlebih dahulu sebelum memulai "Jay Ndre.......Jay....."
"Kenapa dengan Jay dia selingkuh?"
 Amara menggelengkan kepalanya. "Dia bukan orang seperti itu.Gue tahu kok"
"Lantas....."
"Dia mutusin gue........ dia bilang hubungan kita sudah berakhir" matanya kembali berkaca-kaca.
Andrea mengerenyitkan dahi "Dia ada alasan mutusin loe".
"Itu makanya. dia ga bilang, yang jelas dia udah mutusin gue. Dan kita..............ga ada hubungan lagi" Amara mulai menetaskan air mata.
"Mbak nich pesanannya" waiter tadi muncul lagi dengan membawa pesanan Andrea.
"Makasih mbak" ucap Andrea.
"Mbak ini lagi putus cinta yach, emang lelaki di dunia sama aja" ia ikut nimbung lalu pergi membawa nampan kosong.
"Dre......rasanya gue pengen bunuh diri aja".
"Ya ampun Ra, pikiran loe udah gak sehat gini sich, loe tuh orang yang berpendidikan pikir secara matang" Andrea terus nasehatinya. "Sekarang makan dulu gih ntar icenya keburu cair" ia mengambil gelas yang berisi 3 lapis ice cream.
            Walaupun lagi illfil, Amara mengambil juga dan memasukkan perlahan-lahan ice cream ke dalam mulutnya. Ia merasa agak tenangan dan merasa sedikit plong meski gak tahu apa yang harus dilakukan.
"Gue bakal bantu hubungan loe. gue pengen tahu sebab kenapa dia mutusin loe."
"Bener yach Re".
"Bener, suer gue janji. Gue bakal selidiki kasus loe, gue gak pengen sepupu gue dicampakkan seperti ini".
"Thank's ya Ndre" menepuk-nepuk pipi Andrea pelan dan menyatap Ice cream 3 lapis dengan lahap plus sandwichnya yang menggoyang lidah.

                                                                                                                        *************

            Malam itu juga,  Andrea berangkat menuju rumah Jay yang tak lain rumah Doni juga, ia ingin sekali mengungkapkan peristiwa yang membuat sepupunya frustasi sekaligus membuka tabir hubungan Doni dan Jay.
"Rumahnya kelihat sepi, ada orang gak yach?" ia lalu melepas safety belt, dan turun dari volvo-nya.
            Rumah Doni memang sederhana namun kebersihannya sangat terjaga, pintunya terbelalak tak dikunci. Doni baru saja pulang dari kuliah tapi keluar sebentar dan lupa menutup pintu sedangkan Emak, lagi ikut pengajian di rumah pak RT.
"Permisi, ada orang didalam?" tanya Andrea, ia memperhatikan setiap jengkal isi rumahnya. "Hallo, ada orang gak?" ia mengulanginya lagi.
"He........mau maling yach!!!" suara dibelakang itu mengejutkannya. Andrea segera membalikkan tubuhnya.
"Do.......ni.......kan" kata Andrea gugup memang semenjak kejadian di kantor papa, Andrea berusah menyembunyikan diri walau terkadang ia mencuri pandang Doni yang lagi sibuk kerja di kantor papanya.
"Kamu?! Ngapain malem-malem kesini?"
"Nggak ko...cuma mau nyari Jay" ia tampak kikuk.
"Jay? Ada urusan apa dengan dia" Doni yang gak tahu apa-apa ingin ikut tenggelam dalam urusan ini.
 "Eh.....ada tamu rupanye. Kok kagak disuruh masuk Don?" Emak tiba-tiba muncul dari belakang. "Maaf yach neng, lama nunggunya?"
"Nggak papa bu" Andrea tersenyum "Saya gak lama-lama kok, Cuma ingin ketemu Jay".
"Masuk aja dulu. Jay belum pulang, bentar lagi juga dia dateng" Emak mempersilahkannya masuk.
"Makasih bu" sudah kepalang basah, akhirnya Andrea mengikuti emak masuk.
"Duduk neng, emak ke dalam bentar. Don, temenin tuh temenya Jay".
"M.....m.... gue udah maafin loe kok" ucap Andrea refleks.
"Makasih dech. Akhirnya aku gak punya utang lagi" Doni tersenyum simpul. "Kamu....."
"Andrea, yach panggil aja gue Andrea jangan formal gitu".
"Iya.....Andrea maksudku, kamu kan putri direktur atasanku kan?"
"M......m.....kenapa? Apa gue gak boleh main kesini".
"Bukan gitu, Cuma ya.......gimana yach....."
"Papa orangnya bebas kok, Jadi gue boleh kemana aja sesuai dengan keinginan gue".
"Tapi kalo papa kamu tahu kalo kamu kesini?......eh maaf kok ngomongnya jadi ngelantur gini" muka Doni memerah,untung aja emak datang membawa teh hangat dan risol goreng.
"Nich....biar badan neng hangat"
"Makasih bu gak usah repot-repot" kata Andrea.
"Gak papa kok mumpung ade?" ucap Emak. "Diminum neng".
"Iya bu" ia meraih cangkir berisi teh hangat itu dan meneguknya.
"Ngomong-ngomong ade ape yach neng......."
"Andrea bu" ucap Andrea sambil meletakkan cangkir tersebut.
"Neng Andrea datang ke sini nyari Jay"
Andrea diam sejenak "Gak ada apa-apa kok bu, cuma ingin berkunjung aja".
"Oh.....kira emak neng kenape-nape. Yach udeh neng emak tinggal dulu. Gosokan banyak maklum kagak ade pembantu" Emak ke belakang.
"Deg" jantung Andrea langsung berdetak. Ia memang gak pernah merasakan kesusahan, makan tinggal makan, pakaian tinggal makai dan masih banyak lain yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri. Ternyata dia baru sadar kalau selama ini orang tuanya menyuruhnya sekolah di Swiss untuk meniliti kemandirian bukan untuk sebuah kemewahan yang gak berarti sama sekali.   
"Ndre.... ngelamunin apa?" Doni menegurnya.
Ia tersentak kaget.
"Ah.....gak kok"
"Dimakan dulu risolnya, Yach beginilah keadaan kami" Andrea kembali merasa tersindir."Iya......" Ia mencomot sebuah risol yang masih hangat.
            Tak lama kemudian Jay muncul dengan motor kreditnya yang baru. Ia tampak terkejut melihat Andrea sudah berada di dalam rumahnya. "Loe ngapain kesini?!"
"Jay yang sopan!!" ucap Doni tegas.
"Sorry Don, loe kayaknya gak usah ikut campur dulu masalah ini. Ini cuma menyangkut Jay " Andrea beranjak dan keluar dari rumah itu.
"Gue pengen kepastian dari loe Jay".
"About?"
"Amara, sepupu gue. Kok loe tega mutusin dia kayak gitu, salah apa dia".
"Dia gak salah".
"So, kenapa loe akhiri hubungan loe? loe tahu akibatnya dia, Dia hampir aja bunuh diri".
"Apa?" sekarang Jay bener-bener terkejut.
"Loe seneng kan kalo dia mati"
"Loe jangan ngomong sembarangan" Jay menatap lekat wajah Andrea.
"Wajah loe kenapa?" tanya Andrea lagi loe heran dengan luka memar yang terdapat di sekitar  wajah Jay.
"Bukan urusan loe" ia menutupinya dengan telapak tangan.
"Tell me Jay, you must believe me"
"No, idon't want"
"Please.... loe percaya ama gue, gue bakal bantu loe" 
            Jay mulai becerita panjang lebar permasalahan yang menimpa dirinya, dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi ke dalam masalah yang cukup membingungkan ini.
"Ok......thank's karena loe udah percaya gue".
"Seharusnya gue yang terima kasih sama loe".
"Kalo gitu gue balik dulu. Bilang sama ibu terima kasih atas risol dan teh hangatnya “ia berjalan pergi.
"Salam buat Doni" ia tersenyum sebelum masuk ke mobilnya.
            Jay hanya mengacungkan jempolnya dan tertawa lepas.
"Jay, gue udah denger semuanya" Doni sudah berdiri di belakangnya. "Gue dukung loe"
            Jay memeluk Doni ternyata abangnya sangat menyenangkan dan sepertinya bakal menyimpan rahasianya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar