Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 11



BAB 11          
            Andrea merasa sangat dipermalukan dihadapan cowok-cowok di rumah sakit. Dia kecewa, papa  mengganggapnya masih anak kecil yang harus dimanjakan. Padahal dia juga bisa jadi orang dewasa dan perlu tahu akan hal itu.
“ Saya tahu kalo kamu bakal ke sini ” seorang pria duduk di hadapannya.
Andrea segera menghapus air matanya. “Ngapain loe kesini mau pamer sama gue. Kalo itu mau loe, loe memang menang tapi yang jelas gue harap loe pergi dari sini atau gue yang bakal pergi ”.
“Re, kamu kok bicara seperti itu. Aku datang ke sini bukan untuk pamer atau apa. Aku datang untuk kamu.”
Andrea terdiam. “ Pasti papa yang nyuruh loe jemput gue. Bilang ke papa kalo gue udah gede bukan anak kecil lagi gak” ia memalingkan wajahnya, memandang keluar jendela.
“Believe me or not yang jelas aku kesini karena aku bukan Oom atau yang lain” Sorot matanya tampak jelas dan menyakinkan kalau itu semua jujur dari dalam hatinya.
“Terserah loe mau ngomong apa yang jelas gue gak mau diganggu titik” dia beranjak meninggalkan mejanya. Namun lengannya ditarik sehingga ia kembali terduduk di kursi. “Ngapain sich loe, lepasin gak ” tatapnya kasar. Andrea semakin meledak amarahnya. “ Kalo loe gak lepasin tangan gue, gue bakal….” Namun belum sempat meneruskan kata-katanya, bibirnya terkatup telenjuk cowok rese itu.
“Aku harap kamu bisa tenang dan berpikir jernih masalah tadi siang lupakan saja. Toh tidak ada gunanya kita mengungkit-ungkit masalah yang membuat kita sakit hati” katanya bijak sambil melepaskan cengkramannya.
Andrea terdiam sesaat. Tubuhnya tampak rileks dan hatinya terasa nyaman setelah mendengar ucapan itu. “ Kenapa loe mau repot ngurusin gue? “ tanyanya pelan.
Dia tertawa kecil “Aku sebenarnya sudah lama ingin mengungkapkan hal ini mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakannya.” tatapan Lexi sungguh tajam dan menusuk.
“Gue gak suka cowok yang berbelit-belit” ucapnya mencoba untuk kembali menahan emosinya.
“Ok .... aku sayang kamu dan aku berjanji akan melindungi kamu sampai kapanpun.”
Andrea terkejut “Lex .... gue rasa loe salah orang” Lexi kembali tersenyum dan tampak manis sekali.
“Nggak kok, aku memang tulus menyayangi kamu. Mungkin kamu tidak menyadarinya. Tapi ini jujur dalam hatiku.“
“Tapi Lex ..... Please “
“Mungkin kamu gak pernah menyukaiku. Aku bisa terima itu. Yang jelas aku sudah merasa lega karena isi hatiku sudah kuungkapkan semua “Lexi berdiri dan mengecup kening Andrea lalu pergi begitu saja tanpa ucapan perpisahan atau sepatah katapun.
Andrea seperti terhipnotis ia tidak mengerti dengan semua ini. Cowok yang dianggapnya sangat menjengkelkan ternyata sangat mencintainya dan sekarang ia dalam keadaan serba sulit. Ia tidak pernah mencintai seorang pria pun kecuali Doni, namun Doni tak pernah menyadari hal itu. Donilah yang telah membuatnya merasa takut untuk mencintai orang lain.
Di lain sisi ada Jack yang akhir-akhir ini membuatnya merasa nyaman dan tenang. Kegembiraan selalu menghiasi kehidupannya walaupun Jack baru saja bertemu dan dia tidak ingin semua itu buyar.
“ Maaf mbak “ seorang waitress menghampirinya.
“ H .... m..... m, ya.......”
“Tadi bapak itu “
“ Oh .....ya .....ya .....” Andrea langsung menerimanya.
“Makasih mbak” ucap Andrea lagi.
Ice cream tiga lapis berbentuk hati!! Andrea kembali terdiam sesaat. Lalu tersenyum sendiri.
                                               
                                                            #             #

Di kamar, Doni tidak memejamkan mata. Pikirannya selalu tertuju pada perkataan Lexi siang tadi. Hatinya gelisah dan bimbang.
“Gak ..... gue harus ngelupain dia ” batinnya berkata.
“Tapi gue gak bisa” ia kemudian beranjak dari kasurnya. “ Ya Tuhan, aku harus bagaimana? ” ia berjalan keluar dan duduk diteras depan memandangi langit gelap tanpa bintang yang biasanya bertebaran menghiasinya.
Malam itu cukup dingin. Angin bertiup pun cukup kencang. Doni hanya bisa menghela napas panjang. Ia bertekad untuk melupakan Andrea dalam kehidupannya.
“ Re .... gue sebenarnya cinta sama loe. Tapi gue sadar siapa gue. Gue sama sekali gak pantes buat loe. Loe pantas bersanding dengan orang yang sederajat dengan loe. Walaupun loe gak menyukai gue, gue tetep sayang ama loe sampai kapanpun” tanpa terasa Doni meneteskan air mata.
Jay yang tak sengaja mendengarnya merasa bersalah telah menduga-duga abangnya dengan tuduhan yang tidak mendasar. Ia ingin segera meminta maaf padanya, namun ia juga tidak ingin mengganggu abangnya yang sudah terlelap terbuai dalam mimpi.

#             #
“ Wow .... fantastic man. You tampak beautiful hari ini, girly sekali” Jack menyambut kedatangan Andrea dengan antusias.
“Thank’s .... by the way, tumben loe memuji gue. Pasti ada maunya” Andrea menebak
“Yes, you’re right “
“Gua gak mau” Andrea berusaha menghindar.
“Please .... gue hanya mau mentraktir you, gak yang lain “
“Lunch?” Andrea mengernyitkan dahinya.
“Of course, you mau kan?”
“Mau .... gimana yach” Andrea berpikir sambil memegang pipi dengan telunjuk.
“Ayo dong mau!!” bujuk Jack. Kelakuannya seperti anak kecil yang merayu ibunya untuk dibelikan sesuatu
“Oh my God, bisa telat nich gue” Andrea terkejut. Ketika melihat jarum yang berada di arlojinya menyentuh angka x. Ia berhambur meninggalkan Jack.
“Re, gimana?!” teriaknya sebelum Andrea hilang di persimpangan.
“It’s OK”  pekiknya tanpa menoleh.
“Huff ....” Jack bernapas lega. Ia pun meloncat girang.
Andrea segara menuju ruang kuliahnya. Kebetulan dosennya belum hadir, jadi dia masih sempat kipas-kipas “Rasanya dunia mau kiamat aja nich”
 “Udah pada mati kali” celetuk Yono.
“Ih ... ngapain loe ikut campur” Andrea merasa tidak suka dengan sikap Yono yang sok mencampuri urusan orang lain.
“Emang gak boleh, disini kita harus demontrasi” Yonopun merasa gak bersalah dan terus menyolot hingga bibir yang yang jontor semakin tampak maju ke depan.
“Demokrasi Oon” timpal Joko, karibnya. Malu juga punya teman sebangku oon seperti Yono.
“Ntu die maksud gue. Jadi gue mau ngomong ape ya ... itu terserah gue, sah-sah aja kan?” Joko manggut-manggut membenarkan perkataannya.
“Tapikan .... That’s my privacy, not yours” Andrea protes, dilemparnya kipas yang ada di genggamannya.
“Nevermind dong” Yono tetap gak mau ngalah.
“He .... eh ....” kata Joko lagi.
“Payah loe, berdua. Beraninya ngeroyok satu cewek” Dian membela Andrea. “Tenang Re, ada gue” Ia lalu duduk di samping Andrea. “Kalo berani lawan gue” matanya melotot tajam.
“Eh, siapa yang mau ngeroyok. Gue kan cuma nimpali apa salahnya coba” nyali Yono sedikit kendur setelah mendapat gertakan dari Dian. Badan Dian jauh lebih besar daripada Yono.
“Ah .... udah gue capek. Sekarang terserah loe berdua mo ngomong apa. Gue gak mau tau dan loe Dian makasih dech dah mau belain gue. Tapi tolong jangan ribut disini ya. Gue mau belajar” Andrea membuka ranselnya dan mengambil catatan mengenai mata kuliah hari ini.
“Kan loe duluan yang manjang-manjangin”Yono gak mau kalah, namun Andrea pura-pura gak denger, Dian pun ikut-ikutan diam dan bersikap staycool.
Tak lama kemudian Mr. Cokro datang. Seperti biasa, dosen satu ini tampak aneh dilihat. Wajahnya tirus, berkacamata kotak, tubuhnya tinggi semampai, semeter tak sampai. Namun di balik sosoknya yang seperti itu, itu dia merupakan dosen yang paling disegani diantara para dosen lainnya. Selain pintar dan cerdas dia juga kocak. Sampai-sampai mahasiswa yang gak pernah tersenyum pun ikut tertawa, Kok jadi ngomongin dosen sich.
“Yap .... kalian kumpulkan tugas pekan lalu di atas meja bapak”
“Ya ampun, gue lupa bawanya”Andrea terkejut dan menepuk jidatnya sendiri. “Gimana dong ?!” Dian cuma ngangkat bahu sambil mengeluarkan tugasnya. “Wah bakal dapat nilai E nich” katanya memelas.

#                #

Jack sudah menunggu Andrea keluar dari ruang kuliahnya. Sesekali memperhatikan arloji emasnya. “ Kok Andrea lama di dalam, teman-temannya saja udah pada keluar”batin Jack.
“Hai Jack ....” Dian menghampirinya. “ Nunggu siapa ?” tanyanya sambil melepas senyumnya yang genit.
“Oh ..... I just wait Andrea” singkat tapi padat.
“M ....m ....” Dian merengut. “Kayaknya dia bakal lama tuh di dalam. Biasa ... Mr. Cokro gak suka sama mahasiswa yang teledor”
“Maksud kamu?” tanya Jack ingin tahu.
“Andrea lupa bawa tugasnya. So.... gitu dech dia lagi kena sanksinya. By the way, ngapain loe nunggu dia?” ia kembali bertanya.
“Sorry, itu urusan pribadi yang sepertinya tidak bisa diganggu”
“Duh .... Segitunya. Ma temen sendiri juga?” Dian mulai menggodanya.
“Bukan gitu” nada bicara Jack mulai tinggi.
“Ok deh, gue duluan. Semoga acara loe sukses” Dian tahu kalau ucapannya terlalu berlebihan. Akhirnya dia berniat untuk meninggalkannya daripada dia dianggap sebagai wanita yang ingin tahu persoalan orang lain.
“Thank’s” Jack tersenyum. “Aha ...” Ia kemudian mengintip Andrea dari celah pintu.
Mr. Cokro berdiri di depan Andrea. “Kamu ini bapak paling gak suka sama orang yang malas seperti kamu”
“Intrupsi Pak, Saya bukannya malas tapi lupa” ucap Andrea sambil mengacungkan telunjuknya ke angkasa.
“Malas, lupa sama aja”bentaknya, Andrea tertunduk. “Keduanya sama-sama kelalaian manusia dan sikap yang paling bapak gak suka”
“Iya pak”jawabAndrea dengan suara pelan dan kepala tertunduk.
“Kalo gitu bapak hukum untuk bersihkan Lab kampus ini” katanya tegas.
Andrea tergelak. “Tapi Pak ...” Ia memprostes.
“No comment, and don’t forget you must bring it tomorrow kalo tidak …Saya akan beri kamu nilai E dan kamu akan mengulang mata kuliah ini dengan saya” Mr. Cokro keluar ruangan sambil membawa buku-buku pedoman mengajarnya. “What are you doing here man?” tanyanya dengan suara cukup memekakkan telinga.
“Nothing” Jack tersenyum dan pura-pura bego.
Setelah Mr.Cokro sudah menghilang dari penglihatannya, Jack masuk ke ruang kuliah Andrea. Di sana Andrea lagi sibuk merapikan buku-buku catatannya dan ngedumel sendiri. “Coba gue balik ke rumah, gak kayak gini nich”
“What are you doing my honey”sapa Jack seperti tidak terjadi sesuatu pada Andrea padahal dari tadi ia melihat perlakuan Mr. Cokro.
“Loe kagak ngeliat gue lagi ngapain” Andrea makin kesal.
“Sorry, gitu aja marah” goda Jack lagi . “ Jadi kan lunch kita?”
“Boro-boro ngelunch” Andrea menutup rapat tasnya.
“Memangnya ada apa honey? Tell me why?”
“Gak ada apa-apa. Gue gak bisa aja sekarang. Busy man !!”
“Mau gue bantu ?!” tawarnya sambil tersenyum.
“Mau .... mau ...” jawab Andrea cepat. Memang ini yang diharapkan sedikit membantu meringankan perkerjaannya.
“But, gue punya persyaratan yang harus diikuti” Jack tidak ingin membantunya begitu saja.
“Ya udah, apa syaratnya?” tanyanya singkat, dia tidak ingin berbelit-belit. Lebih cepat lebih baik itu yang dia mau.
“You harus jadi pacar gue” syarat yang cukup sulit bagi Andrea.
Andrea terdiam sesaat sambil berfikir “Gimana yach?”
“Mau gak ?”
“Kalo jadi pacar, nanti gimana dengan .... ah gak usah dipikirin. Tapi ...” hatinya mulai dipenuhi perasaan pro dan kontra. “ Gimana yach?” katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Ya udah dech, tapi hari ini aja, besok kita putus lagi”
“Wah ... curang” kini Jack yang protes.
“Mau gak” balas Andrea menggodanya.
“Ok ... deal” kata Jack dengan pasrah. Ia mengulurkan jari kelingkingnya tanda persetujuan disepakati begitu pula sebaliknya.
Sekarang Andrea merasa senang. Beban yang menimpa pikirannya sesaat hilang begitu saja bersama munculnya perasaan bahagia.

#                   #

“Mak, Doni pergi dulu” pamitnya pada emak yang sedang merapikan dagangannya.
“Udah, sarapan belum?” tanya emak.
“Nanti aja, dijalan”jawab Doni, wajahnya tampak lesu. Seperti ada sesuatu yang berharga hilang dari dirinya.
“Ati-ati aja di jalan....” nasehat emak pada Doni.
“Ya mak” Ia mengenakan helm dan menstarter motornya . Suara deru motor membangunkan Jay yang tertidur.
Jay segera berlari menghampiri abangnya. Namun Doni sudah melesat dengan Rx- Kingnya                          
“Ya ..... udah pergi duluan” ucapnya kecewa.
“Loe kenape Jay kayak orang kebakaran jenggot” emak heran melihat Jay yang tingkahnya aneh dari yang biasa.
“Tumben Mak, Doni perginya pagi-pagi”
“Au tuh anak . Kayaknya nie hari die beda banget tampangnya lesu dan kagak ade gairahnya same sekali. Mak takut kenape-nape” ucap emak. “Ngomong-ngomong loe kenape baru bangun langsung lari”
“Ada urusan penting mak sama Doni”
“Urusan begemane maksud loe?” eamak terdiam sejenak.
“Ade dech”
“Ah loe .... bikin emak penasaran”
“Kita cuma ada sedikit misunderstanding aje” Jay bisa membaca pikiran emak yang selalu dipenuhi kecemasan yang kadang tak beralasan.
“Miss Univers ....”
“Bukan .... cuma kesalahpahaman doang kok”
“O ... Emak kira loe pada ngomongin cewek-cewek bule itu”Emak tertawa sendiri.

#               #

“Maaf pak .... saya ingin mengundurkan diri” Doni menyerahkan berkas-berkas pengunduran dirinya.
“Maksud kamu?” tanya pak Rudi heran.
“Mulai hari ini saya ingin keluar dari perusahaan” kata Doni yakin, Ia pun menyerahkan kunci motor yang difasilitasi untuk dirinya.
“Kamu gak salah” pak Rudi tampak terkejut.
“Saya tidak akan menyesal mengambil keputusan ini” Doni berusaha tersenyum untuk lebih menyakinkan ucapannya.
“Coba kamu renungkan lagi keinginanmu itu”
“Tidak pak, saya sudah bulat dengan tekad saya” Doni semakin mantap.
“Saya juga tidak bisa memutuskannya begitu saja. Mungkin kamu perlu waktu untuk memikirnya.”
“Tapi pak ...”
“Biarkan berkas ini saya pegang. Kamu bisa kembali lagi ke sini dua atau tiga hari. Coba kamu pikir masak-masak. Perusahaan ini sangat membutuhkan orang seperti kamu. Punya brain dan skill yang bagus” pak Rudi membawa map tersebut.
“Kunci motornya”
“Kamu perlu kendaraan ......” kata pak Rudi sebelum keluar dari ruangannya.
Doni hanya terpaku, hatinya semakin bimbang. Ia raih kunci motor tersebut dan pergi meninggalkan kantor.

#                #

“Pak Lexi ada didalam??” tanya pak Rudi pada sekretaris Lexi.
“Tunggu sebentar” Ia menekan tuts – tuts  telepon. “ Pak Lexi ..... pak Rudi ingin bertemu .... langsung saja .... iya ..... makasih pak” dia meletakkan gagang telepon ke tempat semula. “ Silakan  .....”
“Ya .... terima kasih ....” ucap pak Rudi dan segera ke dalam menemui Lexi.
“Ada apa Pak Rudi .... kelihatannya bapak khawatir sekali ?”tanya Lexi padanya.
“Doni mau mengundurkan diri dari perusahaan kita”
“Apa? Nggak mungkin loh pak. Kemarin saja kita ngobrol banyak tentang perusahaan. Bagaimana bisa”Lexi tersenyum.
“Ini berkas-berkas pengunduran dirinya” Ia menyerahkan map itu.
Lexi terkejut ketika membukanya “Kok bisa ya? Padahal kita sudah berencana mengembangkan proyek yang sedang kita kerjakan”
“Saya juga heran, padahal Doni itu punya potensi besar dalam perusahaan ini “
“Baiklah .... Kalo begitu saya akan menemuinya. Mungkin saja dia mau berubah pikiran . Bapak terakhir melihatnya dimana?”
“Sepertinya dia masih berada didalam ruangan saya “
“Ok .... Terima kasih” Lexi segera berhambur meninggalkan ruangannya. “Don .....” dia membuka pintu dan melihat sekeliling kemudian keluar lagi. “Maaf ... apa kamu lihat Doni?” tanyanya pada pegawai yang kebetulan berada disana.
“Doni?! Oh iya ... dia baru saja keluar pak”
“Ya sudah .... makasih” Lexi melirik arlojinya dan berjalan menuju lift.

#                     #

Setelah membersihkan lab kampus, Andrea menyandarkan tubuhnya ke dinding , Keringatnya mengalir . “Huff ... capek banget nich gue” keluhnya sambil mengipasi tubuhnya dengan map plastik yang sudah tidak terpakai. “Jadikan kita nge “lunch” nya ?” tanyanya pada Jack yang lagi asyik merapikan alat-alat praktikum yang sudah dibersihkan.
“Of course” ucapnya dan meletakkan gelas ukur pada rak yang telah disediakan. Setelah itu ia menghampiri Andrea. Lama ia menatapnya. Andrea sendiripun tak menyadari jika Jack sedang memperhatikannya. “Re ... ada debu” Jack mengeluarkan sapu tangan dari saku celana lalu mengusap wajah Andrea yang kotor.
Andrea terpana sesaat. “Thank’s” kata Andrea sambil bangkit dari duduknya. “ Semua bereskan ?!”
“I Think enough ..” ia menghela dahinya dengan tangan.
 “Ya sudah kalo gitu sekarang gue ngabulin permintaan loe.”Andrea segera menggaet lengan Jack dan berjalan keluar.
“Slowly please ...” Jack sedikit terkejut juga.
“Oops ... sorry. Sakit yach” Ia melepaskan lengan Jack. “By the way you bawa mobil?” tanya Andrea.
“No ...” jawab Jack singkat
“Why?!” Andrea jadi bingung.
“Percuma kalo gue juga bawa mobil tapi gak digunakan”
“So?!”
“Of course your car”
“Ok dech tapi loe yang setir” dia menyerahkan kunci mobil padanya.
“Baik my darling, Sayangku honeyku” ucap Jack yang membuat Andrea tersenyum dan tertawa pelan.
“Udah yuk cepetan, gue hungry berat nich” ia memegang perutnya.
“Siap boss” Jack membukakan pintu mobil untuknya.
“Thank’s very much” dia langsung duduk dan memasang safety beltnya.
“Saatnya berangkat!! ...” teriak Jack tapi tak lama kemudian terdiam. “ Mau lunch dimana ?” ia menoleh ke Andrea yang dibalas dengan angkat bahu. “Oh kalo gitu kita ke …” belum menyebutkan tempatnya Jack sudah menancap gas meninggalkan kampus.

#                      #

“Doni belum pulang” kata emak pada Lexi. “Memangnya mas ini ada keperluan apa?” tanya emak penasaran.
“Enggak Bu, saya Lexi temannya. Saya hanya ingin ketemu aja ama dia “ jawab Lexi.
“Oh ... kirain ada ape. Mak jadi khawatir. Eh ... maaf nich silakan masuk ... sampe kelupaan dech “
“Makasih Bu, saya masih ada urusan. Kalo begitu nanti tolong sampaikan saja kalo saya datang ke sini “
“Iye dech. Nanti emak sampein .”
“Kalo gitu saya pamit dulu Bu, maaf sudah ngeropotin ibu”
“Nggak kok. Nggak ngeropotin” Emak tersenyum dan menghantar Lexi sampai mobilnya.
Lexi masuk ke dalam mobilnya. “Don ... loe dimana?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan rumah Doni.

#                       #

Volvo yang dikendarain Jack berhenti di sebuah resto yang tampak asing bagi Andrea. “Nah ... kita sampai” ia memakirkan volvo tersebut. “ Kok bengong ... ayo turun” ajaknya.
“Ini indah ... gue belum pernah liat yang seperti ini kok gue baru tau yach” Andrea sangat kagumdengan suasana yang ditawarkan resto tersebut.
“Sudah yuk kita masuk. Nanti setelah makan kita jalan-jalan” katanya ramah.
Mereka disambut oleh dua orang pegawai yang berseragam biru. “Silakan” ucap salah seorang diantara mereka dengan menebarkan senyum.
“Kita duduk dimana?!” tawar Jack.
“Disitu aja” tunjuk Andrea melihat tempat yang kosong dan dari tempat itu terlihat jelas pemandangannya.
Angin sepoi-sepoi bertiup diiringi musik yang romantis dan mengalun merdu. Suasananya nyaman. Panorama yang ditawarkan juga membuat mata tak jemu-jemu memandangnya.
Seorang waitress menghampiri mereka “Maaf ... mau pesan apa?”  tanyanya ramah.
“M ... m ... sandwich tanpa selada dan ... ayam rancah sambel balado ... kamu mau pesan apa sayang?” tanya Jack manis.
“Apa yach ... ini aja dech ayam bakar gulai kecap lalapannya juga boleh.” ternyata di restoran yang modern seperti ini ada juga masakan daerahnya. Ia kira hanya ada pizza, spageti, fried chicken atau makanan asing lainnya. 
“Oh ... ya mbak saya gak jadi pesan sandwichnya. Lalapannya aja” kata Jack melihat Andrea memesan lalapan juga akhirnya iapun tertarik ingin mencobanya.
“1 porsi ayam rancah, 1 porsi ayam bakar dan lalapan. Minumnya ?! ” ia mengulang pesananAndrea dan Jack.
“Lemon juice” kata Andrea.
“Saya juga sama”
“Mbak ... kalo ice cream tiga lapisnya ada?” tanya Andrea.
“Maaf mbak, tinggal yang dua lapis” jawab waitress itu.
“Rasa apa aja?”
“Vanila dan strawberry”
“Ya ... padahal saya paling suka rasa coklat ... tapi gak papa dech . Jack.... loe mau juga?”
“Up to you “
“Ya sudah kalo gitu dua ice cream nya” ucapnya pasti
“Ada lagi mbak?” ia mencatat pesanan tersebut dalam paperlist.
“Sepertinya cukup” ia menyerahkan daftar menu pada waitress tersebut. Setelah waitress pergi Andrea kembali memandang keluar. Ia benar-benar takjub dan seperti mimpi. “Gue pengen keluar nich” Andrea ingin sekali berjalan-jalan di tepi pantai d iatas pasir putih dengan ombak yang menggulung-gulung.
Jack tersenyum. “You must be patient sabar Ok, Setelah kita makan aja gimana?”
“Are you sure?”
“Yes”
“Oh .... Jack you are very kind” Andrea tertawa senang. Ia sudah tidak sabar lagi menanti sampai rasa laparnya seketika itu hilang.
“Kamu tahu mengapa aku mengajakmu ke sini?” Andrea hanya menggelengkan kepala dan merasa tertarik mendengarkan jawaban dari mulut Jack.
“Dulu ... ibu dan ayah saya bertemu ditempat ini”
“Lalu?”
“Ibu saya pernah kerja disini dan kata ayah, ibu adalah wanita tercantik yang pernah ia temui, seperti kamu ...”
“Eh .... makanannya sudah datang” Andrea berusaha mengalihkan pembicaraan dan kebetulan waitressnya sedang menuju ke meja makan mereka sambil membawa pesanan.
“Makasih mbak” ucap Andrea
“Sama-sama” waitress itupun pergi.
“M ... m ....” Jack sedikit kesal juga kenapa tiba-tiba waitress itu datang padahal ingin sekali ia menceritakan apa yang telah direkamnya dari cerita kedua orang tua sebelumnya.
 “Suka kagak?! Kalo kagak suka buat gue aja, Gue udah lama loh gak makan lalapan”
“Gue .... gue suka .... suka sekali” Jack segera mengambil sayur kangkung dan melahapnya. “Tuh ..... suka kan” katanya dengan mulut penuh.
Andrea tertawa. “Lucu ... juga kalo loe makan. Bukan gitu .... nich gue tunjukin caranya” dia mengambil daun salada dan mencampurkannya dengan sambal terasi.
“A ..... “ucap Andrea dengan menyodorkan daun salada yang masih segar ke mulut Jack.
Jack hanya menggeleng-gelengkan ketakutan. Dia paling anti makan salada, soalnya dia trauma gara-gara salada waktu itu dia keselek sampai pingsan dan dia kapok gak mau makan salada lagi. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan wanita yang disukainya.
“Ini enak loh”Akhirnya dia masukkan sendiri kedalam mulutnya. Mengunyahnya dengan nikmat. “ Coba sedikit aja ... apa tambah lagi sambalnya “
“Nggak .... gue .... aku ...” Jack keringat dingin dan menolak membuka mulut.
“Yach .... cemen..... katanya suka ama lalapan. Dikasih selada aja udah kayak orang mo dipenggal” Andrea tertawa mengejek. Ia kembali melahap lalapannya dengan nikmat.
“Cemen??”Jack mengernyitkan dahi. Ia memang harus membiasakan diri dengan bahasa-bahasa luar angkasa yang dipakai Andrea.  
“Penakut man” timpal Andrea
“Gue gak penakut” Jack tidak terima dibilang pengecut, padahal dia cuma sedikit trauma aja dengan dedauanan.
“Kalo gitu buktiin dong” goda Andrea dengan mulut penuh.
"M ... m ....mm...” Jack ragu untuk melakukannya lagi.
“Yach .... payah” Andrea kembali menggodanya.
“Nich ...” akhirnya dengan terpaksa Jack mengambil selembar salada dan mencampurnya dengan sambal serta melahapnya.
“Gimana .... enakkan?” Andrea berusaha menahan tawanya.
“ M .... m ..” Jack terus mengunyah dan tampangnya terlihat bodoh sekali. Mukanya merah.
“ Kalo gak kuat. Gak usah dipaksa. Gak papa kok” Andrea jadi khawatir. Wajah Jack semakin aneh . “Udah keluarin aja” dia beranjak dan menekan leher Jack agar salada yang dimasukkan segera dimuntahkan.
“Nih airnya” ia memberinya segelas air mineral.
“Thank’s” Jack menerima dan langsung meneguknya
 “Sorry yach .... gue kelewatan” dia mengambil tissue yang ada di atas meja.
“Gak papa kok”kata Jack sambil tersenyum.
“No .... Jack ... gue salah” dia terus membersihkan mulutnya Jack. “ Masih mau makan ?”
“Sepertinya aku kenyang” ucap Jack.
“I’m so sorry, bener gue gak bermaksud!” Andrea memelas ucapannya sungguh terlihat sangat menyesal.
“No problem. Aku baik-baik saja.Kalo gitu kita keluar aja. Gimana setujukan?!”
“Wah itu yang gue tunggu-tunggu. Kita pacarannya lebih romantic” Andrea girang sekali. Air wajahnya berubah lebih ceria.
Jack tersenyum. Ia memanggil waitress untuk menerima bon pembayaran. “Aku mau ke kasir dulu”
“ Baik” Andrea mengecup kening Jack dan merasa berterima kasih.

#                     #

Doni duduk bersandar di bawah pohon. Hembusan angin membuatnya mengantuk. “Hm ....” dia menggeliatkan tubuhnya. Seandainya ia tidak berani mencintainya dia tidak akan seperti ini. “Kenapa dulu gue bisa ketemu tuh cewek” pikirnya melayang kembali ke awal pertemuan mereka.
Wajah galak yang dimiliki Andrea, pandangan matanya yang tajam dan keberanian wanita itu membuat Doni begitu terpesona. “Gak .... nggak gue harus bisa ngelupain dia” Doni mengambil batu-batu kecil dan melemparnya ke waduk hingga membentuk pusaran kecil yang menggelombang.

###############################################################
“Jadi laki-laki gak boleh nyerah gitu dong” Ambarwati duduk menghampirinya. Ia kelihatan lebih ceria dari sebelumnya. “Aku bisa bantu kamu mendapatkan cintamu itu”
“Ambar .... kok kamu ada disini ?” Doni terkejut, ia beranjak dari sandarannya.
“Kebetulan aku lewat tempat ini dan lihat kamu. Aku sudah tahu semua masalah yang kamu hadapi” Ambar tersenyum ramah. Ia tampak lebih dewasa dari sebelumnya.
“Maksudmu ...”
“Yap ..... itu semua salahku. Aku memang wanita lemah” ia duduk di samping Doni.
“Kamu jangan berkata seperti itu”
Ambarwati tersenyum lagi. “Aku sudah berjanji pada diri sendiri,aku akan berusaha menyatukan cinta kalian “
“Kok aku makin gak ngerti ya?!”
“Kamu tidak perlu tahu itu”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Ambarwati bukan Ambarwati yang kamu kenal kemarin.”
“Bener dech, kamu buatku bingung”
“Aku sudah menuntut orang yang menghamiliku dan dalam waktu dekat ini dia akan menikahiku“
“Lalu apa hubungannya denganku?”
“Aku akan menjelaskannya nanti”
“Kenapa harus nanti, sekarang aku punya waktu untuk mendengarkan penjelasanmu “
“Ingat dan pecayalah bahwa yang kamu cintai mencintai dirimu” Ambarwati berdiri. “Aku harus pulang, sebentar lagi senja akan tiba dan keluargaku sudah menunggu “
“Tapi .....aku belum paham apa yang kamu maksudkan” Doni berdiri. Namun Ambarwati berjalan tanpa mempedulikannya.
Sesuatu yang berharga adalah ketulusan hati seseorang Doni dapat menangkap ungkapan tersebut. Sementara waktu terus berjalan, lambat laun mentari mulai meninggalkan singgasananya.

#                       #

“Lihat .... bagus banget mataharinya” Andrea merasa takjub dengan pemandangan yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah fenomena alam yang sangat indah, rahasia ilahi yang tak seorang pun mampu menciptakannya.
“Sunset disini memang luar biasa. Waktu aku berumur lima tahun ayah dan ibu mengajak aku ke tempat ini “
“Jadi .... dulu kamu pernah tinggal di Indonesia”
“Yach .... aku melihat sunset disini untuk pertama dan terakhir sebelum ayah mengajak aku dan ibu untuk tinggal di Amerika”
“Lalu .... kok kita bisa ketemu di Swiss dan kedua orang tuamu tinggal disana ?” memang selama ini Andrea tidak pernah menanyakan keluarga Jack. Karena menurut sepengetahuannya Jack adalah anak pengusaha di Swiss yang orang tuanya jarang berada di rumah.
“Sebenarnya ..... ayah telah lama meninggalkan ibu dan aku, lelaki yang pernah kamu lihat bersama ibu di Swiss merupakan orang yang telah menolong kami sekeluarga. Dia suami kedua ibu sedangkan ayah....aku tidak tahu lagi keberadaannya. Dia memang bukan seorang lelaki yang bertanggung jawab” mata Jack berkaca-kaca. “Sudahlah aku tidak ingin mengenang kembali kenangan menyedihkan itu, sekarang aku hanya fokus dengan hari ini. Karena mungkin saja hari ini tidak akan kembali dating. Aku tidak dapat berpacaran lagi denganmu”
“Idih .... genit” Andrea mencubit perutnya dan lari begitu saja sambil tertawa terbahak-bahak.
“Awas yach!!”Jack mengejarnya.
Di antara pasir putih dan gelombang laut yang tenang Andrea berputar-putar bahagia. Semua terasa lebih ringan dan nyaman. Tak ada lagi beban dalam pikiran dan keresahan yang selalu mengganjal.
Apakah kehadiran Jack yang membawanya dalam sebuah kehidupan baru atau kebahagiaan ini hanya datang sesaat? Tak ada yang mengetahuinya dan tak seorangpun yang mampu menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar