BAB
11
Andrea merasa sangat dipermalukan
dihadapan cowok-cowok di rumah sakit. Dia kecewa, papa mengganggapnya
masih anak kecil yang harus dimanjakan. Padahal dia juga bisa jadi orang dewasa
dan perlu tahu akan hal itu.
“
Saya tahu kalo kamu bakal ke sini ” seorang pria duduk di hadapannya.
Andrea
segera menghapus air matanya. “Ngapain loe kesini mau pamer sama gue. Kalo itu
mau loe, loe memang menang tapi yang jelas gue harap loe pergi dari sini atau
gue yang bakal pergi ”.
“Re,
kamu kok bicara seperti itu. Aku datang ke sini bukan untuk pamer atau apa. Aku
datang untuk kamu.”
Andrea
terdiam. “ Pasti papa yang nyuruh loe jemput gue. Bilang ke papa kalo gue udah
gede bukan anak kecil lagi gak” ia memalingkan wajahnya, memandang keluar
jendela.
“Believe
me or not yang jelas aku kesini karena aku bukan Oom atau yang lain” Sorot
matanya tampak jelas dan menyakinkan kalau itu semua jujur dari dalam hatinya.
“Terserah
loe mau ngomong apa yang jelas gue gak mau diganggu titik” dia beranjak
meninggalkan mejanya. Namun lengannya ditarik sehingga ia kembali terduduk di
kursi. “Ngapain sich loe, lepasin gak ” tatapnya kasar. Andrea semakin meledak
amarahnya. “ Kalo loe gak lepasin tangan gue, gue bakal….” Namun belum sempat
meneruskan kata-katanya, bibirnya terkatup telenjuk cowok rese itu.
“Aku
harap kamu bisa tenang dan berpikir jernih masalah tadi siang lupakan saja. Toh
tidak ada gunanya kita mengungkit-ungkit masalah yang membuat kita sakit hati” katanya
bijak sambil melepaskan cengkramannya.
Andrea
terdiam sesaat. Tubuhnya tampak rileks dan hatinya terasa nyaman setelah
mendengar ucapan itu. “ Kenapa loe mau repot ngurusin gue? “ tanyanya pelan.
Dia
tertawa kecil “Aku sebenarnya sudah lama ingin mengungkapkan hal ini mungkin
ini waktu yang tepat untuk mengatakannya.” tatapan Lexi sungguh tajam dan
menusuk.
“Gue
gak suka cowok yang berbelit-belit” ucapnya mencoba untuk kembali menahan
emosinya.
“Ok
.... aku sayang kamu dan aku berjanji akan melindungi kamu sampai kapanpun.”
Andrea
terkejut “Lex .... gue rasa loe salah orang” Lexi kembali tersenyum dan tampak
manis sekali.
“Nggak
kok, aku memang tulus menyayangi kamu. Mungkin kamu tidak menyadarinya. Tapi
ini jujur dalam hatiku.“
“Tapi
Lex ..... Please “
“Mungkin
kamu gak pernah menyukaiku. Aku bisa terima itu. Yang jelas aku sudah merasa
lega karena isi hatiku sudah kuungkapkan semua “Lexi berdiri dan mengecup
kening Andrea lalu pergi begitu saja tanpa ucapan perpisahan atau sepatah
katapun.
Andrea
seperti terhipnotis ia tidak mengerti dengan semua ini. Cowok yang dianggapnya
sangat menjengkelkan ternyata sangat mencintainya dan sekarang ia dalam keadaan
serba sulit. Ia tidak pernah mencintai seorang pria pun kecuali Doni, namun
Doni tak pernah menyadari hal itu. Donilah yang telah membuatnya merasa takut
untuk mencintai orang lain.
Di
lain sisi ada Jack yang akhir-akhir ini membuatnya merasa nyaman dan tenang.
Kegembiraan selalu menghiasi kehidupannya walaupun Jack baru saja bertemu dan
dia tidak ingin semua itu buyar.
“
Maaf mbak “ seorang waitress menghampirinya.
“
H .... m..... m, ya.......”
“Tadi
bapak itu “
“
Oh .....ya .....ya .....” Andrea langsung menerimanya.
“Makasih
mbak” ucap Andrea lagi.
Ice
cream tiga lapis berbentuk hati!! Andrea kembali terdiam sesaat. Lalu tersenyum
sendiri.
# #
Di
kamar, Doni tidak memejamkan mata. Pikirannya selalu tertuju pada perkataan
Lexi siang tadi. Hatinya gelisah dan bimbang.
“Gak
..... gue harus ngelupain dia ” batinnya berkata.
“Tapi
gue gak bisa” ia kemudian beranjak dari kasurnya. “ Ya Tuhan, aku harus
bagaimana? ” ia berjalan keluar dan duduk diteras depan memandangi langit gelap
tanpa bintang yang biasanya bertebaran menghiasinya.
Malam
itu cukup dingin. Angin bertiup pun cukup kencang. Doni hanya bisa menghela
napas panjang. Ia bertekad untuk melupakan Andrea dalam kehidupannya.
“
Re .... gue sebenarnya cinta sama loe. Tapi gue sadar siapa gue. Gue sama
sekali gak pantes buat loe. Loe pantas bersanding dengan orang yang sederajat
dengan loe. Walaupun loe gak menyukai gue, gue tetep sayang ama loe sampai
kapanpun” tanpa terasa Doni meneteskan air mata.
Jay
yang tak sengaja mendengarnya merasa bersalah telah menduga-duga abangnya
dengan tuduhan yang tidak mendasar. Ia ingin segera meminta maaf padanya, namun
ia juga tidak ingin mengganggu abangnya yang sudah terlelap terbuai dalam
mimpi.
# #
“
Wow .... fantastic man. You tampak beautiful hari ini, girly sekali” Jack
menyambut kedatangan Andrea dengan antusias.
“Thank’s
.... by the way, tumben loe memuji gue. Pasti ada maunya” Andrea menebak
“Yes,
you’re right “
“Gua
gak mau” Andrea berusaha menghindar.
“Please
.... gue hanya mau mentraktir you, gak yang lain “
“Lunch?”
Andrea mengernyitkan dahinya.
“Of
course, you mau kan?”
“Mau
.... gimana yach” Andrea berpikir sambil memegang pipi dengan telunjuk.
“Ayo
dong mau!!” bujuk Jack. Kelakuannya seperti anak kecil yang merayu ibunya untuk
dibelikan sesuatu
“Oh
my God, bisa telat nich gue” Andrea terkejut. Ketika melihat jarum yang berada
di arlojinya menyentuh angka x. Ia
berhambur meninggalkan Jack.
“Re,
gimana?!” teriaknya sebelum Andrea hilang di persimpangan.
“It’s
OK” pekiknya tanpa menoleh.
“Huff
....” Jack bernapas lega. Ia pun meloncat girang.
Andrea
segara menuju ruang kuliahnya. Kebetulan dosennya belum hadir, jadi dia masih
sempat kipas-kipas “Rasanya dunia mau kiamat aja nich”
“Udah pada mati kali” celetuk Yono.
“Ih
... ngapain loe ikut campur” Andrea merasa tidak suka dengan sikap Yono yang
sok mencampuri urusan orang lain.
“Emang
gak boleh, disini kita harus demontrasi” Yonopun merasa gak bersalah dan terus
menyolot hingga bibir yang yang jontor semakin tampak maju ke depan.
“Demokrasi
Oon” timpal Joko, karibnya. Malu juga punya teman sebangku oon seperti Yono.
“Ntu
die maksud gue. Jadi gue mau ngomong ape ya ... itu terserah gue, sah-sah aja
kan?” Joko manggut-manggut membenarkan perkataannya.
“Tapikan
.... That’s my privacy, not yours” Andrea protes, dilemparnya kipas yang ada di
genggamannya.
“Nevermind
dong” Yono tetap gak mau ngalah.
“He
.... eh ....” kata Joko lagi.
“Payah
loe, berdua. Beraninya ngeroyok satu cewek” Dian membela Andrea. “Tenang Re,
ada gue” Ia lalu duduk di samping Andrea. “Kalo berani lawan gue” matanya
melotot tajam.
“Eh,
siapa yang mau ngeroyok. Gue kan cuma nimpali apa salahnya coba” nyali Yono
sedikit kendur setelah mendapat gertakan dari Dian. Badan Dian jauh lebih besar
daripada Yono.
“Ah
.... udah gue capek. Sekarang terserah loe berdua mo ngomong apa. Gue gak mau
tau dan loe Dian makasih dech dah mau belain gue. Tapi tolong jangan ribut
disini ya. Gue mau belajar” Andrea membuka ranselnya dan mengambil catatan
mengenai mata kuliah hari ini.
“Kan
loe duluan yang manjang-manjangin”Yono gak mau kalah, namun Andrea pura-pura
gak denger, Dian pun ikut-ikutan diam dan bersikap staycool.
Tak
lama kemudian Mr. Cokro datang. Seperti biasa, dosen satu ini tampak aneh
dilihat. Wajahnya tirus, berkacamata kotak, tubuhnya tinggi semampai, semeter
tak sampai. Namun di balik sosoknya yang seperti itu, itu dia merupakan dosen
yang paling disegani diantara para dosen lainnya. Selain pintar dan cerdas dia
juga kocak. Sampai-sampai mahasiswa yang gak pernah tersenyum pun ikut tertawa,
Kok jadi ngomongin dosen sich.
“Yap
.... kalian kumpulkan tugas pekan lalu di atas meja bapak”
“Ya
ampun, gue lupa bawanya”Andrea terkejut dan menepuk jidatnya sendiri. “Gimana
dong ?!” Dian cuma ngangkat bahu sambil mengeluarkan tugasnya. “Wah bakal dapat
nilai E nich” katanya memelas.
# #
Jack
sudah menunggu Andrea keluar dari ruang kuliahnya. Sesekali memperhatikan
arloji emasnya. “ Kok Andrea lama di dalam, teman-temannya saja udah pada
keluar”batin Jack.
“Hai
Jack ....” Dian menghampirinya. “ Nunggu siapa ?” tanyanya sambil melepas
senyumnya yang genit.
“Oh
..... I just wait Andrea” singkat tapi padat.
“M
....m ....” Dian merengut. “Kayaknya dia bakal lama tuh di dalam. Biasa ... Mr.
Cokro gak suka sama mahasiswa yang teledor”
“Maksud
kamu?” tanya Jack ingin tahu.
“Andrea
lupa bawa tugasnya. So.... gitu dech dia lagi kena sanksinya. By the way,
ngapain loe nunggu dia?” ia kembali bertanya.
“Sorry,
itu urusan pribadi yang sepertinya tidak bisa diganggu”
“Duh
.... Segitunya. Ma temen sendiri juga?” Dian mulai menggodanya.
“Bukan
gitu” nada bicara Jack mulai tinggi.
“Ok
deh, gue duluan. Semoga acara loe sukses” Dian tahu kalau ucapannya terlalu
berlebihan. Akhirnya dia berniat untuk meninggalkannya daripada dia dianggap
sebagai wanita yang ingin tahu persoalan orang lain.
“Thank’s”
Jack tersenyum. “Aha ...” Ia kemudian mengintip Andrea dari celah pintu.
Mr.
Cokro berdiri di depan Andrea. “Kamu ini bapak paling gak suka sama orang yang
malas seperti kamu”
“Intrupsi
Pak, Saya bukannya malas tapi lupa” ucap Andrea sambil mengacungkan telunjuknya
ke angkasa.
“Malas,
lupa sama aja”bentaknya, Andrea tertunduk. “Keduanya sama-sama kelalaian
manusia dan sikap yang paling bapak gak suka”
“Iya
pak”jawabAndrea dengan suara pelan dan kepala tertunduk.
“Kalo
gitu bapak hukum untuk bersihkan Lab kampus ini” katanya tegas.
Andrea
tergelak. “Tapi Pak ...” Ia memprostes.
“No
comment, and don’t forget you must bring it tomorrow kalo tidak …Saya akan beri
kamu nilai E dan kamu akan mengulang mata kuliah ini dengan saya” Mr. Cokro
keluar ruangan sambil membawa buku-buku pedoman mengajarnya. “What are you
doing here man?” tanyanya dengan suara cukup memekakkan telinga.
“Nothing”
Jack tersenyum dan pura-pura bego.
Setelah
Mr.Cokro sudah menghilang dari penglihatannya, Jack masuk ke ruang kuliah
Andrea. Di sana Andrea lagi sibuk merapikan buku-buku catatannya dan ngedumel
sendiri. “Coba gue balik ke rumah, gak kayak gini nich”
“What
are you doing my honey”sapa Jack seperti tidak terjadi sesuatu pada Andrea
padahal dari tadi ia melihat perlakuan Mr. Cokro.
“Loe
kagak ngeliat gue lagi ngapain” Andrea makin kesal.
“Sorry,
gitu aja marah” goda Jack lagi . “ Jadi kan lunch kita?”
“Boro-boro
ngelunch” Andrea menutup rapat tasnya.
“Memangnya
ada apa honey? Tell me why?”
“Gak
ada apa-apa. Gue gak bisa aja sekarang. Busy man !!”
“Mau
gue bantu ?!” tawarnya sambil tersenyum.
“Mau
.... mau ...” jawab Andrea cepat. Memang ini yang diharapkan sedikit membantu
meringankan perkerjaannya.
“But,
gue punya persyaratan yang harus diikuti” Jack tidak ingin membantunya begitu
saja.
“Ya
udah, apa syaratnya?” tanyanya singkat, dia tidak ingin berbelit-belit. Lebih
cepat lebih baik itu yang dia mau.
“You
harus jadi pacar gue” syarat yang cukup sulit bagi Andrea.
Andrea
terdiam sesaat sambil berfikir “Gimana yach?”
“Mau
gak ?”
“Kalo
jadi pacar, nanti gimana dengan .... ah gak usah dipikirin. Tapi ...” hatinya
mulai dipenuhi perasaan pro dan kontra. “ Gimana yach?” katanya sambil
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ya udah dech, tapi hari ini aja, besok
kita putus lagi”
“Wah
... curang” kini Jack yang protes.
“Mau
gak” balas Andrea menggodanya.
“Ok
... deal” kata Jack dengan pasrah. Ia mengulurkan jari kelingkingnya tanda
persetujuan disepakati begitu pula sebaliknya.
Sekarang
Andrea merasa senang. Beban yang menimpa pikirannya sesaat hilang begitu saja
bersama munculnya perasaan bahagia.
# #
“Mak,
Doni pergi dulu” pamitnya pada emak yang sedang merapikan dagangannya.
“Udah,
sarapan belum?” tanya emak.
“Nanti
aja, dijalan”jawab Doni, wajahnya tampak lesu. Seperti ada sesuatu yang
berharga hilang dari dirinya.
“Ati-ati
aja di jalan....” nasehat emak pada Doni.
“Ya
mak” Ia mengenakan helm dan menstarter motornya . Suara deru motor membangunkan
Jay yang tertidur.
Jay
segera berlari menghampiri abangnya. Namun Doni sudah melesat dengan Rx-
Kingnya
“Ya
..... udah pergi duluan” ucapnya kecewa.
“Loe
kenape Jay kayak orang kebakaran jenggot” emak heran melihat Jay yang
tingkahnya aneh dari yang biasa.
“Tumben
Mak, Doni perginya pagi-pagi”
“Au
tuh anak . Kayaknya nie hari die beda banget tampangnya lesu dan kagak ade
gairahnya same sekali. Mak takut kenape-nape” ucap emak. “Ngomong-ngomong loe kenape
baru bangun langsung lari”
“Ada
urusan penting mak sama Doni”
“Urusan
begemane maksud loe?” eamak terdiam sejenak.
“Ade
dech”
“Ah
loe .... bikin emak penasaran”
“Kita
cuma ada sedikit misunderstanding aje” Jay bisa membaca pikiran emak yang
selalu dipenuhi kecemasan yang kadang tak beralasan.
“Miss
Univers ....”
“Bukan
.... cuma kesalahpahaman doang kok”
“O
... Emak kira loe pada ngomongin cewek-cewek bule itu”Emak tertawa sendiri.
# #
“Maaf
pak .... saya ingin mengundurkan diri” Doni menyerahkan berkas-berkas
pengunduran dirinya.
“Maksud
kamu?” tanya pak Rudi heran.
“Mulai
hari ini saya ingin keluar dari perusahaan” kata Doni yakin, Ia pun menyerahkan
kunci motor yang difasilitasi untuk dirinya.
“Kamu
gak salah” pak Rudi tampak terkejut.
“Saya
tidak akan menyesal mengambil keputusan ini” Doni berusaha tersenyum untuk
lebih menyakinkan ucapannya.
“Coba
kamu renungkan lagi keinginanmu itu”
“Tidak
pak, saya sudah bulat dengan tekad saya” Doni semakin mantap.
“Saya
juga tidak bisa memutuskannya begitu saja. Mungkin kamu perlu waktu untuk
memikirnya.”
“Tapi
pak ...”
“Biarkan
berkas ini saya pegang. Kamu bisa kembali lagi ke sini dua atau tiga hari. Coba
kamu pikir masak-masak. Perusahaan ini sangat membutuhkan orang seperti kamu. Punya
brain dan skill yang bagus” pak Rudi membawa map tersebut.
“Kunci
motornya”
“Kamu
perlu kendaraan ......” kata pak Rudi sebelum keluar dari ruangannya.
Doni
hanya terpaku, hatinya semakin bimbang. Ia raih kunci motor tersebut dan pergi
meninggalkan kantor.
# #
“Pak
Lexi ada didalam??” tanya pak Rudi pada sekretaris Lexi.
“Tunggu
sebentar” Ia menekan tuts – tuts
telepon. “ Pak Lexi ..... pak Rudi ingin bertemu .... langsung saja ....
iya ..... makasih pak” dia meletakkan gagang telepon ke tempat semula. “
Silakan .....”
“Ya
.... terima kasih ....” ucap pak Rudi dan segera ke dalam menemui Lexi.
“Ada
apa Pak Rudi .... kelihatannya bapak khawatir sekali ?”tanya Lexi padanya.
“Doni
mau mengundurkan diri dari perusahaan kita”
“Apa?
Nggak mungkin loh pak. Kemarin saja kita ngobrol banyak tentang perusahaan.
Bagaimana bisa”Lexi tersenyum.
“Ini
berkas-berkas pengunduran dirinya” Ia menyerahkan map itu.
Lexi
terkejut ketika membukanya “Kok bisa ya? Padahal kita sudah berencana
mengembangkan proyek yang sedang kita kerjakan”
“Saya
juga heran, padahal Doni itu punya potensi besar dalam perusahaan ini “
“Baiklah
.... Kalo begitu saya akan menemuinya. Mungkin saja dia mau berubah pikiran .
Bapak terakhir melihatnya dimana?”
“Sepertinya
dia masih berada didalam ruangan saya “
“Ok
.... Terima kasih” Lexi segera berhambur meninggalkan ruangannya. “Don .....” dia
membuka pintu dan melihat sekeliling kemudian keluar lagi. “Maaf ... apa kamu
lihat Doni?” tanyanya pada pegawai yang kebetulan berada disana.
“Doni?!
Oh iya ... dia baru saja keluar pak”
“Ya
sudah .... makasih” Lexi melirik arlojinya dan berjalan menuju lift.
# #
Setelah
membersihkan lab kampus, Andrea menyandarkan tubuhnya ke dinding , Keringatnya
mengalir . “Huff ... capek banget nich gue” keluhnya sambil mengipasi tubuhnya
dengan map plastik yang sudah tidak terpakai. “Jadikan kita nge “lunch” nya ?”
tanyanya pada Jack yang lagi asyik merapikan alat-alat praktikum yang sudah
dibersihkan.
“Of
course” ucapnya dan meletakkan gelas ukur pada rak yang telah disediakan.
Setelah itu ia menghampiri Andrea. Lama ia menatapnya. Andrea sendiripun tak
menyadari jika Jack sedang memperhatikannya. “Re ... ada debu” Jack
mengeluarkan sapu tangan dari saku celana lalu mengusap wajah Andrea yang
kotor.
Andrea
terpana sesaat. “Thank’s” kata Andrea sambil bangkit dari duduknya. “ Semua
bereskan ?!”
“I
Think enough ..” ia menghela dahinya dengan tangan.
“Ya sudah kalo gitu sekarang gue ngabulin
permintaan loe.”Andrea segera menggaet lengan Jack dan berjalan keluar.
“Slowly
please ...” Jack sedikit terkejut juga.
“Oops
... sorry. Sakit yach” Ia melepaskan lengan Jack. “By the way you bawa mobil?” tanya
Andrea.
“No
...” jawab Jack singkat
“Why?!”
Andrea jadi bingung.
“Percuma
kalo gue juga bawa mobil tapi gak digunakan”
“So?!”
“Of
course your car”
“Ok
dech tapi loe yang setir” dia menyerahkan kunci mobil padanya.
“Baik
my darling, Sayangku honeyku” ucap Jack yang membuat Andrea tersenyum dan
tertawa pelan.
“Udah
yuk cepetan, gue hungry berat nich” ia memegang perutnya.
“Siap
boss” Jack membukakan pintu mobil untuknya.
“Thank’s
very much” dia langsung duduk dan memasang safety beltnya.
“Saatnya
berangkat!! ...” teriak Jack tapi tak lama kemudian terdiam. “ Mau lunch dimana
?” ia menoleh ke Andrea yang dibalas dengan angkat bahu. “Oh kalo gitu kita ke
…” belum menyebutkan tempatnya Jack sudah menancap gas meninggalkan kampus.
# #
“Doni
belum pulang” kata emak pada Lexi. “Memangnya mas ini ada keperluan apa?” tanya
emak penasaran.
“Enggak
Bu, saya Lexi temannya. Saya hanya ingin ketemu aja ama dia “ jawab Lexi.
“Oh
... kirain ada ape. Mak jadi khawatir. Eh ... maaf nich silakan masuk ... sampe
kelupaan dech “
“Makasih
Bu, saya masih ada urusan. Kalo begitu nanti tolong sampaikan saja kalo saya
datang ke sini “
“Iye
dech. Nanti emak sampein .”
“Kalo
gitu saya pamit dulu Bu, maaf sudah ngeropotin ibu”
“Nggak
kok. Nggak ngeropotin” Emak tersenyum dan menghantar Lexi sampai mobilnya.
Lexi
masuk ke dalam mobilnya. “Don ... loe dimana?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia
pun menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan rumah Doni.
# #
Volvo
yang dikendarain Jack berhenti di sebuah resto yang tampak asing bagi Andrea. “Nah
... kita sampai” ia memakirkan volvo tersebut. “ Kok bengong ... ayo turun”
ajaknya.
“Ini
indah ... gue belum pernah liat yang seperti ini kok gue baru tau yach” Andrea
sangat kagumdengan suasana yang ditawarkan resto tersebut.
“Sudah
yuk kita masuk. Nanti setelah makan kita jalan-jalan” katanya ramah.
Mereka
disambut oleh dua orang pegawai yang berseragam biru. “Silakan” ucap salah
seorang diantara mereka dengan menebarkan senyum.
“Kita
duduk dimana?!” tawar Jack.
“Disitu
aja” tunjuk Andrea melihat tempat yang kosong dan dari tempat itu terlihat
jelas pemandangannya.
Angin
sepoi-sepoi bertiup diiringi musik yang romantis dan mengalun merdu. Suasananya
nyaman. Panorama yang ditawarkan juga membuat mata tak jemu-jemu memandangnya.
Seorang
waitress menghampiri mereka “Maaf ... mau pesan apa?” tanyanya ramah.
“M
... m ... sandwich tanpa selada dan ... ayam rancah sambel balado ... kamu mau
pesan apa sayang?” tanya Jack manis.
“Apa
yach ... ini aja dech ayam bakar gulai kecap lalapannya juga boleh.” ternyata
di restoran yang modern seperti ini ada juga masakan daerahnya. Ia kira hanya
ada pizza, spageti, fried chicken atau makanan asing lainnya.
“Oh
... ya mbak saya gak jadi pesan sandwichnya. Lalapannya aja” kata Jack melihat
Andrea memesan lalapan juga akhirnya iapun tertarik ingin mencobanya.
“1
porsi ayam rancah, 1 porsi ayam bakar dan lalapan. Minumnya ?! ” ia mengulang
pesananAndrea dan Jack.
“Lemon
juice” kata Andrea.
“Saya
juga sama”
“Mbak
... kalo ice cream tiga lapisnya ada?” tanya Andrea.
“Maaf
mbak, tinggal yang dua lapis” jawab waitress itu.
“Rasa
apa aja?”
“Vanila
dan strawberry”
“Ya
... padahal saya paling suka rasa coklat ... tapi gak papa dech . Jack.... loe
mau juga?”
“Up
to you “
“Ya
sudah kalo gitu dua ice cream nya” ucapnya pasti
“Ada
lagi mbak?” ia mencatat pesanan tersebut dalam paperlist.
“Sepertinya
cukup” ia menyerahkan daftar menu pada waitress tersebut. Setelah waitress
pergi Andrea kembali memandang keluar. Ia benar-benar takjub dan seperti mimpi.
“Gue pengen keluar nich” Andrea ingin sekali berjalan-jalan di tepi pantai d iatas
pasir putih dengan ombak yang menggulung-gulung.
Jack
tersenyum. “You must be patient sabar Ok, Setelah kita makan aja gimana?”
“Are
you sure?”
“Yes”
“Oh
.... Jack you are very kind” Andrea tertawa senang. Ia sudah tidak sabar lagi
menanti sampai rasa laparnya seketika itu hilang.
“Kamu
tahu mengapa aku mengajakmu ke sini?” Andrea hanya menggelengkan kepala dan
merasa tertarik mendengarkan jawaban dari mulut Jack.
“Dulu
... ibu dan ayah saya bertemu ditempat ini”
“Lalu?”
“Ibu
saya pernah kerja disini dan kata ayah, ibu adalah wanita tercantik yang pernah
ia temui, seperti kamu ...”
“Eh
.... makanannya sudah datang” Andrea berusaha mengalihkan pembicaraan dan
kebetulan waitressnya sedang menuju ke meja makan mereka sambil membawa
pesanan.
“Makasih
mbak” ucap Andrea
“Sama-sama”
waitress itupun pergi.
“M
... m ....” Jack sedikit kesal juga kenapa tiba-tiba waitress itu datang
padahal ingin sekali ia menceritakan apa yang telah direkamnya dari cerita
kedua orang tua sebelumnya.
“Suka kagak?! Kalo kagak suka buat gue aja,
Gue udah lama loh gak makan lalapan”
“Gue
.... gue suka .... suka sekali” Jack segera mengambil sayur kangkung dan
melahapnya. “Tuh ..... suka kan” katanya dengan mulut penuh.
Andrea
tertawa. “Lucu ... juga kalo loe makan. Bukan gitu .... nich gue tunjukin
caranya” dia mengambil daun salada dan mencampurkannya dengan sambal terasi.
“A
..... “ucap Andrea dengan menyodorkan daun salada yang masih segar ke mulut
Jack.
Jack
hanya menggeleng-gelengkan ketakutan. Dia paling anti makan salada, soalnya dia
trauma gara-gara salada waktu itu dia keselek sampai pingsan dan dia kapok gak
mau makan salada lagi. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan
wanita yang disukainya.
“Ini
enak loh”Akhirnya dia masukkan sendiri kedalam mulutnya. Mengunyahnya dengan
nikmat. “ Coba sedikit aja ... apa tambah lagi sambalnya “
“Nggak
.... gue .... aku ...” Jack keringat dingin dan menolak membuka mulut.
“Yach
.... cemen..... katanya suka ama lalapan. Dikasih selada aja udah kayak orang
mo dipenggal” Andrea tertawa mengejek. Ia kembali melahap lalapannya dengan
nikmat.
“Cemen??”Jack
mengernyitkan dahi. Ia memang harus membiasakan diri dengan bahasa-bahasa luar
angkasa yang dipakai Andrea.
“Penakut
man” timpal Andrea
“Gue
gak penakut” Jack tidak terima dibilang pengecut, padahal dia cuma sedikit
trauma aja dengan dedauanan.
“Kalo
gitu buktiin dong” goda Andrea dengan mulut penuh.
"M
... m ....mm...” Jack ragu untuk melakukannya lagi.
“Yach
.... payah” Andrea kembali menggodanya.
“Nich
...” akhirnya dengan terpaksa Jack mengambil selembar salada dan mencampurnya
dengan sambal serta melahapnya.
“Gimana
.... enakkan?” Andrea berusaha menahan tawanya.
“
M .... m ..” Jack terus mengunyah dan tampangnya terlihat bodoh sekali. Mukanya
merah.
“
Kalo gak kuat. Gak usah dipaksa. Gak papa kok” Andrea jadi khawatir. Wajah Jack
semakin aneh . “Udah keluarin aja” dia beranjak dan menekan leher Jack agar
salada yang dimasukkan segera dimuntahkan.
“Nih
airnya” ia memberinya segelas air mineral.
“Thank’s”
Jack menerima dan langsung meneguknya
“Sorry yach .... gue kelewatan” dia mengambil
tissue yang ada di atas meja.
“Gak
papa kok”kata Jack sambil tersenyum.
“No
.... Jack ... gue salah” dia terus membersihkan mulutnya Jack. “ Masih mau
makan ?”
“Sepertinya
aku kenyang” ucap Jack.
“I’m
so sorry, bener gue gak bermaksud!” Andrea memelas ucapannya sungguh terlihat
sangat menyesal.
“No
problem. Aku baik-baik saja.Kalo gitu kita keluar aja. Gimana setujukan?!”
“Wah
itu yang gue tunggu-tunggu. Kita pacarannya lebih romantic” Andrea girang
sekali. Air wajahnya berubah lebih ceria.
Jack
tersenyum. Ia memanggil waitress untuk menerima bon pembayaran. “Aku mau ke
kasir dulu”
“
Baik” Andrea mengecup kening Jack dan merasa berterima kasih.
# #
Doni
duduk bersandar di bawah pohon. Hembusan angin membuatnya mengantuk. “Hm ....”
dia menggeliatkan tubuhnya. Seandainya ia tidak berani mencintainya dia tidak
akan seperti ini. “Kenapa dulu gue bisa ketemu tuh cewek” pikirnya melayang
kembali ke awal pertemuan mereka.
Wajah
galak yang dimiliki Andrea, pandangan matanya yang tajam dan keberanian wanita
itu membuat Doni begitu terpesona. “Gak .... nggak gue harus bisa ngelupain
dia” Doni mengambil batu-batu kecil dan melemparnya ke waduk hingga membentuk
pusaran kecil yang menggelombang.
###############################################################
“Jadi
laki-laki gak boleh nyerah gitu dong” Ambarwati duduk menghampirinya. Ia
kelihatan lebih ceria dari sebelumnya. “Aku bisa bantu kamu mendapatkan cintamu
itu”
“Ambar
.... kok kamu ada disini ?” Doni terkejut, ia beranjak dari sandarannya.
“Kebetulan
aku lewat tempat ini dan lihat kamu. Aku sudah tahu semua masalah yang kamu
hadapi” Ambar tersenyum ramah. Ia tampak lebih dewasa dari sebelumnya.
“Maksudmu
...”
“Yap
..... itu semua salahku. Aku memang wanita lemah” ia duduk di samping Doni.
“Kamu
jangan berkata seperti itu”
Ambarwati
tersenyum lagi. “Aku sudah berjanji pada diri sendiri,aku akan berusaha
menyatukan cinta kalian “
“Kok
aku makin gak ngerti ya?!”
“Kamu
tidak perlu tahu itu”
“Lalu
apa yang akan kamu lakukan?”
“Ambarwati
bukan Ambarwati yang kamu kenal kemarin.”
“Bener
dech, kamu buatku bingung”
“Aku
sudah menuntut orang yang menghamiliku dan dalam waktu dekat ini dia akan
menikahiku“
“Lalu
apa hubungannya denganku?”
“Aku
akan menjelaskannya nanti”
“Kenapa
harus nanti, sekarang aku punya waktu untuk mendengarkan penjelasanmu “
“Ingat
dan pecayalah bahwa yang kamu cintai mencintai dirimu” Ambarwati berdiri. “Aku
harus pulang, sebentar lagi senja akan tiba dan keluargaku sudah menunggu “
“Tapi
.....aku belum paham apa yang kamu maksudkan” Doni berdiri. Namun Ambarwati
berjalan tanpa mempedulikannya.
Sesuatu
yang berharga adalah ketulusan hati seseorang Doni dapat menangkap ungkapan
tersebut. Sementara waktu terus berjalan, lambat laun mentari mulai
meninggalkan singgasananya.
# #
“Lihat
.... bagus banget mataharinya” Andrea merasa takjub dengan pemandangan yang
dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah fenomena alam yang sangat indah, rahasia
ilahi yang tak seorang pun mampu menciptakannya.
“Sunset
disini memang luar biasa. Waktu aku berumur lima tahun ayah dan ibu mengajak aku
ke tempat ini “
“Jadi .... dulu kamu pernah tinggal di
Indonesia”
“Yach
.... aku melihat sunset disini untuk pertama dan terakhir sebelum ayah mengajak
aku dan ibu untuk tinggal di Amerika”
“Lalu
.... kok kita bisa ketemu di Swiss dan kedua orang tuamu tinggal disana ?”
memang selama ini Andrea tidak pernah menanyakan keluarga Jack. Karena menurut
sepengetahuannya Jack adalah anak pengusaha di Swiss yang orang tuanya jarang
berada di rumah.
“Sebenarnya
..... ayah telah lama meninggalkan ibu dan aku, lelaki yang pernah kamu lihat
bersama ibu di Swiss merupakan orang yang telah menolong kami sekeluarga. Dia
suami kedua ibu sedangkan ayah....aku tidak tahu lagi keberadaannya. Dia memang
bukan seorang lelaki yang bertanggung jawab” mata Jack berkaca-kaca. “Sudahlah
aku tidak ingin mengenang kembali kenangan menyedihkan itu, sekarang aku hanya
fokus dengan hari ini. Karena mungkin saja hari ini tidak akan kembali dating.
Aku tidak dapat berpacaran lagi denganmu”
“Idih
.... genit” Andrea mencubit perutnya dan lari begitu saja sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Awas
yach!!”Jack mengejarnya.
Di
antara pasir putih dan gelombang laut yang tenang Andrea berputar-putar
bahagia. Semua terasa lebih ringan dan nyaman. Tak ada lagi beban dalam pikiran
dan keresahan yang selalu mengganjal.
Apakah
kehadiran Jack yang membawanya dalam sebuah kehidupan baru atau kebahagiaan ini
hanya datang sesaat? Tak ada yang mengetahuinya dan tak seorangpun yang mampu
menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar