BAB 14
Andrea
tampak bahagia sekali. Ia lebih banyak tersenyum kepada siapa saja. Papa dan
mamanya pun heran melihat tingkah putri semata wayangnya itu. Jangankan kedua
ortunya, teman satu kampusnya pun dibuat geleng kepala. Apa Andrea sudah gila?
“
Hay Ra ..... tumben lo dateng ! “ tegur Andrea.
“
Jadi gak boleh nich gue kesini ! ya udah gue balik “ Amara tutup pintu
kamarnya.
“
Eh .... “ Andrea berlari menghampirinya.
“
Wah ..... “ Amara mengejutkan dari balik pintu.
“
Sial loe ..... hampir jantung gue copot. Untung gue gak punya penyakit jantung
kalo kagak gue udah caw ke akherat “ Andrea tampak sewot. Moodnya dah berubah.
“
Sorry dech .... my cousin. Please forgive me!! “ Amara berusaha merayu
sepupunya itu dengan seribu satu rayuan pulau kelapa.
“
Gak papa kok. Gue lagi happy “ Andrea tersenyum.
“
Nich anak kenapa ? Eh loe kena sindrom apa sampe kayak gitu .... kayaknya loe
mesti cerita ke gue dech “ Ia menarik lengan Andrea. Mereka duduk di atas
kasur. Amara sendiri sudah siap menerima seluruh cerita yang akan keluar dari
mulut Andrea, Sepupu yang paling akrab.
“
Ayo .... cepet loe cerita ke gue !! “ desak Amara.
“
Gimana yach “ Andrea masih senyum-senyum sendiri.
Matanya
menarawang ke langit-langit. Pokoknya ngeselin tampangnya.
“Cepet
donks cerita ke gue!! “
“
Aduh .... kalo gue cerita loe pasti bakal ngetawain gue, trus ngejek gue,
ngeledek gue trus .... “
“Stop
.... stop gue janji dech gak bakal seperti itu suer “ kata Amara menyakinkan
sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.
“
M .... m Ok dech . “ Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya
perlahan. Ia mulai menceritakan apa yang dialaminya dari A sampai Z.
“
Wah ..... enak dong kalo gitu “ Amara terperangah memotong cerita Andrea.
“
Yach .... loe enak ngomong kayak gitu . Gue pusing nich“ Andrea kembali murung.
Amara
tersenyum. “Sekarang loe ikut gue “
“Kemana
? “
“Udah
pokoknya ikut gue “ Ia beranjak dari kasur.
Amara
berjalan keluar dari kamar diikuti Andrea yang kebingungan.
“Kita
mau kemana ? “
“Udah
naik . “ Ia sudah duduk didalam mobil dan sedang memakai safety beltnya.
“Tapi
baju gue ..... “
“Ya
udah gue tunggu loe lima menit “
“
Lima menit ?! “
“Ya
udah gue kasih bonus dua menit . “
“Tujuh
menit dong “
“Tunggu
apalagi, buruan ini masalah serius buat loe “
Tanpa
basa-basi lagi Andrea masuk kembali ke rumah untuk mengganti pakaiannya. Tujuh
menit kurang tujuh detik Andrea sudah berpakaian rapi. Tanktop dan blue jeans
yang super ketat merekat pada tubuhnya yang mungil.
“
Yap gue siap “ kata Andrea yan sudah masang safety beltnya.
“
Ok dech, let’s go” kini giliran Amara yang berunjuk gigi dalam mengendarai
mobil. Ia menancap gas dan meninggalkan kediaman Andrea and the family.
# #
"
Don …. Gue pengen ngomong nich sama loe " Jay menghampiri Doni yang lagi
duduk didepan komputer yang baru dibelinya kemarin.
"
Iya …. Mau ngomong apa? " tanyanya tanpa menoleh ke arah Jay. Ia masih
memperhatikan tulisan-tulisan yang ada dilayar komputernya.
"
Akhir-akhir ini loe ngerasa ada sesuatu yang berbeda nggak ?! "
"
Nggak tuh, semuanya kayaknya normal-normal aja. Emangnya kenapa sich "
Doni kini memperhatikan Jay dan menatapnya dalam.
"
Tentang Re "
"
Re ?! Re siapa ?! " kening Doni mengkerut.
"
Andrea "
"
Stop …. Jangan sebut nama itu lagi ." Ia mengalihkan perhatiannya dan
kembali memainkan tuts-tuts keyboard taanpa mempedulikan Jay.
"
Don …. ini gue serius . Gue tau loe tuh cinta banget sama dia. Gue pernah
denger kalo loe ….. "
Doni
menghentikan aktifitasnya. Ia terdiam mendengar kata-kata itu.
"
Kalo loe emang sayang sama dia, loe harus katakan sama dia langsung. Jangan ditunda”
Doni
gak bisa berkata apa-apa " Loe gak tau Jay, kalo loe ngalamin hal ini, loe
pasti …. "
"
Don …., gue bisa bantu loe. Loe cerita ke gue. Gue tau loe emang benar-benar
gak bisa ninggalin dia gitu aja. Yang perlu loe ketahui Don ….. dia tuh juga
sayang sama loe. Buat apa dia tempo hari nanya-nanya tentang loe ke emak, buat
apa dia repot-repot kesini. Gue tuh bisa liat dari pandangan matanya ketika dia
menatap loe . ada pancaran kasih sayang yang tersembunyi didalamnya. "
"
Tapi Jay ….. loe bisa liat sendiri keadaan kita gimana. Ada satu hal yang perlu
diketahui sama loe "
"
Don …. cinta gak mandang harta, tahta atau pangkat. Loe mau jadi gembel kek,
dia putri raja, kalo namanya sudah saling cinta mau diapain lagi. Tuhan saja
bisa berlaku adil kenapa manusia nggak ? "
"
Gue bisa terima alasan loe yang satu ini. Tapi ada satu hal lagi yang
mengganjal hati gue . "
"
Ya udah ….. , loe cerita aja ke gue. Siapa tau gue bisa bantu loe dan kita cari
solusinya sama-sama "
"
Loe kenal Lexi ? "
"
Yap …. Yang sering kesini kan !! "
"
Nah itu dia masalahnya "
"
Ooo ….. jadi dia penyebabnya . "
"
Tunggu dulu dong belum selesai udah nyerocos aja . "
"
Iya dech sorry " kata Amara memelas.
"
Lexi tuh orangnya baik, dia sama gue terbuka banget. Gue udah dianggap teman
curhatnya "
"
Lantas, masalahnya apa ? " tanya Amara
"
Dia juga suka sama cewek yang juga gue suka "
“Saingan
aja” celetuk Jay
“Saingan
gimana ? Gue tuh gak enak dengan dia. Kalo gue jadian sama Andrea berarti gue
udah mengkhianati persahabatan ini. Lagipula Lexi tuh orangnya serba lebih dari
gue. Pintar, mandiri, tampangnya juga jauh dari gue dan kaya”
“Loe
jangan pesimis gitu dong”
“Bukannya
gue pesimis, gue tuh gak ada apa-apanya dibanding dia terus belum tentu Andrea
juga suka sama gue”
“Jadi
loe mau nyerah gitu aja, sementara orang lain bergembira diatas penderitaan
loe, gitu!!”
Doni
hanya mengangkat bahu, ia sudah pasrah menghadapi kenyataan. Dia ikhlas kok
Andrea jadi pedamping hidup Lexi. Cukup melihat Andrea tersenyum bahagia, dia
pun merasa bahagia.
“Kalo
gitu percuma dong, gue bantu loe.”
“Bantu
…… loe ngelantur atau ngigo . kapan loe pernah bantuin gue" Doni hanya
tersenyum . “Sudahlah gak usah kita bahas lagi”
"
Loe kenal Ambarwati kan ?! "
"
Apa urusannya dengan dia ?! "
"
Gini, malam itu ….. " Jay mulai menceritakan semua yang bersangkut paut
dengan masalah yang selama ini masih menjadi sebuah misteri.
Doni
mecoba menjadi pendengar yang baik. Ia menyimak dengan seksama apa yang
dituturkan adiknya itu.
"
Jadi ….. " Potong Doni ketika ia mulai memahami kata-kata yang mengalir
begitu saja kedalam otaknya serta merangkai kata-kata tersebut sehingga dapat
jelas terurai jadi satu membentuk sebuah jawaban yang selama ini dicarinya.
“Yah
….. tunggu apa lagi sekarang !!” Jay tersenyum mungkin usaha kerasnya ini tak
kan sia-sia dan akan menghasilkan buah yang manis bagi dirinya tentunya kakak
tercinta juga.
"
Emak denger dari tadi kalian ngomongin soal cinte. Siape yang jatuh cinte nich “Emak
muncul dari luar sambil membawa nampan berisi dua gelas teh dan sepiring combro
yang masih hangat.
“Eh
….. Emak” Doni agak terkejut dengan kehadiran emak yang tiba-tiba seperti itu.
“Ini
mak, Doni lagi jatuh cinte. Udah lama sebenernye cume dipendem aje di ati”
Doni
melotot tajam ke arah Jay, namun Jay hanya cekikikan menahan tawa meihat
tampang Doni yang udah kayak orang bloon di pasar.
# # #
“Kok
kita kesini?” tanya Andrea heran, ketika mobil yang dikendarai mereka berhenti
di depan resto yang biasa di kunjunginya.
“Udah
ikut aja dulu” Amara melepas safety beltnya dan turun dari mobil begitu pula
Andrea yang kelihatan masih ragu dengan keinginan sepupunya itu.
Mereka
memasuki resto tersebut kemudian duduk di tempat yang masih tampak kosong. “Mbak!!”
panggil Amara kepada salah seorang waitress yang sedang bertugas.
“Ice
cream 3 lapisnya dua yach!!”
“Ada
lagi yang lain?!”
“Kayaknya
itu dulu dech” jawab Amara.
"
Loe ngapain ngajak gue kesini, gak nyambung banget tau gak "
"
Loe pusing kan ?! " Andrea hanya mengangguk kepala. " Dulu loe juga
pernah ngajak gue kesini. Loe ingetkan? " sambung Amara lagi.
"
Iya …. Tapikan suasananya beda. Loe pusing gara-gara diputusin sedangkan gue
….. "
"
Ok ….. tunggu sebentar lagi. Loe bakal tau jawabannya "
Andrea
semakin penasaran dengan apa yang akan dilakukan Amara terhadap dirinya. Hanya menikmati
ice cream 3 lapis. Anak kecil juga bisa melakukannya kenapa mesti dia dan
kenapa mesti ice cream 3 lapis.
"
Nah …. Pesanan sudah datang " Amara terlihat gembira.
"
Makasih mbak " ucapnya ramah kepada waitress itu.
"
Nih …. Satu buat loe dan satu lagi buat gue " Amara memberikan ice cream 3
lapis pada Andrea, Amara langsung melahap bagian miliknya. " Eh ….. loe
jangan makan dulu punya loe " cegah Amara ketika Andrea hendak menikmati
ice cream 3 lapis bagiannya.
"
Loh kok gak boleh. Kenapa loe kasih gue kalo gue gak boleh makan nich ice
" Andrea protes.
"
Buat loe mikir "
"
Mikir ….. ??? " Andrea tampak bingung dan tidak mengerti sama sekali.
"
Nich ada berapa warna ice creamnya ? "
"
Ngapain loe ngasih pertanyaan anak kecil ke gue "
"
Udah jawab aja, jangan banyak protes
" Amara memandangnya tajam. Gak nyangka sepupunya itu bisa galak juga.
Serem oi!!
" Tiga "
"
Apa aja rasanya ?! " tanyanya lagi
"
Idih ….. masa gitu aja pake …. " Andrea tidak meneruskan kata-katanya. Ia
ngeri melihat mata Amara yang melotot kayak ikan betok. “Coklat, strawbery, dan
vanilla”
"
Ok …. Sekarang loe mesti jawab pertanyaan gue ?! "
"
Dari tadi emangnya gue nggak …. " kembali kata-katanya terputus. "
Iya gue bakal jawab "
"
Sekarang loe lagi deket sama tiga cowokkan ?! "
Andrea
mengangguk perlahan. Emang sich akhir-akhir ini ia selalu dibayang-bayangi tiga
cowok yang berbeda karakter namun semuanya sangat menyenangkan.
"
Gini ….. rasa strawberry loe anggap Jack yach kira-kira gitu dech. Strawberry
kan buah dari luar negeri, Jackkan rada bule itung-itung dari negeri orang dah.
Kemudian rasa vanila loe anggap aja m … m ….. Lexi. Yach karena orang susah
ditebak, kadang gini kadang gitu. Dan rasa coklat ini loe anggap aja Doni. Yach
…. itung-itung orang Indonesia lah kulitnya coklat "
"
Idih gak nyambung banget "
"
Ea …. Belum selesai nich gue ngomong . "
"
Ya udah terusin . "
"
Nah perumpaannya tuh ada semua walaupun rada melenceng "
"
Banget " sela Andrea dengan memasang tampang bete.
"
Sekarang …. "
"
Sekarang-sekarang kapan dimakannya, ntar keburu cair gimana ? "
"
Loe protes mulu sich, Ntar kalo cair kita pesen lagi. Gue yang traktir "
"
Time is money girl "
"
I know that, ok to the point aja . "
"
Ya udah dari tadi kek . "
"
Loe nikmati nich ice cream sambil loe ngebayangin ketiga cowok itu. Misalnya
loe coba rasa vanila, nah pas nikmatin loe ngebayangin wajah Lexi, apa aja yang
udah dilakuin ke loe, perhatiannya gimana, sifatnya gimana dan seterusnya
begitu pula dengan rasa strawbery dan coklat "
Andrea
hanya bengong memperhatikan Amara sibuk dan ngoceh sendiri. Matanya nggak berkedip.
“Hallo,
loe denger gue gak?!” tanya Amara yang dijawab dengan anggukan. Amara tersenyum
“Jadi loe udah paham kan?!”
Andrea
hanya menggelengkan kepala. " Waduh …. Dari tadi gue ngomong nich anak
loading banget " ucapnya sambil memukul kepalanya sendiri. Suatu usaha
perlu kesabaran, barang siapa bersabar mendapatlah ia. Tapi kan sabar itu ada
batasnya, yach kalo gitu ikhlas aja dengan apa yang akan terjadi. Kalo gak mau
ikhlas maka berusaha dong. Ayo Amara loe mesti berusaha , gue dukung loh !!
# # #
Malam
semakin larut, langit tampak mendung tanpa dihiasi bintang, sang rembulan
berselimut awan tebal . Udara terasa dingin dan menusuk pori-pori kulit.
Aktifitas malam pun tampak renggang hanya sayup-sayup terdengar suara jangkrik
dan sautan katak yang silih berganti memainkan konser alam.
Di
sudut kamar yang tidak terlalu luas, Doni belum dapet memejamkan matanya.
Pikiran menerawang menyisakan kenangan manis yang tak terlupakan.
"
Ya Tuhan, jika engkau berkehendak menyatukan kami, apa daya ku untuk menolaknya
dan jika engkau pun berkehendak memisahkan diriku dengannya, akupun tak kuasa
menentangnya, aku akan menerimanya dengan ketulusan karena kutahu bahwa cinta
tak harus memiliki dan tak ada yang paling kucintai selain diri-mu, " tak
terasa butiran bening mengalir melalui sudut matanya. Tangisan dalam diam, yang
mungkin bagi sebagian manusia amat menyiksa hati nurani. Hanya Tuhan yang
berkehendak menentukan segala-galanya, hanya Tuhan yang tahu apa yang tidak
diketahui hamba-hamba-Nya dan hanya kepada Tuhanlah kita berserah diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar