BAB
1
Sorot
matanya membuat setiap manusia yang menatap merasakan keteduhan. Senyum manis
selalu menghiasi bibirnya yang tipis. Tubuh mungil dengan kaki yang ramping dan
semangat yang enerjik menjadikan dirinya
disukai banyak orang. Ia cantik dan
bersahaja. Terkadang dirinya sedikit manja. Namanya Andrea.
Gadis
imut dengan rambut sebahu hitam mengkilat itu
tampak sibuk memperhatikan wajahnya di depan
cermin. Ia oleskan sedikit lipstick merah
marun di atas bibirnya yang tipis
dan meratakan make up yang digunakannya.
Malam ini ia akan menghadiri
sebuah party di rumah sahabatnya, Lisa. Ia berdiri dan
merapikan Sabrina lengan panjang yang dikenakannya. “Not so bad” lalu ia keluar
dari apartemen . Tas beludru serta sekotak hadiah yang terbungkus rapi
tak lupa dibawanya.
Ia menghentikan taksi yang melintas tepat di hadapannya.
Dengan senyumnya yang menawan ia bergegas masuk ke dalam taksi tersebut.
“Street Boulevard 55” ucapnya sambil
menutup pintu taksi dengan hati-hati.
Street Boulevard merupakan salah satu kawasan real estate
di negeri Swiss. Terletak di pinggir kota. Namun daerah tersebut cukup ramai.
Bicara mengenai Swiss mungkin kita akan teringat akan beberapa hal yang
berhubungan dengan negara tersebut. Selain benderanya yang berwarna merah
dengan salib putih, orang-orang akan mengenal Swiss dengan yang satu ini. Swiss
memang bukan negara
besar, namun negara yang terletak di benua Eropa
ini sangat terkenal dengan coklatnya. Cita rasa dalam sebuah coklat sangat
diutamakan. Tak heran banyak masyarakat mancanegara
selalu membawa coklat setelah berkunjung ke negeri ini. Mereka bilang
kalau belum membawa coklat atau merasakan manisnya coklat Swiss, berarti belum
pernah pergi ke Swiss.
“Keep
the change please” ucap Andrea sambil melontarkan senyumnya. Ia turun dari
sebuah taksi yang baru saja
ditumpanginya. Sekarang ia telah berdiri di depan gerbang sebuah rumah megah berarsitektur kuno dengan
jendela berjumlah puluhan dan bertingkat dua. Halamannya pun terhampar luas
dengan rumput
yang tumbuh terawat , rapi dan lampu taman yang
menghiasi halaman tersebut.
No 55 tampak jelas tertambat di dinding pagar rumah itu.
Ia
kembali merapikan penampilannya sambil memegang sebuah kado yang terbungkus
rapi. Dua orang penjaga berseragam menghentikan langkahnya. Andrea tersenyum
lalu memberikan identitas dirinya. Salah seorang dari mereka mempersilahkan
masuk setelah membaca identitas yang dibawanya kemudian
mengembalikannya kepada
Andrea.
Acara
sebentar lagi akan dimulai namun
Lisa sebagai tuan rumah sekaligus yang memiliki acara
belum menampakkan batang hidungnya.
Padahal
hampir sebagian besar
undangan telah hadir. Jack juga tampak di sini. Iapun merupakan salah satu sahabat terdekat Andrea dan
Lisa. Malam ini ia jauh lebih tampan dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya. Hidungnya mancung dengan
dagu yang terbelah, lehernya kokoh
dan tubuhnya atletis. Jack merupakan pelajar yang berasal dari
Amerika. Ibunya merupakan wanita yang lahir dan berdarah asli
Indonesia. Sementara ayahnya
merupakan pria berdarah Eropa. Namun saat ini kita
belum dapat membahas Jack lebih lanjut.
“Hai Re!” Jack menghampirinya. “Aku
kira kau tidak datang“ sapanya dengan bahasa
Indonesia yang cukup
bagus namun terkesan kaku.
“Ya tidak mungkin jika aku tidak hadir malam ini. Lisa
pasti akan membunuhku malam ini juga” Andrea kembali
memperhatikan suasana party yang cukup mewah dan juga meriah.
Jack
tersenyum memperlihatkan sederetan giginya yang berbaris
rapi. Lalu meneguk jus yang dipegangnya. Beberapa menit kemudian akhirnya Lisa muncul dari dalam.
Ia sangat cantik malam ini. Blue dress yang dikenakan tampak serasi dengan rambut
panjangnya yang disanggul. Rambutnya
pirang keemasan dan ia mengenakan mahkota kecil bertahtakan berlian yang berkilau. Ia
seperti seorang putri kerajaan dalam dongeng
yang sering dikisahkan oleh para ibu kepada anaknya untuk membuat mereka
bermimpi dalam tidurnya. Sepatu hak tinggi berwarna biru sangat sesuai dengan
kulitnya yang putih kemerahan.
Ia berjalan menghampiri seorang pria berkumis dengan
tubuh gempal. Badannya tampak lebih kecil dari Lisa. Itulah ayahnya. Pria yang
selama ini membesarkannya.Ayahnya adalah seorang bangsawan yang disegani oleh
banyak orang. Beliau sangat dermawan, terbuka dan
murah hati. Beliau membesarkan Lisa tanpa
seorang istri yang mendampinginya. Ibu Lisa meninggal setelah melahirkannya.
Namun beliau bukan orang yang mudah menyerah dan putus asa. Ia mengajarkan Lisa
mengenai arti dari kehidupan dan bagaimana menjadi orang yang mandiri.
Didikan ayahnya membuat Lisa menjadi seorang sahabat yang baik dan sangat disukai oleh banyak orang.
Ia keturunan asli negri coklat
ini. Walaupun seorang bangsawan, ia tidak pernah menyombongkan diri. Sangat ramah dan pemurah. “Ok
before starting I’d like my friend be here” Lusi memanggil Andrea
dan Jack untuk tampil menemaninya.
Andrea
terkejut mengapa tiba-tiba Lisa memanggilnya
lalu ia menatap Jack. Pria itu menganggukkan kepalanya menyarankan untuk mengikuti keinginan Lisa. Andrea melangkah maju diikuti Jack dibelakangnya. Lisa
memandang mereka dengan penuh senyum. Hari ini adalah hari yang spesial bagi
Lisa. Hari dimana ia dilahirkan ke dunia. Ayahnyapun tak lupa untuk mengadakan
pesta yang cukup meriah. Perayaan party ini untuk
memperingati hari kelahirannya
yang ke 20. Beberapa kembang api meluncur ke atas. Kilauaan cahayanya membentuk
sebuah tulisan
“HAPPY B’DAY LISA “
Andrea menatap dengan takjub kembang api yang mengudara
di langit. Sungguh suatu pemandangan yang sangat luar biasa dan menakjubkan.
Hampir saja ia melelehkan air matanya karena bahagia. Kenapa dia harus
menangis? Bukankah sekarang hari bahagia sahabatnya. Oh tidak. Ia kembali
teringat dengan kampung halamannya. Tiga tahun sudah tak terasa ia pergi untuk
hidup menjadi mandiri.
“Are you Ok?” tanya Jack yang sedari tadi
memperhatikannya.
“Oh yeah, i’m fine” balas Andrea menyeka sedikit air
matanya yang hampir tumpah. Ia kembali menatap luasya angkasa Bintang-bintang
kelap-kelip bertebaran menghiasi
keindahan malam. Andrea kembali merasakan kerinduan yang begitu mendalam. Seperti terdapat sebuah ruang kosong yang harus diisi
dengan cinta dan kasih sayang.
“Kamu yakin tidak apa-apa
?” Jack menegurnya.
“Oh……nothing!” jawabnya bohong . Ia tak bermaksud membuat Jack khawatir mengenai
dirinya.
“Hey
… Jack, Re come
here. I have something for you all!”
Lisa berteriak. Raut wajahnya begitu ceria. “Come on” ajak Jack meraih
tangan Andrea . “This for you and this for you” Lisa memberikan sebuah kotak berwarna
merah pada mereka berdua.
“What is this?” tanya Andrea. Keningnya berkerut.
“Please open by your self” katanya mempersilahkan Andrea untuk membuka
kotak pemberiannya.
Andrea sedikit heran dengan sikap Lisa. Hari ini ulang
tahunnya tapi mengapa Lisa memberinya dan Jack sebuah kotak cantik. Lisa
kembali memberikan isyarat agar Andrea dan Jack segera membukanya.
Sebuah liontin terbuat dari
giok hijau membuatnya terpana dan
menggeleng-gelengkan kepala . “I think it’s very
expensive for me “ucap Andrea terbata- bata.
Jack
juga merasakan hal yang sama ketika dia mendapatkan sebuah jam berlapis emas.
Dia tidak menyangkanya. Ini semua di luar
dugaannya.
Lisa
tersenyum “I give you these for our friendship. And you must approve it. We are friend till death break up us ”
“But I can’t” Andrea mengembalikannya.
“No..no .. this for you.”
Sebenarnya Andrea tidak menginginkan semua ini.
Persahabatan tidak harus dinilai dengan barang yang mahal. Walaupun Lisa tidak
memberinya apapun ia tetap sahabatnya.
“Please don’t disappoint me” Lisa memohon dengan wajah
memelas.
Andrea menarik nafas. “Ok, i’ll approve it” ucap Andrea.
Lisa segera memeluknya. “Thank’s. You are my best friend
Re”
Andrea hanya tersenyum. Seharusnya bukan Lisa yang
mengucapkan rasa terima kasih tapi dirinyalah. Namun itulah Lisa. Sahabat
Swissnya yang terbaik dan sweet manis seperti rasa sepotong coklat.
Malam
semakin larut dan para undangan satu persatu pergi meninggalkan kediaman Lisa. Setelah puas bercengkrama menemani Lisa akhirnya iapun
pamit
“I wanna go home, Lisa. See you next time” kata Andrea sambil mengecup
pipi sahabatnya itu.
“Good
night“ sapanya
dan membalas kecupan tersebut.
“Night. And thank’s for everything”
bisik Andrea sambil melambaikan tangan kemudian melangkahkan kaki keluar dari
rumah tersebut.
“See you later” balasnya dengan senyum yang meneduhkan
hati.
Jack
ternyata masih berdiri di depan BMWnya. “Bisa aku
antar?!” ajaknya
dengan logat Indonesianya.
“Mm………..”Ia berfikir sejenak.
“Please!!” ia memohon dengan wajah
yang dibuat memelas.
“Ok” jawab Andrea. Jack
menarik napas lega. Ia segera membukakan pintu untuk gadis yang ada
dihadapannya.
“Where
we’ll go?” tanya
Jack sambil memegang kendali mobil yang
dikendarainya.
“Of
course my apartetement “Andrea mendengus kesal.
“Just
kidding “Jack lalu membanting stir di persimpangan
“Aku gak suka kamu bercanda.” Tapi Jack malah tertawa. “Jack,
I miss Indonesia “ tiba-tiba Andrea berkata seperti itu.
“What?” tawanya terhenti sejenak,
ia masih konsentrasi dengan mobil
yang dikendarainya. Kemudian kembali
tersenyum. Mungkin dipikirannya Andrea hanya bercanda. Iapun bersiul meniru
irama musik yang dipasang di dalam mobilnya.
Malam ini lalu lintas kota tidak terlalu ramai,
lampu-lampu terlihat menerangi jalan. Satu
dua kendaraan melaju melintasi jalan. Suasana hening. Alunan lagupun
menghilang.
“I
wanna go back to Indonesia” ucap Andrea
tegas untuk memperjelas
kata-katanya. Ia menatap Jack denagan mantap.
“Saya harus kembali ke Indonesia” katanya penuh keyakinan dan tampaknya
tekadnya sudah bulat. “Kalau bisa secepatnya” tambahnya lagi. Andrea kembali
diam dan pandangannya lurus ke depan menatap jalan yang sepi. Ia diam mematung.
Entah apa yang ada dibenaknya sekarang.
Udara semakin dingin. Mungkin akan turun salju malam ini.
Jack masih menatap Andrea yang mematung tak ada
suara yang keluar dari mulutnya. “We just arrived “ kecepatan mobil berkurang
dan akhirnya berhenti tepat di depan
gerbang apartement yang hanya bertingkat lima.
Andrea
turun begitu saja. “Thank’s” ia melambai lalu masuk
ke dalam
. Sementara Jack masih diam membisu, tak ada senyum. Ia bingung terhadap
keputusan yang baru saja diucapkan Andrea “I wanna go back to Indonesia“ Ia
tenggelam dalam lamunannya. Benarkah itu
akan terjadi??
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jakarta,
Masih seperti dulu kumuh, padat,
sesak, banyak polusi dan terkenal dengan angka kriminalitas yang tinggi. Ibu kota
Indonesia ini sangat padat penduduknya, rumah-rumah berdesakan satu dengan yang
lainnya seakan ingin berteriak “Tolong
jangan cekek kami, kami tidak bisa bernafas”. Hanya ada sejengkal tanah yang dibiarkan
pemerintah untuk ditanami pepohonan. Yang rencananya pohon-pohon yang di tanam
di pinggir jalan akan membantu mengurangi polusi yang mengancam kehidupan umat
manusia.
Namun sebagai ibu kota negara, Jakarta
merupakan kota yang sudah modern. Mall-mall ada di setiap kota madya, gedung –
gedung bertingkat menjulang tinggi menggapai langit. Gemerlap lampu jalan selalu menyinari setiap malam.
Hiruk pikuk kehidupan selalu terdengar. Derap langkah setiap manusia yang penuh
kesibukan mewarnai kota ini. Itu hanyalah sedikit kisah mengenai kota Jakarta.
Tak
jauh dari pusat kota tersebut bermulalah sebuah kisah tentang keluarga dari
sebuah rumah yang tidak terlalu besar bagi ukuran orang yang berduit. Bisa
dibilang rumah itu cukup sederhana. Tampak
seorang remaja tanggung sedang
sibuk memperbaiki motor keluaran 86. Maklum motor itu peninggalan bapaknya yang
wafat lima belas tahun yang
lalu. Ibunya tak ingin menjualnya.
Hanya itu warisan yang menjadi kenangan baginya dari sang suami.
“Eh
Jay, bangunin tuh abang loe. Jam segini masih molor. Apa die kagak kuliah ?“ ucap seorang wanita
paruh baya yang kelihatan
sibuk menata dagangan di warungnya.
Mak Ijah, janda tua beranak dua itu
memang wanita yang tegar. Setelah di tinggal suaminya yang tercinta, dia
berusaha mengurusi kedua anak lelakinya itu dengan kemampuan dan modalnya
sendiri. Bukti kegigihannya tersebut, dia mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang
yang cukuptinggi.
“Don
, bangun. Mak marah-marah tuh”
Jay yang sudah berseragam SMU mengetuk pintu kamar abangnya.
“Iya
, gue udah bangun dari tadi” Doni muncul
, rambutnya acak-acakan . Kacamata terpasang miring . Ia menguap dengan lebar
lagi pula dia belum gosok gigi, bau naga keluar dari mulutnya.
Jay
menutup hidungnya. “Gosok gigi dulu gih,
bau tau” ia kemudian kembali
keluar sambil terus memencet hidungnya.
“Emang
mulut gue bau apa ? Ha…….” dia menghembuskan nafas ke mukanya. Hidung tidak
pernah bohong kecuali kalo sedang flue. Doni tersenyum sendiri kemudian
mengambil handuk yang disampirkan di rak kayu buatan. Ia bersiul dan masuk ke
kamar mandi.
Bising,
pengap, debu sudah terbiasa di Jakarta. Hari ini Doni masuk kuliah. Dia mengambil jadwal kuliah siang. Jadi dia
nggak perlu khawatir
kalo terlambat dan pastinya telah berfikir
jauh sebelumnya. Dengan jadwal siang ada beberapa keuntungan selain yang
disebutkan yang di atas. Ia bisa membantu orang tuanya terlebih dahulu dan bisa
mengerjakan tugas dari dosen jika malam belum sempat.
“Mak, Doni berangkat dulu yah” ia
meneguk tehnya yang sudah agak dingin , mencium tangan emaknya yang lagi sibuk
melayani pembeli.
“Ati-ati di jalan, jangan meleng” kata emak sedikit cemas.
“Semuanye lima ribu lima ratus, Mpok”
emak membungkus pesanan mpok Eti .
“Wah
gak nyangka ye Doni udah gede, dulu sich masih aye sering suapin tuh Doni. Sekarang
kalau ingat dia pasti malu. Mak ngomong-ngomong Doni dah punya caon belum?Aye
penasaran” timpal mpok Eti menerima bungkusan dan
mengeluarkan selembar uang puluhan ribu dari dompet.
“Ya
ni mpok. Aye juga khawatir. Tuh anak gak laku apa gak ade cewek yang mau.
Dulu aje aye seumuran dia udah kawin” emak
tersenyum dan memberikan kembalian pada mpok Eti.
“Ah nggak mungkin si Doni kagak
laku.” ucap
mpok Eti.
“ Kalo gak ade yang mau, aye juga mau kok” katanya lagi.
“Eh mpok, jangan mentang-mentang jande yech doyan ame
anak mude. Amit-amit deh punye mantu kayak mpok” emak tampak sewot.
“Bercanda
mak, jangan dianggap serius gitu dong. Ya
udah mak , makasih dech” mpok
Eti meninggalkan warung mak Ijah.
Mak Ijah hanya bisa menarik nafas . Ada
benarnya yang dikatakan mpok Eti barusan.
Doni sudah besar dan mungkin sudah saatnya ia menjadi seorang kepala keluarga.
Ingin sekali mak Ijah melihat Doni bahagia, hidup bersama isterinya dan
anak-anaknya yang lucu. Mereka akan memanggilnya nenek dan Donipun akan
memiliki keluarganya sendiri.
*****************************************************
“ Mam , aku sudah bosan tinggal
disini” Andrea bersungut ,
gagang telepon masih berada di dekat
telinganya.
“Why sayang, my little princess?
Bukankah hidup disana jauh lebih
enak daripada disini , kamu
nggak perlu mikirin apa-apa lagi “ ucap
mama sambil meratakan bedak di wajahnya. Kemudian memoleskan celak pada kedua bulu matanya.
Papa yang dari tadi sibuk memasang dasi
mendengar percakapan mama dengan Andrea karena kebetulan mama menjawab telepon Andrea
dengan loud speaker dan akhirnya papa jadi
ikut nimbung “ Ada apa mam ? Kok
kelihatannya serius”
akhirnya terpasang juga dasi bercorak batik tersebut meskipun agak miring.
“Pokoknya Andre mau pulang titik” Andrea meletakkan
gagang telepon dengan kasar , mama pun terkejut.
“Itu pap , Andre mau kembali ke
Indonesia.” kata
mama menutup HPnya. “Menurut papa
gimana?” mama meminta pendapat papa.
“Ya tidak apa-apa. Lagi pula dia sudah tiga tahun
tidak bertemu dengan kita . Mungkin saja dia merasa bosan dan rindu sama kita” papa yang bijak. Ia
memang pundak istrinya lalu mengecup kening dengan mesra. “Papa juga kangen dengan Andrea, mama juga pasti kangenkan??”
Mama
mengangguk membenarkan perkataan papa.
“
Ya sudah sekarang kita berangkat.” Ajak papa meraih tas kerjanya yang tergeletak di atas
kasur.
Malam
itu juga Andrea mengepakkan semua pakaiannya ke
dalam koper. Satu persatu ia susun barang-barangnya dengan rapi. Ia
mengambil kotak pemberian Lisa dan meletakkan liontin tersebut ke dalamnya
serta memasukkan kotak tersebut ke dalam koper. Ia berdiri sejenak. Dilihatnya
sebuah foto berbingkai di atas meja kecil samping ranjang tidurnya. Sebuah
foto yang menyimpan berjuta kenangan. Andrea, Lisa dan Jack berpose dengan
latar belakang menara Eiffel , yach liburan musim panas tahun lalu mereka
habiskan di kota Perancis
, kota paling romantic di seluruh dunia.
“ Huf ….. I’m finish” katanya senang , ia
mengusap keringat dengan tanganya .
Jarum telah merangkak ke angka satu.
Masih terlalu pagi untuk melakukan aktifitas. Ia beranjak untuk mengganti
pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai “Indonesia I’ll come!!” lalu ia tertidur lelap sampai suara alarmnya berbunyi.
“Kring….. kring” suara telepon
benar-benar membuatnya terjaga. Dengan malas ia meraih telepon yang jaraknya
tidak jauh dari jangkauannya “Hallo, who’s speaking?”
“Me,
Jack.”
“Oh” ia bangkit dan menggeser tubuhnya
sedikit sehingga bersandar tepat pada bantal yang disandarkan pada ranjangnya
“What do you want?”
tanyanya sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.
“About last night, do you want to
leave Switzerland and go to Indonesia?”
ada sesuatu yang membuatnya seperti
itu . Ia tidak ingin Andrea meninggalkannya karena ……..
“Ya. Aku sudah berfikir dengan matang dan aku yakin dengan
keputusanku !!” jawab Andrea . Ini merupakan pilihannya yang cukup memberatkan dirinya.
Di satu sisi dia akan meninggalkan Lisa dan sahabat lainnya tapi disisi lain
dia sangat merindukan Indonesia. Masakan Indonesia. Kedua sepupunya dan yang
pasti kedua orangtuanya. Ia merasa tiga tahun ini sudah cukup untuk hidup
mandiri.Sudah saatnya pula ia berkumpul dengan sanak saudaranya yang sedarah.
Bukan berarti tinggal di negeri orang tidak merasakan kehangatan keluarga
selayaknya keluarga kandung sendiri. Bukan itu, ini lain cerita.
“Oh my good”
tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“What‘s wrong?!” Jack panik
mendengarnya.
“Just
forget something …..”
“Ok, I’ll go to your apartement.Wait fot me.” Jack menutup teleponnya. Perasaannya masih sedih
namun ia
tak mampu melakukan sesuatu yang bukan haknya. Ia tidak dapat melarang
keinginan yang begitu besar pada diri Andrea.
Dia bukan siapa-siapa Andrea.
****************************************************************
Jakarta
lagi ………..
Doni tidak mendapat tempat duduk di dalam bus. Ia
berdiri sambil berpegangan pada sebuah tiang . Bus yang seharusnya hanya
berkapasitas 50 orang, ternyata melebihi daya tamping dari yang semestinya. Memang hal ini
sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan mereka lebih mementingkan uang daripada
keselamtan semata. Beginilah kehidupan di Jakarta, keras dan kejam siapa bermental
lemah berperilaku malas akan
tergilas.
Doni
tak habis pikir, sekarang zaman lagi susah kenapa masih ada orang yang suka
menyusahkan orang lain seperti kejadian yang sedang berlangsung dihadapannya
sendiri. Seorang pria mengambil dompet seorang penumpang yang berdiri persis di
sampingnya. Entah didorong oleh niat baik atau niat konyol Doni menegur pria
itu.
“Mas, kembaliin aja dompetnya” katanya
dengan polos kepada pria brewok dengan kumis tebal
tersebut.
“He…..
awas kalo loe macem – macem”
pria berwajah garang itu mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaket kulitnya “Kalo loe ngomong, pisau gue yang bakal buat loe diam selamanya.”
pisau tersebut sangat tajam . ujungnya runcing dan menempel tepat di perut
Doni. Tak ada seorang pun yang menyadari .
Donipun
hanya bisa diam dan pasrah. Ia menelan ludah. Tubuhnya mengeluarkan beringat dingin. Dalam
hati ia ingin mengusir
rasa takutnya itu. Nalurinya berkata “
Kebenaranm pasti menang dari sebuah kejahatan”.
“Gue
harus berani” katanya
dalam hati. Dengan sigap pisau tersebut sudah berpindah tangan dan di buangnya.
Copet itu gelagapan. Tubuhnya bergetar. Bus berhenti di sebuah halte ia pun
menyusup diantara kerumunan penumpang yang akan turun.
“Kembalikan dompet itu” Doni memegang tangan
kanannya. Ia berusaha kabur. Pegangannya cukup erat.
Wanita yang kecopetan baru sadar
kalo dompetnya hilang. “
Copet !!” teriakannya dan pria
brewok tersebut semakin gusar. Teriakan tersebut mengundang perhatian
penumpang.
“
Bangsat , lepasin tangan gue kunyuk”
umpat laki-laki itu geram.
“Kagak
bisa” Doni mendorong
tubuhnya keluar dari bus. Tak ayal lagi baku hantampun terjadi. Para penumpang
tak sengaja menyaksikan adegan tersebut, semua mata tertuju ke arah mereka.
“Ampun
!!” mukanya bonyok. Ia sudah tidak
bisa berkutik lagi. “Ini dompetnya” ucapnya ketakutan.
“Itu
dompet saya” wanita
tersebut menyeruak di antara
kerumunan orang. Tak lama kemudian tim
keamanan yang bertugas di daerah halte tiba, memboyong copet yang
sudah babak belur ke kantor polisi dan melindunginya dari amukan masa yang
ingin main hakim sendiri. Kalau tidak segera
diamankan mungkin nyawanya sudah melayang.
Doni bangkit dan memperbaiki posisi
kacamatanya. Kemeja
pendek yang dikenakan tampak kusut. Untung saja pisau yang dipakai pencopet itu tidak
melukainya. Tindakan yang terpuji namun cukup konyol. Seandainya saja pisau
tersebut menusuknya, wah gak akan ada lagi pahlawan atau hero di jalan-jalan.
“Makasih
yah, kalo tidak ada anda uang untuk berobat bapak akan diambil pencopet itu”
wanita itu membantu membersihkan debu yang melekat pada celana panjang yang
dipakai Doni.
“Nggak
apa-apa ko”
Doni mengangkat
wajahnya yang sedikit memar. Ia menatap wanita yang berdiri di hadapanya. “Ambar ……!!”
ia terkejut. Doni
yakin mengenal wanita itu. “Ram …” ia berusaha mengingat pria yang membantunya.
“
Doni” kata Doni
menembahkan. Ia tersenyum menatapnya.
Sudah sekian tahun mereka tidak
pernah bertemu. Ambarwati nama lengkapnya. Usianya setahun lebih muda di
banding Doni. Rambutnya panjang, mukanya agak tirus mungkin kurang makan atau
banyak pikiran namun seratus persen dia masih seperti yang lalu. Cantik dan
manis apalagi kalau tersenyum. Wajahnya ayu
mempesona. Matanya bulat dan penampilannya sangat sederhana. Ia dari Bogor
tempat kelahiran ayah Doni. Ia mengenalnya karena waktu SD Doni dibesarkan oleh
neneknya dari pihak ayah sampai kelas 2 SMP, akhirnya ia pindah ke Jakarta.
“Yah, begitulah. Aku ke
Jakarta hanya ingin menebus obat.
Bapak sakit keras” matanya menatap kosong
sambil memegang erat dompet yang berisi sejumlah uang. Ia mengayunkan kakinya dan menarik nafas.
“Aku turut prihatin dengan mu... Oh ya kamu masih
kuliah?” tanya
Doni mengalihkan pembicaraan ia tidak ingin Ambar larut dalam kesedihan.
“Rencananya pamanku ingin
menyekolahkanku di Universitas Merah Putih. Tapi aku sedikit keberatan sebab
nantinya aku akan meninggalakan bapak yang sedang sakit keras” Ia tampak lelah
sekali. Matanya sendu karena kurang istirahat dan banyak pikiran.
“Kebetulan
sekali, akupun kuliah di sana. Aku ambil jurusan informatika
“
“Oh yah?!”katanya tak percaya. Ini mungkin merupakan jodoh atau
apalah yang sudah di atur Tuhan “Tapi sayang , aku belum bisa” Ia menundukkan
kepalanya. Entah apa yang ia lihat disana.
“Udalah, aku juga tidak mempermasalahkan itu. Yang
penting kamu jaga baik-baik ayahmu. Dia pasti sangat membutuhkanmu” kata Doni
menenangkan.
Mentari beranjak meninggalkan
singgasananya, sinar
jingga menghiasi langit Jakarta. Burung-burung
mulai kembali keperaduannya
untuk berlindung
dari udara malam yang dingin.
Lalu lintaspun terlihat sibuk, asap kendaraan mengepul dan membumbung tinggi ke
angkasa. Suara klakson saut menyaut membuat kebisingan.
“Mau kuantar?! “ tawar Doni beranjak
dari tempat duduknya.
“Oh, makasih. Aku bisa sendiri” Ambar menyetop sebuah
bis jurusan Jakarta- Bogor. Lalu melompat masuk ke dalam. Ia menoleh
sambil tersenyum.
“ Sampaikan salamku untuk bapak di rumah semoga lekas
sembuh!” teriak Doni sambil melambai.
“
Makasih, aku akan sampaikan salamku padanya” ia memblas lambaiannya dari balik
jendela bus. Bus tersebut pun menancap gas
meninggalkan kota Jakarta dan tenggelam dalam kemacetan lalu lintas Ibu kota.
***********************************************************
“Ting-tong” dari dalam terdengar
suara bel berbunyi. Andrea yang sedang asyik menikmati serealnya terkejut,
meneguk orange juice dan membersihkan mulutnya dengan serbet bercorak bunga kemudian
berhambur menuju pintu depan.
Sebelum membuka pintu kamarnya. Ia
mengintip dari celah kecil yang berada di belakang pintu Jack
memandang ke atas. Ia mengenakan
jaket tebal berbulu dan kelihatan gelisah.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sepertinya tadi malam turun salju.
“Hai Jack. Ayo masuk di luar dingin. Nanti kamu membeku”Andrea
membuka pintu. Ia memang sudah rapi
dengan
kaos tebal menutup lehernya yang berwarna merah marun dan
celana jeansnya yang tebal pula.
“I
can’t . . . .” dia
menghentikan ucapan dan ada sedikit
keraguan di hatinya.
“Are you Ok?” tanya Andrea melihat tingkah sahabatnya itu. “akan ku ambilkan coklat
panas”
“No, i’m fine.” Ia menarik lengan Andrea. “Kamu sudah
yakin mau meninggalkan aku dan Lisa?”
Andrea menarik nafasnya pelan. “Aku sudah yakin dengan
keputusanku. Aku minta maaf. Tapi aku harus kembali ke Indonesia hari ini.
Please.” Kata Andrea.
“Baiklah aku tidak dapat menahanmu.” Ia melepaskan tangan
Andrea dan membiaarkan Andrea ke dalam membawa koper, jaket dan syalnya.
Salju tampak
memenuhi jalan disekitar apartementnya. Andrea berjalan menuju mobil Jack yang
diparkir. Ia menatap apartemennya cukup lama. Ia
menarik napas hingga rongga paru-parunya terpenuhi udara dan menghembuskannya
perlahan. Tak terasa air mata
meleleh membasahai pipinya kemudian ia masuk ke dalam mobil yang akhirnya meninggalkan apertement tempat tinggalnya.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di bandara. Andrea
keluar dari mobil dan mengeluarkan kopernya yang disimpan di bagasi belakang. “
Biar aku saja” pinta Jack.
Ia
kembali teringat dengan Lisa. “Oh my god” dia
belum menghubunginya. Andrea yakin Lisa pasti kecewa dengan keputusan yang
diambil secara mendadak ini.
Jack berjalan menuju loket pembelian tiket sementara Andrea
berusaha menghubungi Lisa dengan handphonenya. Tak ada jawaban apapun dari
Lisa. Andrea mengulanginya untuk sekian kali. Tapi hanya terdengar nada sibuk.
Andrea semakin cemas.
Jackpun muncul dengan membawa
tiket dan dua buah soft drink di tangannya. “For you” ia menyerahkan tiket
keberangkatan menuju Indonesia serta soft drink tersebut.
“Thanks
tanpamu aku tak tahu apa yang akan kuperbuat”
ia tersenyum.
Waktu
keberangkatan semakin dekat. Ia beranjak dari kursinya. Jack menatapnya sedih.
“Re,
I wanna tell you something”
ia meraih tangan Andrea yang mengenakan
sarung tangan berbulu.
“About
. . .?”
“I
love you . . . .” ia tertunduk. Andrea
pun terkejut. “Yes
I really love you. I love you so much!!” dia
kembali menegaskan. Ia menatap mata Andrea mengaharapkan jawaban.
Andrea
memandang lelaki yang berdiri penuh cinta itu. Tapi selama ini Andrea tidak merasakan getaran asmara darinya. Perasaannya
biasa aja. Dia menganggap hubungan selama ini hanya sebuah persahabatan saja.
Tak lebih dari itu. Namun ia tak ingin membuatnya kecewa.
Ia
memeluk erat tubuh Jack lalu mereka berdua saling beradu pandang. Dengan mesra
Jack mendekatkan wajahnya sehingga Jack bisa melihat wajah, mata, dan hidung
Andrea dengan jelas. Begitu pula butiran bening yang jatuh membasahi pipinya.Ya terlihat jelas
sekali.
“Ladies
and gentlement…” tersebut membuat Andrea terkejut. “Sorry, I must go
know” ia mendorong trolinya.
“Apa kamu menerima cintaku?” tanyanya.
“Aku akan memikirkannya tapi sekarang bukan saat yang
tepat menjawabnya” kata Andrea. Untung saja Jack hanya mencium pipinya kalau
tidak ciuman pertamanya akan diambil oleh orang yang belum pasti menjadi cinta
pertamanya.
“Hey,
Re!!’ Lisa berlari
menghampiri Andrea yang sudah berdiri di depan pintu masuk. Andrea menoleh.
Lisa
berusaha mengatur napasnya. Ia menarik lengan Andrea
“ Why don’t you
discuss it with me, You
just made me up set”Ia
kesal dan benar-benar kecewa.
“I’m
fully sorry, swear! I’ll be back again and I hope you’ll visit me by then still
wait for you and my door is opened!!” Andrea
memeluk erat tubuh Lisa. Tanpa terasa butiran air
matanya menetes membasahi pipi.
“Are
you sure?!” katanya terisak.
“Yes,
I promise”Andrea
kembali tersenyum lalu ia menoleh ke arah Jack. “I won’t forget you” lalu ia mendorong
trolinya memasuki ruangan. Dari kejauhan ia melambaikan tangan. Lambaian perpisahan
yang begitu menyedihkan dan dia harus tegar menghadapi kenyataan dari keputusan
yang diambilnya. “Good by Switzerland, I’ll miss you so much. Good by Lisa, Jack. Aku harap kamu bisa mencari
penggantiku. Carilah yang terbaik bagimu” ia masuk ke dalam ruang tunggu karena
sebentar lagi pesawat yang menuju Jakarta akan segera berangkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar