Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 9



BAB 9      


            Peristiwa yang dialami Jay dan Amara menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi Andrea, Sejak itu pula Jay dan Amara memang tidak berhubungan lagi kecuali di tempat yang telah ditentukan dan itu tidak diketahui oleh David.
            Yap......memang semua itu gara-gara David dia tidak menyetujui hubungan adiknya dengan Jay yang hanya seorang penyiar dan dari golongan menengah ke bawah.
            David jugalah yang telah mengancam Jay untuk tidak berdekatan dengan Amara adik kembarnya hingga suatu hari perlakuan David terhadap Jay sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Ia bersana-sama genknya memukul Jay dan mengancam keselamatan dirinya dan keluarganya.
            Namun berkat saran Andrea dan dukungan Doni, Jay berusaha mengembalikan kepercayaan itu. Lantas, bagaimana dengan Andrea sendiri? Kita lihat aja nanti.

                                                                                                                          *********


"Andrea mana bi?" tanya Mama.
"Ada di atas bu, perlu saya panggilkan".
"Gak usah dech, makasih biar saya saja yang ke sana” Mama meninggalkan ruang makan untuk menemui Andrea di kamarnya.
"Tok......tok....."Mama mengentuk pelan pintu kamar Andrea.
            Tiba-tiba pintunya terbuka dan ternyata tidak dikunci.
Andrea lagi duduk di kasurnya sambil memeluk guling sekali-kali tersenyum sendiri. “Eh, Mama”. Ia menggeser sedikit tempat duduknya. "Kok mama nggak ketuk pintu dulu".
"Kamunya aja yang nggak denger. M......m.... Kamu sakit" tanya Mama ragu. ia menempelkan telapak tangan dikening Andrea.
"Nggak kali, Mama bercanda kali yach......" Andrea tersenyum lagi.
"Mama liatin kok kamu senyum-senyum sendiri, Takut-takut kamu.........."
"Idih mama..........gitu aja khawatir, Andrea gak kenapa-napa kok".
"Bener......... ?!"
"Iya....mama, M.....m..... ma, gimana nich mama bisa ketemu ama papa?" tanya Andrea.
"Loh kok nanya yang begituan, Jangan-jangan kamu lagi........".
"Ah, Mama" Ia memegang bahu manja mama.
"Anak mama lagi jatuh cinta rupanya" Mama menggodanya.
"Jatuh cinta gimana?"
"Gimana yach........emang kamu suka sama siapa?"
"Ada dech.......rahasia pokoknya".
"Pake rahasia-rahasiaan segala ama mama, kamu suka sama..........."
"Mama jangan nebak-nebak dech, Ntar juga tahu".
"Lexi?!"
"Emang sich dia tuh baik, Tapi......kayaknya gak juga dech"
"Kok gitu"
"Ntar juga mama tahu"
"Ya sudah, kalo kamu gak kasih tahu mama, sekarang kebawah yuk papa udah dari tadi nunggu kita".
"Mama duluan aja, Ntar Andrea juga nyusul kok".
Mama pun beranjak dari kasur" Jangan lama-lama".
"Ok bosss" ucap Andrea lagi sambil berlagak hormat kepada pembina upacara. "Oh yach ma..... sorry Andrea belum bisa ngasih tahu orangnya".
            Mama hanya tersenyum dan keluar sambil menutup pintu.

                                                                                                                        ***********

            Hari ini Andrea akan berkunjung ke rumah Doni, tentunya selepas kuliah. Soalnya dia ingin bertanya ini itu mengenai Doni dari orangtuanya langsung dan kebetulan Doni tidak ada di rumah karena kuliah.
"Eh, neng Andre.......tumben sendiri biasanya bareng ama neng Amara" kata Emak yang menyambutnya dengan senyum.
"Nggak mak, cuma pengen aja sendiri" ia lalu duduk di bangku panjang yang terbuat dari bambu. "Mak lagi sibuk gak".
"Relatif neng, kalo ada pembeli yach dilayani kalo lagi sepi yach kayak gini"
"Bu boleh gak nanya?"
"Nanya apa neng?"
"Apa yach!!!" Andrea garuk-garuk kepala sendiri.
"Aduh eneng, jangan bikin emak bingung nich".
"Maaf mak, M.......m........ bukannya saya mau introgasi nich, cuma......Doni udah punya pacar belum, mak" katanya pelan sambil menengok kekiri kekanan takut ada yang dengerin.
Emak napas lega sebelum menjawab pertanyaan Andrea yang dirasanya cukup mengejutkan " Kok neng nanya kayak gitu?" Emak malah balik bertanya.
"Nggak papakan Bu?!"
"Emang sich ngape-ngape,setahu emak kayaknya Doni belum mikirin yang kayak begituan, Emak juga heran, padahal emak pengen banget dia berkuluarge, Emak pengen liat die seneng, Tapi.......ape ade yech, cewek yang mau ame die. Orangnye rade tertutup."
            Andrea mengangguk pelan. Lalu ia melihat arlojinya.
"Ya udah dech mak, saya permisi dulu ada urusan lain yang harus dikerjain. Salam aje ama Jay dan Doni"
"Iya neng.......lain kali mampir lagi ye......ajak sekalian neng Amaranye kesini".
"Iya mak......."Ia pun beranjak meninggalkan rumah Doni dan masuk ke dalam volvo-nya. sebelum menancap gas ia berfikir sejenak, "Seandainya saja.......ah udah jangan yang nggak-nggak" ia kemudian menyalakan mesin volvo-nya dan merasa lebih tenang.

                                                                                                                            ***********


            Sore itu tampak gelap, awan hitam sudah menggulung-gulung dilangit dan siap mencurahkan kasih sayangnya ke bumi dengan hujan yang menyegarkan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam.
"Ambar...!" sapa Doni menghampiri Ambarwati yang lagi merapikan buku-bukunya. "E....... ada waktu sebentar" ucap Doni.
Ambarwati masih sibuk dengan buku-bukunya dan dia tidak mempedulikannya "Sorry yach aku masih ada kerjaan lain nich. Please......" ia meraih ranselnya dan meninggalkan Doni sendiri.   
            Doni hanya bisa menarik nafas. "Kenapa sich dia selalu menghindar gitu?" ia pun keluar dari kelas.
"Aduh......kuncinya mana?" Doni mencari-cari kunci motornya. Di kantong celana gak ada disaku baju juga nggak ada di dalam tas juga nggak ada. Ia lalu balik kelas. "Nah.......kok bisa disini untung aja kagak ilang nich kunci". ia mengambil kunci motornya yang tergeletak dilantai.
"Uek.......uek......."
"Suara apaan tuh" Doni mencari sumber suara tersebut ternyata berasal dari belakang kampus. "Ambar........." Ia lalu berlari mendekatinya.
"Aku......gak butuh bantuan kamu" Ambarawati berusaha menghindar. "Uek......" Ia kembali muntah namun tidak ada yang keluar dari mulutnya.
"Ambar...... kamu masuk angin?"
"Bukan urusan kamu" Ambar memperceoat langkahnya.
"Bar.....kenapa kamu menutupi semua dariku. Aku sahabatmu........." Doni membututinya dari belakang.
"Uek........" kali ini isi dalam perutnya keluar.
"Biar aku antar kamu pulang" Doni tampak khawatir.
"Gak usah.......aku bisa sendiri" Wajahnya tampak pucat, ia kelihatan lesu sekali.
            Doni membantu menupang tubuhnya ketika Ambarawati terbuyung.
"Aku antar kamu ke rumah sakit......." tanpa basa-basi ia membantu Ambarwati menuju motor. Ambarwati hanya bisa pasrah. Tubuhnya sangat lemas sekali, "Naik dan pegang tubuhku erat-erat" Ia lalu menghidupkan Rx King-nya dan meluncur langsung menuju rumah sakit yang terdekat dari kampus Merah Putih.
"Jay itu kan Doni" ucap Amara yang kebetulan ingin check-up kesehatan di rumah sakit Cinta Kasih. "Ngapain dia disini, sama siapa tuh.......?" Amara sudah merasa curiga.
"Biar gue aja yang kesono, loe tunggu aja disini" Jay menenangkan Amara yang sudah tampak kesal dengan wanita yang berada didekat Doni. Memang setahu Jay, kalo Andrea tuh suka ama Doni dan pasti dia sudah bilang ke Amara, so kalo ada cewek yang deket ama Doni, Amara gak bakal terima, soalnya antara Andrea dan Amara sudah sepert satu kesatuan.
            Ambarwati sedang diperiksa di dalam ruangan oleh seorang dokter. Sementara Doni menunggu diluar. "Don.....Ngapain loe disini?" tanya Jay yang mengejutkannya. Ia telah berdiri disampingnya.
"Eh.....  loe ngapain juga disini?" Doni balik bertanya.
"Tuh cewek siapa?" belum menjawab, dia mengajukan pertanyaan lagi.
"Ambar, temen kampus gue. Gue nganterin dia kesini karena gue liat dia kurang enak badan".
Dokter yang memeriksa Ambarwati muncul “Selamat istri anda hamil".
"Hamil......" tidak hanya Doni dan Jay saja yang terkejut namun Amara yang sudah tidak sabar menunggupun ikut terkejut.
"Doni....... loe kurang ajar" ucap Amara panas dan berlari keluar meninggalkan rumah sakit.
"Gue........."
"Don..... gue gak nyangka loe......." Jay pun meninggalkan Doni yang bingung dan penuh dalam kebimbangan.
            Dokter yang sedari tadi berdiri disitu hanya heran melihat mereka. Seharusnya kabar kehamilan merupakan kabar yang begitu menyenangkan bagi pasangan suami istri bukan sebagai musibah karena nanti akan muncul manusia baru yang lucu dan membuat semua orang bahagia.

                                                                                                                         **********


"Sorry Don, Aku sudah menyusahkanmu" Ambarwati menunduk lesu. Ia sepertinya sudah tak berkeinginan hidup lagi.
"Siapa yang sudah membuat seperti ini?"
"Mereka......Don.....mereka......"Ia mulai menetaskan air mata.
"Siapa....... katakan sejujurnya padaku".
"Aku gak bisa Don......." ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
            Hujan turun begitu deras membasahi bumi, tanah kering menjadi basah. Debu hilang tak bersisa. Suara katak meluapkan kegembiraan menyambut datangnya sang hujan namun hujan tersebut membuat semua yang merasakan kesedihan begitu terluka. Menambah duka yang dalam dan tak kunjung padam.

                                                                                                                         *********


"Ara....gue harap loe jangan cerita dulu ke Andrea. Gue masih sangsi kalo Doni sekeji itu" Jay memohon.
"Tapi.......udah jelaskan!!"
"Gue tahu......"
"Jadi.....sebelum kejadian itu terulang kembali gue mesti ngasih kabar semua ini sama Andrea"
"Please Ra, gue mohon loe jangan bilang. Gue harus menyelidikinya lagi".
"Ok.....kalo itu mau loe. Yang jelas gue kasih waktu loe 3 hari, kalo belum bisa membuktikan Doni gak bersalah, gue bakal cerita dan terpaksa hubungan kita putus".
"Ra........" Jay menatap tak percaya. "Baiklah " Jay pun mengantar Amara sampai ke mobilnya. "Loe gue hubungi 3 hari lagi dan gue janji bahwa Doni gak bersalah dalam hal ini".
            Amara masuk ke dalam mobil, mengenakan safety beltnya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

                                                                                                                        ***********


            Andrea di kamarnya duduk termenung di atas kasur. Ia mencoba untuk mengingat pertama bertemu Doni di bandara, Tampangnya lugu dan begitu juga polos. Sederhana dan bersahaja, semua terlihat sempurna dimata Andrea namun apakah Doni juga memikirkan hal yang sama dengan dirinya. Ataukah cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Ndre.....buka pintunya sayang" Mama memanggilnya dari luar dan itu mengejutkan dirinya.
"Iya ma......." Ia beranjak membuka pintu kamarnya. "Ada apa ma? kok kelihatannya serius".
"Perasaan mama lagi gak enak nich. Kayaknya ada sesuatu yang aneh....."
"Ah mama.......itu kan biasa".
"Bener, papa kok belum pulang yach".
"Biasanya juga papa pulangnya larut malam, ini baru jam jam tujuh. Paling bentar lagi papa pulang" Andrea berusaha menenangkan hati mama.
"May be you're right".
"Ma...... seandainya, Andre punya........." dia berhenti sejenak. "Ah gak jadi dech".
"Ah.......kamu".
"Bu.........!!!!!" teriak bi Darsih, ia tergopoh-gopoh menghampiri mama dan Andrea.
"Ada apa? kayak dikejar setan aja".
"Bapak bu..... bapak....." bi Darsih ngos-ngosan dan gelagapan sehingga gak jelas apa yang dibicarakannya.
"Bi, tenang dong. Nafas dulu terus cerita yang jelas"
"Iya bu...." ia menarik nafas lalu melanjutkan pembicaraan yang kelihatannya serius. "Bapak kecelakaan sekarang ada di rumah sakit".
"Apa?!" mama dan Andrea terkejut bersamaan.
"Iya bu..... bapak masuk rumah sakit" ucapnya meyakinkan, "Tadi saya dapat telpon dari Mas Arif".
"Ya udah kalo gitu bibi tunggu dirumah" mama beranjak dan ia berusaha untuk tidak panik.
"Sekarang kamu ganti baju. kita kerumah sakit" Andrea mengangguk " Oh iya rumah sakitnya?"
"Cinta Kasih" jawab bibi pasti.

                                                                                                               ***********


"Don...." sapa Ambarwati sedih. Ia memang terluka hatinya, pedih dan perih serta takut selalu menghiasi kehidupannya. "Aku akan menggurkan bayi ini".
"Kamu bicara apa, Ambar?" mata Doni melotot, Ia memegang bahu Ambarwati. "Lihat mataku"
"Don...... aku memang gila, biarkan aku melakukan itu semua" ia berdiri.
"Bayimu punya nyawa, Ambar! Dia butuh hidup".
"Iya aku tahu itu, Tapi dia tak punya ayah, kamu mau melihat anakku menderita, dicerca dan dihina sampai mati?"
Doni terdiam, Ia bingung sekali untuk mengatakan apa. "Dia masih punya ayah..... kenapa kamu tak mau memberitahuku".
"Aku tak bisa" ia tampak putus asa dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa" wajahnya mulai dibasahi air mata. Tangannya menghela setiap tetes air mata yang mengalir.
"Ceritakan semua padaku Amabar aku pasti akan menolongmu".
"Sudahlah...... aku tak perlu bantuanmu" ia mengambil ranselnya dan pergi sambil menahan tangis.
            Doni tak tinggal diam, ia mengejar Ambarwati, ia khawatir dengan keadaannya yang sedang kalut dan pikiran yang tak menentu berkecamuk.
"Aku akan mengantarmu” ia menarik lengan Ambarwati.
            Di lain sisi Andrea dan mama turun dari volvo-nya. Tak sengaja ia melihat Doni berpegangan tangan dengan seorang wanita yang tak dikenalnya.
"Dre..... kamu kenapa?" tanya mama.
"Andrea tersentak "Ah.....gak papa ma" jawab Andrea bohong padahal di dalam hatinya ia merasakan kehancuran.
            Mama berjalan terlebih dahulu masuk kerumah sakit sementara Andrea menatap kepergian Doni bersama wanita berambut panjang dan cukup menarik, Tanpa terasa air mata meleleh membasahi pipinya, bibirya bergetar dan entah perasaannya menjadi tak menentu. Apa ini yang disebut patah hati??

                                                                                                            ***********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar