Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 15



Bab 15   

" Loe udah yakin mau pergi diner malam ini ? " Tanya Amara sambil memakan apel merah yang masih terlihat segar.
" M …. M …. Ya gitu dech " kata Andrea, ia mencoba mencocokkan gaun malam yang akan dipakainya nanti.
" Mau gimana lagi coba, gue sudah janji untuk datang. Gue juga gak enak menolak ajakannya " kemudian dia duduk di samping Amara yang lagi membaca sebuah majalah remaja. " Menurut loe …. Apa sekarang gue bilang ke dia kalo gue ….. "
" Eit ….. jangan dulu " ucap Amara buru-buru. " Loe jangan bilang apa-apa ke dia. "
" Lantas, gimana dong seharusnya ? "
" M …. M …. " Amara berusaha memeras otaknya.
“Kalo dia " K T C " lagi gimana nich gue mesti jawabnya ?”Andrea gelisah
" Udah gini aja. Menurut majalah-majalah yang udah pernah gue baca, jawaban itu memerlukan waktu yang gak cepat. Yach loe minta waktu seminggu kek atau apa ? "
" Masalahnya gak semudah yang loe kira. Dia tuh udah dari dulu ngebet sama gue dan perlu ketahui nich ….. " dia membisikkan sesuatu ke telinga Amara.
" What …. Gila loh "
" Makanya gue jadi pusing sendiri nich "
" Tok …. Tok " bi DDarsih muncul. " Non, ada tamu "
" Ya ….. dia datang. Pake yang mana nich "
" Udah pake yang itu aja yang merah "
" Ah …. Terlalu mencolok buat gue "
" Ya udah yang item "
" Ini terlalu gelap "
" Aduh …. Terserah dech loe mau yang mana "
Amara jadi sewot sendiri.
Andrea mengambil gaun malam yang berwarna biru agak gelap. " Sebentar bi, bilang sama dia, Rea lima menit lagi turun "
" Baik non " bi Darsih hanya tersenyum kemudian meninggalkan kamar.
Di ruang tamu, Jack tampak rapi dengan stelan tuxedo dan ia terlihat jauh berbeda dengan penampilan sehari-harinya.
" Maaf den, non Andreanya turun lima menit lagi. Diminum dulu tehnya "
" Iya bi makasih " ucap Jack ramah. Ia mengambil cangkir yang berisi teh hangat.
Lima menit kemudian Andrea muncul. " Udah lama nunggunya " Jack melongo terpesona melihat penampilan Andrea. " Hey …. "
" Eh …. Nggak kok. Wow kamu cantik sekali malam ini. "
" Malam ini doang "
" Nggak-nggak, yang dulu-dulu juga cantik hanya saja malam ini kamu agak berbeda " ucap Jack kagum.
" Loe juga tambah keren aja " puji Andrea. Jack tersipu “Bisa aja kamu mujinya”
" Kita berangkat sekarang ?! " Tanya Andrea.
" Oh …. Iya kita berangkat " ia beranjak dari sofa.
" Ting-tong " suara bel rumah berbunyi. Bi Darsih segera membuka pintu.
Lexi berdiri dengan pakaian yang tak kalah rapinya. Tangan kanannya ditekuk kebelakang seperti memgang sesuatu yang disembunyikan.
" Siapa bi ? " tanya Andrea.
Pintu terbuka lebar. Jack berdiri tepat dibelakang Andrea. Lexi sedikit terkejut melihat wajah Jack. Andrea pun tak kalah terkejutnya. " Mampus gue, kenapa bisa kayak gini " pikirnya gelisah.
" Kalian mau pergi ?! " tanya Lexi yang dijawab dengan anggukan Andrea. " Ya sudah silahkan . " ucap Lexi yang agak kecewa namun ia berusaha menutupi perasaan kecewanya dengan senyuman.
Jack merangkul lengan Andrea dan mengajak pergi. Andrea cuma menatap pasrah. Ia jadi serba salah dengan keputusan malam ini. Padahal masih banyak yang harus dilaluinya.
Sementara Lexi memandang kepergian mereka dengan hati yang berkeping-keping. Ia sudah terlanjur kecewa.
" Bi …. Nich buat bibi " ucap Lexi memberikan mawar putih yang sedari tadi digenggamnya. Kemudian ia kembali ke mobilnya dan pergi begitu saja tanpa menyisakan kata-kata.

                                    #             #             #  

" Ndre …. Kok dari tadi kamu diam aja ?! " tanya Jack yang memperhatikan Andrea termenung. " Apa saya ada salah dengan kamu ?! "
Andrea menggeleng " Nggak kok, loe nggak ada salah " ia menyeruput jus alpukatnya.
" Nich makanannya udah datang, kita makan yuk " ajak Jack mencoba mengurai kegelisahan yang terjadi pada Andrea.
Andrea tersenyum, ia mengambil garpu dan pisau lalu memotong stick yang masih hangat dan memakannya tanpa penuh gairah.
Suasana restorant tersebut sangat romantis. Alunan nada sangat menyentuh hati pasangan muda-mudi dan tetua yang merajut kasih mengenang masa-masa indah.
Andrea masih tetap termenung. Tak biasanya ia menjadi pendiam seperti ini. Perasaan serba salah selalu mengikutinya dan menghantui pikirannya.
" Sepertinya kamu kurang sehat malam ini. Sebaiknya kita pulang " kata Jack.
" Eh …. Gak usah. Kita disini aja dulu . "                                   
" Saya lihat kamu dari tadi melamun terus. Kalo kamu memang ingin pulang sekarang, kita pulang sekarang "
" Gak kok gue gak pa-pa "
" Yach ….. kali aja kamu ….. "
" Suer gue gak kenapa-napa. Gue cuma terenyuh dengan musik ini kok " ucap Andrea bohong.
" Ooh …. "
Andrea kembali tersenyum. Mungkinkah semua ini dapat ditempuhnya? Hanya waktu yang akan berbicara.

                                  #             #             #  

Hari ini Doni akan pergi kekantor. Ia ingin minta cuti selama satu pekan untuk menghadapi U A S ( Ujian Akhir Semester ). Ia yakin bahwa pak direktur berada disana walaupun hari ini libur.
" Maaf pak, menganggu " ucap Doni membuka pintu ruang kerja papa.
Kebetulan papa lagi ada disana bersama mama dan Andrea. Papa tersenyum dan mempersilahkan masuk.
" Ada keperluan apa yach Don ? Tumben-tumbennya kamu masuk hari ini "
" Saya minta cuti pak "
Papa mengernyitkan dahi " Buat apa ? "
" Saya akan mengikuti U A S "
" Ooo …. " papa mengangguk-angguk. " Berapa hari ? "
" Kalo bisa satu minggu pak . "
" Satu minggu ?! " papa berfikir sejenak.
“Ya pa, memang ujian akhir semester itu lamanya satu pekan“ Andrea menambahkan. “Papa kayak gak pernah kuliah aja”
“Tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu?!”
“Saya akan menyelesaikan semuanya setelah U A S ini. Dan saya segera menyerahkannya ke bapak”
" Baik kalo begitu, semoga sukses "
" Terima kasih pak ? " Doni mengundurkan diri dari ruangan itu. Sebelum keluar ruangan ia menoleh ke Andrea lalu tersenyum.
Andrea pun tersenyum. Baru kali ini dia melihat Doni memberikan senyuman sejak Andrea salah sangka terhadapnya. Papa benar, dia orang baik-baik dan gak salahnya kalo Andrea memang ……
" Re …. Jadi gak kita beli hadiah ?! " tanya mama mengejutkan lamunannya.
" Eh …. Iya ma, jadi. Papa ikutkan dengan kita ?! "
" Sepertinya papa masih sibuk dech. Papa harus periksa dokumen-dokumen ini " ujar papa menunjuk tumpukan dokumen yang masih dibiarkan tergeletak di atas meja.
" Yach …. Papa sekali-kali kek jalan bareng " kata Andrea kecewa.
" Sudah nggak pa-pa kok. Kamu sama mama aja yang berangkat. " bujuk mama.
" Tapikan sekali-kali kita pergi sekeluarga pergi "
" Lain kali aja, ya Re. Papa janji dech. Papa sebenarnya juga lagi ngurusin buat pernikahan David. Paman dan tante mu masih ada urusan di Australia. Besok mereka akan berangkat ke Amrik. Otomatis dech papa yang ngurus segalanya. Oh iya kamu sudah kan membuat kartu undangan pernikahan ? "
" Itu sich udah, tapi siapa-siapanya yang mau diundang Rea belum tahu "
" Ya sudah kalo begitu, biar mama yang bantu " sambung mama. " Kita undang keluarga dekat kita aja. Nggak usah ramai-ramai "
" Iya Rea tahu, soalnya David juga bilang pestanya gak usah meriah, sederhana aja . "
" Kita berangkat yuk Re, nanti keburu siang " Ajak mama sambil beranjak dari kursi dan memgambil tas kulitnya.
" Papa bener nggak ikut ?! " tanyanya lagi.
Papa menggeleng " Lain kali, papa janji. Nanti kita pergi sama-sama”

                                     #             #             #  

Doni sampai di rumah menjelang siang hari. Ia agak terkejut dengan kedatangan Lexi yang tiba-tiba. " Lex, ada perlu apa ya ? " tanyanya.
" Don, gue perlu bicara sama loe. Penting !! " ucapnya tertekan. " Gue gak ganggu loe kan ?! "
" Nggak kok "
" Tapi jangan disini "
" Kenapa ?! "
" Ini masalah penting buat gue "
" Jadi ….. "
" Ya sudah kita pergi dari sini aja. Ke tempat biasa "
" Ok  dech tapi saya mau pamit dulu sama emak. Saya takut emak mencari saya "
" Cepat ya Don, gue tunggu " ucapnya memohon.
Mereka pergi ke resto tempat yang biasa mereka kunjungi.
" Coba ceritakan apa yang ingin kamu utarakan kepada saya "ucap Doni bijak.
" Don …. gue percaya kok sama loe. Gue yakin loe bisa nyimpen rahasia gue. Gini Don, semalam gue benar-benar dikecewain sama Andrea ? "
" Maksud kamu ? "
" Dia pergi sama cowok lain ? "
" Teman kuliahnya di luar negeri ?! "
" Ya ….. itu dia "
" M …. M…. mungkin kamu aja kali yang salah "
" Salah gimana ? "
" Ya ….. mungkin kamu belum janjian dulu sama dia . "
" Bisa jadi. Emang, waktu itu gue langsung ke rumah dia tanpa mengabarinya. Coba loe kasih tau gue "
" Sayakan hanya ngasih saran saja ke kamu, Andrea sepertinya bukan tipe wanita yang gampang mengingkari janjinya. Bisa dilihat kok "
" Wow, ternyata loe hebat juga yach soal cewek. Kayaknya gue harus belajar banyak dech dari loe. Gue tuh orang nya kaku sama perempuan. "
" Ah nggak juga. Sebenarnya sayapun memiliki sifat yang sama dengan kamu . "
" Loe terlalu merendahkan diri . "
" Oh yach, jadi gimana sekarang perasaan kamu terhadap dia " ia memutar pembicaraan.
Lexi menghembuskan napasnya perlahan. " Gue masih kecewa sama dia . "
" Itu berarti cemburu " padahal Doni merasakan hal yang sama seperti apa yang dialami Lexi. Seandainya saja Lexi tahu, kalo Doni itu sayang sama Andrea dan dia berbicara mengenai Andrea dihadapannya, mungkin Lexi tak akan setegar Doni jika menjadi dirinya.
" Segitu kah "
" Ya …. Cemburu itu artinya sayang dan orang lain gak boleh memiliki …. Tapi gak juga karena menurut orang bijak yang pernah saya dengar kalau cinta itu tidak harus saling memiliki "
" Don ….. gue salut sama loe. M …. M …. Loe punya solusi gak buat gue ?! "
" Solusi tentang apa ? "
" Ya …. Gimana gue bisa menarik perhatian darinya atau gue bisa bikin dia senang "
" Apa selama ini kamu pernah melakukan hal yang membuatnya senang "
" Maksud loe ? " tanya Lexi bingung.
" Ya misalnya kamu ajak dia kemana ? Trus kamu buat sesuatu yang special buat dia atau apa yang jelas dia tersenyum sama kamu setiap saat "
Doni menyeruput orange juicenya yang dari tadi diabaikan.
" Gue rasa belum "
" Kalo gitu, kamu harus coba. Karena sesuatu itu harus dicoba. Saya cuma bisa beri pendapat ini itu sama kamu. Selanjutnya itu semua tergantung dengan niat kamu. Usaha kamu ya hasilnya kamu juga kan yang terima " ucapnya bijak. Kenapa dia bisa menasehati orang lain dan memberikan dorongan kepadanya sementara dirinya merasakan kehampaan bagai terpisah diri ruang dan waktu. Amat menyakitkan dan memilukan.
" Makasih Don, loe udah beri gue semangat. Gue akan coba untuk mengikuti saran yang loe berikan. gue mesti bersaing dengan pria itu. "
" Saya senang sekarang kamu tampak lebih fresh.  Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat. Jangan pernah kamu memaksakan kehendaknya. Jika dia sudah menjatuhkan pikirannya pada siapapun. Kamu harus menerima dengan ikhlas. Karena cinta itu ….. "
" Tidak harus saling memiliki " Lexi tersenyum lebar, ia merangkul bahu Doni. Seluruh gundah gulana yang menyiksa batinnya telah berangsur-angsur hilang.
Doni ikut tersenyum, senyum penuh luka. Dia pun juga hanya bisa pasrah dan menyerahkannya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Segala sesuatu datang dan kembali kepada – Nya .
" M m …. M m …. Kalo loe sendiri gimana sama cewek loe ….. oh yach kalo boleh tahu siapa sich cewek yang loe taksir. Pasti cantikkan ? kenalin dong sama gue "
Doni hanya terbelalak, ia terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Lexi. Denyut jantungnya terasa berhenti darah seakan tidak mengalir.
" Gue …. Belum punya kok " jawabnya bohong. Padahal orang yang selama ini berada di dalam hatinya adalah Andrea. Perempuan yang sahabatnya sendiripun juga mencintainya. Cinta memang tidak harus saling memiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar