Cari Blog Ini

Rabu, 23 Desember 2015

ICE CREAM 3 LAPIS Bab 1


BAB 1
Sorot matanya membuat setiap manusia yang menatap merasakan keteduhan. Senyum manis selalu menghiasi bibirnya yang tipis. Tubuh mungil dengan kaki yang ramping dan semangat  yang enerjik menjadikan dirinya disukai banyak orang. Ia cantik dan bersahaja. Terkadang dirinya sedikit manja. Namanya Andrea.
 Gadis imut dengan rambut sebahu hitam mengkilat itu tampak sibuk memperhatikan wajahnya di depan cermin.  Ia oleskan sedikit lipstick merah marun di atas bibirnya yang tipis dan meratakan make up yang digunakannya. Malam ini ia akan menghadiri sebuah party di  rumah sahabatnya, Lisa. Ia berdiri dan merapikan Sabrina lengan panjang yang dikenakannya. “Not so bad” lalu ia keluar dari apartemen . Tas beludru serta sekotak hadiah yang terbungkus rapi tak lupa dibawanya.
Ia menghentikan taksi yang melintas tepat di hadapannya. Dengan senyumnya yang menawan ia bergegas masuk ke dalam taksi tersebut. “Street  Boulevard 55” ucapnya sambil menutup pintu taksi dengan hati-hati.
Street Boulevard merupakan salah satu kawasan real estate di negeri Swiss. Terletak di pinggir kota. Namun daerah tersebut cukup ramai. Bicara mengenai Swiss mungkin kita akan teringat akan beberapa hal yang berhubungan dengan negara tersebut. Selain benderanya yang berwarna merah dengan salib putih, orang-orang akan mengenal Swiss dengan yang satu ini. Swiss memang bukan negara besar, namun negara yang terletak di benua Eropa ini sangat terkenal dengan coklatnya. Cita rasa dalam sebuah coklat sangat diutamakan. Tak heran banyak masyarakat mancanegara selalu membawa coklat setelah berkunjung ke negeri ini. Mereka bilang kalau belum membawa coklat atau merasakan manisnya coklat Swiss, berarti belum pernah pergi ke Swiss.
“Keep the change please” ucap Andrea sambil melontarkan senyumnya. Ia turun dari sebuah taksi yang baru saja ditumpanginya. Sekarang ia telah berdiri di depan gerbang  sebuah rumah megah berarsitektur kuno dengan jendela berjumlah puluhan dan bertingkat dua. Halamannya pun terhampar luas dengan rumput yang tumbuh terawat , rapi dan lampu taman yang  menghiasi halaman tersebut. No 55 tampak jelas tertambat di dinding pagar rumah itu.
Ia kembali merapikan penampilannya sambil memegang sebuah kado yang terbungkus rapi. Dua orang penjaga berseragam menghentikan langkahnya. Andrea tersenyum lalu memberikan identitas dirinya. Salah seorang dari mereka mempersilahkan masuk setelah membaca identitas yang dibawanya kemudian mengembalikannya kepada Andrea.
Acara sebentar lagi akan dimulai namun Lisa sebagai tuan rumah sekaligus yang memiliki acara belum menampakkan batang hidungnya. Padahal hampir sebagian besar undangan telah hadir. Jack juga tampak di sini. Iapun merupakan salah satu sahabat terdekat Andrea dan Lisa. Malam ini ia jauh lebih tampan dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya. Hidungnya mancung dengan dagu yang terbelah, lehernya kokoh dan tubuhnya atletis. Jack merupakan pelajar yang berasal dari Amerika. Ibunya merupakan wanita yang lahir dan berdarah asli Indonesia. Sementara ayahnya merupakan pria berdarah Eropa. Namun saat ini kita belum dapat membahas Jack lebih lanjut.
“Hai Re!” Jack menghampirinya. “Aku kira kau tidak datang“ sapanya dengan bahasa Indonesia yang cukup bagus namun terkesan kaku. “Ya tidak mungkin jika aku tidak hadir malam ini. Lisa pasti akan membunuhku malam ini juga” Andrea kembali memperhatikan suasana party yang cukup mewah dan juga meriah.
Jack tersenyum memperlihatkan sederetan giginya yang berbaris rapi. Lalu meneguk jus yang dipegangnya. Beberapa menit kemudian akhirnya Lisa muncul dari dalam. Ia sangat cantik malam ini. Blue dress yang dikenakan tampak serasi dengan rambut panjangnya yang disanggul. Rambutnya pirang keemasan dan ia mengenakan mahkota kecil bertahtakan berlian yang berkilau. Ia seperti seorang putri kerajaan dalam dongeng yang sering dikisahkan oleh para ibu kepada anaknya untuk membuat mereka bermimpi dalam tidurnya. Sepatu hak tinggi berwarna biru sangat sesuai dengan kulitnya yang putih kemerahan.
Ia berjalan menghampiri seorang pria berkumis dengan tubuh gempal. Badannya tampak lebih kecil dari Lisa. Itulah ayahnya. Pria yang selama ini membesarkannya.Ayahnya adalah seorang bangsawan yang disegani oleh banyak orang. Beliau sangat dermawan, terbuka dan murah hati. Beliau membesarkan Lisa tanpa seorang istri yang mendampinginya. Ibu Lisa meninggal setelah melahirkannya. Namun beliau bukan orang yang mudah menyerah dan putus asa. Ia mengajarkan Lisa mengenai arti dari kehidupan dan bagaimana menjadi orang yang mandiri.
Didikan ayahnya membuat Lisa menjadi seorang sahabat yang baik dan sangat disukai oleh banyak orang. Ia keturunan asli negri coklat ini. Walaupun seorang bangsawan, ia tidak pernah menyombongkan diri. Sangat ramah dan pemurah. “Ok before starting I’d like my friend be here” Lusi memanggil Andrea dan Jack untuk tampil menemaninya.
Andrea terkejut mengapa tiba-tiba Lisa memanggilnya lalu ia menatap Jack. Pria itu menganggukkan kepalanya menyarankan untuk mengikuti keinginan Lisa. Andrea melangkah maju diikuti Jack dibelakangnya. Lisa memandang mereka dengan penuh senyum. Hari ini adalah hari yang spesial bagi Lisa. Hari dimana ia dilahirkan ke dunia. Ayahnyapun tak lupa untuk mengadakan pesta yang cukup meriah. Perayaan party ini untuk memperingati hari kelahirannya yang ke 20. Beberapa kembang api meluncur ke atas. Kilauaan cahayanya membentuk sebuah tulisan
 “HAPPY B’DAY LISA “ 
Andrea menatap dengan takjub kembang api yang mengudara di langit. Sungguh suatu pemandangan yang sangat luar biasa dan menakjubkan. Hampir saja ia melelehkan air matanya karena bahagia. Kenapa dia harus menangis? Bukankah sekarang hari bahagia sahabatnya. Oh tidak. Ia kembali teringat dengan kampung halamannya. Tiga tahun sudah tak terasa ia pergi untuk hidup menjadi mandiri.
“Are you Ok?” tanya Jack yang sedari tadi memperhatikannya.
“Oh yeah, i’m fine” balas Andrea menyeka sedikit air matanya yang hampir tumpah. Ia kembali menatap luasya angkasa Bintang-bintang kelap-kelip bertebaran menghiasi keindahan malam. Andrea kembali merasakan kerinduan yang begitu mendalam. Seperti terdapat sebuah ruang kosong yang harus diisi dengan cinta dan kasih sayang.
 “Kamu yakin tidak apa-apa ?” Jack menegurnya.
“Oh……nothing!” jawabnya bohong . Ia tak bermaksud membuat Jack khawatir mengenai dirinya.
“Hey … Jack, Re come here. I have something for you all!” Lisa berteriak. Raut wajahnya begitu ceria. “Come on ajak Jack meraih tangan Andrea . “This for you and this for youLisa memberikan sebuah kotak berwarna merah pada mereka berdua.
“What is this?” tanya Andrea. Keningnya berkerut.
“Please open by your self” katanya mempersilahkan Andrea untuk membuka kotak pemberiannya.
Andrea sedikit heran dengan sikap Lisa. Hari ini ulang tahunnya tapi mengapa Lisa memberinya dan Jack sebuah kotak cantik. Lisa kembali memberikan isyarat agar Andrea dan Jack segera membukanya.
 Sebuah liontin terbuat dari giok hijau membuatnya terpana dan menggeleng-gelengkan kepala . “I think it’s very expensive for me “ucap Andrea terbata- bata.
Jack juga merasakan hal yang sama ketika dia mendapatkan sebuah jam berlapis emas. Dia tidak menyangkanya. Ini semua di luar dugaannya.
Lisa tersenyum “I give you these for our friendship. And you must approve it. We are friend till death break up us ”
“But I can’t” Andrea mengembalikannya.
“No..no .. this for you.”
Sebenarnya Andrea tidak menginginkan semua ini. Persahabatan tidak harus dinilai dengan barang yang mahal. Walaupun Lisa tidak memberinya apapun ia tetap sahabatnya.
“Please don’t disappoint me” Lisa memohon dengan wajah memelas.
Andrea menarik nafas. “Ok, i’ll approve it” ucap Andrea.
Lisa segera memeluknya. “Thank’s. You are my best friend Re”
Andrea hanya tersenyum. Seharusnya bukan Lisa yang mengucapkan rasa terima kasih tapi dirinyalah. Namun itulah Lisa. Sahabat Swissnya yang terbaik dan sweet manis seperti rasa sepotong coklat.
Malam semakin larut dan para undangan satu persatu pergi meninggalkan kediaman Lisa. Setelah puas bercengkrama menemani Lisa akhirnya iapun pamit “I wanna go home, Lisa. See you next time” kata Andrea sambil mengecup pipi sahabatnya itu.
“Good night“ sapanya dan membalas kecupan tersebut.
 “Night. And thank’s for everything” bisik Andrea sambil melambaikan tangan kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah tersebut.
“See you later” balasnya dengan senyum yang meneduhkan hati.
Jack ternyata masih berdiri di depan BMWnya. “Bisa aku antar?!” ajaknya dengan logat Indonesianya.
Mm………..”Ia berfikir sejenak.
Please!!” ia memohon dengan wajah yang dibuat memelas.
“Ok” jawab Andrea. Jack menarik napas lega. Ia segera membukakan pintu untuk gadis yang ada dihadapannya.
“Where we’ll go?tanya Jack sambil memegang kendali mobil yang dikendarainya.
“Of course my apartetement “Andrea mendengus kesal.
“Just kidding “Jack lalu membanting stir di persimpangan
Aku gak suka kamu bercanda.” Tapi Jack malah tertawa. “Jack, I miss Indonesia “ tiba-tiba Andrea berkata seperti itu.
“What?” tawanya terhenti sejenak, ia masih konsentrasi dengan mobil yang dikendarainya. Kemudian kembali tersenyum. Mungkin dipikirannya Andrea hanya bercanda. Iapun bersiul meniru irama musik yang dipasang di dalam mobilnya.
Malam ini lalu lintas kota tidak terlalu ramai, lampu-lampu terlihat menerangi jalan. Satu dua kendaraan melaju melintasi jalan. Suasana hening. Alunan lagupun menghilang.
“I wanna go back to Indonesia” ucap Andrea tegas untuk memperjelas kata-katanya. Ia menatap Jack denagan mantap. “Saya harus kembali ke Indonesia” katanya penuh keyakinan dan tampaknya tekadnya sudah bulat. “Kalau bisa secepatnya” tambahnya lagi. Andrea kembali diam dan pandangannya lurus ke depan menatap jalan yang sepi. Ia diam mematung. Entah apa yang ada dibenaknya sekarang.
Udara semakin dingin. Mungkin akan turun salju malam ini. Jack masih menatap Andrea yang mematung tak ada suara yang keluar dari mulutnya. “We just arrived “ kecepatan mobil berkurang dan akhirnya berhenti tepat di depan gerbang apartement yang hanya bertingkat lima.
Andrea turun begitu saja. “Thanks ia melambai lalu masuk ke dalam . Sementara Jack masih diam membisu, tak ada senyum. Ia bingung terhadap keputusan yang baru saja diucapkan Andrea “I wanna go back to Indonesia“ Ia tenggelam dalam lamunannya. Benarkah itu akan terjadi??

      --------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jakarta,
            Masih seperti dulu kumuh, padat, sesak, banyak polusi dan terkenal dengan angka kriminalitas yang tinggi. Ibu kota Indonesia ini sangat padat penduduknya, rumah-rumah berdesakan satu dengan yang lainnya seakan ingin berteriak “Tolong jangan cekek kami, kami tidak bisa bernafas”. Hanya ada sejengkal tanah yang dibiarkan pemerintah untuk ditanami pepohonan. Yang rencananya pohon-pohon yang di tanam di pinggir jalan akan membantu mengurangi polusi yang mengancam kehidupan umat manusia.
            Namun sebagai ibu kota negara, Jakarta merupakan kota yang sudah modern. Mall-mall ada di setiap kota madya, gedung – gedung bertingkat menjulang tinggi menggapai langit. Gemerlap lampu jalan selalu menyinari setiap malam. Hiruk pikuk kehidupan selalu terdengar. Derap langkah setiap manusia yang penuh kesibukan mewarnai kota ini. Itu hanyalah sedikit kisah mengenai kota Jakarta.
            Tak jauh dari pusat kota tersebut bermulalah sebuah kisah tentang keluarga dari sebuah rumah yang tidak terlalu besar bagi ukuran orang yang berduit. Bisa dibilang rumah itu cukup sederhana.  Tampak seorang remaja tanggung sedang sibuk memperbaiki motor keluaran 86. Maklum motor itu peninggalan bapaknya yang wafat lima belas tahun yang lalu. Ibunya tak ingin menjualnya. Hanya itu warisan yang menjadi kenangan baginya dari sang suami.
            “Eh  Jay, bangunin tuh abang loe. Jam segini masih molor. Apa die kagak kuliah ?“  ucap seorang wanita paruh baya yang kelihatan sibuk menata dagangan di warungnya.
            Mak Ijah, janda tua beranak dua itu memang wanita yang tegar. Setelah di tinggal suaminya yang tercinta, dia berusaha mengurusi kedua anak lelakinya itu dengan kemampuan dan modalnya sendiri. Bukti kegigihannya tersebut, dia mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang yang cukuptinggi.
“Don , bangun. Mak marah-marah tuh” Jay yang sudah berseragam SMU mengetuk pintu kamar abangnya.
“Iya , gue udah bangun dari tadi”  Doni muncul , rambutnya acak-acakan . Kacamata terpasang miring . Ia menguap dengan lebar lagi pula dia belum gosok gigi, bau naga keluar dari mulutnya.
Jay menutup hidungnya. “Gosok gigi dulu gih, bau tau” ia kemudian kembali keluar sambil terus memencet hidungnya.
“Emang mulut gue bau apa ? Ha…….” dia menghembuskan nafas ke mukanya. Hidung tidak pernah bohong kecuali kalo sedang flue. Doni tersenyum sendiri kemudian mengambil handuk yang disampirkan di rak kayu buatan. Ia bersiul dan masuk ke kamar mandi.
Bising, pengap, debu sudah terbiasa di Jakarta. Hari ini Doni masuk kuliah. Dia mengambil jadwal kuliah siang. Jadi dia nggak perlu khawatir kalo terlambat dan pastinya telah berfikir jauh sebelumnya. Dengan jadwal siang ada beberapa keuntungan selain yang disebutkan yang di atas. Ia bisa membantu orang tuanya terlebih dahulu dan bisa mengerjakan tugas dari dosen jika malam belum sempat.
            “Mak, Doni berangkat dulu yah” ia meneguk tehnya yang sudah agak dingin , mencium tangan emaknya yang lagi sibuk melayani pembeli.
            “Ati-ati di jalan, jangan meleng” kata emak sedikit cemas. “Semuanye lima ribu lima ratus, Mpok” emak membungkus pesanan mpok Eti .
            Wah gak nyangka ye Doni udah gede, dulu sich masih aye sering suapin tuh Doni. Sekarang kalau ingat dia pasti malu. Mak ngomong-ngomong Doni dah punya caon belum?Aye penasaran” timpal mpok Eti menerima bungkusan dan mengeluarkan selembar uang puluhan ribu dari dompet.
            Ya ni mpok. Aye juga khawatir. Tuh anak gak laku apa gak ade cewek yang mau. Dulu aje aye seumuran dia udah kawinemak tersenyum dan memberikan kembalian pada mpok Eti.
            “Ah nggak mungkin si Doni kagak laku. ucap mpok Eti. “ Kalo gak ade yang mau, aye juga mau kok” katanya lagi.
“Eh mpok, jangan mentang-mentang jande yech doyan ame anak mude. Amit-amit deh punye mantu kayak mpok” emak tampak sewot.
            Bercanda mak, jangan dianggap serius gitu dong. Ya udah mak , makasih dechmpok Eti meninggalkan warung mak Ijah.
            Mak Ijah hanya bisa menarik nafas . Ada benarnya yang dikatakan mpok Eti barusan. Doni sudah besar dan mungkin sudah saatnya ia menjadi seorang kepala keluarga. Ingin sekali mak Ijah melihat Doni bahagia, hidup bersama isterinya dan anak-anaknya yang lucu. Mereka akan memanggilnya nenek dan Donipun akan memiliki keluarganya sendiri.

              *****************************************************
  
            “ Mam , aku sudah bosan tinggal disini Andrea bersungut , gagang telepon masih berada di dekat telinganya.
            “Why sayang, my little princess? Bukankah hidup disana jauh lebih enak daripada disini , kamu nggak  perlu mikirin apa-apa lagi “ ucap mama sambil meratakan bedak di wajahnya. Kemudian memoleskan celak pada kedua bulu matanya.
            Papa yang dari tadi  sibuk memasang  dasi mendengar percakapan mama dengan Andrea karena kebetulan mama menjawab telepon Andrea dengan loud speaker dan akhirnya papa jadi ikut nimbung  “ Ada apa mam ? Kok kelihatannya serius akhirnya terpasang juga dasi bercorak batik tersebut meskipun agak miring.
            “Pokoknya Andre mau pulang titikAndrea meletakkan gagang telepon dengan kasar , mama pun terkejut.
            “Itu pap , Andre mau kembali ke Indonesia.” kata mama menutup HPnya. “Menurut papa gimana?” mama meminta pendapat papa.
            “Ya tidak apa-apa. Lagi pula dia sudah tiga tahun tidak bertemu dengan kita . Mungkin saja dia merasa bosan dan rindu sama kita papa yang bijak. Ia memang pundak istrinya lalu mengecup kening dengan mesra. “Papa juga kangen dengan Andrea, mama juga pasti kangenkan??”
Mama mengangguk membenarkan perkataan papa.
“ Ya sudah sekarang kita berangkat.” Ajak papa meraih tas kerjanya yang tergeletak di atas kasur.
            Malam itu juga Andrea mengepakkan semua pakaiannya ke dalam koper. Satu persatu ia susun barang-barangnya dengan rapi. Ia mengambil kotak pemberian Lisa dan meletakkan liontin tersebut ke dalamnya serta memasukkan kotak tersebut ke dalam koper. Ia berdiri sejenak. Dilihatnya sebuah foto berbingkai di atas meja kecil samping ranjang tidurnya. Sebuah foto yang menyimpan berjuta kenangan. Andrea, Lisa dan Jack berpose dengan latar belakang menara Eiffel , yach liburan musim panas tahun lalu mereka habiskan di kota Perancis , kota paling romantic di seluruh dunia.
            “ Huf ….. I’m finishkatanya senang , ia mengusap keringat dengan tanganya .
            Jarum telah merangkak ke angka satu. Masih terlalu pagi untuk melakukan aktifitas. Ia beranjak untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai “Indonesia I’ll come!! lalu ia tertidur lelap sampai suara alarmnya berbunyi.
            “Kring….. kring suara telepon benar-benar membuatnya terjaga. Dengan malas ia meraih telepon yang jaraknya tidak jauh dari jangkauannya “Hallo, who’s speaking?
“Me, Jack.”
            “Oh” ia bangkit dan menggeser tubuhnya sedikit sehingga bersandar tepat pada bantal yang disandarkan pada ranjangnya “What do you want? tanyanya sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.
            “About last night, do you want to leave Switzerland and go to Indonesia? ada sesuatu yang membuatnya seperti itu . Ia tidak ingin Andrea meninggalkannya karena ……..
Ya. Aku sudah berfikir dengan matang dan aku yakin dengan keputusanku !!” jawab Andrea . Ini merupakan pilihannya yang cukup memberatkan dirinya. Di satu sisi dia akan meninggalkan Lisa dan sahabat lainnya tapi disisi lain dia sangat merindukan Indonesia. Masakan Indonesia. Kedua sepupunya dan yang pasti kedua orangtuanya. Ia merasa tiga tahun ini sudah cukup untuk hidup mandiri.Sudah saatnya pula ia berkumpul dengan sanak saudaranya yang sedarah. Bukan berarti tinggal di negeri orang tidak merasakan kehangatan keluarga selayaknya keluarga kandung sendiri. Bukan itu, ini lain cerita. “Oh my good” tiba-tiba ia teringat sesuatu.
            “What‘s wrong?!” Jack panik mendengarnya.
            Just forget something …..”
            “Ok, I’ll go to your apartement.Wait fot me.Jack menutup teleponnya. Perasaannya masih sedih namun ia tak mampu melakukan sesuatu yang bukan haknya. Ia tidak dapat melarang keinginan yang begitu besar pada diri Andrea. Dia bukan siapa-siapa Andrea.

      ****************************************************************

Jakarta lagi ………..
            Doni tidak mendapat tempat duduk di dalam bus. Ia berdiri sambil berpegangan pada sebuah tiang . Bus yang seharusnya hanya berkapasitas 50 orang, ternyata melebihi daya tamping dari yang semestinya. Memang hal ini sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan mereka lebih mementingkan uang daripada keselamtan semata. Beginilah kehidupan di Jakarta, keras dan kejam siapa bermental lemah berperilaku malas akan tergilas.
            Doni tak habis pikir, sekarang zaman lagi susah kenapa masih ada orang yang suka menyusahkan orang lain seperti kejadian yang sedang berlangsung dihadapannya sendiri. Seorang pria mengambil dompet seorang penumpang yang berdiri persis di sampingnya. Entah didorong oleh niat baik atau niat konyol Doni menegur pria itu.
            “Mas, kembaliin aja dompetnya katanya dengan polos kepada pria brewok dengan kumis tebal tersebut.
            He….. awas kalo loe macem – macem pria berwajah garang itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaket kulitnya “Kalo loe ngomong, pisau gue yang bakal buat loe diam selamanya.” pisau tersebut sangat tajam . ujungnya runcing dan menempel tepat di perut Doni. Tak ada seorang pun yang menyadari .
            Donipun hanya bisa diam dan pasrah. Ia menelan ludah. Tubuhnya mengeluarkan beringat dingin. Dalam hati ia ingin mengusir rasa takutnya itu. Nalurinya berkata “ Kebenaranm pasti menang dari sebuah kejahatan”.
“Gue harus beranikatanya dalam hati. Dengan sigap pisau tersebut sudah berpindah tangan dan di buangnya. Copet itu gelagapan. Tubuhnya bergetar. Bus berhenti di sebuah halte ia pun menyusup diantara kerumunan penumpang yang akan turun.
            “Kembalikan dompet ituDoni memegang tangan kanannya. Ia berusaha kabur. Pegangannya cukup erat.
            Wanita yang kecopetan baru sadar kalo dompetnya hilang. “ Copet !!teriakannya dan pria brewok tersebut semakin gusar. Teriakan tersebut mengundang perhatian penumpang.
“ Bangsat , lepasin tangan gue kunyuk” umpat laki-laki itu geram.
“Kagak bisa Doni mendorong tubuhnya keluar dari bus. Tak ayal lagi baku hantampun terjadi. Para penumpang tak sengaja menyaksikan adegan tersebut, semua mata tertuju ke arah mereka.
“Ampun !! mukanya bonyok. Ia sudah tidak bisa berkutik lagi.  “Ini dompetnya” ucapnya ketakutan.
“Itu dompet sayawanita tersebut menyeruak di antara kerumunan orang. Tak lama kemudian tim keamanan yang bertugas di daerah halte tiba, memboyong copet yang sudah babak belur ke kantor polisi dan melindunginya dari amukan masa yang ingin main hakim sendiri. Kalau tidak segera diamankan mungkin nyawanya sudah melayang.
            Doni bangkit dan memperbaiki posisi kacamatanya. Kemeja pendek yang dikenakan tampak  kusut. Untung saja pisau yang dipakai pencopet itu tidak melukainya. Tindakan yang terpuji namun cukup konyol. Seandainya saja pisau tersebut menusuknya, wah gak akan ada lagi pahlawan atau hero di jalan-jalan.
“Makasih yah, kalo tidak ada anda uang untuk berobat bapak akan diambil pencopet itu” wanita itu membantu membersihkan debu yang melekat pada celana panjang yang dipakai Doni.
“Nggak apa-apa ko Doni mengangkat wajahnya yang sedikit memar. Ia menatap wanita yang berdiri di hadapanya.  “Ambar ……!! ia terkejut. Doni yakin mengenal wanita itu. “Ram …” ia berusaha mengingat pria yang membantunya.
“ Doni” kata Doni menembahkan. Ia tersenyum menatapnya.
            Sudah sekian tahun mereka tidak pernah bertemu. Ambarwati nama lengkapnya. Usianya setahun lebih muda di banding Doni. Rambutnya panjang, mukanya agak tirus mungkin kurang makan atau banyak pikiran namun seratus persen dia masih seperti yang lalu. Cantik dan manis apalagi kalau tersenyum. Wajahnya ayu mempesona. Matanya bulat dan penampilannya sangat sederhana. Ia dari Bogor tempat kelahiran ayah Doni. Ia mengenalnya karena waktu SD Doni dibesarkan oleh neneknya dari pihak ayah sampai kelas 2 SMP, akhirnya ia pindah ke Jakarta.
            Yah, begitulah. Aku ke Jakarta hanya ingin menebus obat. Bapak sakit kerasmatanya menatap kosong sambil memegang erat dompet yang berisi sejumlah uang. Ia mengayunkan kakinya dan menarik nafas.
            “Aku turut prihatin dengan mu... Oh ya kamu masih kuliah? tanya Doni mengalihkan pembicaraan ia tidak ingin Ambar larut dalam kesedihan.
            “Rencananya pamanku ingin menyekolahkanku di Universitas Merah Putih. Tapi aku sedikit keberatan sebab nantinya aku akan meninggalakan bapak yang sedang sakit keras Ia tampak lelah sekali. Matanya sendu karena kurang istirahat dan banyak pikiran.
            Kebetulan sekali, akupun kuliah di sana. Aku ambil jurusan informatika
            “Oh yah?!katanya tak percaya. Ini mungkin merupakan jodoh atau apalah yang sudah di atur Tuhan “Tapi sayang , aku belum bisa” Ia menundukkan kepalanya. Entah apa yang ia lihat disana.
“Udalah, aku juga tidak mempermasalahkan itu. Yang penting kamu jaga baik-baik ayahmu. Dia pasti sangat membutuhkanmu” kata Doni menenangkan.
            Mentari beranjak meninggalkan singgasananya, sinar jingga menghiasi langit Jakarta. Burung-burung mulai kembali keperaduannya untuk berlindung dari udara malam yang dingin. Lalu lintaspun terlihat sibuk, asap kendaraan mengepul dan membumbung tinggi ke angkasa. Suara klakson saut menyaut membuat kebisingan.
            “Mau kuantar?! tawar Doni beranjak dari tempat duduknya.
            “Oh, makasih. Aku bisa sendiri Ambar menyetop sebuah bis jurusan Jakarta- Bogor. Lalu melompat masuk ke dalam. Ia menoleh sambil tersenyum.
“ Sampaikan salamku untuk bapak di rumah semoga lekas sembuh!” teriak Doni sambil melambai.
“ Makasih, aku akan sampaikan salamku padanya” ia memblas lambaiannya dari balik jendela bus. Bus tersebut pun menancap gas meninggalkan kota Jakarta dan tenggelam dalam kemacetan lalu lintas Ibu kota.
            ***********************************************************
            “Ting-tongdari dalam terdengar suara bel berbunyi. Andrea yang sedang asyik menikmati serealnya terkejut, meneguk orange juice dan membersihkan mulutnya dengan serbet bercorak bunga kemudian berhambur menuju pintu depan.
            Sebelum membuka pintu kamarnya. Ia mengintip dari celah kecil yang berada di belakang pintu Jack memandang ke atas. Ia mengenakan jaket tebal berbulu dan kelihatan gelisah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sepertinya tadi malam turun salju.
            “Hai Jack. Ayo masuk di luar dingin. Nanti kamu membeku”Andrea membuka pintu. Ia memang sudah rapi dengan kaos tebal menutup lehernya yang berwarna merah marun dan celana jeansnya yang tebal pula.  
“I can’t . . . .dia menghentikan ucapan dan ada sedikit keraguan di hatinya.
Are you Ok?” tanya Andrea melihat tingkah sahabatnya itu. “akan ku ambilkan coklat panas”
“No, i’m fine.” Ia menarik lengan Andrea. “Kamu sudah yakin mau meninggalkan aku dan Lisa?”
Andrea menarik nafasnya pelan. “Aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku minta maaf. Tapi aku harus kembali ke Indonesia hari ini. Please.” Kata Andrea.
“Baiklah aku tidak dapat menahanmu.” Ia melepaskan tangan Andrea dan membiaarkan Andrea ke dalam membawa koper, jaket dan syalnya.
 Salju tampak memenuhi jalan disekitar apartementnya. Andrea berjalan menuju mobil Jack yang diparkir. Ia menatap apartemennya cukup lama. Ia menarik napas hingga rongga paru-parunya terpenuhi udara dan menghembuskannya perlahan. Tak terasa air mata meleleh membasahai pipinya kemudian ia masuk ke dalam mobil yang akhirnya meninggalkan apertement tempat tinggalnya.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di bandara. Andrea keluar dari mobil dan mengeluarkan kopernya yang disimpan di bagasi belakang. “ Biar aku saja” pinta Jack.
Ia kembali teringat dengan Lisa. “Oh my goddia belum menghubunginya. Andrea yakin Lisa pasti kecewa dengan keputusan yang diambil secara mendadak ini.
Jack berjalan menuju loket pembelian tiket sementara Andrea berusaha menghubungi Lisa dengan handphonenya. Tak ada jawaban apapun dari Lisa. Andrea mengulanginya untuk sekian kali. Tapi hanya terdengar nada sibuk. Andrea semakin cemas.
Jackpun muncul dengan membawa tiket dan dua buah soft drink di tangannya. “For you” ia menyerahkan tiket keberangkatan menuju Indonesia serta soft drink tersebut.
“Thanks tanpamu aku tak tahu apa yang akan kuperbuat” ia tersenyum.
Waktu keberangkatan semakin dekat. Ia beranjak dari kursinya. Jack menatapnya sedih.
“Re, I wanna tell you something” ia meraih tangan Andrea yang mengenakan sarung tangan berbulu.
“About . . .?
“I love you  . . . .” ia tertunduk. Andrea pun terkejut. “Yes I really love you. I love you so much!!dia kembali menegaskan. Ia menatap mata Andrea mengaharapkan jawaban.
Andrea memandang lelaki yang berdiri penuh cinta itu. Tapi selama ini Andrea tidak merasakan getaran asmara darinya. Perasaannya biasa aja. Dia menganggap hubungan selama ini hanya sebuah persahabatan saja. Tak lebih dari itu. Namun ia tak ingin membuatnya kecewa.
Ia memeluk erat tubuh Jack lalu mereka berdua saling beradu pandang. Dengan mesra Jack mendekatkan wajahnya sehingga Jack bisa melihat wajah, mata, dan hidung Andrea dengan jelas. Begitu pula butiran bening yang jatuh membasahi pipinya.Ya terlihat jelas sekali.
“Ladies and gentlement tersebut  membuat Andrea terkejut. “Sorry, I must go know ia mendorong trolinya.
“Apa kamu menerima cintaku?” tanyanya.
“Aku akan memikirkannya tapi sekarang bukan saat yang tepat menjawabnya” kata Andrea. Untung saja Jack hanya mencium pipinya kalau tidak ciuman pertamanya akan diambil oleh orang yang belum pasti menjadi cinta pertamanya.
“Hey, Re!! Lisa berlari menghampiri Andrea yang sudah berdiri di depan pintu masuk. Andrea menoleh.
Lisa berusaha mengatur napasnya. Ia menarik lengan Andrea “ Why don’t you discuss it with me, You just made me up setIa kesal dan benar-benar kecewa.
“I’m fully sorry, swear! I’ll be back again and I hope you’ll visit me by then still wait for you and my door is opened!!Andrea memeluk erat tubuh Lisa. Tanpa terasa butiran air matanya menetes membasahi pipi.
“Are you sure?! katanya terisak.
“Yes, I promiseAndrea kembali tersenyum lalu ia menoleh ke arah Jack. “I wont forget you lalu ia mendorong trolinya memasuki ruangan. Dari kejauhan ia melambaikan tangan. Lambaian perpisahan yang begitu menyedihkan dan dia harus tegar menghadapi kenyataan dari keputusan yang diambilnya. “Good by Switzerland, I’ll miss you so much. Good by Lisa, Jack. Aku harap kamu bisa mencari penggantiku. Carilah yang terbaik bagimu” ia masuk ke dalam ruang tunggu karena sebentar lagi pesawat yang menuju Jakarta akan segera berangkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar