BAB
9
Peristiwa yang dialami Jay dan Amara
menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi Andrea, Sejak itu pula Jay dan Amara
memang tidak berhubungan lagi kecuali di tempat yang telah ditentukan dan itu
tidak diketahui oleh David.
Yap......memang semua itu gara-gara
David dia tidak menyetujui hubungan adiknya dengan Jay yang hanya seorang
penyiar dan dari golongan menengah ke bawah.
David jugalah yang telah mengancam
Jay untuk tidak berdekatan dengan Amara adik kembarnya hingga suatu hari
perlakuan David terhadap Jay sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Ia
bersana-sama genknya memukul Jay dan mengancam keselamatan dirinya dan
keluarganya.
Namun berkat saran Andrea dan
dukungan Doni, Jay berusaha mengembalikan kepercayaan itu. Lantas, bagaimana
dengan Andrea sendiri? Kita lihat aja nanti.
*********
"Andrea
mana bi?" tanya Mama.
"Ada
di atas bu, perlu saya panggilkan".
"Gak
usah dech, makasih biar saya saja yang ke sana” Mama meninggalkan ruang makan
untuk menemui Andrea di kamarnya.
"Tok......tok....."Mama
mengentuk pelan pintu kamar Andrea.
Tiba-tiba pintunya terbuka dan
ternyata tidak dikunci.
Andrea
lagi duduk di kasurnya sambil memeluk guling sekali-kali tersenyum sendiri. “Eh,
Mama”. Ia menggeser sedikit tempat duduknya. "Kok mama nggak ketuk pintu
dulu".
"Kamunya
aja yang nggak denger. M......m.... Kamu sakit" tanya Mama ragu. ia
menempelkan telapak tangan dikening Andrea.
"Nggak
kali, Mama bercanda kali yach......" Andrea tersenyum lagi.
"Mama
liatin kok kamu senyum-senyum sendiri, Takut-takut kamu.........."
"Idih
mama..........gitu aja khawatir, Andrea gak kenapa-napa kok".
"Bener.........
?!"
"Iya....mama,
M.....m..... ma, gimana nich mama bisa ketemu ama papa?" tanya Andrea.
"Loh
kok nanya yang begituan, Jangan-jangan kamu lagi........".
"Ah,
Mama" Ia memegang bahu manja mama.
"Anak
mama lagi jatuh cinta rupanya" Mama menggodanya.
"Jatuh
cinta gimana?"
"Gimana
yach........emang kamu suka sama siapa?"
"Ada
dech.......rahasia pokoknya".
"Pake
rahasia-rahasiaan segala ama mama, kamu suka sama..........."
"Mama
jangan nebak-nebak dech, Ntar juga tahu".
"Lexi?!"
"Emang
sich dia tuh baik, Tapi......kayaknya gak juga dech"
"Kok
gitu"
"Ntar
juga mama tahu"
"Ya
sudah, kalo kamu gak kasih tahu mama, sekarang kebawah yuk papa udah dari tadi
nunggu kita".
"Mama
duluan aja, Ntar Andrea juga nyusul kok".
Mama
pun beranjak dari kasur" Jangan lama-lama".
"Ok
bosss" ucap Andrea lagi sambil berlagak hormat kepada pembina upacara.
"Oh yach ma..... sorry Andrea belum bisa ngasih tahu orangnya".
Mama hanya tersenyum dan keluar
sambil menutup pintu.
***********
Hari ini Andrea akan berkunjung ke rumah
Doni, tentunya selepas kuliah. Soalnya dia ingin bertanya ini itu mengenai Doni
dari orangtuanya langsung dan kebetulan Doni tidak ada di rumah karena kuliah.
"Eh,
neng Andre.......tumben sendiri biasanya bareng ama neng Amara" kata Emak
yang menyambutnya dengan senyum.
"Nggak
mak, cuma pengen aja sendiri" ia lalu duduk di bangku panjang yang terbuat
dari bambu. "Mak lagi sibuk gak".
"Relatif
neng, kalo ada pembeli yach dilayani kalo lagi sepi yach kayak gini"
"Bu
boleh gak nanya?"
"Nanya
apa neng?"
"Apa
yach!!!" Andrea garuk-garuk kepala sendiri.
"Aduh
eneng, jangan bikin emak bingung nich".
"Maaf
mak, M.......m........ bukannya saya mau introgasi nich, cuma......Doni udah punya
pacar belum, mak" katanya pelan sambil menengok kekiri kekanan takut ada
yang dengerin.
Emak
napas lega sebelum menjawab pertanyaan Andrea yang dirasanya cukup mengejutkan
" Kok neng nanya kayak gitu?" Emak malah balik bertanya.
"Nggak
papakan Bu?!"
"Emang
sich ngape-ngape,setahu emak kayaknya Doni belum mikirin yang kayak begituan,
Emak juga heran, padahal emak pengen banget dia berkuluarge, Emak pengen liat
die seneng, Tapi.......ape ade yech, cewek yang mau ame die. Orangnye rade
tertutup."
Andrea mengangguk pelan. Lalu ia
melihat arlojinya.
"Ya
udah dech mak, saya permisi dulu ada urusan lain yang harus dikerjain. Salam
aje ama Jay dan Doni"
"Iya
neng.......lain kali mampir lagi ye......ajak sekalian neng Amaranye
kesini".
"Iya
mak......."Ia pun beranjak meninggalkan rumah Doni dan masuk ke dalam
volvo-nya. sebelum menancap gas ia berfikir sejenak, "Seandainya
saja.......ah udah jangan yang nggak-nggak" ia kemudian menyalakan mesin
volvo-nya dan merasa lebih tenang.
***********
Sore itu tampak gelap, awan hitam sudah
menggulung-gulung dilangit dan siap mencurahkan kasih sayangnya ke bumi dengan
hujan yang menyegarkan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam.
"Ambar...!"
sapa Doni menghampiri Ambarwati yang lagi merapikan buku-bukunya. "E.......
ada waktu sebentar" ucap Doni.
Ambarwati
masih sibuk dengan buku-bukunya dan dia tidak mempedulikannya "Sorry yach
aku masih ada kerjaan lain nich. Please......" ia meraih ranselnya dan
meninggalkan Doni sendiri.
Doni hanya bisa menarik nafas.
"Kenapa sich dia selalu menghindar gitu?" ia pun keluar dari kelas.
"Aduh......kuncinya
mana?" Doni mencari-cari kunci motornya. Di kantong celana gak ada disaku
baju juga nggak ada di dalam tas juga nggak ada. Ia lalu balik kelas.
"Nah.......kok bisa disini untung aja kagak ilang nich kunci". ia
mengambil kunci motornya yang tergeletak dilantai.
"Uek.......uek......."
"Suara
apaan tuh" Doni mencari sumber suara tersebut ternyata berasal dari
belakang kampus. "Ambar........." Ia lalu berlari mendekatinya.
"Aku......gak
butuh bantuan kamu" Ambarawati berusaha menghindar. "Uek......"
Ia kembali muntah namun tidak ada yang keluar dari mulutnya.
"Ambar......
kamu masuk angin?"
"Bukan
urusan kamu" Ambar memperceoat langkahnya.
"Bar.....kenapa
kamu menutupi semua dariku. Aku sahabatmu........." Doni membututinya dari
belakang.
"Uek........"
kali ini isi dalam perutnya keluar.
"Biar
aku antar kamu pulang" Doni tampak khawatir.
"Gak
usah.......aku bisa sendiri" Wajahnya tampak pucat, ia kelihatan lesu
sekali.
Doni membantu menupang tubuhnya
ketika Ambarawati terbuyung.
"Aku
antar kamu ke rumah sakit......." tanpa basa-basi ia membantu Ambarwati
menuju motor. Ambarwati hanya bisa pasrah. Tubuhnya sangat lemas sekali,
"Naik dan pegang tubuhku erat-erat" Ia lalu menghidupkan Rx King-nya
dan meluncur langsung menuju rumah sakit yang terdekat dari kampus Merah Putih.
"Jay
itu kan Doni" ucap Amara yang kebetulan ingin check-up kesehatan di rumah
sakit Cinta Kasih. "Ngapain dia disini, sama siapa tuh.......?" Amara
sudah merasa curiga.
"Biar
gue aja yang kesono, loe tunggu aja disini" Jay menenangkan Amara yang
sudah tampak kesal dengan wanita yang berada didekat Doni. Memang setahu Jay,
kalo Andrea tuh suka ama Doni dan pasti dia sudah bilang ke Amara, so kalo ada
cewek yang deket ama Doni, Amara gak bakal terima, soalnya antara Andrea dan
Amara sudah sepert satu kesatuan.
Ambarwati sedang diperiksa di dalam
ruangan oleh seorang dokter. Sementara Doni menunggu diluar.
"Don.....Ngapain loe disini?" tanya Jay yang mengejutkannya. Ia telah
berdiri disampingnya.
"Eh..... loe ngapain juga disini?" Doni balik
bertanya.
"Tuh
cewek siapa?" belum menjawab, dia mengajukan pertanyaan lagi.
"Ambar,
temen kampus gue. Gue nganterin dia kesini karena gue liat dia kurang enak
badan".
Dokter
yang memeriksa Ambarwati muncul “Selamat istri anda hamil".
"Hamil......"
tidak hanya Doni dan Jay saja yang terkejut namun Amara yang sudah tidak sabar
menunggupun ikut terkejut.
"Doni.......
loe kurang ajar" ucap Amara panas dan berlari keluar meninggalkan rumah
sakit.
"Gue........."
"Don.....
gue gak nyangka loe......." Jay pun meninggalkan Doni yang bingung dan
penuh dalam kebimbangan.
Dokter yang sedari tadi berdiri
disitu hanya heran melihat mereka. Seharusnya kabar kehamilan merupakan kabar
yang begitu menyenangkan bagi pasangan suami istri bukan sebagai musibah karena
nanti akan muncul manusia baru yang lucu dan membuat semua orang bahagia.
**********
"Sorry
Don, Aku sudah menyusahkanmu" Ambarwati menunduk lesu. Ia sepertinya sudah
tak berkeinginan hidup lagi.
"Siapa
yang sudah membuat seperti ini?"
"Mereka......Don.....mereka......"Ia
mulai menetaskan air mata.
"Siapa.......
katakan sejujurnya padaku".
"Aku
gak bisa Don......." ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Hujan turun begitu deras membasahi
bumi, tanah kering menjadi basah. Debu hilang tak bersisa. Suara katak
meluapkan kegembiraan menyambut datangnya sang hujan namun hujan tersebut
membuat semua yang merasakan kesedihan begitu terluka. Menambah duka yang dalam
dan tak kunjung padam.
*********
"Ara....gue
harap loe jangan cerita dulu ke Andrea. Gue masih sangsi kalo Doni sekeji
itu" Jay memohon.
"Tapi.......udah
jelaskan!!"
"Gue
tahu......"
"Jadi.....sebelum
kejadian itu terulang kembali gue mesti ngasih kabar semua ini sama
Andrea"
"Please
Ra, gue mohon loe jangan bilang. Gue harus menyelidikinya lagi".
"Ok.....kalo
itu mau loe. Yang jelas gue kasih waktu loe 3 hari, kalo belum bisa membuktikan
Doni gak bersalah, gue bakal cerita dan terpaksa hubungan kita putus".
"Ra........"
Jay menatap tak percaya. "Baiklah " Jay pun mengantar Amara sampai ke
mobilnya. "Loe gue hubungi 3 hari lagi dan gue janji bahwa Doni gak
bersalah dalam hal ini".
Amara masuk ke dalam mobil,
mengenakan safety beltnya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
***********
Andrea di kamarnya duduk termenung
di atas kasur. Ia mencoba untuk mengingat pertama bertemu Doni di bandara,
Tampangnya lugu dan begitu juga polos. Sederhana dan bersahaja, semua terlihat
sempurna dimata Andrea namun apakah Doni juga memikirkan hal yang sama dengan
dirinya. Ataukah cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Ndre.....buka
pintunya sayang" Mama memanggilnya dari luar dan itu mengejutkan dirinya.
"Iya
ma......." Ia beranjak membuka pintu kamarnya. "Ada apa ma? kok
kelihatannya serius".
"Perasaan
mama lagi gak enak nich. Kayaknya ada sesuatu yang aneh....."
"Ah
mama.......itu kan biasa".
"Bener,
papa kok belum pulang yach".
"Biasanya
juga papa pulangnya larut malam, ini baru jam jam tujuh. Paling bentar lagi
papa pulang" Andrea berusaha menenangkan hati mama.
"May
be you're right".
"Ma......
seandainya, Andre punya........." dia berhenti sejenak. "Ah gak jadi
dech".
"Ah.......kamu".
"Bu.........!!!!!"
teriak bi Darsih, ia tergopoh-gopoh menghampiri mama dan Andrea.
"Ada
apa? kayak dikejar setan aja".
"Bapak
bu..... bapak....." bi Darsih ngos-ngosan dan gelagapan sehingga gak jelas
apa yang dibicarakannya.
"Bi,
tenang dong. Nafas dulu terus cerita yang jelas"
"Iya
bu...." ia menarik nafas lalu melanjutkan pembicaraan yang kelihatannya
serius. "Bapak kecelakaan sekarang ada di rumah sakit".
"Apa?!"
mama dan Andrea terkejut bersamaan.
"Iya
bu..... bapak masuk rumah sakit" ucapnya meyakinkan, "Tadi saya dapat
telpon dari Mas Arif".
"Ya
udah kalo gitu bibi tunggu dirumah" mama beranjak dan ia berusaha untuk
tidak panik.
"Sekarang
kamu ganti baju. kita kerumah sakit" Andrea mengangguk " Oh iya rumah
sakitnya?"
"Cinta
Kasih" jawab bibi pasti.
***********
"Don...."
sapa Ambarwati sedih. Ia memang terluka hatinya, pedih dan perih serta takut
selalu menghiasi kehidupannya. "Aku akan menggurkan bayi ini".
"Kamu
bicara apa, Ambar?" mata Doni melotot, Ia memegang bahu Ambarwati.
"Lihat mataku"
"Don......
aku memang gila, biarkan aku melakukan itu semua" ia berdiri.
"Bayimu
punya nyawa, Ambar! Dia butuh hidup".
"Iya
aku tahu itu, Tapi dia tak punya ayah, kamu mau melihat anakku menderita,
dicerca dan dihina sampai mati?"
Doni
terdiam, Ia bingung sekali untuk mengatakan apa. "Dia masih punya
ayah..... kenapa kamu tak mau memberitahuku".
"Aku
tak bisa" ia tampak putus asa dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa?"
"Karena
aku tidak bisa" wajahnya mulai dibasahi air mata. Tangannya menghela
setiap tetes air mata yang mengalir.
"Ceritakan
semua padaku Amabar aku pasti akan menolongmu".
"Sudahlah......
aku tak perlu bantuanmu" ia mengambil ranselnya dan pergi sambil menahan
tangis.
Doni tak tinggal diam, ia mengejar
Ambarwati, ia khawatir dengan keadaannya yang sedang kalut dan pikiran yang tak
menentu berkecamuk.
"Aku
akan mengantarmu” ia menarik lengan Ambarwati.
Di lain sisi Andrea dan mama turun
dari volvo-nya. Tak sengaja ia melihat Doni berpegangan tangan dengan seorang
wanita yang tak dikenalnya.
"Dre.....
kamu kenapa?" tanya mama.
"Andrea
tersentak "Ah.....gak papa ma" jawab Andrea bohong padahal di dalam
hatinya ia merasakan kehancuran.
Mama berjalan terlebih dahulu masuk
kerumah sakit sementara Andrea menatap kepergian Doni bersama wanita berambut
panjang dan cukup menarik, Tanpa terasa air mata meleleh membasahi pipinya, bibirya
bergetar dan entah perasaannya menjadi tak menentu. Apa ini yang disebut patah
hati??
***********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar